
“Pak Bos, ada telepon dari Pak Alex Bank B,” ujar Rio, sambil menyerahkan handphonenya. Erick langsung meraih handphone Rio.
“Selamat siang, Pak Alex,” sapa Erick.
“Selamat siang Pak Erick, maaf mengganggu waktunya sebentar," sapa balik Alex.
“Oh tidak mengganggu Pak Alex, ada yang bisa saya bantu, Pak Alex?” Erick merasa aneh pihak bank B menghubunginya.
“Begini Pak Erick, saya mau konfirmasi masalah cek perusahaan Pratama. Ini ada salah satu karyawan Pak Erick, bernama Fitri datang ke bank untuk mencairkan cek sebesar dua milyar, kalau secara prosedur sudah lengkap membawa memo dengan tanda tangan Pak Erick. Apakah betul cek tersebut sudah sepengetahuan Pak Erick, jika iya.......kami akan segera mengeluarkan uangnya,” konfirmasi Alex selaku Direktur B, yang menjalin kerjasama dengan perusahaan pratama, melalui Alya.
Erick mengeryitkan dahinya, sampai kedua alisnya hampir bertautan. Pria itu mengingat-ingat kapan dirinya terakhir menanda tangani memo untuk mengeluarkan uang sebesar dua milyar.
“Pak Alex, bisa Fitri di suruh menunggu di tempat anda. Saya akan menyusul ke Bank, untuk memastikan memonya,” pinta Erick.
“Baiklah kalau begitu saya tunggu di Bank, Pak Erick.”
“Terima kasih atas konfirmasinya, Pak Alex.”
“Sama-sama.” Alex memutuskan sambungan teleponnya.
“Rio, beberapa hari ini kamu buat memo untuk divisi keuangan tidak?” Tanya sembari mengembalikan handphone milik Rio.
“Seingat saya, tidak ada membuat memo buat divisi keuangan. Tapi saya bisa cek memo keluar di data arsip,Pak Bos.”
“Kamu cek sebentar, setelahnya kita ke Bank B,” titah Erick.
“Baik Pak Bos, saya periksa dulu,” Rio kembali ke ruangannya untuk memeriksa arsip keluar. Dan tidak menemukan fotocopy memo keluar.
Setelah konfirmasi ulang, Erick dan Rio pergi menuju Bank B.
🌹🌹
Bank B
Sesampainya di Bank B, salah satu costumer service menyambut Erick dan Tio, dan mengarahkan ke ruang pelayanan prioritas.
“Maaf jadi merepotkan Pak Erick untuk berkunjung ke sini,” ujar Alex.
“Tidak merepotkan, lagi pula kebetulan ada waktu kosong,” jawab Erick.
__ADS_1
“Sebenarnya tadi saya hanya ingin konfirmasi ulang aja untuk memastikan, karena biasanya jika untuk pengambilan dana besar selalu Alya yang mengurus, datang ke sini untuk menemui saya langsung.”
“Alya, sudah beberapa hari sedang sakit. Jadi tidak bekerja,” jawab Erick, agak berat kalau bilang Alya telah berhenti kerja dari perusahaannya.
“Oh pantas saja, staf saja yang ke sini. Baiklah Pak Erick, ini cek dan memonya yang tadi di bawa oleh staf Bapak,” Alex menyodorkan berkas tersebut ke Erick.
Seketika itu juga Erick memeriksa memo tersebut, memperhatikan dengan detail isi memo, dan terutama tanda tangannya. Bibir Erick menyungging sebelah.
“Staf saya ada di mana sekarang, Pak Alex?”
“Kebetulan menunggu, duduk di depan costumer service.”
“Rio, tolong panggilkan Fitri, minta ke sini!” perintah Erick.
“Baik, Pak Bos,” Rio bergegas keluar.
“Pak Alex terima kasih atas konfirmasinya. Sepertinya di sini ada mis komunikasi dengan staf saya. Untuk pengambilan uangnya, saya tunda dulu,” ujar Erick.
“Baik kalau begitu Pak Erick, jika masih ada yang di butuhkan segera hubungi saya kembali,” balas Alex.
“Pasti akan saya hubungi kembali,” Erick dan Alex mengakhiri pertemuan mereka dengan berjabat tangan.
“Pak Erick,” sapa Fitri yang baru masuk ke ruang prioritas.
“Duduk, Fitri....,” pinta Erick masih fokus dengan memo yang di pegangnya.
Fitri udah mulai panas dingin bertemu dan di panggil oleh Bos Besar.
“Siapa yang memerintahkan mencairkan cek senilai dua milyar?” tanya Erick dengan nada yang menakutkan.
“D-dari dua hari yang lalu saya di suruh mencairkan cek tersebut oleh Pak Fatur, tapi di tolak oleh pihak bank karena tidak ada memo dari CEO perusahaan. Ke-kemudian saya sampaikan perihal tersebut ke Pak Fatur. Lalu tadi pagi saya di minta kembali ke sini oleh Pak Fatur untuk mencairkan cek tersebut dengan membawa memo tersebut, Pak Erick,” ungkap jujur Fitri apa adanya, tidak ada yang di lebihkan atau di kurangkan.
“Fatur yang menyuruh!”
“Iya Pak Erick, Pak Fatur yang menyuruh, sebenarnya saya juga sempat menanyakan keperluannya untuk apa, karena saya sudah dititipi data anggaran minggu ini dari mbak Alya, jadi sedikitnya saya tahu beberapa kewajiban perusahaan yang harus di bayarkan oleh pihak ketiga dan itu tidak sampai dua milyar. Hanya sekitar lima ratus juta,” Fitri kembali menjelaskannya.
“Fitri, kamu jawab jujur. Selama ini siapa yang mengurus masalah semua di divisi keuangan?” Erick mulai curiga.
“Selama ini kami bekerja di bawah arahan mbak Alya, dan lebih banyak mbak Alya yang turun tangan. Bukan Pak Fatur, selaku manager keuangan. Pak Fatur hanya tahunya terima beres dari mbak Alya selama dua tahun ini.”
__ADS_1
“Kamu tahu ini memo dapat dari mana?” tanya Erick kembali.
“Saya tidak tahu Pak Erick, tahu-tahu tadi pagi saya sudah di kasih memo tersebut oleh Pak Fatur untuk di bawa ke Bank,” jawab jujur Fitri.
Erick tersenyum sinis mendengar jawaban Fitri, memo dengan tanda tangannya diterima Fitri di pagi hari, sedangkan pria itu baru tiba di kantor sebelum jam makan siang, dan belum memeriksa, apalagi menada tangani surat atau memo. Berarti ada yang memalsukan tanda tangan ini.
“Kita kembali ke kantor, kemudian sesampainya kamu ambil anggaran yang di buat oleh istri saya, dan bawa ke ruang saya!” perintah Erick.
“Baik Pak Erick.”
Erick beringsut dari duduknya, di ikuti oleh Fitri dan Rio, melangkah beriringan keluar dan meninggalkan Bank B.
Sepertinya memo ini sangat mengejutkan buat Erick, sudah ada oknum yang ingin berbuat nakal di keuangan perusahaannya, dengan memalsukan tanda tangannya, walau sepintas sangat mirip.
🌹🌹
Perusahaan Pratama
Sekembalinya dari Bank B, Fitri bergegas ke ruang finance, dan mengambil berkas anggaran yang dibuat Alya. Kemudian langsung meluncur ke ruangan CEO.
“Ini anggaran yang di buat oleh mbak Alya, dan ini beberapa jadwal pembayaran kepada pihak ke tiga dalam minggu ini. Mbak Alya kalau mau ambil uang, biasanya mengajukan memo ke Pak Rio untuk minta tanda tangan Pak Erick, baru saya yang ambil memo tersebut ke Pak Rio. Dan untuk memo tadi pagi, Pak Fatur yang mengurusnya sendiri.”
Sambil mendengarkan Fitri, Erick memeriksa anggaran keuangan perusahaannya yang di buat oleh istrinya. Luar bisa hatinya bangga melihat kinerja Alya, begitu detail merincikan angka, serta bisa mengalkulasikan untung atau kerugian perusahaannya. Kenapa dirinya baru tahu sekarang. Yaa karena yang selalu melapor adalah Fatur.....tapi pria itu tidak tahu laporan tiap bulan yang di bawa Fatur, hasil pekerjaan Alya.
“Berkas ini saya pegang dulu, dan kamu bisa kembali bekerja,” titah Erick.
“Baik Pak Erick,” jawab Fitri, kemudian beranjak dari duduknya.
“Rio, sepertinya sudah ada yang mulai nakal....atau sudah nakal dari dulu, lihatlah memo ini!” Erick menyodorkan memo ke Rio.
Rio mengurut dada melihat memo tersebut, “ saya tidak bikin memo ini, dan sepintas memang agak mirip tanda tangannya dengan tanda tangan Pak Bos,” ujar Rio setelah memperhatikan secara seksama.
“Kamu panggil Fatur, untuk menghadap saya sekarang juga!!” perintah Erick.
“Baik Pak Bos, siap laksanakan.”
bersambung........kira-kira bagaimana nasib Fatur, dan jujurkah si Fatur masalah tanda tangan 🤔
__ADS_1