
Begitu protektifnya Mama Danish terhadap Alya, dan itu timbul dengan sendirinya tanpa dibuat-buat serta tulus. Berbeda dengan sikap Mama Danish dengan kedua menantunya, yang masa bodohnya......mungkin karena sudah terlalu lelah melihat tingkah laku Agnes dan Delila.
Alya menatap Mama Yanti kemudian Mama Danish secara bergantian.
Beginikah rasanya punya mertua, pasti akan bahagia jadi mantu Mama Danish dan Papa Bayu.....batin Alya menghangat.
“Ya sudah kalau Mama memperbolehkan Alya tinggal dengan Mama Danish di mansion utama, maka saya akan tinggal di sana."
“Hey nak, anak mama ini sudah menikah, dan kamu sudah milik keluarga suamimu. Mama tidak berhak melarang anak mama ini untuk tinggal dengan suami atau dengan mertua kamu. Ketika kamu sudah menikah, itu sudah jadi pilihan hidup kamu,” ujar Mama Yanti sambil merangkul bahu putri cantiknya.
Alya menepuk lembut tangan mama Yanti, “Alya akan sering menjenguk mama. Alya pasti akan kangen sama mama.” Kedua netra Alya mulai berkaca-kaca, agak berat wanita itu meninggalkan mama Yanti tinggal berdua dengan Bik Sur di rumah untuk pertama kalinya.
“Jangan jadi sedih begini dong Alya, Bu Yanti.......saya kan jadi ikutan nangis,” rupanya Mama Danish ikutan menangis, melihat kedua netra ibu dan anak berkaca-kaca.
“Hi......hi.......hi......,” entah kenapa mereka bertiga jadi terkekeh kecil, entah karena sedih atau melihat mereka sedang bersedih bersama. Sedangkan Papa Bayu hatinya menghangat melihatnya.
Tanpa menunggu waktu lama Papa Bayu segera menyuruh asistennya mengurusi administrasi rumah sakit. Setelah selesai mereka akhirnya meninggalkan rumah sakit pagi hari itu juga.
Saat mobil papa Bayu keluar dari lobby rumah sakit, tanpa sengaja berpapasan dengan mobil Erick yang baru saja masuk ke lobby rumah sakit. Akan tetapi Erick tidak memperhatikannya.
Setibanya mobil milik Erick dan berhenti di luar lobby rumah sakit, pria itu segera keluar dari mobil. Di ikuti mobil yang membawa Agnes dan Delila, kedua wanita itu mengikuti langkah Erick dengan jarak dua meter, sesuai permintaan Erick sebelumnya.
“Kalian berdua naik lift sebelah, kita ketemu di lantai lima,” pinta Erick, pria itu juga tidak bisa satu lift dengan kedua istrinya, ketika mereka berdiri di depan lift. Agnes dan Delila hanya bisa mengangguk pelan, tanpa berkata.
Setelah sampai di lantai lima, Erick melangkahkan kakinya menuju kamar rawat Alya, dari kejauhan terlihat beberapa petugas cleaning service keluar membawa kain seprai kotor, ada juga yang membawa alat kebersihan.
Erick yang baru ingin masuk ke kamar langsung di tegur, “maaf Bapak mau cari siapa, di kamar ini tidak ada pasien,” ujar salah satu petugas clening service.
“Tidak ada!!” heran Erick.
“Iya Pak, baru saja pasien yang menginap di kamar ini, sudah keluar dari rumah sakit,” jawab petugas cleaning servise.
“Mas Erick, sebaiknya kita tanya ke perawat aja?” usul Agnes.
Wajah Erick terlihat masam, dengan langkah cepat pria itu menuju meja perawat yang tak jauh dari kamar rawat yang pernah ditempati Alya.
“Suster, pasien yang di rawat di ruang VVIP mawar atas nama Alya, pindah kemana?” tanya Erick.
“Sebentar Pak, saya cek terlebih dahulu,” ujar suster jaga, segera mengecek data pasien di komputer.
__ADS_1
“Pasien atas nama Nona Alya, sekitar lima belas menit yang lalu sudah keluar Pak, sudah di perbolehkan untuk rawat jalan.”
“Terima kasih, suster,” ujar Erick.
“Bagaimana Mas Erick, Alyanya?” tanya Delila.
“Sudah keluar dari rumah sakit,” ucap lemas Erick. Pria itu segera menghubungi nomor handphone Alya, akan tetapi sia-sia karena masih di blokir.
Pria itu ingin menunjukkan rasa kesalnya, tapi apa daya, di dekatnya ada Agnes dan Delila.
“Sia-sia dong kita ke sini, mana udah bawa belanjaan banyak begini,” gerutu Delila, sambil memandang bawaan yang di tentengnya.
“Sebaiknya kita datang ke rumahnya saja, Mas, lagi pula dia pasti pulang ke rumahnyakan,” usul Agnes, agar kedatangannya tidak sia-sia, terlebih mereka telah belanja buah tangan yang banyak buat Alya.
“Ya....sebaiknya kita ke rumahnya,” Erick berharap dengan mengajak kedua istrinya, Alya mau membukakan pintu rumahnya.
Tanpa menunggu waktu lagi, mereka bertiga kembali turun ke lantai lobby, dan masuk ke dalam mobilnya masing-masing.
🌹🌹
Rumah Alya....
“Assalamualaikum...” sapa Erick dari luar pintu.
Agnes dan Delila tetap jaga jarak dari Erick.
Kedua netra Delila terlihat menyelisik tampak luar rumah Alya. Dan terlihat kecewa tidak sesuai apa yang di bayangkan ketika akan kerumah Alya.
Kirain rumahnya model gubuk di daerah perkampungan, ternyata lumayan bagus juga.......kecewa batin Delila.
Dari dalam rumah, Bik Sur tampak tergopoh-gopoh ke ruang tamu, ”walaikumsalam......,” balas Bik Sur sambil membukakan pintu.
“Oh....ada Pak Erick.”
“Iya.....Bik, saya datang buat jenguk Alya.”
Bik Sur menautkan kedua alisnya, ”bukannya Non Alya masih dirawat di rumah sakit?”
“Tadi saya sudah ke rumah sakit, katanya sudah di izinkan pulang. Makanya saya menyusul ke sini memangnya sedari tadi belum sampai juga, Bik Sur,” ujar Erick.
__ADS_1
“Tapi Non Alya belum sampai di rumah Pak Erick, maaf Pak sebaiknya masuk dulu....,” ujar Bik Sur mempersilahkan Erick masuk ke dalam rumah.
Erick agak heran, kenapa Alya belum sampai di rumah. Secara logika, Alya duluan yang telah meninggalkan rumah sakit, dan seharusnya sudah sampai di rumah sebelum kedatangan pria itu.
“Bu.... mari silahkan masuk dulu,” ajak Bik Sur dengan ramahnya, kepada Agnes dan Delila
Agnes dan Delila dengan wajah datar masuk begitu saja ke dalam rumah Alya.
Sombong amat, gayanya udah kayak nyonya besar aja...ck........batin Bik Sur.
“Pak Erick, bibi ke dapur dulu buat bikin minum dulu,” pamit Bik Sur, meninggalkan ketiga tamu yang datang.
“Silahkan Bik Sur.....” ujar Erick.
Bik Sur buru-buru ke belakang kemudian mengambil handphonenya.
“Assalamualaikum, Non Alya,” sapa Bik Sur dari sambungan teleponnya.
“Walaikumsalam Bik Sur, ada apa? Barang-barang saya sudah di kemasi ke dalam koper?”
“Udah Non, sebagian. Begini Non di rumah ada Pak Erick sama dua orang wanita, katanya mau jenguk Non Alya.”
Alya menghelakan napasnya sejenak, benar dugaan Mama Danish, jika wanita itu tetap bersikekeh kembali ke rumahnya makan dirinya akan berhadapan dengan Erick beserta kedua istrinya.
“Bilang saja ke Pak Erick, saya tidak pulang. Menginap di rumah saudara.”
“Tapi kalau nanya alamat rumah saudara Non Alya, bagaimana?”
“Bilang aja bibi gak tahu alamatnya.”
“Baik Non, nanti Bibi akan sampaikan.”
“Makasih ya Bik, jadi bikin repot.”
“Ya Non, sama-sama.”
Bik Sur memutuskan sambungan teleponnya, kemudian menuju dapur untuk membuatkan teh untuk tamu.
bersambung
__ADS_1