Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Alya anak teman Pa--!


__ADS_3

"Pah bukankah lima tahun yang lalu pernah mencelakakan teman akrab Papa sampai meninggal,” tanya Agnes.


“Ya pernah, untuk merebut kekayaan teman papa---“


“Tapi tetap saja kita miskin, kekayaan teman bisnis papa dibawa ke meja judi hingga tak tersisa, harusnya papa yang menduduki perusahaan teman papa bukan orang lain......ya berarti papa bodoh jugalah!!” berdecak kesal Agnes menyela omongan Pak Cokro, kala mengingat kejadian dulu.


“Ya.....kesalahan papa seharusnya setelah papa berhasil merebut bisnis teman papa, tidak dibuat jaminan berjudi,” menghela napas panjang Pak Cokro.


Keluarga Agnes hanya keluarga pas-pasan, karena keberuntungan Pak Cokro punya teman akrab, di ajaklah Pak Cokro oleh teman akrabnya untuk bergabung berbisnis tanpa modal. Melihat bisnis yang dilakukan teman Pak Cokro berkembang dan menghasilkan pundi-pundi uang yang begitu banyak, hati Pak Cokro menjadi tamak serta iri hati melihat teman akrabnya begitu kaya. Dengan minta bantuan rekan bisnis yang lain, Pak Cokro melakukan kecurangan dalam bisnis temannya dan merencanakan kecelakaan yang mematikan agar bisnis temannya bisa pindah tangan ke Pak Cokro bersama rekan yang lainnya.


Namun sayangnya kekayaan dan perusahaan yang diambil dari temannya yang telah meninggal dunia akibat kecelakaan yang di rencanakannya. Hanya di nikmati selama dua bulan, karena coba-coba  berjudi, habislah harta dan perusahaan milik temannya, berpindah tangan ke orang lain. Maksud hati ingin menjadi orang kaya, tapi kembali lagi jadi orang miskin.


Agnes sebagai anak Pak Cokro tidak tahu siapa teman akrab papanya yang telah meninggal akibat kecelakaan yang dibuat oleh papa beserta temannya, hanya tahu beritanya saja.


“Aku ingin minta bantuan Papa,” pinta Agnes, dengan nada sinisnya.


“Kamu minta bantuan apa?” tanya Pak Cokro sambil bersedekap.


“Dulu papa bisa merekayasa kecelakaan teman papa tanpa ada yang curiga. Aku minta papa bantu aku melenyapkan nyawa istri baru Mas Erick, Alya,” ujar Agnes dingin.


Mendengar permintaan Agnes, wanita tua yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Agnes, langsung membungkam mulutnya sendiri dengan salah satu tangannya, kemudian melangkahkan kakinya mundur untuk keluar dari ruangan tanpa menimbulkan suara.


“Astagfirullah.....ya Allah semoga, saya salah mendengar....” kata batin wanita tua itu, masih dalam rasa terkejutnya.


“Kamu yakin ingin melenyapkan  istri baru Erick, bisa saja malah keinginan kamu gagal. Dan kamu sendiri yang akan susah dalam hidup. Sebaiknya kamu minta Erick menceraikan istri barunya saja, tidak perlu melenyapkannya,” balas Pak Cokro.


“Kok Papa tidak mendukung aku sih!!” seru Agnes.


“Bukan tidak mendukung Agnes, coba kamu pikirkan dengan otakmu. Kamu sudah hidup dalam kemewahan berkat suami kamu selama 10 tahun, dan dengan kondisi kamu dinyatakan mandul, Erick masih menerima kamu sebagai istri. Jadi kamu sekarang harus belajar cerdik agar bisa mendapatkan sebagai kekayaan suami kamu, tanpa harus mencelakakan orang lain!!” balas Pak Cokro.


“Memang kamu tidak tahu Agnes, sudah beberapa bulan terakhir ini papa merasa gelisah dihantui oleh kematian teman papa, kembali mengingat nasib istri dan kedua anak teman papa....,” keluh Pak Cokro.


“Sudah lewat beberapa tahun, tumben papa ingat teman yang sudah dibuat celaka sampai meninggal,” celetuk Agnes.

__ADS_1


“Ada orang yang sedang mencari papa, katanya utusan anak teman papa itu. Dan papa dengar akhir-akhir ini anak pertamanya sudah go publick sebagai desainer muda. Papa khawatir kasus kecelakaan teman papa akan di buka kembali,” jawab Pak Cokro.


“Itu urusan Papa.....  aku tidak ikutan. Jika papa tidak mau bantu aku, ya..... berarti cari orang yang bisa membantu aku,” ketus Agnes sikukuh dengan keinginan yang datang tiba-tiba, tidak perduli dengan Pak Cokro.


“Ck.......coba kamu ada foto istri barunya Erick,” decak Pak Cokro, ingin tahu wajah istri baru Erick, hingga anaknya ada niat untuk melenyapkannya.


“Ini foto istri baru Erick, namanya Alya...,” Agnes menyodorkan handphonenya, menunjukkan artikel gala fashion.


Pak Cokro yang melihat wajah Alya, seperti pernah melihatnya, kemudian mencoba mengingat-ingatnya.


“Agnes, istri baru Erick ini, bapaknya sudah meninggalkah?” tanya Pak Cokro.


“Iya, bapaknya sudah meninggal. Kalau gak salah waktu menikah, nama bapaknya.......Rafly.”


Tangan Pak Cokro bergetar hebat, hingga handphone Agnes terjatuh ke lantai.


“A-Agnes.....i-istri baru Erick......anak teman p-papa yang m-meninggal itu,” terbatah-batah Pak Cokro berucap.


Pak Cokro dan Agnes terdiam sejenak, seperti mencerna sesuatu.


“Pah, bantu Agnes melenyapkan Alya, sebelum Alya mencari papa kembali dan menjebloskan papa ke penjara!!” pinta Agnes dengan tegasnya.


Pak Cokro bergeming.


🌹🌹


Villa Daerah Sentul


Banyak sekali bantuan yang di berikan oleh Dokter Dewi, seperti sekarang Dokter Dewi meminta salah satu satu sopirnya untuk ke rumah Alya, mengambil barang yang di butuhkan wanita itu.


Di gazebo berbekal laptop pinjam dari Dokter Dewi, si bumil cantik itu sedang mengadakan zoom meeting dengan karyawan butik Sadekh.


Walau bagaimana pun wanita itu tidak lepas dari tanggung jawabnya sebagai pemilik butik. Meski tidak berada di butik, wanita itu tetap bisa bekerja dan mengkoordinir dari tempat tinggal barunya.

__ADS_1


“Sepertinya serius banget ini kerjanya?” tegur Dokter Dewi, melihat Alya sedang membuat sketsa.


“Eh-eh Bu Dokter, iya sedang bikin rancangan baru, biar cepat di produksi,” jawab Alya tersenyum hangat.


“Wow bagus juga rancangan kamu, boleh dong ibu di buatkan juga dress sederhana buat tugas,” ujar Dokter Dewi.


“Sangat boleh dong Bu Dokter, nanti saya buatkan dress kerja yang cocok buat Bu Dokter. Dan itu free buat Bu Dokter, jangan bayar,” balas Alya.


“Baru saja mau tanya harganya.”


“Free Bu Dokter, itu hadiah dari saya buat Bu Dokter.”


“Terima kasih banyak, Alya.”


“Oh iya Alya semalam, ibu dapat kabar dari rumah sakit. Pak Erick ngamuk-ngamuk di rumah sakit, karena kepergian kamu dari rumah sakit. Tapi untungnya bisa langsung di atasi amarahnya Pak Erick.”


Alya meletakkan pensil yang di pegangnya,”Bu Dokter mohon maaf kalau kepergian saya jadi buat kekacauan di rumah sakit.”


“Hey......ayo wajahnya jangan langsung menyesal seperti itu, hal seperti itu sudah wajar kok. Apalagi suami kehilangan istri cantiknya,” ujar Dokter Dewi sambil tersenyum.


“Bukan istri, tapi ibu pengganti,” balas Alya sambil tersenyum.


Tidak ada yang menyangka kepergian Alya dari rumah sakit, membuat Erick mengamuk ke pihak rumah sakit di malam hari, hingga ruang rawat yang di tempati Alya menjadi kacau balau.


Alya dan Dokter Dewi kembali melanjutkan bincang-bincangnya, sebelum Dokter Dewi kembali bertugas di rumah sakit, dan harus meninggalkan Alya untuk beberapa hari ke depan. Inilah kehidupan baru Alya di tempat baru.


Bersambung.......



 


 

__ADS_1


__ADS_2