
Di tempat lain......
“Sialan, brengsek kalian semua!!” umpat Cokro, dengan kedua mata yang memerah.
“Saya sudah membayar banyak kepada kalian, tapi malah gagal rencanya. Yang saya minta tabrak wanita hamil itu. Dasar goblok, gak becus......dasar preman abal-abal!!” maki Cokro.
Pria yang di maki bersama rekannya hanya bisa menundukkan kepalanya.
“Makanya kalau jadi preman tuh jangan abal-abal, tato aja yang dibanyakin. Bukan otot sama otaknya yang di gedeiin,” masih geram Cokro, dengan para preman yang dia bayar untuk mencelakai Alya, anak temannya.
“Terus gimana nasib Asep yang di rumah sakit, Pak Cokro?” tanya salah satu preman.
“Biarkan saja, jangan ada dari salah satu kalian datang untuk menjenguknya. Syukur-syukur Asep mati disana!” sungguh doa yang buruk di ucapkan oleh si Cokro.
“Dan kalian semua sudah ketemu keberadaan Agnes?”
Sudah lebih dari empat bulan Cokro tidak bisa menghubungi Agnes melalui handphonenya, untungnya Agnes sudah memberikan sejumlah untuk biaya mencelakakan Alya kepada Cokro, jadi bisa melanjutkan rencana Agnes.
“Belum Pak, di mansion Erick, kami juga tidak melihat keberadaannya. Tapi pernah saya tanya ke salah satu pelayan, katanya Agnes sudah di ceraikan oleh Erick,” kata salah satu preman.
“APA......BERCERAI....SIALAN!!” umpat Cokro.
BRAK
Kaki pria tua itu menendang salah satu bangku plastik dengan kencangnya, untungnya para preman langsung menyingkir hingga tidak terkena bangku plastik.
"Ajak teman preman kalian semua, cari anak saya sampai ketemu. Ini tidak bisa di biarkan. Anak saya sampai di ceraikan. Brengsek, Erick!!" naik pitam si Cokro.
Pria tua itu tidak tahu jika dia sudah menjadi DPO di kantor kepolisian, dan sudah banyak aparat mencari keberadaan Cokro. Jejak langkah priia itu sebentar lagi akan tercium, apalagi ada beberapa aparat menyamar menjadi preman.
**
Seminggu berlalu....
Mansion Erick
Sudah tiga hari Alya dan Erick kembali ke mansion Erick.
__ADS_1
Rio terpaksa ikut tinggal di mansion Erick selama masa pemulihan, karena saudara dan kerabatnya tinggal jauh di luar pulau Jawa, jadi tidak ada yang mengurusnya, kalau di mansion Erick paling tidak banyak pelayan yang bisa membantunya.
Erick juga menyewa perawat laki-laki untuk membantu pria itu dan Rio sekaligus, karena jika Alya yang membantunya dan mengurusnya, pria itu kasihan melihat perut bulat istrinya. Takut mengalami kelelahan yang berlebihan.
“Mommy, makan juga dong,” pinta Erick, ketika wanita itu menyuapinya makan sarapan paginya.
“Iya nanti kalau mommy sudah selesai suapin daddy, baru mommy makan,” tukas Alya sembari menyodorkan sendok makan ke mulut Erick.
Tiga hari berturut-turut Alya masak untuk mereka makan, suami mana yang tidak makin jatuh cinta karena perhatian kecil dari istrinya, apalagi di pernikahan sebelumnya para istrinya tidak pernah masak untuk dia, walau hanya masakan sederhana.
“Sayang, makasih udah beberapa hari mommy masakin buat daddy. Tapi jangan bikin mommy jadi lelah, daddy kan sudah memperkerjakan cheff di mansion,” pinta Erick.
Alya kembali menyodorkan sendok makannya ke mulut pria itu. “Kodratnya seorang istri harus bisa menyenangi hati suami, salah satunya membuat perut suami kenyang. Caranya ya masak sendiri buat suami, walau sudah ada pelayan atau chef, ya....walau tidak bisa tiap hari. Aku dulu sering lihat mama sebelum mengurus butik, menyempatkan masak untuk papa dan anak-anaknya walau kami ada pelayan. Perhatian kecil itu bisa membuat keluarga tambah harmonis,” tutur Alya.
Tangan Erick yang tidak terluka mengusap lembut pipi istrinya. “Sungguh aku beruntung menikahimu dan memilikimu, sayang. Perhatianmu sangat berharga untukku, jujur aku tidak pernah diperlakukan secara istimewa sebelumnya,” ujar Erick penuh rasa haru.
Wanita itu mengelus punggung tangan suaminya yang masih mengelus pipinya. “Terimalah aku dengan kekuranganku, jangan hanya melihat kelebihanku. Dan terima kasih sudah membuktikan cintamu, dan jangan pernah sakiti aku,” pinta Alya.
“Aku tidak mau berjanji, tapi aku akan membuktikannya, untuk dirimu seorang,” jawab Erick. Dalam per sekian detik tatapan mata mereka berdua terkunci.
Alya hanya bisa tertunduk malu, semburat warna jambu merah mulai muncul di kedua pipinya. Aah sungguh tatapan dan ucapan pria ganteng itu semakin lama semakin memabukkan buat wanita itu.
“EHmmmmm.....,” tenggorokan Rio terasa tercekat, melihat keromantisan Pak Bos dan Nyonya nya.
Erick dan Alya langsung menoleh ke arah Rio, yang masih satu meja makan.
“Oh Pak Bos, Nyonya.......kasihilah saya yang masih jomblo, jiwa saya meronta-ronta melihatnya. Bisakah mesranya di kamar aja, jangan di ruang makan, ini sangat menyiksa saya,” keluh Rio dengan memelas.
“Hahaha.......,” Alya tertawa, mendengar keluhan Rio.
‘Tenang Pak Rio, nanti Suster Via datang mau ganti perban Pak Rio, jadi gak jomblo lagi,” ujar Alya terkekeh.
“Makanya jangan kebanyakan pilih pasangan Rio, jadinya jomblo akut,” sambung Erick.
Rio hanya bisa memanyunkan bibirnya, kemudian melanjutkan makan sarapan paginya.
“Suster Via itu baik, wajahnya ayu, lemah lembut, duh jangan sampai di samber sama cowok lain, Pak Rio....kelamaan mikir nanti nyesel loh,” imbuh Alya.
__ADS_1
Rio malah makin cemberut dengar kalau Suster Via bakal di samber sama cowok lain.
“Jangan pasang muka cemberut Rio, benar kata istri saya. Kenapa tidak mencoba mendekati Suster Via, usia kamu udah 30 tahun sudah seharusnya memikirkan untuk berumah tangga. Biar gak jadi jomblo akut,” ledek Erick.
“Iya Pak Bos, nanti saya pikirkan,” balas Rio.
Semenjak di rumah sakit, Rio jadi tiap hari bertemu dengan Suster Via, dan seperti biasa Rio bersikap dingin meniru gaya Pak Bosnya, tapi diam diam memperhatikan wanita yang berparas ayu. Apalagi kalau Suster Via sudah bicara, suaranya sangat lembut. Tapi yang bikin kacau hubungan Rio dengan Suster Via, yaitu keusilan Alya, yang terkadang mengerjai mereka berdua.....ada aja yang membuat Rio dibuat malu atau kesal dengan kelakuan Alya.
“Sorry Pak Rio, bawaiin baby. Kata baby twin mereka mau lihat Om Rio berduaan sama Tante Via,” itu terus dalih Alya ketika ketahuan usil, lalu memasang wajah cubbynya.
“Oh.....nasib jomblo yang malang,” gumam Rio.
Si bumil memperlihatkan deratan gigi putihnya, dengan senyum lebarnya.
“OMG..... siap-siap bakal dikerjai lagi sama istri Pak Bos, pas nanti Via datang,” tepok jidat Rio, ketika melihat tatapan usil Alya.
Erick hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Cie.....cie....yang sudah manggil Via nih ye...,” ledek Alya.
Rio langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, pria itu sudah keceplosan.
Suster Via yang sudah berdiri di belakang Rio, jadi tersipu malu-malu. Mendengar ucapan Rio sang asisten.
bersambung........maafkan mommy baby twin , Pak Rio, bawaan baby twin 🤭🤭
Kakak Readers yang cantik dan ganteng, sambil menunggu kisah Alya dan Erick selanjutnya, jangan lupa mampir ke novel baru ya, ada kisah Salma dan Kavin di Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci.
Terima Kasih
Love You sekebon 🌹🌹🌹🌹
__ADS_1