Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Malam Indah


__ADS_3

Spesial episode 2 bab jadiin 1 bab, jadi agak panjang bacanya, adegan dewasa ya. Yang bocil mohon minggir dulu, yang gak suka....monggo di skip aja. 😁😁😁


🌹🌹


Malam hari


Mansion Utama


Berhubung acara tadi siang cukup melelahkan, Erick dan Alya memutuskan untuk menginap di mansion utama, mereka sekarang sedang beristirahat di kamar milik Erick. Perawat laki-laki sudah membantu Erick untuk bebersih dan mengganti baju piyama. Sedangkan Alya juga sudah membersihkan dirinya, agar terlihat segar.


“Sayang, ini susunya diminum dulu,” seperti biasa Erick membuatkan susu hamil untuk istrinya sebelum tidur.


“Makasih, daddy,” diraihnya gelas tersebut dan meneguknya sampai tandas, kemudian mengembalikan gelasnya.


Alya duduk di tepi ranjang, Erick yang sudah menaruh gelas di atas nakas, turut ikut duduk di tepi ranjang, samping istrinya.


 “Mommy, lelahkah?”


“Lumayan capek, daddy,” jawabnya sambil menatap ke arah suaminya.


“Terima kasih sayang sudah mau menerimaku jadi suami,” ujar Erick, tangan kirinya mengelus lembut pipi wanita itu.


Tatapan  suaminya kali ini sungguh berbeda bagaikan ada sihir yang mampu menyihir wanita itu.


Pria itu mulai menempelkan bibirnya ke bibir ranum Alya, wanita itu merasakan sentuhan hangat, dan tekanan yang begitu lembut dari bibir suaminya.


Wanita itu pun mulai membalas sentuhan lembut nan hangat, dengan tekanan lembut juga. Pria itu mulai menggerakkan bibirnya lalu mendesak untuk dibukakan rongga mulut wanita itu. Gerakan  lembut pria itu akhirnya berhasil, lidahnya mulai menyelusup ke rongga mulut pujaan hatinya.


Dengan napas terengah-engah pria itu menarik wajahnya, kemudian tangannya memegang tengkuk Alya. Bibir pria itu mulai meluncur ke bagian leher, dengan gerakkan lembut penuh puja kepada Alya, pria itu menyesapnya, hingga suara de-sahan keluar dari bibir ranum Alya, merasa ada sensasi yang belum pernah dia rasakan.


Pria itu kembali menarik wajahnya kemudian menatap penuh hasrat kepada Alya.”Aku menginginkan dirimu, bolehkah malam ini aku meminta hakku sebagai suami, dan menjadikan kamu sebagai istriku seutuhnya,” tutur Erick begitu lembutnya.


Alya menyentuh rahang pria itu lalu mengusapnya dengan lembut, mendengar permintaan Erick, sebenarnya membuat jantung wanita itu kembali berdegup kencang. Ada rasa takut dan bimbang untuk melakukannya, apalagi baru pertama kali buat dirinya tapi akan berdosa jika dia menolak permintaan suaminya.


 “Aku takut daddy, apalagi lagi hamil, dan perut bulat. Pasti aku terlihat jelek di depan mata daddy,” ujar Alya.

__ADS_1


“Tadi kita berdua sudah konsultasi dengan Dokter Dewi, aku akan melakukan pelan-pelan dan senyaman mommy, kalau mommy terasa tidak nyaman dan sakit, daddy akan berhenti,” bujuk Erick, pria itu sudah tidak tahan lagi menahan hasratnya yang selalu dipendamnya, apalagi ketika tidur bersama istrinya, sungguh sangat menyiksanya.


“Tapi tangan kanan daddy kan lagi sakit, belum sembuh.”


“Sayang, masih ada tangan kiri daddy yang tidak terluka. Mommy jangan khawatir.......please mommy jangan buat daddy tersiksa lagi,” mohon Erick.


“Pelan-pelan ya Dad,” pasrah sudah wanita itu, akan menyerahkan dirinya untuk Erick.


Bibir pria itu mulai meluncur sampai Alya merasakan panasnya di tulang  selangka kemudian di lehernya. Kemudian bibir Erick menempel di bibir wanita itu, menyesap kedua ujungnya. Tangan kiri Erick menangkup belakang kepala Alya, menahannya sebelum mulut pria itu melummatnya, lidah  pria itu mendorongnya untuk merekahkan bibir wanita itu, Alya lakukan dengan senang hati.


Erick mengerang, dan meluncur masuk dengan cepat dan dalam. Alya lupa dengan rasa takutnya yang sesaat tadi terlintas ketika suaminya minta hak. Yang Alya sadari hanyalah rasa  hangat dari ciuman Erick, dorongan liar bibir mereka yang menyatu.


Erick menyusurkan bibir di sepanjang kulit sensitif di bawa dagu Alya, lidah pria itu mengecap sampai mencapai daun telinga Alya. “Istriku, bumil yang cantik,” ujar pria itu dengan serak. “Jangan pernah meragukan bahwa dirimu sangat cantik walau sedang hamil.”


“Aku akan menunjukkan kamu cantik dan sexy saat hamil.”


Tanpa  ada kesulitan, Erick menurunkan resleting dress Alya, hingga melorot ke bawah. Erick membaringkan Alya dengan lembutnya. Pria itu menggerai helain rambut panjang Alya di atas bantal, ooh sungguh malu wanita itu, tubuhnya sudah tidak memakai dress, hanya menyisakan bra dan cd berwarna hitam.


“Indahnya....,” ucap Erick melihat tubuh istrinya yang hampir polos, serta perut bulat istrinya terlihat jelas, pria itu mengecup perut bulat istrinya.


Kemudian Erick menyentuhkan tangan kiri ke sekeliling leher Alya, lalu menggerakkannya turun ke bahu, kemudian meluncur ke bawah lengan istrinya, lalu menyelisipkan tangannya kebagian punggung Alya, membuka kaitan bra yang dikenakan wanita itu.


“Sungguh tidak adil daddy sudah lihat tubuh mommy, sedangkan daddy masih utuh bajunya,” gerutu Alya.


“Bantu daddy, mom,” pinta Erick, sambil menahan dirinya untuk tidak menjamah dua benda yang sangat menantang untuk di sentuh dan dikulum.


Alya membuang rasa malunya, yang sudah tampil polos di hadapan suaminya. Wanita itu duduk kembali lalu membantu membuka kancing piyama suaminya, lalu membantu melepaskannya, kemudian menurunkan celana piyamanya. Alya mulai panas dingin lihat dada yang berbentuk dan apalagi sesuatu yang mengantung di bawah pria itu, sedangkan Erick sudah gak tahan lihat gerakan Alya, yang terlihat sexy di mata pria itu. Wanita yang  sedang hamil biasanya semakin cantik dan sexy di mata suaminya.


“Akh.....,” desah Alya, ketika buah dadanya sudah diremas oleh tangan pria itu.


Pria itu kembali merebahkan Alya, bibir dan tangan kiri Erick mulai menjelajah, sementara bibir dan kedua tangan Alya mengikuti hal yang sama. Kulit Erick terasa panas dan licin untuk di sentuh, dan asin ketika di cecap. Otot pria itu menegang dan meregang di bawah telapak tangannya. Erick membimbing dan mendorong Alya untuk menyentuhnya dengan intim, dan rasa panas pria itu meningkatkan gairah si bumil.  Mereka seperti dua bagian api, kobaran besar yang menari dan meliuk dan menciptakan panas yang lebih hebat, menciptakan ledakan yang menyulut gairah.


Erick tak meninggalkan sejengkal pun dari tubuhnya tak tercium, tidak ada bagian yang tak terbelai.


Erick mengisap buah dada satu persatu bergantian, dan Alya nyaris menggelinjang keluar dari tempat tidur karena merasa begitu nikmat. Wanita itu menyusurkan jemarinya ke rambut pria itu, menahannya di sana sementara lidah pria itu mengulum pucuk mungilnya, membawa sensasi untuk wanita itu.

__ADS_1


Erick menciptakan  rasa lain di tempat-tempat lain, di atas pinggulnya, di pangkal pahanya, membelai, membelai, mendorong—


Kenikmatan memuncak. Erick bergerak di pangkal pahanya, menempatkan dirinya di titik sensitif Alya. Alya bisa merasakan jika Erick menyentuh celah lembabnya. Wanita itu menyusurkan ujung jemari di dada basah Erick namun hati-hati agar tangan kanan pria itu tidak tersenggol, napas pria itu memburu dan berat, jantungnya berdegup kencang. Erick mengunci tatapan mereka, lalu mulai bergerak masuk sedikit demi sedikit.


  “Sayang, katakan kepadaku kalau merasa sakit,” ujar Erick.


Seakan Alya akan merusak moment penyatuan mereka dengan keluhan dan rintihan sakit. Wanita itu menganggukkan kepalanya, dan mencoba menahan rasa sakitnya untuk hal yang pertama kalinya. Erick mulai bergerak pelan,  tetapi penuh tekad, menghunjam Alya.


“Sayang, kamu begitu panas,” geram Erick.


“Aakh.....dad,” de-sah kesakitan Alya. Pria itu menghentikan sesaat membiarkan diri istrinya menyesuaikan yang telah masuk di dalamnya, kemudian mengecup lembut bibir ranum istrinya, untuk mengalihkan rasa sakitnya, hingga wanita itu kembali terbuai.


Erick kembali bergerak, pria itu mende-sah dengan kepuasan yang mendalam. Tubuh Alya mengetat dan mengencang melingkupi Erick. Ya inilah cinta, penyatuan ini yang membuatnya mustahil untuk mengingat apa pun.


Erick menarik diri, lalu kembali menghunjam masuk. Hunjaman pendek, hunjaman keras, hunjaman menggoda. Sementara itu, Erick terus membelai dan mencium dan berbisik bahwa Alya sungguh cantik, sempurna dan sangat menggoda.


Gerakan pria itu semakin cepat, hunjaman yang dalam semakin sering terasa. Sensasi mulai berputar di dalam diri Alya. Memanaskan, mendinginkan, membentuk sesuatu yang tak bisa disangkal.


Alya menancapkan jemari di bahu Erick, mencakar punggung pria itu. Mereka bergerak bersama dalam satu kesatuan.


De-sahan Alya berubah menjadi pekikan saat rasa nikmatnya semakin intens. Api membakar dirinya saat berbagai sensasi meledak, mengoyak dan menyatukannya kembali, dia terkesiap, terpana dan sangat terpuaskan. Ini bukan mimpi panas lagi, tapi nyata di rasakannya.


Di atas tubuhnya, Erick menggeram, dan menumpahkan benihnya  yang panas ke dalam diri  istrinya. Dengan terengah-engah, Erick menundukkan kepalanya. Alya menyisir rambut basah pria itu dengan jemarinya.


“I love you, sayang, istriku Alya,” ujar Erick.


“I love you to, dad,” balas Alya


Sempurna sudah ibadah mereka sebagai suami istri, Erick sudah memberikan nafkah batin untuk istrinya, begitu pula Alya sudah memberikan  hak atas dirinya buat suaminya.


 


 bersambung......aah leganya setelah sekian lama ditanyaain kapan malam pertama Alya dan Erick berasa kayak punya hutang...😁😁😁. Udah lunas ya Kakak Readers si Alya udah di perawanin sama Erick 🤭🤭.


Kakak Readers jangan lupa mampir ke kisah Salma dan Kavin yaaa.

__ADS_1


Love you sekebon🌹🌹🌹🌹🌹



__ADS_2