
Salah satu tangan Erick sudah merangkul pinggang Alya dengan eratnya, sedangkan salah satu tangan pria itu masih mencengkram lengan Alya.
“Maafkan saya.....!” Erick menatap wajah wanita berkacamata itu begitu dalam, andaikan wanita itu cantik mungkin Erick sudah membungkam bibir Alya dengan bibirnya. Akan tetapi Erick tidak tertarik untuk melakukannya, akan tetapi sepertinya pria itu masih belum menyadari jika tubuhnya nyaman ketika dekat dan menempel dengan Alya, tak rela melepaskannya.
“Buat apa saya memaafkan Pak Erick!!” pekik Alya, tangan wanita itu sudah mulai gatal. Kedua netranya sudah melihat rambut rapi Erick.
“Erick.....Alya....,” panggil seorang wanita dengan suara meninggi.
Erick langsung melepaskan rangkulannya begitu saja, karena ada orang yang memanggil nama mereka berdua, kemudian menoleh ke belakang.
“MAMA....,” ucap serempak Alya dan Erick, melihat kedatangan Mama Danish. Wanita yang sudah berumur itu tapi masih terlihat cantik, sudah berdiri tak jauh dari keberadaan Erick dan Alya.
“Kok.....mama bisa ada di sini?” tanya Erick heran. Alya bergegas mendekati, kemudian mencium punggung tangan mama Danish.
“Mamanya Alya telepon kasih kabar katanya kalian berdua bertengkar dan akan membatalkan pernikahan kalian berdua. Jadi buru-buru mama ke sini,” dengan nada lembutnya.
“Mama Danish duduk dulu,” pinta Alya, mengarahkan ke ruang tengah.
“Makasih Nak."
Mendengar suara mama Danish, tiba-tiba mama Yanti datang dari halaman belakang.
“Kapan datang Bu Danish?” tanya Mama Yanti, mereka berdua saling salam cipika cipiki.
Sekarang mereka berempat duduk bersama di ruang tengah.
“Baru saja sampai, dapat kabar dari Bu Yanti, saya langsung ke sini. Saya tuh gak habis pikir anak saya kok bertengkar terus dengan anak Bu Yanti, tapi kok mereka berpelukan. Jadi bertengkar model apa itu?” sindir Mama Danish sambil melirik ke Erick. Erick jadi salah tingkah, kenapa mamanya bisa datang pas pria itu memeluk Alya, bisa jadi salah paham buat Mama Danish.
“Sebaiknya mama Danish bawa anaknya dari rumah ini. Dan di tatar kembali mulutnya!!” ucap Alya, tanpa mengalihkan tatapannya dengan Erick.
Mama Danish menoleh ke Erick “apa lagi yang telah kamu lakukan Erick kepada Alya?” tanya Mama Danish.
__ADS_1
“Sedikit berkata----,”
“Bapak bilang sedikit, begitu banyak penghinaan. Bapak mengakuinya sedikit....ck!” sela Alya.
“Alya, Erick berkata apa sama kamu?” tanya Mama Danish.
“Selain menghina wajah dan penampilan saya yang buruk, Pak Erick juga bilang saya wanita matre. Mama Danish pasti sudah tahu maksud kenapa saya menikah dengan Pak Erick, tidak mungkin mama Danish tidak tahu?” selidik Alya.
Agnes sudah menjelaskan semua tentang Ibu Pengganti, di awal mama Danish sepakat jika permintaan Agnes memilih Alya sebagai ibu pengganti untuk rentang waktu satu tahun saja. Tapi setelah bertemu dengan Alya ada terbesit di hati mama Danish jika Alya harus tetap menjadi menantu tanpa ada rentang waktu.
Mama Danish juga menangkap maksud dari kata-kata Agnes yang terkesan egois, memisahkan anak dari ibu kandungnya. Dan mengambil anaknya agar rumah tangga Agnes dan Erick tambah bahagia. Sudah terlalu lama mama Danish menyimpan rasa tidak sukanya dengan menantu pertamanya Agnes, wanita itu terlalu menguasai putranya. Tapi apa daya seorang ibu, melihat anaknya terlalu mencintai anaknya.
Ditambah lagi dengan menantu kedua pilihan mama Danish dan papa Bayu, menikahkan dengan anak temannya. Ternyata sama saja, pikir mama Danish, Delila berbeda dengan Agnes, setelah mama Danish coba mengenali Delila lebih dekat yang terkesan sederhana dan lembut baik hati terhadap mama Danish dan Erick. Akan tetapi nyatanya setelah menikah dengan Erick, Delila langsung berubah......tampil sederhana tiba-tiba seluruh tubuhnya bagaikan toko mewah yang berjalan.
Menghargai Mama Danish dan Papa Bayu sebagai orang tua pun hanya sekedarnya, tidak seperti awalnya yang terkesan manis.
Sekarang Mama Danish duduk bersama dengan Alya wanita yang berpenampilan kurang cantik, yang bukan tipe wanita lemah lembut terhadap Erick. Tapi masih sopan dengan kedua orang tua Erick, kesannya apa adanya.
“Ya Nak, nanti mama akan tatar mulut Erick, kalau perlu nanti mama masuki ke sekolah SD lagi. Biar mulai belajar dari nol. Mama juga tidak suka punya anak laki-laki mulutnya lemes banget. Apalagi sampai menghina seorang wanita,” bela mama Danish, sambil menatap kesal ke wajah anaknya yang ada di samping wanita tua itu.
“Nak Alya, mama belum pernah memohon kepada siapa pun termasuk istri Erick. Mama mohon dengan hati yang paling dalam tolong jangan batalkan rencana pernikahan kamu dengan Erick. Entah kenapa mama menyukaimu menjadi menantu mama,” permohonan tulus dari hati mama Danish, terpancar dari kedua netra Mama Danish yang masih terlihat bening, mata bening itu sudah mulai berkaca-kaca. Sentuh tangan Mama Danish yang menggenggam tangan Alya penuh kehangatan. Seakan memberi tanda jika wanita itu sangat dibutuhkan oleh wanita tua itu, tapi entah apa yang dibutuhkannya.
Erick dan Alya tertegun melihat mama Danish. Terutama Erick, baru pertama kalinya mamanya sendiri merendahkan dirinya dana memohon kepada wanita yang bukan siapa-siapa. Kepada kedua istrinya saja belum pernah mamanya seperti ini.
“Mama Danish........,” ujar Alya.
“Mama mohon nak, jangan batalkan pernikahan ini...,” ujar lirih mama Danish, buliran bening mulai turun di pipi mama Danish yang masih terlihat kencang walau sudah berusia tua.
Mama Danish begitu berhargakah diriku untuk mama dan papa? Sedangkan Pak Erick tidak pernah menghargaiku seperti ini.
Tatapan mata tuamu membuatku terenyuh, mama Danish belum mengenalku.....tapi mengapa mama Danish begitu tulus......batin Alya bergejolak.
__ADS_1
Mama Yanti juga ikut terharu melihat calon besannya begitu baik dengan Alya, dan semoga tetap baik dengan anaknya. Walau kenyataannya pernikahan yang akan di gelar hanyalah formalitas, tapi mama Yanti bisa merasakan jika mama Danish menerima anaknya bagaikan menantu yang sesungguhnya.
“Jangan sedih dong mama Danish, nanti cantiknya hilang loh,” goda Alya sambil mengusap air mata di pipi mama Danish dengan tisu.
“Bagaimana mama gak sedih kalau kamu mau membatalkan rencana.”
“Mama Danish mau cepat momong cucukan, jadi jangan sedih lagi. Mama harus banyak tersenyum, biar awet muda dan panjang umur,” ucap Alya sambil mengulum senyum tipis.
“Jadi nak Alya gak jadi batal nikahkan sama Erick?” tanya Mama Danish wajah sedihnya mulai berubah.
“Demi mama Danish, Alya tidak jadi batalkan. Tapi bukan demi Pak Erick,” jawab Alya.
“Makasih nak, mama senang dengarnya.” Mama Danish memeluk tubuh Alya, peluk hangat seorang ibu ke anaknya.
PUK
PUK
Setelah mengurai pelukan dengan Alya, mama Danish langsung memukul punggung Erick dengan tas tangannya.”Berani menghina Alya lagi, kamu berhadapan sama mama, Erick!!”
“Aaaww....ampun mah!” ringis Erick kesakitan.
“Ampun-ampun kamu bilang, mama cabeein mulut kamu tuhh!!” tangan Mama Danish masih belum berhenti memukul punggung Erick dengan tas tangannya.
Alya hanya bisa tertawa kecil, baru pertama kali lihat atasan takut sama mamanya sendiri.
Dihati kecil Erick, terasa lega.....akhirnya Alya tidak jadi membatalkan rencana pernikahannya.
bersambung
__ADS_1