
Semua direktur meninggalkan ruangan CEO, terkecuali Agnes, wanita itu masih berdiri di hadapan Erick.
“Mas Erick....”
Pria itu mengangkat wajahnya, ”kenapa masih di sini, bukankah sudah saya bilang kembali ke ruangan, termasuk kamu!”
Agnes memajukan langkah kakinya, “jangan mendekat Agnes, kamu membuat saya ingin muntah kembali!!” tegur Erick, dengan mengibas salah satu tangannya.
Wanita itu menghentikan langkah kakinya, “Mas Erick, aku tidak terima mas menegur aku di depan direktur yang lain, apalagi mas meminta Pak Arif membuat surat teguran. Aku ini istri pertama mas, istri yang kamu cintai mas!!” mulai geram Agnes.
Erick yang baru saja membuka dokumen, langsung menutupnya kembali. “Agnes, kamu memang istri saya, tapi dalam bekerja tetap harus bersikap profesional. Selama ini saya membebaskan kamu dalam bekerja sebagai direktur operasional selama tiga tahun ini. Tapi semakin lama saya perhatikan, kamu tidak berkompeten sebagai pemimpin. Lihatlah pekerjaan kamu selama ini banyak di limpahkan ke staff kamu semua. Di kiranya saya tidak tahu selama ini!!” ujar Erick dengan suara tegasnya.
“Tapi Mas Erick, tugasnya sebagai staff memang harus membantu pekerjaan atasannya,” Agnes mengelak, dan tidak mau mengakui kebenaran ucapan Erick.
“Kamu membujuk saya meminta posisi tinggi di perusahaan, sudah saya berikan. Saya pikir kamu bisa menunjukkan keahlian kamu dalam bekerja, akan tetapi hasilnya nol........ingat Agnes jangan karena kamu istri saya, jadi bisa seenaknya menggunakan kekuasaan saya, dengan dalih saya mencintai kamu. Untuk urusan bekerja, saya tidak bisa. Pekerjaan tetap pekerjaan tidak bisa dicampur aduk dengan masalah rumah tangga kita!!” Erick menatap terus ke wajah istri pertamanya.
Rio yang masih berada di dalam ruangan CEO, rasanya ingin tepuk tangan untuk Pak Bosnya, entah kena angin apa....Pak Bosnya sedikit tegas dengan istrinya tersayangnya. Karena asistennya terbiasa melihat Pak Bosnya selalu menurut dan bucin abis dengan istri pertamanya Agnes.
Raut wajah cantik Agnes berubah tidak menjadi manis seketika, awalnya ingin merayu suaminya, agar tidak mengeluarkan surat teguran untuk dirinya. Tapi tampaknya dari perkataan dan wajah Erick, tidak bersahabat.......terkesan dingin dan tak ingin di sentuh.
“Jika kamu ingin tetap bekerja di posisi sebagai Direktur Operasional, tunjukkan kinerja kamu. Saya harap dengan kamu menerima surat teguran tersebut bisa membuat cambuk untuk menjadi lebih baik,” sambung Erick, pria itu kali ini memosisikan dirinya sebagai atasan istrinya, bukan lagi seorang suami.
“Tapi tetap aja Mas Erick aku tidak terima Mas Erick menegur aku di depan yang lain, pokoknya aku tidak terima.....mas Erick harus membersihkan nama baik aku di depan direktur yang lain.........hiks....hiks......,” Agnes mulai terisak-isak, wanita cantik itu berharap suaminya akan luluh dengan air matanya, seperti biasa.
“Huft.........,” Erick menghela napas panjangnya, menghembuskan kasar ke udara. Pria itu sebenarnya cepat berubah hatinya, jika melihat istri pertamanya sudah menangis.
“Rio, tolong bawa Agnes kembali ke ruangannya,” pinta Erick dengan nada malasnya.
“Mas.......kamu kok malah mengusir aku......hiks......hiks...,” semakin jadi menangisnya Agnes.
“Sebaiknya saya yang keluar,” Erick beringsut dari duduknya, kemudian berlalu melewati Agnes, lalu keluar begitu saja dari ruangannya, menghiraukan tangisan Agnes yang semakin kencang.
__ADS_1
Rio terlihat bingung dengan sikap Pak Bosnya, dan segera mengikuti langkah kaki Pak Bosnya.
“Mas Erick.......!” jerit Agnes, kedua kaki wanita itu di hentakannya ke lantai, kesal karena di acuhkan oleh suaminya.
🌹🌹
Restoran
Jam dua siang matahari begitu terik, membuat jiwa yang sedang membara tambah berapi-api.
Di sudut ruangan restoran terlihat Erick duduk dengan asisten pribadinya, pria ganteng itu menikmati makan siangnya tanpa semangat.
“Pak Bos, tumben menegur Nyonya Agnes, apalagi masalah pekerjaannya?” tanya Rio.
“Mungkin sudah saatnya saya menegurnya,” jawab Erick.
“Rio, Alya positif hamil....,” Erick baru memberitahukan kabar baik tersebut, dengan nada tidak semangatnya.
“Wah selamat Pak Bos, akhirnya inseminasinya berhasil. Tapi kenapa Pak Bos tampak tak senang?” Melihat dari raut wajah Erick, hanya tampak lesu, tidak bersemangat.
“Mama dan Papa minta saya menjauhi Alya selama hamil.”
“Ya gak pa-pa Pak Bos, lagi pula Pak Bos juga tidak perlu mendekatinya. Tinggal tunggu waktu sembilan bulan kemudian Alya akan memberikan anaknya kepada Pak Bos. Selesai deh kesepakatan kerja samanya!!” ujar Rio santai, kembali menyantap makan siangnya.
“Tapi Alya sedang hamil anak saya, sebagai daddynya anak-anak, saya harus bertanggung jawab selama Alya hamil. Saya tidak mau dibilang sebagai laki laki brengsek!!” Erick tidak terima dengan ucapan yang baru di ucapkan Rio, mulai terdengar emosi.
“Tenang Pak Bos, jangan kembali emosi.”
Rio menghentikan makannya, kemudian mengambil handphonenya dari kantong jasnya.
“Sepertinya Pak Bos memang harus menjauh dari Alya untuk saat ini, bacalah ini Pak Bos,” Rio menunjukkan Wa grup perusahaan yang ada di handphonenya, dan beberapa artikel di website perusahaan yang berisi hujatan untuk Alya, dan pembelaan untuk Agnes.
TAK DI SANGKA WANITA BURUK RUPA TERNYATA SEORANG PELAKKOR, PERUSAK RUMAH TANGGA BU AGNES DENGAN PAK ERICK.
__ADS_1
USIR DAN PECAT ALYA DARI PERUSAHAAN PRATAMA!! SELAMATKAN IBU AGNES.
Kedua netra Erick terbelalak melihat artikel tersebut, ditambah ada foto Erick dan Alya sedang berciuman di lobby. Kemudian dibacanya sekilas komentar pedas dari para karyawannya.
“Bagaimana menurut Pak Bos, jadi ada baiknya memang tidak mendekati Alya?” Rio menunggu tanggapan dari Erick setelah membaca semuanya.
“I-ini siapa yang buat?”
“Mungkin yang buat salah satu karyawan perusahaan, lagi pula tanpa ada artikel tersebut, banyak saksi yang melihat," ujar Rio
“Kamu cari orang yang buat berita ini, dan hapus laman artikel ini dari website perusahaan!” perintah Erick.
“Baik Pak Bos akan saya koordinasi dengan team IT. Tapi tetap saja Pak Bos, hal ini akan bawa dampak negatif buat Alya, terutama jika nanti dia kembali bekerja.”
Pikiran Erick semakin bertambah, di satu sisi pria itu belum mencari keberadaan Alya, sedangkan di sisi lain sudah ada masalah yang baru, karena ulahnya sendiri.
“Kenapa jadi rumit begini!!” gumam Erick, pria ganteng itu menyugarkan rambutnya ke belakang.
Menjauh dari Alya.........tidak.....tidak.....atau Alya sudah tahu tentang ini makanya pindah dari rumahnya. Kemana kamu pergi.....batin Erick semakin tersiksa.
Andaikan waktu bisa mundur, mungkin pria itu tidak akan bertindak gegabah. Sekarang harus bagaimana, apa yang harus dilakukan. Jika pun semua artikel di hapus, tetap saja semuanya sudah terekam di otak para karyawannya. Lalu siapa yang paling rugi pastilah Alya yang akan semakin terpojokkan. Sedangkan Agnes akan semakin banyak pendukungnya, sebagai korban yang suaminya di rebut oleh Alya.
Sementara di mansion utama.......
Alya menghela napas panjang, berulang kali wanita itu mengelus dadanya. Mau menangis pun tidak bisa.......lalu wanita itu beringsut dari duduknya, kemudian melangkahkan kakinya pelan-pelan, mendekati kolam renang, sambil menggenggam erat handphonenya.
Akhirnya berita buruk itu muncul, dan sangat menggemparkan di kantor.....Alya sang pelakkor.... batin Alya terasa sesak.
*bersambung.......
Hai Kakak Readers yang cantik dan ganteng, beri saya semangat dong 🤗🤗🤗, biar mood lanjut nulisnya 😊*
__ADS_1