
Kedua istri ini terlihat akur, tinggal seatap. Tapi tidak ada yang tahu isi hati sebenarnya, rasa saling cemburu dan ingin memiliki atau menguasai suami ganteng untuk seorang diri, itu pasti ada.
Tapi di sini posisi mereka berdua harus menerima, hal yang sudah di atur oleh Erick, semenjak pria itu telah menikahi Delila. Walau sebenarnya Agnes yang lebih puas bersama dengan Erick, karena Agnes bekerja di perusahaan Pratama. Sedangkan Delila bekerja di perusahaan cabang pratama.
Dari kejauhan Erick sudah terlihat batang hidungnya, kedua istrinya bergegas menghampiri suami gantengnya itu.
“Mas Erick, kok baru pulang?” tanya Delila, sambil mengecup punggung tangan Erick.
“Maaf, agak telat pulangnya.....saya lagi banyak kerjaan.”
“Iya Mas.....” jawab Delila.
“Mas Erick sudah makan?” tanya Agnes.
“Sudah makan tadi mampir ke restoran, sebelum pulang.”
Wajah Agnes terlihat kecewa, suaminya sudah makan di luar dan tanpa mengajak dirinya. Padahal dirinya sangat merindukan makan malam bersama suaminya di restoran mewah. Begitu bangganya diri Agnes jika bisa makan malam bareng dengan Erick, apalagi di restoran mewah. Dirinya seakan memamerkan suaminya yang tampan dan kaya kepada teman-temannya.
“Saya mau langsung istirahat, maaf Delila malam ini jatah kamu, tapi saya ingin tidur sendiri,” ucap Erick, kemudian mengecup masing masing kening istrinya.
Sepertinya Agnes dan Delila sia-sia bertanding untuk tampil cantik dan sexy demi merebut perhatian suaminya, nyatanya suaminya sudah menolak mereka berdua, terlebih lagi Delila yang sangat terlihat kecewa
Pak Arif sang kepala pelayan mengikuti langkah Tuannya menuju kamar Tuan Besarnya. Ya begitulah hanya Pak Arif yang bisa masuk ke kamar pribadi Erick, Agnes dan Delilla di larang keras untuk masuk ke kamar pribadinya.
Agnes dan Delila hanya bisa menghela napas panjang, menanggung rasa kecewanya masing-masing, kecewa tidak bisa memadu kasih di ranjang. Kini kedua wanita itu masuk ke kamarnya masing-masing, tanpa banyak bicara lagi.
Sedangkan di kamar pribadi Erick Pak Arif sedang menyiapkan air hangat di bathub, kemudian menyiapkan baju ganti untuk tuan besarnya.
“Air hangatnya sudah siap Tuan,” ujar Pak Arif.
“Terima kasih Pak Arif, tolong nanti bikinkan saya teh chamomile.”
“Baik Tuan, akan saya siapkan,” Pak Arif undur diri untuk ke dapur.
Erick langsung membuka bajunya, dan masuk ke dalam kamar mandi, pria ganteng itu menikmati sentuhan air hangat yang sudah tercampur dengan minyak esensial. Agar tubuh gagahnya menjadi rileks. Tidak butuh waktu lama Erick menyudahi mandinya, dan tubuhnya kembali segar.
__ADS_1
Kehidupan rumah tangga Erick bersama kedua istrinya, terlihat datar....jarang ada canda tawa di mansionnya. Jika ngobrol dengan kedua istrinya hanya sekedarnya, walau kedua istrinya sangat aktif menggoda, memberikan perhatian....layaknya istri mencintai suami. Walau kadang ada rasa hening ketika berbicara.
Erick sudah berpakaian santai, dan mulai menyesap teh chamomilenya sambil membaca majalah bisnis. Tapi entah kenapa pria itu melirik handphonenya, dan mencoba menghubungi seseorang.
“Assalamualaikum....,” suara wanita yang sedikit serak, seperti orang lagi tidur.
“Waalaikumsalam....,” jawab Erick.
“Ini yang nelepon siapa ya?” tanya sang wanita.
“Astaga Alya, baru tadi pagi saya jenguk kamu di rumah. Kamu masih gak ngenalin suara saya. Atau jangan-jangan kamu tidak save nomor ini di handphone kamu ya,” cerocos Erick.
Alya langsung menjauhkan handphone dari telinganya, dan melihat nomor telepon yang masuk, benar kata Erick nomor milik pria itu belum di save.
“Oooh suaminya Bu Agnes yang telepon, ada apa Pak CEO telepon malam-malam. Mengganggu orang mau bobo cantik aja.”
“Memangnya calon suami gak boleh telepon calon istrinya,” jawab ketus Erick.
“Malam-malam gak usah ngelucu deh Pak Erick. Mending kelonan sama istri tercinta....ya. Udah dulu ya Pak..”
“Alya....jangan di matikan dulu, ada yang mau saya kasih tahu.”
“Besok pagi motor baru akan di antar ke rumah, gantiin motor kamu yang rusak.”
“Loh kok motor baru, saya kan udah bilang bapak cukup betulin motor saya yang rusak. Saya tidak perlu motor baru kok,” tolak Alya.
“Sudahlah Alya jangan sok pakai menolak. Sebenarnya kamu cewek matrekan!! Belum apa-apa kamu sudah minta di bayar di muka sebesar satu milyar. Uang satu milyar aja kamu minta, sedangkan motor yang senilai dua puluh juta kamu tolak. Gak usah berpura-pura sama saya lah,” ujar ketus Erick.
Alya yang berada di kamarnya sendiri, terdiam sesaat mendengar perkataan Erick yang begitu pedas.
“Apalagi yang ingin Bapak hina lagi tentang saya!” balas Alya.
“Saya hanya bilang kamu tuh wanita matre sama dengan wanita di luar sana mata duitan, sok menolak pemberian saya....mulai dari handphone sampai motor. Tapi dengan mudahnya kamu minta di bayar di muka satu milyar ke istri saya, lagi pula belum tentu kamu berhasil hamil anak saya!!”
Alya memejamkan kedua matanya, merasakan hatinya pilu atas penghinaan dari atasannya sendiri. Alya tidak pernah menganggap Erick adalah calon suaminya, tidak pernah.
__ADS_1
“Alya.......” panggil Erick, setelah tidak mendapat jawab dari Alya.
“Jika Pak Erick selalu menghina saya, kenapa menyetujui akan menikah dengan saya!! Dari awal saya sudah terima penolakan Pak Erick, lantas kenapa kemarin malam Pak Erick memaksa saya untuk menerima lamaran kedua orang tua Pak Erick. Sungguh ini bukan lelucon yang pantas di ucapkan. Lanjutkanlah hinaan Pak Erick jika itu membuat hati Bapak bahagia, esok hari saya akan bilang ke mama untuk membatalkan pernikahan kita. Selamat malam Pak Erick!!”
Alya langsung menon aktifkan handphonenya, menurut wanita itu sudah cukup penghinaan dari Erick.
Sedangkan di kamar Erick, pria itu melempar handphonenya di atas ranjangnya.
“Akh, kenapa jadi begini lagi.. kenapa mau dibatalkan!!” gumam Erick, menyesali kalimat yang terucapkan.
“Eerghh.....!” pekik Erick tak karuan, beberapa kali pria itu mengacak-ngacak rambutnya yang masih terlihat basah.
🌹🌹
Keesokan hari
Rumah Alya
Pagi ini Alya sedikit lebih baik keadaannya, setelah mandi air hangat, wanita cantik itu mulai merubah wajahnya dengan kehandalan make upnya menjadi wanita yang tidak menarik.
“Sudah enakkan badan nak?”
“Sudah lebih baik mah,” jawab Alya sambil menyantap bubur ayam yang sempat di beli oleh Bik Sur di tukang bubur ayam langganan Alya.
“Hari ini kamu ke kantor atau mau istirahat di rumah?”
“Hari ini masih izin tidak masuk ke kantor, tapi kemungkinan ke butik aja, tapi tunggu di jemput sama mas Bram, Mah.”
“Maaf Nyonya, Non Alya, di luar ada Pak Erick,” lapor Bik Sur yang baru saja mengecek siapa yang berkunjung di pagi hari.
“Ngapain pagi-pagi buta ke sini, kayak gak ada kerjaannya!!” gerutu Alya.
“Mama ke depan dulu ya Nak,” ujar Mama Yanti.
“Iya Mah...”
__ADS_1
bersambung