
Ajudan Rocky membukakan pintu untuk Pak Arif, yang repot membawa bungkusan.
“Selamat pagi......Nyonya Alya,” sapa Pak Arif, ketika masuk dan melihat Alya sedang duduk di sofa.
“Se-selamat pagi Pak----,” Alya berusaha mengingat wajah Pak Arif, karena baru bertemu sekali dan wanita itu tidak terlalu memperhatikannya.
“Saya Arif, Nyonya Alya, kepala pelayan mansion Tuan Erick. Saya hanya mau mengantarkan pesanan makanan untuk Nyonya,” ujar Pak Arif.
“O-oh........terima kasih Pak Arif.”
“Sama-sama,” Pak Arif segera menata dan menyajikan di meja makan, agar bisa langsung di nikmati oleh Alya.
Derrt........Derrt......Derrt...
Handphone Pak Arif berdering.
Yuni – maid mansion caliing
“Halo Yuni, ada apa?” tanya Pak Arif.
“A-anu Pak Arif, Nyonya Agnes.....” Yuni agak bingung berkata.
“Ada apa dengan Nyonya Agnes....?” kembali bertanya Pak Arif.
“To-tolong Pak Arif sampaikan ke Tuan Erick, Nyonya Agnes sekarang....tidak sadarkan diri di kamarnya.......tadi saya masuk ke kamar Nyonya Agnes buat bebersih kamarnya, terus saya lihat nyonya di tangannya ada botol obat tidur. Kami di sini sudah coba buat sadarkan Nyonya, tapi belum bangun juga,” ujar Yuni dengar suara bergetar.
“Innanillahi, sudah panggil ambulance!” terlihat terkejut di wajah Pak Arif.
“Sudah Pak Arif.”
“Baik kalau begitu, kalian urus nyonya Agnes dulu, nanti saya segera sampaikan ke Tuan Erick,” perintah Pak Arif, lalu mematikan sambungan teleponnya.
“Maaf Pak Arif, bukan maksud saya menguping........ada apa dengan Agnes?” tanya Alya dengan rasa khawatirnya.
“Nyonya Agnes tidak sadarkan diri di kamarnya, kata pelayan mereka menemukan botol obat di tangan Nyonya Agnes. Sebaiknya saya permisi dulu, karena harus segera menyampaikan ke Tuan Erick,” ujar pamit Pak Arif.
“Si-silahkan Pak Arif,” tubuh Alya gemetaran mendengar berita tersebut. Jantungnya mulai berdebar.
“Semoga tidak terjadi hal yang buruk sama Agnes,” wanita hamil itu sedikit mencemaskan.
“Pasti ini ada kaitannya dengan saya dan Pak Erick, Ya Allah kenapa sampai begini,” Alya menepuk dadanya sendiri yang terasa terpukul.
TOK......TOK.....TOK
__ADS_1
“Permisi mbak Alya, waktunya kontrol dengan Dokter Dewi,” ujar Suster Via.
“O-oh iya......tapi Suster Via boleh saya isi perut dulu....” pinta Alya, masih mengatur degup jantungnya.
“Boleh mbak Alya, silahkan......pikir saya sudah sarapan.”
“Makasih suster, sekalian suster Via barengan kita sarapan, ini banyak sekali,” ajak Alya.
Melihat begitu banyak hidangan yang tersaji di meja, Suster Via ikut nimbrung sarapan bersama , tidak enak menolak ajakan Alya.
🌹🌹
Dokter Dewi sedang memeriksa kandungan Alya dengan alat transducernya, yang menempel di perut wanita itu.
“Calon baby twinnya sudah mulai berkembang, ukurannya sesuai dengan usia bulannya mbak Alya,” ujar Dokter Dewi.
“Alhamdulillah,” jawab Alya pelan.
Selesai di USG, suster Via membantu Alya bangun dari atas brankar untuk kembali duduk.
“Mbak Alya, maaf jika saya ingin menanyakan hal yang sensitif dan bukan bermaksud untuk ikut campur. Kalau melihat perjalanan kehamilan mbak Alya dari awal hingga sekarang, sudah berapa kali masuk ke rumah sakit. Seharusnya ibu hamil selalu bahagia selama masa kehamilannya. Tapi ini berbeda untuk mbak Alya,” tutur Dokter Dewi. Wanita paruh baya itu ingin sekali membantu Alya, setelah melihat guncangan yang di hadapi oleh pasiennya.
“Bu dokter sudah tahu kisah perjalanan proses saya sampai mengandung,” Alya terdiam sejenak.....”sejujurnya hati saya tertekan Bu Dokter selama saya hamil,” lanjut tutur Alya.
“Ada yang bisa saya bantu, siapa tahu bisa meringankan beban kamu selama masa hamil ini.”
“Pak Erick dan Bu Agnes,” sela Dokter Dewi.
Alya menganggukkan kepalanya. “Saya ingin tenang selama hamil ini, saya ingin anak yang saya kandung, berkembang dengan baik dan lahir dalam keadaan sehat. Tapi untuk saat ini saya belum ada tujuan harus kemana.”
“Saya ada villa di daerah Sentul Bogor jauh dari pemukiman, cocok untuk tempat istirahat. Jika mbak Alya berkenan, bisa tinggal di villa saya. Dan tempatnya cocok untuk menenangkan diri sejenak dari hiruk pikuk kesibukan kita sehari-hari. Tadinya saya juga mau menyarankan agar mbak Alya menjauh sejenak, sampai calon baby twin kuat. Tapi tidak enak jika saya ikut campur dengan masalah orang,” Dokter Dewi memberikan saran, siapa tahu bisa membantu.
“Benarkah saya bisa tinggal di tempat Bu Dokter untuk sementara waktu?” tanya Alya.
“Benar Mbak Alya, sesekali saya juga akan ke sana. Jadi bisa menemani mbak Alya di sana.”
“Alhamdulillah terima kasih banyak Bu Dokter, kalau begitu saya mau tinggal di sana. Kira-kira siang ini bisa saya tinggal di sana, lebih cepat pergi lebih baik Bu Dokter, tapi apakah hari ini saya bisa keluar dari rumah sakit?” semangat Alya untuk tinggal di sana, tapi kedua netranya mulai berkaca-kaca.
“Siang ini kebetulan tidak ada jadwal operasi, jadi bisa mengantar mbak Alya ke villa saya. Dan kondisi mbak Alya juga sudah lebih baik, jadi bisa melakukan perjalanan jauh ke sana.”
“Alhamdulillah terima kasih banyak Bu Dokter, terima kasih sudah membantu saya. Kalau begitu saya selesaikan biaya administrasi terlebih dahulu.”
“Biaya administrasi rumah sakit sudah di urus oleh Pak Erick, sebaiknya berkemas saja, nanti di bantu oleh suster Via.”
__ADS_1
“Terima kasih Bu Dokter.” Alya kembali duduk di kursi rodanya untuk kembali ke kamarnya.
“Tapi sebentar mbak Alya, sebaiknya tidak usah kembali ke kamar. Bukankah di depan kamar ada yang berjaga?” Dokter Dewi baru teringat.
“Iya saya baru ingat juga, percuma saya pergi jika akhirnya di ketahui oleh orang lain.”
“Sebaiknya suster Via saja yang mengemasi barang milik mbak Alya di kamar, tapi usahakan jangan terlalu mencolok, suster,” pinta Dokter Dewi.
“Baik Bu Dokter, saya usahakan tidak mencurigakan,” jawab Suster Via.
🌹🌹
Menjelang jam dua siang.....
Alya bernapas lega sudah keluar dari rumah sakit, dan sekarang sudah berada di vila milik Dokter Dewi di Bogor, lumayan memakan waktu tiga jam lebih perjalanan dari Jakarta ke Bogor, karena macet dan jauh karena villa milik Dokter Dewi masuk ke area pelosoknya Bogor.
“Semoga kamu betah tinggal di sini,” ujar Dokter Dewi.
“Tempatnya nyaman, pasti saya akan betah. Tapi ngomong-ngomong berapa biaya sewanya Bu Dokter?”
“Gratis buat kamu, saya tidak mau hitung-hitungan.”
“Tapi saya gak enak Bu Dokter kalau tinggal di sini gratis.”
“Betulan gratis tidak di pungut biaya sewa, tapi kalau kamu bersikukuh ingin bayar, lebih baik kasih uang jajan buat mbak yang bekerja di sini aja.”
“Ok Bu Dokter, nanti saya kasih uang jajan tambahan buat si mbaknya.”
“Yang terpenting kamu dan calon baby twin selama di sini sehat.”
“Makasih Bu Dokter, dan tolong jaga rahasia keberadaan saya kepada siapa pun kecuali sama mama. Karena saya sudah kasih tahu ke mama biar tidak cemas.”
“Pasti akan saya jaga rahasianya,” jawab Dokter Dewi.
Alya menghirup sebanyak-banyaknya oksigen ke dalam paru-parunya. Ada perasaan beban yang terlepas di bahunya, kedua netra wanita itu memandang kagum akan pemandangan indah di sekitar villa.
Semoga keadaanmu baik-baik saja Agnes, berbahagialah dengan suamimu.........saya sudah pergi walau belum terlalu jauh.
__ADS_1