Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Perdana masuk kamar Erick


__ADS_3

Erick masih menggenggam tangan Alya.”Kita istirahat di kamar, sebelum makan malam tiba,” ujar Erick.


Alya melepaskan tangannya dari genggaman pria itu dan berhenti melangkah, karena terasa berat untuk melanjutinya.


“Pak Erick, sepertinya saya tidak bisa tinggal di mansion Bapak.”


“Kenapa? ini mansion saya, Alya.”


“Saya tiba-tiba teringat Agnes dan Delila, pasti mereka berdua pernah tinggal di sini. Saya tidak enak rasanya, Pak Erick.” Alya memberikan alasannya, entah kenapa  tiba-tiba ada perasaan tidak nyaman di hati wanita itu.


“Saya tidak mau tinggal di mansion ini dengan terbayang bayang Agnes dan Delila, itu jadi beban berat buat saya, Pak Erick.” ucap jujur Alya. Tidak pernah terlintas oleh pikiran wanita itu untuk menginjakkan kakinya di mansion Erick, apalagi tinggal satu atap dengan Erick walau mereka pasangan suami istri yang sah.


Erick menghela napas panjangnya kemudian menatap teduh wanita itu.”Sementara kita tinggal di mansion ini, besok saya akan mencari mansion baru. Mau ya,  hanya untuk beberapa hari saja,” bujuk Erick dengan melembutkan suaranya.


Sebenarnya pria itu juga sudah memikirkan dan merencanakan ketika Alya mau tinggal dengannya  akan membeli mansion baru, untuk tempat tinggal dia dengan Alya, sebagai tanda awal Erick berumah tangga dengan Alya, menghargai perasaan Alya sebagai istri dan ibu anak-anaknya. Dan membuang semua kenangannya dengan Agnes dan Delila, walau pria itu sudah mulai melupakannya..


“Alya untuk sementara mau ya, untuk beberapa hari saja, tinggal di sini, tolong jangan jadikan beban buat kamu ya, tolong buang pikiran tentang Agnes dan Delila,” bujuk Erick kembali, tapi sedikit memaksa.


Alya tidak menuntut dibelikan tempat tinggal yang mewah atau di belikan mansion baru, cukup tinggal di rumah yang sederhana juga sudah jadi. Lagi pula tinggal bersama dengan pria itu hanya dalam waktu empat atau lima bulan.


Tapi tak bisa di pungkiri hati kecil wanita itu dapat membayangi rasa suka dan duka menjalankan biduk berumah tangga antara Agnes dan Delila bersama Erick, walau belum pernah melihatnya.


“Ya sudah......,” jawab pasrah Alya menyetujuinya, dengan hati yang terpaksa juga.


Hanya empat bulan hidup bersama Pak Erick, jangan banyak menuntut hal yang banyak Alya....jangan minta di belikan rumah baru, lagi pula tiap hari kamu juga tidak akan di mansion ini, mending jangan di bayangkan apa pun......batin Alya.


“Terima kasih, sekarang kita ke kamar,” ajak Erick, pria itu kembali meraih tangan wanita itu. Kemudian menaiki anak tangga, ke lantai dua menuju kamar utama, kamar pribadi Erick.


Pak Arif sudah duluan ke kamar utama, karena mengantarkan barang belanjaan yang telah di keluarkan dari bagasi mobil.

__ADS_1


“Silahkan Tuan, kamarnya sudah di rapikan dan bersih,” ujar Pak Arif ketika membantu membukakan pintu untuk Tuan dan Nyonya nya.


“Makasih, Pak,” jawab Alya.


Debaran jantung Alya mulai dag dig dug ketika masuk ke kamar utama, seumur hidup wanita itu baru memasuki kamar milik seorang pria. Kedua netra wanita itu mulai menelisik kamar tersebut, dari posisi berdirinya masih di depan pintu kamar utama.


“Masuk, Alya,” ajak Erick, dengan tersenyum hangat.


Untuk pertama kalinya Erick mengajak seorang wanita masuk ke kamar utama, kamar pribadi pria itu dan itu adalah Alya, bukan Agnes dan Delila. Ya...walau Delila pernah sekali masuk ke kamarnya tanpa izin, dan itu membuat Erick murka.


 “Ayo Alya, jangan berdiri di depan pintu...,” Pria itu sedikit menarik tangan Alya.


“Agh.....iya Pak,” ada rasa canggung dan serba salah ketika masuk ke dalam kamar pria itu. Di bukanya sepatu high heels dari kedua kakinya, baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Erick mnegambil sepatu Alya dan menaruhnya di dalam ruangan walk in closet.


“Istirahatlah dulu, terserah mau tiduran atau duduk di sofa buat diri kamu nyaman, saya mau mandi dulu,” ucap Erick, sembari membuka jas kerjanya.


“Agh .....iya Pak.”


Sebelum masuk ke kamar mandi, Erick mengambil minum yang selalu tersedia di atas nakas.


“Minum dulu ya, pasti kamu haus...dari tadi kamu belum minum,” imbuh Erick sembari memberikan gelas yang sudah di isinya.


“Makasih, Pak Erick,” Alya meraih gelas dari tangan Erick, kemudian meneguknya sampai tandas.


Pria itu sudah masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Alya memilih duduk di sofa, menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, melepas rasa lelah dan penatnya.


Kembali lagi kedua netra wanita itu menelisik kamar mewah milik Erick, ketika pandangannya tertuju ke ranjang, wanita itu membayangkan jika ranjang itu tempat peraduan Erick dengan Agnes atau dengan Delila. Wanita itu menghembuskan napasnya dengan kasar, ketika bayangan itu muncul.


“Hufh.....,” gumam Alya, lantas wanita itu memejamkan matanya, agar bayangan percintaan Erick dan Agnes menghilang.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian......


Wangi maskulin menyeruak di dalam kamar ketika Erick keluar dari kamar mandi, hanya dengan balutan handuk di pinggangnya, pria itu melihat istrinya memejamkan mata dalam posisi duduknya.


Tutup mata aja cantik.....batin Erick.


Pria itu melangkahkan kakinya pelan-pelan mendekati Alya, kemudian duduk di samping wanita itu.


“Mommy nya baby twin capek ya,” ujar Erick pelan, salah satu tangannya mengusap pipi Alya, lalu mengecupnya dengan mesra.


Merasa pipinya terasa basah dan hangat, wanita itu mengerjapkan kedua kelopak matanya, kemudian matanya mendelik, melihat bagian atas Erick tidak menggunakan baju.


“Agh.....Pak Erick por-no....telan-jang,” teriak Alya, salah satu tangannya menutup matanya.


“Cepetan pakai bajunya, Pak Erick!!” Teriak Alya.


“Telan-jang dari mana Alya? Saya pakai handuk kok. Lagi pula kalau saya telan-jang di depan kamu, juga sah-sah aja,” goda Erick masih duduk di samping wanita itu.


“Pak Erick, cepatan pakai bajunya, kalau enggak saya tidur di kamar yang lain!!” ancam Alya, masih menutup matanya, akan tetapi tangan yang lain menepuk bahu Erick agar menjauh darinya. Pria itu tertawa kecil melihat tingkah laku Alya.


“Ooh....mata saya ternoda, udah gak perawan lagi. Cepat pakai bajunya,” masih teriak si bumil. Untung aja kamar pribadi Erick lagi mode kedap suara, coba kalau lagi off, yang ada kepala pelayan atau pelayan mengetuk pintu kamar Tuannya, setelah mendengar teriakan Alya.


“Di sini gak ada kamar kosong, jadi jangan coba-coba pindah kamar!!” balas Erick, pria itu mengalah dan menuruti perintah Alya, untuk mengenakan pakaiannya.


Kamar yang pernah di tempati Agnes dan Delila sudah di renovasi total, barang bekas pakai oleh kedua mantan istrinya seperti ranjang beserta isinya di keluarkan, dan diserahkan ke Pak Arif, mau di jual atau diberikan ke orang yang membutuhkan.


Erick masuk ke ruang walk in closetnya. Alya sebelum membuka matanya terlebih dahulu meraba sofa di sampingnya, untuk memastikan jika Erick tidak ada di sampingnya.


“Akhirnya.......aduh jantung rasanya mau copot, bisa-bisanya Pak Erick gak pakai baju...,” imbuh Alya sambil mengusap dadanya yang masih berdebar.

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2