Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Tanda tangan kesepakatan


__ADS_3

Erick sering bertengkar dengan Alya, akan tetapi kaget juga mendengar cerita Delila jika Alya bisa berbuat seperti itu tanpa sebab berdasarkan aduan Delila semalam di mansion tanpa menjelaskan siapa wanita itu. Pria ganteng itu mengerem emosinya, jika sampai lepas emosinya di ruangan ini gara-gara termakan omongan Delila maka sudah bisa dia pastikan, Alya akan membatalkan pernikahan dengan pria itu. Sedangkan dua hari lagi, acara pernikahan mereka akan berlangsung, belum lagi sudah menjadwalkan diri ke dokter untuk program inseminasi.


Delila masih terisak-isak, sambil menyandarkan kepalanya di bahu Erick. Hati Alya rasanya ingin tertawa melihat tingkah Delila, terlihat polos dan rapuh. Sedangkan kemarin Alya melihat Delila bagaikan sosok wanita iblis. Luar biasa bermuka dua. Wanita berkacamata itu hanya bisa tersenyum jahat, dan itu tertangkap oleh kedua netra Erick.


“Delila, kamu tahu jika wanita yang ada di hadapan kita adalah calon ibu pengganti, rahim yang kita pinjam. Jangan seenaknya kamu menyuruh mas Erick untuk memecat wanita ini?” tegur Agnes, tidak suka dengan rengekan Delila kepada Erick, tidak suka dan yang jelas cemburu.


“Jadi wanita yang mbak Agnes maksud itu, yang ini!!” terkejut Delila sambil jarinya menunjuk wajah Alya, isak tangisnya langsung mereda.


“Ya...,” Agnes menganggukkan pelan kepalanya.


“Tapi mbak Agnes, mas Erick, wanita ini tetap bersalah!!” ketus Delila, dengan tatapan sinisnya ke arah Alya.


Alya menaruh map yang di pegangnya ke atas meja, “maaf Bu Agnes, sepertinya waktu saya jadi terbuang sia-sia jika berlama-lama di sini. Apalagi harus melihat drama seperti ini. Intinya kesepakatan ini tetap mau di lanjutkan atau tidak di lanjutkan!!” tegas Alya, memberikan dua pilihan.


“Mbak Agnes, tolong di pikir-pikir lagi......lebih baik cari wanita yang lain saja. Sekarang saja dia sudah bisa mengatur-atur,” ujar Delila.


“Deli, tutup mulut kamu,” bentak Erick, pria itu mulai khawatir jika Alya akan membatalkan.


Delila langsung tersentak, tak biasanya Erick membentak dirinya.


“Nama saya bukan Dia, tapi Alya, tolong di ingat ya. Dan tolong ya mbak tidak usah pakai drama-drama di depan suami dengan kebohongan-kebohongannya!” Alya berhenti sejenak.”Tapi jika Pak Erick percaya dengan ucapan wanita yang ada di sebelah kanan, silahkan, kalau gak salah istri Bapak ya!! Namun ingat saya bisa tunjukkan buktinya, siapa yang benar atau yang salah. DAN SIAPA YANG MEMULAINYA!” tukas Alya, sedikit mengejek, membalas tatapan sinis Delila.


Wanita berkacamata itu tak lama beringsut dari duduknya. “Saya permisi dulu untuk kembali ke ruangan, Bu Agnes bisa bicarakan kembali dengan suami, dan-----,” gak enak melanjutkan kalimatnya.


“Duduk Alya!!!” perintah Erick dengan suara yang menggema.


Mendengar perintah dari Erick, Alya kembali duduk. “Lanjutkan apa yang akan kamu lakukan, Agnes!” pinta Erick, pria itu sebenarnya mulai ketakutan Alya akan membatalkan semuanya. Pria itu mulai ada rasa tak rela melepaskan Alya.


“Baik, Mas Erick.”


“Jadi bagaimana Alya, kesepakatannya sudah sesuai, atau ada perubahan?” tanya Agnes.


“Sudah sesuai Bu Agnes, tapi kalau bisa tambahin poin Pak Erick di larang datang ke rumah saya selama kesepakatan ini berjalan, dan ingat saya tetap tinggal di rumah saya selama kesepakatan ini!!” wanita berkacamata menatap tak suka ke Erick, yang duduk di antara ke dua istri cantiknya.


DEG

__ADS_1


Hati Erick sedikit berdenyut mendengar permintaan Alya, dirinya tidak di perkenankan untuk ke rumah Alya lagi.


“Alya tenang saja, suami aku tidak mungkin ke rumah kamu....aku bisa menjaminnya,” jawab Agnes sambil menggenggam tangan suaminya. “Karena Mas Erick tahu jika istrinya adalah kami berdua, aku juga ingin mengenalkan ini adalah Delilah istri kedua Mas Erick. Biar jelas posisinya di sini kamu menikah dengan suami kami, hanya untuk formalitas saja. Dan ingat kamu hanya bertugas mengandung, melahirkan, dan bayi akan menjadi milik kami,” tegas Agnes dengan tatapan penuh percaya diri.


“Dan saya minta tutuo mulut kamu jangan sampai bergosip, kalau Mas Erick memiliki istri yang lain!” pinta Agnes.


“Tenang Bu Agnes, mulut saya tidak suka bergosip.”


“Jadi sekarang silahkan tanda tangan kesepakatannya,” pinta Agnes.


Alya membubuhkan tanda tangan di kertas tersebut, kemudian dilanjutkan oleh Agnes, lalu Erick dan Delila. Akhirnya kesepakatan pra nikah antara Alya dan Erick tercatat dengan jelas dan akan di sahkan oleh pengacara. Wajah Delila terlihat jelas tidak suka dengan Alya, tapi apa kuasa wanita itu untuk menggagalkan rencana Agnes yang lebih berkuasa dan wanita yang selalu menggenggam erat Erick, suami mereka berdua.


Alya kembali ke ruangannya, dan dirinya harus mulai membuat berita akan menikah di kampung calon suami, dan tidak bisa mengundang teman sejawatnya. Dan berharap teman-temannya percaya akan gosip yang dia buat, demi menyelamatkan dirinya sendiri dari gosip jika suatu hari ternyata dirinya positif hamil. Dan tidak mungkin wanita itu berkata jujur jika dirinya akan menikah dengan Bos mereka. Bisa berakibat fatal nantinya.


🌹🌹


TOK.....TOK......TOK


“Permisi, Alya,” sapa Rio, yang tiba-tiba datang ke ruang kerja Alya.


“Alya di minta ke ruangan Pak Erick, sekarang juga,” pinta Rio.


“Maaf Pak Rio, kerjaan saya lagi banyak, memangnya gak bisa by phone aja,” balas Alya.


“Sebentar saya telepon Pak Erick dulu,” Rio langsung menghubungi Erick melalui handphonenya.


“Perasaan baru tadi ketemu di ruang Bu Agnes, sekarang minta ke ruangannya.....memangnya saya gak punya kerjaan ya!!” gerutu Alya. Dan itu kedengaran di telinga Erick lewat telepon.


“Maaf Alya, Pak Erick mau bicara,” ujar Rio sambil memberikan handphonenya ke Alya.


“Ada apa lagi!!” ketus Alya.


“Ke ruangan saya sekarang juga!”


“Buat apa!! Bukannya tadi sudah ketemu. Dan sudah membahas dengan jelas!!”

__ADS_1


“Kalau saya bilang ke ruangan, yang ke ruangan.......tidak usah membantah!!”


“Memangnya tidak bisa di omongin lewat telepon aja?”


“Gak bisa, harus ketemu!!”


“Alasan aja, apa susahnya tinggal bilang. Gak usah pakai di persulit. Waktu saya sudah banyak terbuang, pekerjaan saya sudah menumpuk,” keluh Alya.


“Di sini yang jadi bos itu saya atau kamu?”


“Bapak.......bosnya.”


“Ya sudah, patuhi perintah saya. Saya kan bos kamu!!”


“Astaga lama-lama darah tinggi menghadapi Bos kayak begini, seenak jidatnya aja. Di kiranya saya pengangguran!” dimatikannya sambungan telepon.


“Ini Pak Rio, makasih handphonenya.” Alya langsung beranjak dari duduknya.


“Ayo Pak Rio, temeni ke ruang CEO.”


“Siap Alya.” Rio dan Alya jalan berdampingan menuju ruang CEO yang berada di lantai dua belas.


“Pak Rio, pasti sudah tahu kalau Pak Erick punya istri lebih dari satu?” tanya Alya saat mereka hanya berdua di lift.


“Iya, saya harap kamu tutup mulut masalah itu.”


“Sungguh lucu sekali, kenapa tidak istri keduanya saja yang hamil. Tidak perlu mencari wanita lain!” ejek Alya.


“Atau jangan-jangan Pak Erick yang mandul, masa sudah punya dua istri. Istri kedua tidak hamil juga,” masih lanjut keluarin rasa curiganya.


**bersambung.....


next.......menikah**


__ADS_1



__ADS_2