
Tidak ada yang salah seorang istri menjadi egois demi kepentingan dirinya, menyelamatkan rumah tangganya. Dan tidak ada juga seorang istri mau di dua kan atau di tiga kan. Karena sejatinya wanita ingin menjadi istri satu-satunya untuk suaminya. Tapi takdir berkata lain, menjelang usia pernikahannya yang ke delapan harus menerima dirinya di madu karena atas kekurangan dirinya. Dan kini wanita cantik itu kembali menerima suaminya akan menikah untuk ketiga kalinya demi mendapat pewaris dari suaminya.
“Kami sanggup membayar Bu Dokter berapa pun untuk melakukan inseminasi, Bu Dokter tidak perlu memberikan masukkan. Intinya kami datang ke sini untuk melakukan inseminasi terhadap Alya,” tegas Agnes.
Sebagai Dokter bukan hanya materi yang di cari, tapi mencari solusi yang terbaik buat pasien. Jika memang hasilnya sangat bagus, pasti dokter akan memberikan saran untuk mencoba memiliki anak melalui hubungan suami istri terlebih dahulu. Sedangkan kasus inseminasi terjadi jika memang ada masalah, misalnya sudah lama tidak memiliki anak setelah melalui proses hubungan suami istri. Barulah opsi inseminasi. Sedangkan ini hasilnya nyata kondisinya sehat rahimnya, tidak ada masalah.
Ya begitulah egoisnya orang, semua mengandalkan uang. Sedangkan uang yang di keluarkan oleh Agnes, masihlah punya Erick, mana ada kekayaan Agnes yang di bawa sebelum menikah dengan Erick. Agnes itu hanya wanita biasa saja bukan dari keluarga yang kaya.
“Maaf Bu Dokter, saya akan tetap melakukan lewat inseminasi saja,” ujar lembut Alya. Tidak mau ambil pusing masalah yang lain. Alya sangat memahami perkataan Agnes, dan wanita berkacamata itu juga tidak mau melakukan pembuahan secara alami, karena Alya juga bisa merasakan jika ada di posisi Agnes pasti berat dan perih melihat suaminya berhubungan dengan wanita lain walau masih istri sahnya juga.
Erick ingin sekali menggenggam tangan Alya, mencoba meyakinkan wanita berkacamata itu, jika pria itu akan selalu berusaha di sampingnya selama prosedur inseminasi tersebut. Akan tetapi lagi dan lagi, Agnes menaut jari jemarinya ke jari suaminya. Seperti mengingatkan pria itu jika ada Agnes istri yang sesungguhnya bukan Alya.
Dokter Dewi hanya bisa menghela napas dan mengelus dadanya. Apa yang di sarankan hanyalah angin lalu.
“Baiklah kalau mbak Alya tetap melakukan inseminasi. Saya hanya minta kepada Pak Erick untuk selalu mendukung dan berada di samping mbak Alya selama proses inseminasinya sampai hasil pembuahannya berhasil. Karena ini pembuahan secara buatan, bukan alami. Dan butuh kesehatan mental untuk sang calon ibu. Jadi kapan Pak Erick dan Mbak Alya akan mulai prosedurnya?” tanya Dokter Dewi, mengabaikan tatapan Agnes yang agak sombong.
“Hari minggu saya dan Alya akan menikah, ke mungkinan hari senin, Bu Dokter bisa jadwalkan,” pinta Erick.
“Kalau menikah, kenapa tidak di coba dulu Pak Erick dan mbak Alya secara alami dulu, tidak perlu mengeluarkan uang dan proses inseminasi yang melelahkan,” ucap Dokter Dewi, kaget ternyata akan menikah, dan kenapa harus inseminasi, jika akan menjadi pasangan halal.
Erick melirik Alya, sedangkan Alya hanya menatap Dokter Dewi.
“Tidak bisa Bu Dokter, suami saya menikah dengan Alya hanya formalitas saja,” Agnes kembali bersuara.
__ADS_1
“Oh seperti itu, baiklah saya akan menjadwalkan hari senin. Dan untuk mbak Alya, saya akan resepkan beberapa vitamin yang sudah mulai dikonsumsi dan jangan lupa beli susu khusus persiapan hamil. Lalu mulai konsumsi makanan yang sehat,” pinta Dokter Dewi, pasrah jika sudah di tuntut seperti itu.
“Baik Bu Dokter, nanti saya akan menyiapkan semuanya buat Alya,” Erick langsung berbicara, padahal Agnes baru saja mau buka mulutnya.
“Ini resep obat yang harus di beli Pak Erick. Saya tunggu kedatangan Pak Erick dan Mbak Alya hari senin, semoga dalam keadaan sehat Mbak Alyanya,” ucap tulus Dokter Dewi, karena melihat kondisi jalan Alya yang sedikit pincang.
“Terima kasih banyak Bu Dokter Dewi,” jawab ramah Alya.
“Sama-sama, sampai ketemu hari senin ya,” balas Dokter Dewi.
Sepeninggalnya mereka bertiga, Dokter Dewi menggelengkan kepalanya, “Kamu bisa lihatkan Via, begitu egoisnya wanita cantik itu, sedangkan wanita yang tidak cantik terlihat tenang menghadapinya. Kadang Allah belum memberikan keturunan kepada seorang wanita pasti ada sebabnya, bisa jadi karena memiliki sikap egois yang tinggi, hingga Allah belum mengizinkan memiliki keturunan. Karena sejatinya seorang anak adalah titipan yang harus di jaga dengan kasih sayang sepenuh hati, bukan mementingkan keinginan diri sendiri."
“Bisa jadi Bu Dokter salah satunya seperti itu, tapi tetap saja kehadiran seorang anak menjadi misterius, rezeki dari Yang Maha Pencipta,” tanggapan Via.
Beginilah yang sering dihadapi oleh Dokter Dewi sebagai Dokter Spesialis Kandungan, sudah ratusan pasien yang di tangani untuk memiliki si buah hati. Berusaha melalui tangan dingin Dokter Dewi, tapi tetap hasil di serahkan kepada Yang Maha Pencipta.
Rio masih terduduk di bangku tunggu, melihat Pak Bos dan Nyonya nya keluar dari ruang praktek, Rio langsung beringsut dari duduknya dan menghampiri Alya. Tanpa bertanya lagi Rio sudah merenggangkan lengannya, dan Alya pun menyambutnya.
“Saya tembus obatnya dulu, di bagian farmasi,” ujar Erick, tumben tidak minta tolong sama Rio.
“Mas Erick, biarkan Rio saja yang ke bagian farmasi, kita tunggu saja di sini. Percuma Mas Erick punya asisten,” tegur Agnes.
“Ini tanggung jawab saya, bukankah kamu menginginkan anak dari Alya. Jadi kita harus turun tangan sendiri untuk keperluanya, bukan Rio yang harus bertanggung jawab, apa Rio yang akan menanam benih ke Alya, seharusnya kamu memahami hal seperti ini. Jika kamu menginginkan seorang anak, yang harus terjun langsung. Bukannya menyerahkan begitu saja!” tegur Erick kepada Agnes, di depan orang banyak.
__ADS_1
“Mas Erick......kamu bikin aku malu. Kenapa bilang seperti itu sama aku, apalagi di depan Alya,” Agnes tersinggung dengan teguran Erick. Alya pura-pura tidak mendengarnya.
“Pak Rio sebaiknya kita tunggu di depan bagian farmasi,” pinta Alya, merasa tidak enak melihat Erick dan Agnes sedang berbicara, apalagi terdengar namanya di sebut.
“Ya....Alya,” Rio mengikuti kemauan Alya, Rio juga tidak mau mendengar perdebatan Pak Bosnya.
Melihat Alya sudah berjalan duluan, Erick segera menyusul sedangkan Agnes sudah bermuka masam.
Di depan ruang farmasi, Alya sudah duduk di bangku tunggu. Sedangkan Erick di temani Rio sedang antre di bagian farmasi.
“Alya terima kasih hasil kesehatan kamu bagus, semoga nanti inseminasinya berhasil,” ujar Agnes yang sudah duduk di samping wanita berkacamata itu, penuh pengharapan.
“Iya Bu Agnes semoga berhasil.”
“Berarti kesepakatan kita akan segera di tanda tangani hitam di atas putih, dan aku harap kamu mematuhi semua persyaratan dari aku,” ucap tegas Agnes.
“Saya juga harap Bu Agnes bisa memenuhi permintaan saya juga.”
“Pasti akan segera aku penuhi permintaan kamu uang satu milyar akan di transfer secepatnya.”
“Terima kasih Bu Agnes.”
__ADS_1