
Ada benarnya pendapat Papa Bayu, tidak salah...tidak selamanya dia harus bersembunyi. Namun paling tidak tunggu dirinya yakin, dan si calon baby twin kondisinya lebih baik dan lebih kuat pastinya.
“Nanti Alya akan pikir kembali, Pah,” jawab Alya.
“Jangan lama-lama berpikirnya, ya sudah kalau begitu rapat hari ini selesai. Papa mau bertemu dengan klien, dan nanti direktur keuangan akan email laporan keuangannya ke kamu. Papa minta segera di cek ya, Nak,” Papa Bayu mengakhir zoom meetingnya.
“Siap Pak Bos,” jawab Alya, sembari tersenyum.
Selesai zoom meeting, wanita itu menyandarkan punggungnya ke bangku, kemudian mengelus perut buncitnya.
“Sepertinya para Oma dan Opa, merindukan kalian berdua, Nak,” gumam Alya kepada perutnya sendiri.
Masih ada keraguan di hati kecil Alya untuk menunjukkan dirinya kembali. Sudah kembali bahagiakah rumah tangga Agnes dan Erick? Pertanya itu selalu ada di benaknya. Dia ingin memastikan sekembalinya wanita itu ke rumahnya, berharap semua sudah kembali ke semula, hingga dia tidak ada lagi rasa tidak tenang. Dan bisa menjalankan masa hamilnya dengan nyaman sampai proses melahirkan. Itu saja!
“Mmm........masih siang bolong si bumil sudah bengong aja...ayo lagi mikirin siapa nih?” tegur Dokter Dewi yang menghampiri Alya yang masih berada di gazebo sembari membawa nampan di kedua tangannya.
“E-eh...ada Bu Dokter,” lamunan Alya langsung buyar ketika mendengar suara Dokter Dewi.
“Lagi gak mikirin siapa-siapa kok Bu Dokter,” lanjut berkata Alya, dengan kedua netra yang terbelalak melihat isi nampan yang di bawa oleh Dokter Dewi.
“Kiraiin...lagi mikirin ayahnya si baby twin,” goda Dokter Dewi.”Nih sengaja Ibu bawakan cemilan buat Ibu hamil,” ucap Dokter Dewi.
Air liur Alya langsung ngeces melihat makan dan minuman yang di bawa oleh Dokter Dewi, wanita itu sangat tak tahan melihat makanan yang menggoda selera, sepertinya nafsu makan dia semenjak berbadan dua sudah tidak bisa di rem, hingga bobot badannya bertambah tapi tidak terlihat gemuk, hanya bagian perutnya saja yang membengkak. Justru tubuhnya semakin sexy dan cantik.
“Duh...Bu Dokter selalu paham asupan ibu hamil, makasih banyak loh Bu,” ujar Alya, mulai menyesap minuman dingin rasa buah, kemudian mengunyah kuenya.
“Sama-sama kebetulan sebelum ke sini mampir ke toko kue dan toko buah, ingat sama kamu yang suka ngemil.”
“Mmmm...aah...aku jadi terharu Bu mendengarnya,” ujar Alya sembari tersenyum kecil.
“Alya, Ibu mau kasih tahu sudah beberapa kali Pak Erick datang ke rumah sakit menemui Ibu, untuk menanyakan kejadian terakhir pengecekkan kandungan kamu sebelum keluar dari rumah sakit, dan sepertinya Pak Erick mencurigai Ibu,” ujar Dokter Dewi.
Alya berhenti mengunyah. “Terus Bu Dokter jawab apa?”
__ADS_1
“Jawab apa adanya, menyampaikan kalau itu hari terakhir Ibu memeriksa kandungan kamu...tapi Ibu juga agak kasihan melihat Pak Erick, terlihat berbeda seperti kayak orang tanpa nyawa,” imbuh Dokter Dewi.
“Waduh bagaikan mayat berjalan dong, Bu,” balas Alya.
“Ya seperti itulah, kayaknya Pak Erick terlihat benar-benar kehilangan kamu deh,” tutur Dokter Dewi.
DEG
Alya tertegun. “ Ah...itu hanya perasaan Ibu saja, lagi pula masih ada istri Pak Erick yang lain. Lagi pula hubungan kami tidak lebih karena ada baby saja, Ibu kan sudah tahu," Alya langsung menampiknya.
Saya sangat mencintaimu Alya, saya cemburu ketika kamu dekat dengan Andri di mall, dengan Bram ketika kamu di jemput menggunakan motor. Saya cemburu. Dan saya sangat bahagia saat kamu positif hamil anak saya.......saya bahagia.
Sepintas ucapan pria itu kembali muncul di ingatan Alya, tiba-tiba. Membuat mood makannya seketika jadi hilang, tapi berusaha tidak kentara di depan Dokter Dewi.
“Ya...mungkin hanya perasaan Ibu saja,” dusta Dokter Dewi, agar Alya tidak memikirkan ucapannya barusan.
“Tapi Alya tidak selamanya harus menghindar, karena suatu saat kamu harus menghadapi Pak Erick. Di saat kamu sudah siap,” lanjut Dokter Dewi.
“Ya...,” jawab singkat Alya.
“Sepertinya tidak ada Bu Dokter, kenapa?”
“Kalau begitu nanti sore kamu datang ke klinik bersalin milik Ibu, yang ada di desa sebelah. Kita periksa keadaan si baby twin, sudah jadwal kontrol,” pinta Dokter Dewi.
“Oke Bu Dokter, siap ke klinik Bu Dokter nanti sore, sekalian nanti kita makan seblak dekat klinik Ibu itu ya...udah lama gak cobaiin,” jawab Alya sambil nyengir.
“Boleh, asal jangan keseringan makan seblaknya plus jangan terlalu pedas.”
“Siap Bu Dokter.”
Dokter Dewi selain bertugas di rumah sakit B di Jakarta, dia juga memiliki klinik bersalin di daerah dekat villa miliknya, jadi sesekali bertugas di klinik tersebut. Alya juga tidak repot untuk memeriksa kandungannya, tinggal ke klinik bersalin milik Dokter Dewi.
🌹🌹
Hari hari terlewati, tanpa di sadari dua bulan berlalu.....
__ADS_1
Perusahaan Pratama.
Pimpinan Perusahaan Pratama semakin hari semakin dingin dan kejam kepada karyawan. Tiada hari tidak ada yang kena amukan bahkan sampai di pecat saat itu.
“Pak Bos, berhentilah memecat karyawan. Lama-lama seperti ini, perusahaan Pak Bos akan kehilangan banyak SDM nya,” keluh Rio.
“Kamu tinggal bilang ke bagian HRD untuk membuka lowongan dan merekrut yang baru!!” Jawab ketus Erick, pria itu terlihat serius dengan dokumen di tangannya.
“Iya Pak Bos, saya juga mengerti, tapi tolonglah hanya kesalahan kecil masa langsung di pecat,” imbuh Rio.
“Rio, kamu lagi gak ada kerjaan ya...sedari tadi kamu sibuk menceramahi saya!!” balik tegur Erick dengan nada kesalnya.
“Maaf Pak Bos bukan maksudnya menceramahi, tapi hanya mengingatkan,” jawab pelan Rio.
“ARGGH..........,” sentak Erick.
“Kamu tidak lihat otak saya sudah mumet......hah,” agak meninggi Erick berkata, kemudian meraup wajahnya dengan kasar.
Rio sebenarnya memahami perubahan yang ada di dalam diri Pak Bosnya, karena kehilangan istri ketiganya...eh salah istri satu-satunya yang tiba-tiba menghilang dari rumah sakit. Hingga detik ini anak buahnya belum menemukan keberadaan Alya.
Tiap hari Rio harus menutup telinga, ketika Pak Bosnya sudah memarahi karyawannya. Terutama karyawan wanita yang tak jarang berani masuk ke dalam ruang CEO dan mencoba menggoda...murkalah Erick di saat itu juga.
Semua karyawan perusahaan Pratama sudah mengetahui jika Erick sudah bercerai dengan Agnes, hingga para karyawan khususnya wanita penggemar Erick, bersorak gembira mendengarnya. Dan tak bisa dielakkan banyaknya karyawan wanita mencari perhatian si duda ganteng...eh belum duda sih masih ada istrinya yang lain. Tapi mereka sudah tak perdulikan lagi. Intinya di antara karyawan ada persaingan ketat untuk menjadi nyonya Erick selanjutnya.
“Kembalilah kamu ke ruangan, kamu ada di sini malah bikin saya tambah pusing,” pinta Erick, sambil mengibaskan tangannya.
“Baik Pak Bos,” Rio bergegas keluar dari ruangan CEO.
Erick menghela napas panjang, kemudian mengambil handphonenya.”Sayang, kamu ada di mana...aku merindukanmu, apa kabarnya anak kita. Sudah empat bulan aku tak melihatmu. Kemana lagi harus mencarimu, Alya,” gumam putus asa Erick sendiri, sembari tangannya mengusap layar handphone nya lalu mengecup layar handphonenya. Hanya foto Alya ketika acara gala fashion di jadikan wallpaper sebagai obat rindu pria itu.
Tak lama kemudian kepala pria itu menelungkup di atas meja kerjanya, dan terdengarlah suara isak tangis yang ditahan pria itu. Sepertinya semenjak Alya hamil dan pria itu mengalami hamil simpatik, tak luput pria itu sering menangis dalam diamnya, layaknya ibu hamil...hati pria itu sensitif walau di kemas dengan sikap dinginnya.
bersambung........sabar ya Erick...sebentar lagi juga bertemu dengan bumilnya 😊
__ADS_1