
Melihat Suster Via sudah berdiri di belakang Rio yang masih duduk di depan meja makan, masih menikmati sarapan paginya. Salah satu mata Alya mengedip ke arah Suster Via.
“Gak usaha malu-malu loh, Pak Rio. Kalau sudah ada rasa suka sama Suster Via, langsung di pepet aja, jangan di kasih celah,” kata Alya, sambil melirik ke arah suaminya yang sedang menyesap kopinya.
“Siapa bilang saya suka sama Suster Via,” balas Rio, pelan.
“Agh......bohong aja nih Pak Rio, kalau gak suka kenapa tadi panggilnya Via, bukannya Suster Via?” goda Alya.
“A-anu tadi hanya keceplosan,” balas Rio sambil mengaruk tengkuknya, mengalihkan rasa gugupnya.
.
“Oooh.....keceplosan toh....di kiraiin Pak Rio sudah ada benih benih suka sama Suster Via,” Alya pura-pura memelas.
Rio tidak bisa menjawab.
“MMM.....ya udah Suster Via gak usah khawatir kalau Pak Rio tidak suka, masih banyak laki-laki yang lain, nanti aku kenalin sama Kak Andri, ya,” lanjut Alya, sambil mengedipkan salah satu matanya ke arah Suster Via.
“Ehh......jangan Nyonya, jangan langsung di kenalin sama cowok lain dong,” Rio ke gelagapan...tidak terima, tapi aneh lihat tatapan wanita itu, ke arahnya tapi bukan dia yang di tatap.
Pria itu mencoba menoleh ke arah belakangnya.
“ASTAGA.......VIA,” kedua mata Rio membulat, tak menyangka Suster Via sudah ada di belakangnya. Pria itu kembali dikerjaiin sama istri Pak Bosnya.
Suster Via hanya mengulum senyum tipisnya.”Selamat pagi, Pak Rio,” sapat sopan Suster Via.
“Pa-pagi......Sus-suster...,” mulai kikuk Rio, serta gugup.
“Suster Via, silahkan duduk, gabung ikut sarapan,” ajak Alya.
“Makasih Mbak Alya,” jawab Suster Via.
Rio beringsut dari duduknya, kemudian menarik kursi kosong di samping pria itu. “Silahkan duduk, Suster,” tunjuk Rio.
“Makasih Pak Rio,” jawab Suster Via dengan wajah malu-malunya.
Pria itu kembali duduk di kursinya, dengan wajah canggungnya karena merasa ketahuan akan pembicaraan tentang wanita yang sudah duduk di sampingnya bersama istri Pak Bosnya.
“Katanya tadi gak suka sama Suster Via. Eeh....kok di suruh duduk di samping sih,” celetuk Alya, sambil mengunyah makanan.
__ADS_1
“Mommy sudah jangan godaiin Rio terus, gak lihat apa wajahnya udah kayak kepiting rebus,” ujar Erick.
“Seru daddy godaiin Pak Rio yang kaku kayak kanebo...,” balas Alya.
Ujung ekor mata Rio melirik wanita yang ada di sampingnya diam-diam.
“Ayo...Pak Rio jangan pakai ngelirik-lirik segala. Kalau suka bilang aja langsung, jangan di tunda-tunda,” goda Alya.
GLEK
Sumpah demi apa Rio kembali tercekat dengan salivanya sendiri di tenggorokan, hingga salivanya susah meluncur ke dalam.
“Ampun...Nyonya Alya...ampun Pak Bos, semalam saya habis mimpi apa. Pagi-pagi udah kena apes begini,” ringis Rio, raut wajah pria itu bak anak kecil.
“Semalam baby twin bilang dalam mimpi, minta Om Rio sama Tante Via buruan nikah. Kata baby twin nanti keburu Om Rio ubanan, nanti gak ada yang mau loh,” imbuh Alya dengan suara meniru anak kecil.
“Ya Allah....baby twin lagi,” geleng-geleng kepala Rio.
Erick dan Suster Via hanya bisa terkekeh kecil, mendengar kata Alya.
“Daddy, kata baby twin kita harus tinggalin mereka berdua, mommy mau lanjut sarapan di depan kolam renang aja,” lanjut Alya masih meniru suara bocah cilik.
“Ayo sayang, bangunnya hati-hati,” ujar Erick, sembari tangannya memegang lengan Alya, membantu untuk beranjak dari duduknya.
Sedangkan Pak Arif mengambil piring milik Nyonya nya untuk di pindahkan.
“PAK RIO JANGAN LUPA PEPET TERUS. KALAU GAK MAU SUSTER VIA DI REBUT SAMA COWOK LAIN,” teriak Alya yang jaraknya sudah jauh dari ruang makan.
Jantung Rio berasa mau copot dengar teriakan Alya,”astaga si Nyonya gak punya akhlak, dasar Nyonya bar-bar,” gumam Rio sambil mengelus dadanya.
“Maaf ya Via, istri Pak Bos aslinya bar-bar,” ujar Rio.
“Gak pa-pa kok Pak Rio, mbak Alya itu orangnya baik dan humble, apa adanya. Saya senang bisa berkenalan dengannya,” balas Via, yang justru membela Alya, Rio seakan terpojokkan.
“Ya sudah di lanjut makannya,” ucap Rio.
“Iya...Pak Rio.”
Dua sejoli yang sedang di jodohkan oleh Alya, sungguh hikmat menikmati sarapan paginya, padahal kedua sejoli ini jantungnya sudah berdebar-debar, namun ditutupi dengan sikap heningnya, hanya fokus sama piring beserta isinya.
__ADS_1
🌹🌹
Esok hari
Mansion Utama
Hari ini sesuai dengan rencana dan permintaan kedua orang tua Erick, nanti siang akan digelar hajatan syukuran untuk calon baby twin yang sempat tertunda karena tragedi kecelakaan yang menimpa Alya, Erick dan Rio. Walau tangan kanan pria itu di gips lalu di sanggah, tidak menyurutkan kebahagian untuk acara yang di gelar hari ini.
Pria itu masih setia memeluk istrinya yang sedang terisak menangis, dan terus menghujani kecupan mesranya di kening istrinya.
“Sudah sayang jangan menangis lagi, nanti make upnya luntur,” ledek Erick, sembari mengusap air mata di pipi istrinya
“I-ini gara-gara daddy sama mama Danish, bikin mommy menangis....hiks...hiks...,” jawab Alya tersedu-sedu.
“Kenapa gara-gara daddy, sayang. Daddy melakukan semuanya karena daddy cinta sama mommy,” balas Erick.
“Ta-tapi jangan berlebihan juga daddy, mommy jadi terharu......hiks...hiks...,” wanita itu kembali memeluk suaminya, tidak perduli dengan tangan kanan Erick.
Menangis bukan hanya karena suatu yang sedih atau tertimpa masalah. Terkadang kebahagiaan yang datang bisa membuat seseorang menangis. Seperti sekarang, suami gantengnya memberikan kejutan indah buat istri tercintanya. Pria itu sengaja membuat acara syukuran baby, layaknya wedding party, dan hal itu membuat si bumil bahagia atas kejutan yang di buat oleh suaminya, Erick.
“Maafkan daddy, saat aku menikahimu hanya mengadakan akad nikah saja, tanpa ada pesta. Hari ini aku ingin menggantikannya, untuk wanitaku, kekasih hatiku, mommy anak-anakku, Alya Zafrina Sadekh.”
bersambung......
__ADS_1