Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Kembali bertemu


__ADS_3

“Siapa yang menyetujui kamu berhenti bekerja dari perusahaan saya!!” suara bariton yang terdengar meninggi, terdengar jelas. Membuat semua yang ada di ruang Alya langsung menoleh ke arah pintu. Terlihat sosok pria ganteng dengan tubuh gagahnya berdiri tegak di pintu ruangan.



Baru beberapa hari pria ganteng itu tidak melihat wajah istri ketiganya, kini pria itu berdiri menatap wanita berkacamata itu dengan tatapan yang tak bisa di artikan, antara ingin marah atau rindu yang bergejolak di hati kecilnya, akan tetapi masih tidak di sadarinya.


Sedangkan Alya yang melihat kedatangan Erick tiba-tiba, hanya membalas dengan tatapan malasnya.


“Semuanya keluar dari ruangan ini, kecuali Alya!!” seru Erick dengan suara tingginya.


Dengan wajah mereka sedikit takut, para staf keluar dari ruangan Alya. Kemudian........


BRAAAKK!!


Erick menutup pintu ruangan dengan membantingnya keras.


Tubuh Alya sedikit tersentak. “Kasihan nasib si pintu, tidak punya salah.......tapi kena di banting. Coba kalau orang yang di banting pasti badannya sudah memar,” celetuk Alya, kembali mengemasi barangnya, dan menghiraukan keberadaan Erick, yang sudah mendekati dirinya.


“E-eh........,” kardus di meja di ambil oleh Erick.


BRAAKK!!


Kardus yang berisi barang Alya, di lempar asal oleh Erick, pria itu terlihat garang wajahnya.


“Apalagi kesalahan barang itu, kenapa pakai segala di lempar!!” gerutu Alya, wanita berkacamata itu mulai berjongkok untuk memunguti barang-barangnya yang sudah berserakan di lantai.


“Aakh.......,” desah Alya, lengannya sudah di tarik oleh Erick, hingga membuat wanita berkacamata itu berdiri, seketika itu juga merapat ke tubuh Erick.


“Mata kamu tidak lihatkah saya ada di sini!!” tegur Erick, dengan suara tingginya.


“Apakah saya harus melihat Pak Erick? Tidakkan? Untuk apa saya harus melihat seorang pria yang sering menghina saya! Atau dengan saya melihat Pak Erick....bapak ingin kembali menghina diri saya lagi.” Ucap Alya dengan tenangnya.


Erick terpaku dengan tatapan mata Alya, mereka berdua saling bersitatap.

__ADS_1


“Lepaskan tangan Bapak, saya ingin mengemasi barang-barang saya!!” pinta Alya dengan suara tegasnya.


“Saya tidak mengizinkan kamu berhenti dari perusahaan saya. Kamu tetap bekerja di sini!!” perintah Erick, sepertinya tidak ingin di bantah lagi.


“Ooh tidak boleh berhenti!! Kenapa? Apa bapak belum puas melihat semua karyawan di sini menghujat saya sebagai perebut suami orang, pengganggu rumah tangga Pak Erick dengan Bu Agnes........iya seperti itu!!” balas Alya dengan suaranya mulai meninggi.


“B-bukan begitu, saya hanya ingin kamu tetap di sini,” jawab Erick, sebetulnya bukan itu alasannya, pria itu ingin selalu melihat Alya setiap hari walau hanya bisa melihat wanita berkacamata itu di kantornya, pria itu sesungguhnya takut tak akan bisa melihat Alya lagi.


“Bukan alasan yang tepat!! Coba sekarang lihatlah di luar sana Pak Erick, dengan kehadiran bapak di sini membuat pernyataan di berita semakin kuat dan benar!! Bapak tahukah perasaan saya? sangat SAKIT!!” wanita itu menunjukkan dadanya sendiri.


Erick langsung menoleh ke belakang, ternyata sudah banyak karyawannya mengintip mereka berdua, terlihat dari kaca sebagai tembok ruangan.


“Sungguh Bapak sangat JAHAT!!” teriak Alya, seketika perut wanita itu terasa kram.


“Akh.......perutku” ringis Alya, wanita berkacamata itu langsung memegang perutnya.


“A-alya.......k-kenapa dengan perutnya,” Erick langsung panik, baru teringat jika Alya sedang mengandung. Di angkatnya tubuh Alya, dan di rebahkan tubuh wanita berkacamata itu di atas sofa.


Alya terkesiap melihat Erick memegang perutnya serta mendengar ucapan Erick. Tapi tak di sangka rasa sakit di perutnya tiba-tiba menghilang setelah di sentuh oleh tangan besar Erick. Apakah si calon baby kembar tahu yang mengelus itu daddynya?


Alya segera menepis tangan Erick yang masih mengelus perutnya, buat wanita itu rasanya bulu kuduknya merinding menerima sentuhan dari seorang pria di bagian perutnya. Sedangkan Erick seperti ada sengatan listrik yang menyentrum dirinya saat menyentuh perut Alya, rasanya tak  rela ketika Alya menepis tangannya.


“Tidak perlu menyentuh perut saya segala!!” dengus kesal Alya.


“M-maaf saya refleks menyentuhnya, lagi pula tadi kamu mengeluh sakit perut ya,” jawab Erick, ada rasa tidak enak juga dia sudah lancang menyentuh perut Alya.


Mereka berdua hening sejenak.......


Wanita itu mencoba mengambil napas panjang dan menghembuskan ke udara pelan-pelan, agar dirinya kembali rileks.”Sebaiknya kita ke rumah sakit saja, saya takut perut kamu terjadi sesuatu hal,” ujar Erick agak cemas. 


“Tidak perlu ke rumah sakit, sebentar lagi juga mulai enakkan perutnya. Sebaiknya Bapak keluar dari sini, biar saya tenang!! Sepertinya calon anak Bapak tidak menyukai kehadiran Bapak, hingga membuat perut saya sakit,” imbuh Alya.


“Apa kamu bilang anak-anak saya tidak menyukai kehadiran saya. Jangan-jangan kamu yang tidak menyukai kehadiran saya!!” balas Erick.

__ADS_1


Alya mendongakkan kepalanya, dan menatap pria ganteng itu yang sedang berdiri dan menatap tajam. Wanita itu melepaskan kacamata bulatnya, merasa perutnya sudah mulai nyaman, berdirilah wanita itu dan membalas tatapan Erick dengan tatapan tajam juga.


GLEK


Pria itu menelan salivanya dengan kasar ketika menerima balasan tatapan tajam dari si mata abu-abu bagaikan mata elang.


“Iya........saya memang tidak suka dengan kehadiran Bapak di sini!!” ujar tegas Alya, seraya tangannya menepuk dada Erick dengan kasarnya.


“Apalagi yang Bapak ingin katakan ke saya, ayo katakan sekarang juga. Sebelum saya meninggalkan tempat ini!" seru Alya.


“Aagh.....,” desah Alya, pinggangnya sudah di rangkul oleh Erick, dengan eratnya.


“Lepaskan Pak Erick!!” pekik Alya.


“Tidak akan saya lepaskan, ingat kamu adalah istri saya!” jujur Erick sangat terpesona dengan mata abu-abu yang sudah tidak memakai kacamatanya, pria itu merasa pernah melihat mata cantik itu, tapi entah di mana.


“Ck......Bapak bilang saya istri. Saya tidak butuh pengakuan dari Bapak,” Alya berdecak kesal. Erick semakin mengeratkan dekapannya tidak perduli lagi dengan karyawan yang sedang melihat mereka dari kaca besar yang ada di ruangan Alya.


Kedua tangan Alya sudah mulai gatal rasanya, di tambah Erick masih belum melepas pelukannya.


“AAAWWW......” jerit Erick kesakitan, kedua tangan Alya sudah menjambak rambut lebat Erick dengan sekuat tenaga wanita itu, akan tetapi kedua tangan Erick masih merangkul pinggang Alya.


“SAKIT ALYA.....HENTIKAN!!” jerit Erick kembali.


Lalu.......


“AAAWW .......,” tubuh Erick langsung bersimpuh, sedangkan kedua tangan pria itu menutup benda pusakanya yang sudah di sikut kuat oleh Alya pakai lutut wanita itu.


“Ooppss......maaf Pak Erick, gak sengaja........jadi kena deh. Semoga adeknya baik-baik aja ya,” ledek Alya.


“Alya.......,” ujar geram Erick menahan kesakitan, rasa gilu mulai  menghampirinya di benda pusakanya. Membuat pria itu tidak berkutik, bergerak saja agak nyeri.


bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2