Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Nasib Agnes


__ADS_3

Kantor Polisi


Suara teriakan wanita terdengar jelas di dalam jeruji besi, tidak terima dirinya masuk ke dalam jeruji.


Di dalam jeruji besi bukan hanya dia sendiri, di sebelahnya ada Cokro dan beberapa preman.


“Ini semua karena papa, yang teledor tidak melihat orang bayarannya lagi!!” umpat Agnes.


“Tutup mulut kamu!! Kamulah yang telah memakai senjata api, hingga terdengar oleh polisi. Dasar anak bodoh!!” balik umpat Cokro. Agnes kembali mendengus kesal.


Ada dua orang polisi datang menghampiri Agnes dan Cokro. “Ada yang ingin bertemu dengan kalian berdua,” kata Polisi sambil membuka pintu sel, lalu kembali memborgol kedua tangan Agnes, dan juga tangan Cokro.


Siapa yang mau bertemu.....batin Agnes.


Agnes dan Cokro di bawa ke ruang jenguk tersangka, yang ada di kantor polisi.


DEG!


Kedua netra Agnes terbelalak melihat kehadiran Alya dan Erick di ruang jenguk.


“Kamu....!!” seru Agnes, tidak percaya, wanita itu terlihat sehat, tidak ada yang terluka. Padahal dia sudah melepaskan tembakan sebanyak dua kali, dan menurut Agnes, seharusnya wanita hamil ini terluka.


“Kenapa kaget Agnes, kamu heran melihat istri saya keadaannya sehat?” tanya Erick dengan memasang wajah garangnya.


Hati Agnes berdenyut ketika Erick menyebut kata istri kepada dirinya, kata yang selalu sering dia dengar dari mulut mantan suaminya untuk dirinya.


Kedua netra Alya memindai Agnes dan Cokro yang sudah duduk di hadapan mereka berdua.


Cokro pun melihat wajah anak temannya, dan kembali menghembuskan napas beratnya dengan panjang.


“Agnes, aku tidak menyangka jika bapakmu ada pembunuh papaku. Dan kamu sebagai anaknya juga ingin membunuhku,” tukas Alya dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


“Pak Cokro, anda bukan hanya pembunuh papaku tapi anda juga maling. Maling yang tidak tahu diri, merampas yang bukan milik anda, sudah begitu baiknya papaku membantu anda, tapi anda membalasnya dengan kejahatan,” Alya meluapkan rasa marahnya kepada Cokro.


Erick menggenggam erat tangan Alya, lalu mengusap punggung tangan istrinya, biar tidak terlalu emosi.


“Papamu sangat kaya, saya iri melihat keberhasilan bisnisnya. Tapi papamu tidak memberikan begitu banyak uang, sesuai yang saya inginkan,” balas Cokro.


Alya berdecak kesal. “Anda bilang iri dengan kekayaan papaku, kamu hanya teman yang di tolong oleh papaku, dan  tidak banyak kontribusi yang anda berikan hanya 1%, dan anda menginginkan hasil uang yang banyak. Anda sungguh tamak dan serakah rupanya. Dengan ketamakan itu anda telah menghilangkan nyawa papaku!”


Agnes menyunggingkan sudut bibir. “Seharusnya kamu tadi juga ikut papamu yang telah mati!” geram Agnes.


PLAK!!


Tangan Erick sudah melayang di salah satu pipi mantan istrinya, dengan tatapan penuh emosi, membuat Agnes terkesiap.


“Mas Erick...,” ujar Agnes dalam rasa terkejutnya, sambil memegang pipinya yang terasa sakit.


“Saya menyesal selama sepuluh tahun berumah tangga denganmu! tapi saya juga berterima kasih berkat dirimu, saya bertemu dengan wanita yang benar-benar saya cintai, melebihi siapa pun. Bertaubatlah kamu Agnes, hatimu selama ini kotor dan selama ini di kemas dengan baik olehmu. Kini kamu sendiri yang telah membuka jati dirimu sendiri, namun tidak pernah menyadarinya!” Tegur Erick.


Begitu teriris rasa hati Agnes, mendengar dan merasakan pria yang masih dia cintai, sungguh sangat mencintai Alya, wanita pilihannya. Wajah Agnes yang awalnya terlihat kesal, sekarang terlihat sedih, dan sedikit menunduk.


“Agnes dari awal aku pernah bilang jika aku jadi kamu, aku tidak akan memasukkan wanita untuk suamiku. Karena aku tak sanggup untuk berbagi. Aku tidak pernah berniat merebut suamimu, tapi kamu sudah menciptakan aku seperti pelakor namun aku bukanlah pelakor. Tapi aku berterima kasih padamu, berkatmu juga aku memiliki suami yang menerimaku apa adanya, pria yang tulus mencintaiku,” ujar Alya, sang suami menatap istrinya dengan tatapan yang berbinar-binar, kemudian mengecup punggung tangan istrinya.


“Cemburu memang membuat kita gelap mata Agnes, tapi setidaknya tidak berlebihan. Seharusnya kamu bisa berpikir ulang untuk melakukan sesuatu yang buruk, kamu telah menyia-nyiakan kesempatan ketika suamiku melepaskanmu, justru  kamu mencari masalah untuk diri sendiri  dan sekarang terimalah ganjarannya,” imbuh Alya.


Buliran bening mulai terjatuh dari ujung ekor kedua netra Agnes, rasa sedihnya menjadi dua kali lipat. Melihat tatapan hangat mantan suaminya dengan Alya, lalu rasa sesal telah dibutakan rasa cemburu, hingga dia sekarang berada di balik jeruji.


“Mommy, sudah cukup lama kita di sini. Sudah waktunya pulang,” pinta Erick dengan lembutnya.


“Iya daddy, sebentar lagi,” jawab Alya.


DEG!

__ADS_1


Teriris kembali hati Agnes mendengar panggilan daddy dan mommy. Panggilan yang sangat diinginkan oleh Agnes ketika masih berumah tangga dengan Erick, namun kenyataannya tidak terealisasikan.


Rasa sedih yang menyelimuti hati Agnes mulai membuncah, tak terasa wanita itu mulai terisak. Cokro memilih untuk  kembali ke jeruji besi ketimbang harus menenangi Agnes. Pria tua itu juga tidak bisa berkata apa pun pada Alya, buat mengelak tentang kejadian lima tahun yang lalu juga tidak bisa karena sudah ada bukti dan saksi yang kuat.


“Agnes, maaf jika dengan hadirku dalam rumah tanggamu menjadi berubah.” Alya sangat sadar jika semua yang terjadi karena kehadiran dirinya, berawal dari kisah ibu pengganti.


“Mom, tidak perlu merendahkan dirimu dan meminta maaf padanya. Justru harusnya dia yang meminta maaf kepada mommy, karena sudah berapa kali ingin mencelakakan mommy,” Erick tidak menyukai perkataan Alya.


“Gak pa-pa daddy, walau bagaimana pun kita berdua pasti pernah berbuat salah terhadap Agnes. Jika dia tidak mau minta maaf, setidaknya kita meminta maaf duluan,” imbuh Alya dengan lembutnya, sambil mengelus rahang suaminya dengan lembut, agar suaminya turut menyetujuinya.


“Ya..mom, sudah cukup pertemuannya kita pulang sekarang,” pinta Erick kembali.


Lidah Agnes terasa keluh, tidak mampu mengeluarkan suaranya, tidak mampu untuk menunjukkan emosinya, hanya bisa terisak...melihat mantan suaminya begitu lembut bersama Alya, begitu berbeda dengan perlakuannya ketika mereka masih bersama.


“Hukum tetap berjalan, Agnes!” tukas Erick, ketika pria itu membantu bumil untuk beranjak dari duduknya, lalu meninggalkan ruang jenguk.


Tangisan Agnes mulai pecah, dan tak bisa terbendung lagi. Dalam tangisannya wanita itu berandai-andai, andai dia tidak mencari ibu pengganti, andai dia masih menjaga sikap lembutnya terhadap suaminya kala itu, andai dia tidak merasa pongah dengan harta dan kemewahan dari Erick, andai dia bisa lebih mensyukuri telah memiliki suami seperti Erick.


Semuanya hanya berandai, karena sudah terlambat untuk memperbaiki keadaan.


Kini sang mantan istri pertama Erick akan mulai menjalankan semua proses hukuman, begitu pula Cokro. Semua bukti dan saksi sudah ada, dan mulai di proses oleh pihak polisi.


Kata orang, cinta dan cemburu buta bisa membuat orang berbuat khilaf, tapi memang betul adanya, tinggal dari orangnya akan bertindak seperti apa. Karena semuanya pasti akan berbalik ke diri sendiri. Tetaplah bijak dalam mengambil tindakan apapun 😊.


bersambung.....



 


 

__ADS_1


__ADS_2