
Agnes dan Alya hening sejenak, tatapan mereka melihat orang lalu lalang di hadapan mereka berdua.
“Aku harap kita bisa berteman, dan satu harus kamu ingat......tolong jaga hati aku sebagai istri Pak Erick, jangan pernah mencari perhatian suami aku. Karena sejatinya aku tidak mau berbagi suami, aku tekankan sekali lagi kamu hanya lah seorang ibu pengganti dan itu kami memberikan imbalan kepadamu, dan bukanlah istri sesungguhnya dari Pak Erick. Jadi janganlah nanti kamu menjadi pelakor dalam rumah tangga aku dengan Pak Erick, karena aku tidak bisa memaafkannya!!” penegasan kembali dari Agnes.
Alya menatap nanar pria ganteng yang masih berdiri mengantre di depan bagian farmasi. Setelah mendengar kata pelakor yang terucap dari mulut Agnes, sebenarnya membuat hatinya sedikit sakit.
“Apakah Bu Agnes tidak sadar, jika Bu Agnes telah membuat diri saya sebagai pelakor sebenarnya secara tidak langsung, ciptaan Bu Agnes sendiri. Dengan cara saya diminta menikah dengan Pak Erick, kemudian menerima benih dari Pak Erick. Lantaa sekarang kenapa Bu Agnes takut saya jadi pelakor. Lagi pula saya sudah diciptakan seperti itu oleh Bu Agnes sendiri kok! Tapi Bu Agnes jangan khawatir saya tidak akan pernah merebut suami ibu.......tenang saja!!” ucapan telak buat Agnes.
Seharusnya Bu Agnes lebih khawatir dengan suami sendiri, bukan mengkhawatirkan saya karena tidak ada niatan untuk merebut Pak Erick dari Bu Agnes......batin Alya kecewa.
Agnes juga langsung tersentak dengan pernyataan Alya, jika dirinya sudah menciptakan seorang pelakor dengan tangannya sendiri.
“Sepertinya urusan hari ini sudah selesaikan Bu Agnes?” Alya sudah mulai tidak nyaman dengan perbincangannya dengan Agnes.
“Iya sudah selesai.”
“Kalau begitu saya pamit duluan Bu Agnes, karena saya masih ada urusan yang lain. Untuk obatnya Bu Agnes nanti bisa kirim pakai ojek online,” pamit Alya.
“Ya...,” Agnes tidak menahan kepergian Alya, justru sengaja membiarkan Alya meninggalkan rumah sakit, tanpa meminta Alya berpamitan dengan Erick sebelum pergi.
Dengan jalan yang sedikit pincang, pelan-pelan akhirnya wanita berkacamata itu keluar dari lobby rumah sakit, dan langsung naik taxi yang sudah di pesannya melalui aplikasi. Dengan taxi itu, Alya menuju butiknya.
“Cih.......gue di bilang pelakor. Benar-benar Bu Agnes tidak bisa menghargai perasaan gue, masih untung gue mau jadi jasa pengganti rahimnya!!” gumam Alya bermonolog.
Wanita mana yang mau di sebut pelakor, lagi pula dirinya tidak pernah mengajukan untuk menjadi ibu pengganti. Justru Agnes lah yang menawarkan kepada Alya.
“Tapi gak salah juga sih, wajarlah Bu Agnes takut gue ngerebut suaminya. Gue juga kalau jadi Bu Agnes juga gak mau di madu,” lanjut lagi Alya bermonolog.
Lepas dari pembahasan pelakor, wanita itu langsung closing pikiran tentang pelakor. Sekarang wanita itu berputar otak ke butiknya, itu yang lebih penting, ketimbang masalah hubungan antara dirinya, Agnes dan Erick.
Sementara kembali di rumah sakit, Erick terlihat kecewa setelah mengetahui Alya telah pulang, dan Agnes tidak menahan kepergiannya. Selama tiga puluh menit pria ganteng itu rela mengantre membeli obat demi calon ibu anaknya.
__ADS_1
“Maaf Mas Erick, aku tidak bisa menahan kepergian Alya.....katanya sudah di jemput sama teman prianya,” ujar bohong Agnes, takut di salahkan oleh suaminya.
Pasti pria yang nama Bram atau Andri.....batin kesal Erick.
“Obatnya biar di antar pakai ojek online aja Mas Erick ke rumahnya Alya, sekarang lebih baik kita makan siang. Aku sudah reservasi di restoran favorit kita berdua,” bujuk Agnes dengan suara merdunya, sembari mengambil plastik obat dari tangan Erick.
“Biar saya saja mengurus obat Alya,” Erick menepis tangan Agnes dari plastik yang berada ditangannya. Kemudian pria itu jalan keluar rumah sakit, di ikuti oleh Rio, begitu pun Agnes segera menyusul suaminya.
Hari ini Erick sudah beberapa kali memendam rasa kecewanya, ternyata dadanya terasa sakit karena calon ibu anaknya.
🌹🌹
Agnes sudah memesan tempat di salah satu restoran mewah yang adi di hotel berbintang, bisa di bilang tempat favorit mereka berdua.
Beberapa menu yang sudah biasa di pesan sudah tersaji di meja. Agnes sebagai istri menyiapkan makan untuk suaminya. Sedangkan sang suami terlihat sedang sibuk dengan handphonenya.
📩 Erick
📩Erick
Sekarang kamu ada di mana? Saya mau antar obat dan susu promilnya.
📩Erick
Alya kenapa belum di jawab!!
Geram hati Erick, pesan yang dikirimnya belum di baca juga oleh Alya.
“Mas Erick, di makan dulu sudah aku siapkan,” pinta Agnes dengan lembutnya.
“A-ah......iya makasih,” Erick langsung menyantap makan siangnya, tanpa semangat. Tapi demi menghargai istrinya, pria itu melahap makanannya seperti biasa.
__ADS_1
“Mas Erick, setelah makan siang. Kita istirahat ke hotel ini sekalian ya,” ajak Agnes, dengan gaya sedikit menggoda.
“Tidak bisa Agnes, urusan saya lagi banyak. Lain kali saja,” tolak halus Erick, mengerti permintaan Agnes untuk memadu kasih dengannya.
“Tapi aku sangat merindukanmu Mas Erick,” jujur Agnes, haus belaian suaminya.
“Agnes, tolong jangan merusak mood makan siang kita berdua. Bukankah kita berdua datang ke sini untuk makan!” tegur Erick.
“Maaf Mas Erick, aku hanya mengungkapkan perasaanku. Mas Erick harus tahu itu," suaranya terdengar sedih.
“Iya saya paham, tapi nanti ada waktu buat kamu juga,” mood Erick untuk melanjutkan makan siangnya, akhirnya hilang juga. Di letakannya sendok dan garpu di atas piring yang masih penuh isinya.
Raut wajah suaminya mulai berubah, Agnes terlihat tidak enak dengan perubahan yang terpancar dari wajah ganteng suaminya. Walau bagaimanapun wanita itu tidak mau Erick berlarut marah dengannya, kalau sudah marah, maka wanita cantik itu tidak bisa merayu suaminya untuk memenuhi pundi-pundinya atau keinginannya. Wanita cantik itu akan berpuasa tidak bisa beli barang-barang bermerk, dan memamerkan ke teman-teman sosialitanya.
“Maaf ya Mas Erick, ayo di lanjut makannya. Ini masih banyak lauknya,” Agnes kembali bersikap mesra dan tidak memaksa kehendaknya.
“Kamu lanjutkan saja makannya, saya pergi duluan........mau menyelesaikan pekerjaan yang lain,” pamit Erick sambil beranjak dari duduknya, kemudian pria ganteng itu mengecup kening Agnes dengan lembutnya.
“Tapi Mas......tolong bayarin makannya dulu...” pinta Agnes, sungguh licik wanita itu, suaminya sudah memberikan black card buat Agnes, tapi masih perhitungan dengan suaminya. Padahal semuanya punya Erick, apa salahnya membayar makan siang pakai kartu milik Agnes. Tapi untungnya Erick tidak mempermasalahkannya.
Pria itu melambaikan tangan kepada salah satu pelayan, dan memberikan black card miliknya untuk membayar tagihan makan siang mereka berdua.
Sekarang tinggallah Agnes seorang diri di restoran, menikmati makan siangnya. Walau kecewa suaminya meninggalkan dirinya paling tidak sebentar lagi akan ada teman-temannya yang akan menemani makan siang setelah sempat dia hubungi.
*bersambung
Kakak reader yang cantik dan ganteng, yang masih punya vote mau dong di lemparin buat Alya dan Erick. Terima kasih sebelumnya.
Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹*
__ADS_1