
“Dasar cewek kampung ya! loe pasti orang miskin.......jadi gak bisa gantiin baju gue! Jadi loe tuding gue yang salah!” geram Delila melihat wanita yang berkacamata bulat, tangan wanita cantik itu meraih rambut Alya yang di kuncir kuda, dan menariknya.
“AKH......” ringis kesakitan Alya, langsung menahan tangan Delila.
Ooh jangan ditanya lagi kalau Alya, tangannya sudah terasa gatal, turut membalas menjambak rambut Delila. Dengan senang hati, satu tangan menahan tangan Delila, satu tangannya lagi bermain di rambut Delila.
“Dasar cewek kampung!!” teriak Delila, sambil meringis kesakitan.
“Dasar cewek iblis!!” balas Alya, makin jadi menjambak rambut Delila istri kedua Erick.
Teman teman Delila dan pelayan coffe shop segera memisahkan mereka berdua, dan membawanya ke ruang karyawan karena sudah membuat kegaduhan di coffe shop. Terlihat sudah Delila dan Alya, rambutnya acak-acakkan......sudah tak karuan.
Ingin rasanya Delila menghubungi suaminya, tapi jika wanita cantik itu menghubunginya.....hancurlah reputasi yang selama ini dia jaga dengan baik di depan suaminya Erick.
“Maaf Pak, kalau saya sudah membuat keributan di coffe shop,” tulus Alya berucap kata maaf kepada manajer coffe shopnya dengan kerendahan hatinya. Walau bagaimana pun, wanita berkacamata itu terlibat membuat kegaduhan di dalam coffe shop milik orang lain, dan itu sudah salah sebenarnya.
Sedangkan Delila dengan angkuhnya tidak mengucapkan kata maaf, buat apa dia minta maaf, dirinya merasa menjadi korban dan ada buktinya yaitu bajunya yang kena tumpahan minum milik Alya.
Lili turut berada di samping Alya, untungnya kasus penyebab keributan sudah di jelaskan oleh Lili saat meminta rekaman cctv kepada manajer coffe shopnya.
“Kalian berdua bisa melihat rekaman ini,” manajer coffe shopnya memperlihatkan layar laptopnya, terpampanglah siapa yang salah. Delila yang sedang bercanda dengan temannya, temannya tak sengaja mendorong Delila, hingga Delila menyenggol Alya yang sempat menghindar, tapi kena juga akhirnya. Hingga mengakibatkan isi nampan yang di bawa Alya tumpah ke baju Delila dengan tidak sengaja.
Tatapan Delila masih sinis dengan Alya, sedangkan Alya sudah terlihat santai, karena sudah terbukti jelas bukan Alya yang salah, jutru Delila lah yang salah.
“Terima kasih Pak, telah memperlihatkan rekaman ini. Jadi lebih tahu siapa yang bersalah di sini. Dan sekali lagi saya minta maaf telah membuat kegaduhan,” ucap tulus Alya, sambil membungkukkan tubuhnya.
“Untuk mbaknya, minum dan makanannya nanti kami ganti,” ucap Pak Manager, melihat ketulusan Alya dan mau meminta maaf.
“Tidak usah Pak, nanti akan saya beli kembali,” tolak Alya.
“Ayuk Gendis, kita pergi dari sini!!” ajak Delila kepada temannya untuk keluar dari ruangan manager, tanpa mengucapkan kata maaf pada pihak coffe shop, mau pun ke Alya.
Alya segera menghalang jalan Delila yang ingin keluar dari ruang manager.
__ADS_1
“Jika kamu memiliki pendidikan tinggi, seharusnya kamu menyadari kesalahan kamu. Dan bisa menempati diri kamu di sini. Gara-gara kamu telah membuat kegaduhan dan kekacauan di tempat orang lain. Seyogianya kamu minta maaf dengan pemilik tempat, bukan pergi begitu saja!! Percuma cantik, terlihat kaya......tapi attitude bagaikan cewek kampungan!!” tegur telak Alya.
Delila hatinya terasa mendidih dengan teguran Alya, tapi wanita cantik itu hanya bisa mengepalkan tangannya saja.
Dalam keadaan seperti ini ingin rasanya Delila memanggil suaminya untuk membela dirinya dari wanita jelek tersebut.
“Oh iya satu lagi.......jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya. Bisa saja orang itu berpenampilan biasa saja tapi sesungguhnya dia kaya, dan bisa saja orang yang berpenampilan seperti orang kaya, nyatanya dia orang miskin alias berpura-pura menjadi orang kaya,” tegas Alya dengan menyorotkan mata tajamnya ke arah Delila.
GLEK
Delila susah menelan salivanya dengan kasar. Ucapan terakhir agak membuat Delila terenyak 'nyatanya dia orang miskin alis berpura-pura menjadi orang kaya'.
“Kami permisi dulu Pak,” Alya berpamitan kepada manager coffe shop.
“Silahkah mbak,” balas manager.
Alya menghiraukan tatapan tajam Delila, lagi pula untuk apa di perdulikan, mereka hanyalah orang asing yang tak sengaja bertemu.
🌹🌹
Dan kini di pagi hari, pria itu sudah duduk manis di ruang makan dalam rumah Alya dengan tatapan datarnya. Untungnya Alya sudah rapi dengan dandanannya seperti biasa, tidak kecolongan wajah aslinya.
“Pagi nak, kita sarapan dulu,” pinta Mama Yanti.
"Ya, mah," sahut Alya malas dengan kehadiran Pam CEO nya.
“Nak Erick sengaja datang pagi-pagi, katanya mau antarkan vitamin dan susu. Terus jemput kamu ke kantor,” ujar Mama Yanti.
“Mmm........,” jawab Alya, wanita itu sengaja pilih kursi di samping mama nya ketimbang di samping Erick.
“Kemarin pulang sama siapa? Jam berapa kamu pulang? Kenapa semalam telepon dari saya gak di angkat?” rentetan pertanyaan keluar begitu saja dari mulut Erick.
“Huft.........,” Alya menghela napasnya.
__ADS_1
“Kenapa belum di jawab?” tanya Erick.
“Gak wajib di jawabkan!...bukannya kemarin sudah jelas di telepon, jadi jangan di ulang lagi. Tidak ada siaran ulang....titik gak pakai koma.”
Erick mengelus dadanya, kalau di jawab lagi.....yang ada mereka bertengkar lagi di depan mama Yanti.
“Saya bawakan sayur sop daging, sengaja suruh chef di mansion masak buat kamu, mulai sekarang kamu harus lebih perhatikan menu makanan yang bergizi, nanti siang di kantor saya juga suruh chef masak buat kamu,” Erick memajukan mangkok yang berisikan sop daging ke hadapan Alya.
“Makasih,” jawab pelan Alya. Sepertinya tugas wanita berkacamata itu dimulai. Tugas persiapan menjadi ibu pengganti.
Pelan-pelan Alya menyeruput kuah sopnya, lalu sayur dan dagingnya, memang beda kalau masakkan chef......pasti enak. Erick tersenyum tipis melihat Alya mau makan sayur yang sengaja pria itu bawa.
Erick pun turut sarapan pagi dengan Alya dan mama Yanti, kali ini suasananya tenang.
“Bu Yanti, saya mau permisi.......dapurnya ada di mana ya?” tanya Erick, setelah menyelesaikan sarapannya.
“Ada apa nak Erick, biar saya aja yang ambil jika ada yang di perlukan,” jawab Mama Yanti, gak enak masa Erick ke dapur.
“Gak pa-pa bu, biar saya saja, ibu tinggal tunjukkan saja dapurnya,” pinta Erick, sopan.
“Lurus terus belok ke kiri,” ujar mama Yanti.
Pria ganteng itu mengambil paper bag yang di bawanya dan menuju ke arah dapur.
“Ngapain tuh orang ke dapur, aneh.......?” gumam Alya, sambil merapikan bekas mereka makan.
“Mungkin ada yang mau di ambil di dapur,” sahut mama Yanti, turut membantu Alya.
Tak lama kemudian Erick kembali dari dapur, dengan membawa cangkir, kemudian mendekati wanita berkacamata itu.
“Alya, diminum susunya dulu,” pinta Erick dengan menyodorkan cangkir yang sudah terisi susu berwarna coklat.
Sekejab Alya terkesiap, melihat seorang CEO bikin susu buat dirinya. “M-makasih, padahal saya juga bisa bikin sendiri susunya.....lain kali tidak usah repot-repot Pak Erick,” kagok jadinya Alya.
__ADS_1
bersambung