
Mama Yanti segera ke ruang tamu untuk menyambut kedatangan calon menantunya.
“Assalamualaikum Bu Yanti,” sapa Erick.
“Walaikumsalam, tumben masih pagi sudah ke sini nak Erick?” ada kecurigaan di hati mama Yanti.
“Sebelumnya saya minta maaf atas kejadian kemarin pagi, saya benar-benar tidak ada niatan untuk memperkosa Alya, Bu Yanti,” Erick agak cemas jika kedatangannya pagi ini di tolak oleh Mama Yanti.
“Ya.....Alya sudah jelaskan ke saya.”
“Maaf Bu Yanti, saya datang ke sini sengaja bawa sarapan buat Alya. Biar cepat sembuh,” Erick menunjukkan plastik yang di bawanya.
“Kebetulan kami lagi sarapan, Nak Erick kalau mau bisa bergabung sekalian,” ajak Mama Yanti.
“Terima kasih Bu, kebetulan saya juga belum sarapan.” Bagaimana belum sarapan, melek mata pria itu bergegas mandi, bersiap-siap lantas ke restoran untuk membeli sarapan buat Alya. Semenjak Alya mematikan teleponnya dan berucap akan membatalkan rencana pernikahannya, pria itu tidak bisa tidur pulas.
Erick mengikuti langkah mama Yanti menuju ruang makan, terlihat Alya sedang makan. Alya sekilas melihat Erick dengan tatapan yang kurang senang dengan kedatangan pria itu.
Sedangkan Erick mengatur dirinya agar kelihatan biasa saja. Padahal hatinya senang melihat Alya sedang duduk di ruang makan.
“Selamat pagi Alya,” sapa Erick, pria itu langsung duduk di samping Alya.
“Mmm.....” gumam Alya.
“Ini saya bawakan sarapan,” ujar Erick dengan membuka bungkusan yang dia bawa.
“Cih......repot-repot segala bawa sarapan, gak lihat apa saya lagi makan. Tidak butuh di bawaiin sarapan!!” jawab ketus Alya, menghiraukan bungkusan yang di bawa Erick.
“Maafkan saya dengan ucapan saya semalam,” ucap tulus Erick, tatapannya tidak teralihkan, kedua netranya menatap teduh ke Alya.
“Saya tidak butuh maaf dari Pak Erick, sudah basi!!” dengus Alya.
__ADS_1
“Erick silahkan di ambil makanannya, kita sarapan sama-sama,” pinta Mama Yanti. Bik Sur memberikan piring kosong ke Erick .
“Makasih Bu,” Erick langsung mengambil nasi beserta lauknya ke piring kosongnya. Dan turut menyantap, sarapan pagi di rumah Alya.
“Ck....pagi-pagi ke sini buat numpang sarapan, memangnya gak di urusin sarapannya sama istri cantiknya di rumah. Secara seorang CEO yang ganteng masa istrinya membiarkan suaminya pagi-pagi sudah ke rumah wanita lain!!” celetuk Alya.
“Bik Sur, bawaiin cabe sekilo ke sini.....pengen ngulek mulut orang rasanya dari semalam!!” pinta Alya dengan nada kesalnya, mengingat hinaan Erick semalam.
Erick yang mendengar celetukan dan nada kesal Alya hanya bisa menghela napas panjang.
“Alya.......!” tegur lembut Mama Yanti.
Alya berhenti sesaat bicaranya.
“Di makan Alya makanan yang saya bawa, ini makanan enak dari restoran terkenal,” pinta Erick melihat makanan yang dia bawa belum di sentuh juga, serta mengalihkan celetukan Alya.
“Makan aja sendiri!! sekalian makan tuh cabenya biar mulutnya makin pedas. Cowok tapi mulutnya kayak cewek, kenapa gak sekalian ganti tuh kelaminnya......percuma punya burung!” jawab ketus Alya, wanita itu buru-buru menghabiskan bubur ayamnya agar cepat meninggalkan ruang makan, sudah muak melihat Pak CEO nya.
Sabar Erick......sabar Erick.....jangan terpancing emosi....batin Erick.
“Mama, Alya minta tolong nanti hubungi mama Danish, sampaikan bahwa pernikahan Alya dengan Pak Erick di batalkan!!” pinta Alya, wanita itu kemudian melepaskan gelang pemberian mama Danish dan meletakkannya di atas meja persis di samping Erick.
“Kamu yakin akan membatalkannya,” tanya Mama Yanti sambil melirik Erick.
“Yakin Mah,” jawab Alya tanpa menoleh ke arah Erick.
Erick menghentikan makannya, kemudian meletakkan sendok di atas piring. Di ambilnya gelang yang telah di lepas Alya, dan meraih lengan kanan Alya, kemudian memakaikan kembali gelang tersebut, akan tetapi di lepas oleh wanita itu.
“Lepaskan tangan anda.....Pak Erick!!”
“Pak Erick masih kurang jelaskah, kalau saya membatalkan pernikahan kita! Jangan memaksa saya memakai gelang itu,” Alya berusaha melepaskan cengkraman tangan Erick.
__ADS_1
“Maaf Bu Yanti, tidak ada pembatalan pernikahan. Ini hanya kesalah pahaman saja antara kami berdua,” penjelasan singkat Erick.
“Tidak mah, kami berdua tidak ada salah paham!!” sanggah Alya.
“Sebaiknya kalian bicarakan baik-baik dulu. Mama tinggal dulu ke halaman belakang,” ujar Mama Yanti, memberi ruang untuk Erick dan Alya bicara.
Alya menatap tajam ke arah Erick yang masih mencengkram lengan tangan kanannya.
“Lepaskan tangan anda Pak Erick!!” geram Alya.
“Tidak akan saya lepaskan, sampai gelang ini kembali terpasang!!” jawab Erick, dengan tatapan tajamnya.
“Tidak akan pernah terpasang lagi gelang itu di tangan saya!! Wanita berkacamata itu beringsut dari kursi makan. Erick pun turut beranjak dari duduknya.
Dengan salah satu tangannya, Alya berusaha membuka cengkraman tangan Erick yang begitu erat cengkramannya.
“Sepertinya anda sudah bertindak konyol Pak Erick!!” Alya menengadahkan wajahnya ke arah pria yang tingginya 185 cm.
“Konyol! Kata kamu.....saya konyol...cih!!”
“Iya anda sangat konyol Pak Erick! Buat apa Bapak mencengkram lengan saya, bukankah itu tindakan Bapak sangat konyol. Saya wanita yang Bapak hina jelek, saya wanita yang Bapak hina matre. Lantas ini apa maksud dari semuanya, Bapak mencengkram lengan saya, memaksa untuk memakai gelang kembali. Kita sudah berakhir dan urusan kerja sama kita BATAL!!”
Salah satu tangan Erick menarik pinggang Alya, agar lebih mendekat ke pria itu. Tatapan Alya semakin menajam melihat wajah ganteng Pak Bosnya.
“Tadi saya sudah minta maaf Alya, saya akui telah berkata kasar, saya sengaja datang pagi-pagi datang ke sini, sampai mengabaikan istri saya di mansion. Apa hal itu tidak mengunggah hati kamu, perjuangan saya untuk minta maaf, dan tidak menerima pembatalan kerjasama ini.”
“Mulut anda begitu pedas Pak CEO, dengan mudahnya Bapak berulang kali menghina saya, lalu dengan mudahnya pula minta maaf dan saya harus menerimanya. Ohh Pak CEO......sekarang saya harus tahu pengorbanan Bapak yang sampai mengabaikan istri di rumah demi datang pagi-pagi ke sini hanya sekedar minta maaf. Lalu di mana hati anda.....Pak CEO!! Tahu tidak rasa sakit di hati saya dengan semua hinaan anda!!! Sungguh anda egois sekali!!” lantang Alya berkata, sudah tidak memikirkan lagi siapa pria yang telah merangkul pinggangnya, hingga tanpa disadari mereka berdua, tubuh mereka sudah menempel bagaikan prangko.
“Saya minta maaf sekali lagi Alya. Saya tidak mau mengecewakan mama dan papa jika sampai masalah pembatalan ini terdengar oleh mereka,” ujar lirih Erick.
“S A Y A T I D A K P E R D U L I!!”
__ADS_1
“Akkh....” ringis Alya, tubuhnya semakin erat di rangkul Erick.