
“Ada Pak Erick, mari silahkan masuk,” Bik Sur kembali masuk ke dalam rumah. “Silahkan duduk Pak, bibi panggilkan nyonya dulu.”
“Makasih Bik,” pria itu menghempaskan dirinya ke aras sofa.
Cukup lama pria itu menunggu mama Yanti, sampai Bik Sur sudah menyajikan teh hangat beserta pisang goreng yang masih hangat untuk pria itu.
“Nak Erick.....,” sapa Mama Yanti baru muncul. Erick langsung mencium punggung tangan mama Yanti penuh takzim.
“Maaf Bu, pagi-pagi saya sudah bertamu,” ujar Erick.
Mama Yanti sudah terbaca maksud kedatangan Erick,”Nak Erick, sudah sholat shubuh?”
“Belum Bu.”
“Sebaiknya sholat dulu, nak Erick bisa sholat di kamar Alya. Nanti sajadahnya akan di siapkan oleh Bik Sur. Setelahnya baru kita lanjut obrolannya.”
“Ya Bu,” Erick menuruti permintaan Bu Yanti, pria itu pamit ke kamar mandi kemudian masuk ke kamar Alya, untuk menunaikan sholat shubuh.
Kedua netra pria itu berembun setelah selesai menunaikan sholat shubuh, hatinya berdesir selama berada di kamar Alya. Tak bisa di pungkiri oleh hati pria itu, berada di dalam kamar Alya, hati pria itu semakin sesak di tambah mencium aroma wangi ciri khas Alya yang menyeruak di kamar wanita itu.
“Aku merindukanmu, Alya......”
🌹🌹
“Diminumlah tehnya selagi masih hangat, Nak.” Pinta Mama Yanti.
“Iya Bu,” Erick menyesapnya sedikit demi sedikit, rasa hangatnya teh mampu menghangatkan perut yang terasa dingin.
Mama Yanti melihat wajah Erick terlihat kusut dan sepertinya semalam menantunya tidak tidur nyenyak, terlihat ada lingkar hitam di bawah matanya.
“Ada keperluan apa nak Erick datang di pagi hari?”
“Alya....Bu, saya mencari Alya,” Erick langsung mengutarakan maksud kedatangannya.
__ADS_1
“Tadi nak Erick sudah lihat sendirikan di kamarnya tidak ada Alya.”
Erick menganggukkan kepalanya, dari kamar mandi sampai masuk ke kamar Alya, tidak ada wanita yang dicarinya.
“Semalam Ibu juga sudah menyampaikan ke ajudan kamu, kalau Alya memang tidak ada di sini. Sekarang kamu juga bisa memeriksa ke semua kamar, Ibu tidak menyembunyikan Alya.”
“Tapi saya memohon Ibu pasti tahu keberadaan Alya, tolong kasih tahu, Alya ada di mana Bu,” pinta Erick, dengan wajah terlihat putus asa.
“Jujur nak Erick, ibu benar-benar tidak tahu keberadaan Alya. Alya hanya berpamitan pada ibu untuk pergi jauh.”
“Ini bacalah pesan Agnes yang di kirim Alya ke ibu” Mama Yanti menunjukkan pesan Agnes untuk Alya di handphone.
Alya, entah apa yang harus aku ucapkan padamu. Jujur malam ini aku sangat sakit sekali melihat suamiku tak mau di ajak pulang, mengacuhkan diriku, lebih memilih berada disana bersamamu.
Aku tahu kamu juga istri sah Mas Erick yang sedang mengandung anak mas Erick. Sungguh aku menyesal atas keputusanku memilihmu untuk jadi ibu pengganti, ternyata Mas Erick menjadi berubah terhadapku. Kamu tahukan jika Delila sudah di ceraikan oleh Mas Erick karena telah mencelakai dirimu. Kini nasibku sebagai istri sekarang seakan di ujung tanduk, aku takut seperti Delila, akan di ceraikan oleh Mas Erick.
Alya, aku sangat mencintai suamiku Mas Erick, kami berdua sudah menjalankan biduk rumah tangga selama 10 tahun. Sudah melalui masa suka dan duka bersama. Aku takut.........
Bolehkah aku egois Alya, aku menginginkan suamiku kembali seperti dulu, suami yang sangat mencintaiku, suami yang selalu ada di sampingku. Aku mohon Alya jangan rebut suamiku, kembalikan lah Mas Erick kepadaku.
Erick langsung membacanya, rahang pria itu mengetat ketika membaca pesan Agnes untuk Alya.
“Mungkin ini salah satu alasan Alya pergi, ibu harap nak Erick bisa memahaminya. Berhentilah mencari Alya, biarkan hati anak ibu tenang dan bahagia. Sudah cukup Alya tersiksa selama ini nak Erick, andaikan Ibu melarang gagasan pinjam rahim ini. Mungkin kehidupan anak ibu tenang menjalankan hidupnya.” Wanita tua itu sudah mulai tampak menunjukkan kesedihannya.
“Tapi Alya istri saya, dan sedang mengandung anak-anak saya Bu.”
“Lupakanlah Alya nak Erick, bebaskanlah Alya, anak ibu tidak bahagia dengan pernikahan ini . Sudah cukup dengan kepergian papanya, Alya bekerja keras tidak menikmati hidupnya, selalu saja mengorbankan dirinya. Nak Erick tahu kenapa Alya mau menerima tawaran Agnes, semuanya demi menyelamatkan ratusan karyawan butik kami yang bekerja agar tidak Alya rumahkan, karena kami kekurangan modal. Demi mempertahankan karyawannya Alya mengorbankan dirinya sendiri, menikah dengan suami orang serta mengandung.......Bukan karena gila akan uang banyak.....,” Mama Yanti menahan dirinya tidak menangis.
Erick terkesiap mendengar cerita Mama Yanti, tangan pria itu yang masih memegang cangkir teh tampak bergetar. Teringat kembali pria itu pernah mengatai Alya wanita matre.
“B-bu........,” bergetar suara Erick.
Mengorbankan dirinya sendiri demi ratusan karyawan butiknya, bibir Erick tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
“Dari pagi sampai sore Alya bekerja di perusahaan nak Erick, lanjut sore sampai malam.......Alya bekerja di butik. Alya tulang punggung keluarga, dialah yang memenuhi kebutuhan keluarga semenjak suami ibu meninggal. Dan semua karyawan butik juga berharap penuh kepada Alya.....,”
“Ibu kasihan sama Alya, Ibu juga ingin lihat Alya bahagia....menikah dengan pria yang dicintai dan mencintai, bukan seperti ini......ibu sangat menyesal,” buliran bening mulai berjatuhan di pipi Bu Yanti.
Tubuh Erick masih bergetar, begitu besarnya beban yang di pikul oleh Alya, begitu banyak hal yang tidak diketahui oleh pria itu mengenai Alya. Wanita yang berjuang keras untuk keluarga dan para karyawannya, bukan wanita yang tiba-tiba sukses dengan usaha butiknya.
“Jadi nak Erick......tidak usah mencari Alya, Ibu mohon........,” pinta Mama Yanti.
Kedua tangan Erick mengatup, kedua netra pria itu pun mulai berkaca-kaca, ”Bu maafkan saya jika selama ini banyak melakukan hal yang tidak pantas terhadap anak ibu. Saya tidak bisa melepaskan Alya, Bu. Kami sudah terikat pernikahan dan sekarang akan hadir anak di antara saya dengan Alya. Jika kami berpisah, kasihan dengan anak-anak kami Bu, pasti membutuhkan orang tua yang lengkap,” imbuh Erick dengan tatapan memohonnya.
“Nak Erick, ibu tidak bisa membantu......Ibu rasa sudah cukup, jika Alya tetap menjadi istri nak Erick, hidupnya akan penuh ancaman. Tidak ingatkah salah satu istri nak Erick sudah mencelakakan Alya, dan sekarang istri nak Erick yang lain sudah mengirim pesan seperti ini. Ibu mohon jangan memaksakan kehendak nak Erick. Jangan sampai ada hal yang lebih buruk menimpa Alya,” jelas Mama Yanti.
Pria itu menundukkan kepalanya sesaat, dan segera menghapus tetesan air mata di ujung ekor matanya.
“Saya mencintai anak ibu......,” ungkap Erick dengan menundukkan kepalanya, kembali lagi pria itu menyeka buliran bening yang kembali mendesak keluar dari ujung ekor matanya.
“Cinta tidak harus memiliki, nak Erick,” jawab Mama Yanti.
Semakin terpukullah hati pria itu, pagi ini dia baru tahu alasan Alya menerima kesepakatan pinjam rahim dan pagi ini dia juga baru tahu alasan Alya pergi.
🌹🌹
Rumah Sakit SM
“Bodoh sekali kamu, Agnes......sampai niat untuk menghilangkan nyawa sendiri!” ketus Pak Cokro, papa Agnes yang baru saja datang setelah dapat kabar dari Yuni, jika anaknya ada di rumah sakit.
“Jadi wanita tuh yang cerdas, kalau mau cari perhatian suami. Bermain cantiklah dengan istri suamimu yang lain, main yang lembut sama Erick. Jadi suami kamu gak bakal berpaling sama istri barunya,” gerutu Pak Cokro.
“Iya ......Pah,” jawab pelan Agnes.
“Kamu sudah selama sepuluh tahun menikah dengan Erick, sampai sekarang belum juga kamu dapat saham perusahaan pratama walau hanya 25%. Aduh Agnes, suamimu sebenarnya cinta gak sih sama kamu sebenarnya!”
“Mungkin karena aku tidak bisa memberikan keturunan, jadi belum diberikan saham kepemilikan perusahaan pratama, Pah. Makanya dari itu aku kerjasama pinjam rahim sama wanita lain agar hamil anak mas Erick, setelah lahir anaknya, aku yang akan merawatnya. Akan tetapi mas Erick malah mengakui wanita itu sebagai istrinya keseluruh karyawan,” desah Agnes.
__ADS_1
“Pah bukankah lima tahun yang lalu pernah mencelakakan teman karib Papa sampai meninggal,” tanya Agnes.
bersambung...........siapakah Pak Cokro??