Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Ada yang pingsan


__ADS_3

Mama Yanti dan Sultan berbarengan beranjak dari duduknya, setelah Alya mengajak mereka untuk kembali ke kamar.


“Yuklah....., Kakak juga kangen sama adikku yang ganteng ini,” gemas Alya, wanita itu bergelayutan di lengan kekar adenya.


Erick yang melihat Alya akan keluar dari ballroom, langsung mengejarnya.


“Alya.......” panggil Erick, wanita yang di panggil hanya menoleh sesaat, kemudian kembali memalingkan wajahnya.


Tak terima lihat istri ketiganya membuang muka, Erick langsung menarik lengan Alya, wajah pria itu tampak murka. Kini kedua mata Erick dan Alya saling bersitatap.


 “Apa maksud kamu selama dua hari ini menghindari saya, dan sekarang beginikah sikap kamu setelah menjadi istri sahku?” tegur Erick. Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin di ajakukan oleh Erick, akan tetapi tertahan dengan rasa yang selama dua hari ini tak menentu, kini pria itu terlihat kesal dengan Alya.


Alya memicingkan kedua netranya.


“Sikap apa yang harus saya lakukan Pak Erick, tugasku akan di mulai esok hari Pak Erick yaitu pergi menemui dokter, dan melakukan inseminasi!!”


Pria ganteng itu mendekatkan dirinya ke Alya hingga tak ada jarak di antara mereka berdua, hingga bisa mencium aroma wangi yang menguar dari tubuh istri ketiganya, lembut tapi menggoda. Ditatapnya lekat-lekat kedua mata indah Alya, ingin rasanya pria itu melabuhkan kecupan hangat di kening Alya, tapi lagi dan lagi ada rasa tidak memperbolehkan melakukan hal itu.


Semua orang yang masih berada di dalam ballroom, melihat interaksi Erick dan Alya termasuk Agnes dan Delila dari kejauhan.


“Pak Erick, saya mau permisi ke kamar untuk beristirahat. Agar badan saya fit untuk besok hari, tugas saya sebagai istri Pak Erick, akan di mulai besok, program inseminasi. Hanya itu tugas saya, tidak lebih.......iiishh....,” desis Alya, tak tertahankan karena lengannya di cengkeram erat oleh Erick, wajah pria ganteng itu mulai memerah, menahan emosinya.


Egoiskah pria itu, jika ingin dekat dengan wanita yang baru sah menjadi istrinya. Dan menghiraukan kedua istrinya yang sedang menatap mereka berdua dari kejauhan.


“Saya antar ke kamar...,” Erick menarik lengan Alya yang sudah di cengkeramnya.


“Tidak perlu Pak Erick, ada mama dan Sultan yang akan menemani ke kamar,” tolak halus Alya.


Please jangan buat perkara dengan istri yang lain Pak Erick.....batin Alya tak enak hati.


Erick tidak peduli atas penolakan Alya.


“Mas Erick........tolong Mas Erick,” jerit Delila dari kejauhan, membuat Erick menghentikan langkah kakinya.


“Mbak Agnes pingsan, Mas Erick,” jerit Delila.

__ADS_1


Seketika tangan pria itu yang sedang mencengkeram lengan Alya dilepaskan begitu saja, kemudian berlari menghampiri Agnes yang sudah tak sadarkan diri.


Alya bisa melihat jelas begitu cepatnya pria itu berlari ke tempat Agnes terjatuh dan sudah tergeletak di lantai, tanpa mengucapkan sesuatu pada dirinya lagi. Itulah bukti cinta pria itu dengan istri pertamanya.


Akan tetapi Alya tidak terlalu tersinggung dengan kepergian pria itu begitu saja, karena memang tidak memiliki perasaan apa-apa dengan pria yang sudah menjadi suaminya. Justru Alya terasa bebas ketika pria itu berlari ke istrinya Agnes.


Dari kejauhan Erick terlihat membopong Agnes dan membawanya keluar dari ballroom, ketika Erick melewati Alya yang masih berdiri tak jauh dari pintu ballroom. Pria itu tidak menatapnya dan mengabaikannya.....sikapnya langsung berubah, seakan tidak ada Alya ketika pria itu melewatinya. Jika saja Alya punya rasa suka dengan Erick, mungkin hal itu sangat menyakitkan.


“Hati-hati dengan sikap kamu! Kamu hanyalah orang yang kami bayar, ingat posisi kamu. Kamu bukan istri Mas Erick!!” ancaman Delila ketika melewati Alya yang akan menyusul Erick.


Alya hanya bisa bersedekap melihat Delila, dan tak perlu menanggapi ancaman dari istri kedua Erick. Setelah menatap sinis Alya, Delila berlalu begitu saja.


“Ampun-ampun deh belum ada satu hari jadi istri ketiga, kok udah main di ancam aja ya!!! Malang amat nasib gue!!” gumam Alya sendiri.


Mama Yanti dan Sultan nyatanya sudah duluan balik ke kamar, meninggalkan Alya saat tadi di tarik Erick. Kini wanita itu berjalan menuju kamarnya seorang diri. Wanita berbaju putih menatap lorong hotel, dengan tatapan tanpa arti, kadang wanita itu tersenyum kecut, seakan ingin mengejek dirinya sendiri.


Sesampainya di dalam kamar, Alya membuka maskernya, dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Mama Yanti terlihat sudah berbaring di atas ranjang. Sedangkan adiknya sedang duduk di sofa dengan memainkan ponselnya.


“Sepertinya Kak Alya mulai masuk pendidikan mental nih?”celetuk Sultan.


“Memangnya saya gak bisa lihat kedua mata istri suami kakak tuh,” ujar Sultan. Sebagai lelaki paham dengan sorot mata kedua istri Erick, terlihat tidak suka dengan Alya.


“Ooh....para mak lampir itu. Tenang aja kakak gak bakal baperan kok,” jawab Alya begitu tenangnya.


“Terus sampai kapan kakak pakai topeng terus, buka aja wajah asli kakak......biar mereka tahu siapa kakak!”


“Itu tidak perlu Sultan, kakak sudah nyaman dengan topeng kakak ini.”


“Kakak selalu begitu!!”


“Hei....ayolah dukung kakakmu ini, berikan semangat agar kakak bisa melalui waktu setahun ini. Ini demi kita semua bukan untuk kakak sendiri,” pinta Alya.


“Kakak berhak bahagia, sudah cukup kakak mementingkan keperluan orang lain selama ini. Seharusnya pernikahan kakak ini dengan pria yang mencintai kakak, dan kakak mencintainya juga. Kenapa kakak selalu mengorbankan kebahagiaan diri sendiri demi orang lain,” akhirnya Sultan mengeluarkan uneg-unegnya. Sultan terasa sakit melihat acara pernikahan kakaknya tadi, seperti pernikahan mainan, rasanya hampa dan hambar.


“Sultan, dengarkan kakak. Kakak sudah cukup bahagia jika orang yang sudah kakak perjuangkan merasa bahagia. Di pundak kakak ini ada seratus orang mengantungkan hidupnya. Termasuk kamu, mama dan Bik Sur.”

__ADS_1


“Jika kamu ingin melihat kakak tambah bahagia, maka selesaikanlah pendidikan kamu dengan baik. Segera lulus dan segera bantu kakakmu ini,” ujar Alya sambil menepuk bahu bidang Sultan.


“Saya khawatir sama kakak dalam menjalankan pernikahan ini kak, walau hanya sebagai ibu pengganti,” ungkap Sultan.


Sultan sebagai adik, sangat bangga dan salut dengan perjuangan kakaknya. Semenjak papa mereka meninggal, Kakaknya yang menangani masalah ekonomi, sambil kuliah, mengurusi butik, di samping bekerja di perusahaan lain sebelum di terima bekerja di perusahaan pratama. Sultan ingin melihat kakaknya tersenyum bahagia, karena sudah lama Sultan tidak melihat senyuman cantik kakaknya karena telah di tutupi dengan topeng selama lima tahun terakhir ini.


“Doakan Kakak, agar bisa melewati ini semua. Sekarang kakak mau ganti baju, nanti setelah mama bangun, kita siap-siap pulang ke rumah.”


“Baik Kak....”


🌹🌹


Di kamar lainnya masih di hotel yang sama, Erick masih menunggu Agnes yang belum siuman dari pingsannya, sedangkan dokter telah mengeceknya, dan memberitahukan jika Agnes hanya kelelahan sesaat, tidak ada hal yang serius.


Delila pun turut berada di kamar Erick dan Agnes, dengan alasan ingin menunggu Agnes sampai siuman. Padahal kenyataannya Delila sedang mencoba menggoda dan mencari perhatian Erick.


Pria itu langkahnya jadi mati kutu karena Agnes masih belum siuman.


Sungguh pernikahan ketiga yang sangat aneh. Harusnya malam pengantin dengan istri yang baru di nikahinya, namun kenyataannya dirinya harus menemani istri pertamanya. Pria itu terlihat sangat kecewa, entah kecewa dengan siapa. Kecewa karena Agnes yang tiba-tiba pingsan atau kecewa pria itu tidak jadi mengantar Alya balik ke kamarnya.


 


bersambung


Halo Kakak Readers yang cantik dan ganteng, jangan lupa tinggalin jejaknya, like, komen, vote dan rate ⭐⭐⭐⭐⭐, sungguh sangat berarti buat saya, biar tambah semangat nulisnya 😊.


Terima kasih sebelumnya


Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹



 


 

__ADS_1


__ADS_2