
Dapur di mansion Erick nampak riuh pagi hari ini, yang tiba-tiba saja kedatangan Tuan besarnya. Chef yang bertugas di dapur nampak heran melihat Tuannya sudah memakai celemek.
Pagi ini pemandangan yang sangat berbeda di dapur, membuat para pelayan bertanda tanya dengan Tuannya yang sudah memakai celemek.
“Tuan ada yang bisa saya bantu?” tanya chef.
“Saya mau masak nasi goreng buat istri saya,” jawab Erick.
“Biar saya saja yang masak, Tuan bisa menunggu atau duduk saja,” tawar Deni sang chef.
“Tidak bisa, istri saya minta saya yang masak nasi goreng. Kamu ambilkan saja bahan apa yang harus diolah,” pinta Erick, sambil menatap dapurnya.
“Baik Tuan, saya siapkan bahan-bahannya dulu,” ujar Deni. Pria itu bergegas mengambil nasi, bumbu dapur, mengeluarkan telur, udang dari lemari pendingin.
Erick mengeryitkan dahinya, setelah melihat bahan-bahan yang sudah di siapkan oleh Deni. Wajah pria itu juga mulai bingung harus memulai masak dari mana.
“De-Deni kalau mau masak nasi goreng, mulainya darimana?” tanya Erick dengan nada bingungnya, bagaimana tidak bingung, wong gak pernah masak nasi goreng.
“Bikin bumbu halusnya dulu Tuan, bawang putih dan bawang merah terlebih dahulu di kupas, kalau mau pedas bisa kasih cabai, kemudian diulek tambahkan terasi,” jawab Deni.
“Kalau begitu ajarkan saya mengupas bawang, Deni,” pinta Erick, pria itu langsung mengambil pi-sau.
Jadilah sang CEO untuk pertama kali belajar mengupas bawang merah dan bawang putih di pandu oleh sang chef. Setelah beberapa siung bawang putih dan bawang merah berhasil dia kupas, Deni mengambil batu ulekan atau biasa disebut batu cobek
“Sekarang bawang ini di ulek sampai halus Tuan,” interupsi Deni.
Wajah Erick terlihat heran ketika melihat batu cobek yang di sodorkan oleh Deni. Maklumlah bukan chef dan tidak pernah masak, tidak mengenal alat dapur.
“Terus cara nguleknya bagaimana?” Erick mencari petunjuk dari si Deni.
“Caranya begini, Tuan,” Deni mengambil bawang yang sudah di kupas dan di cuci ke atas batu besar, lalu dengan batu kecil mulai menumbuk bawang tersebut.
Kalau Pak Erick ketahuan masaknya di bantu sama cheff, jadi siap-siap Pak Erick nanti malam tidur sendiri
“Stop, Deni jangan dilanjuti,” melihat Deni mulai mengulek bumbu, Erick langsung teringat ancaman istrinya.
“Biar saya aja yang menguleknya, kalau ketahuan sama istri saya kalau kamu yang mengulek. Bisa-bisa entar malam gak bisa peluk istri lagi,” gumam Erick, rasa takut ketahuannya muncul.
“Silahkan Tuan,” Deni pindah posisi, agar Tuannya bisa melanjutkan mengulek.
Belum ada beberapa menit mengulek, kedua netra Erick mulai meneteskan air mata. “Deni, mata saya kok perih banget.....,” dengan punggung tangannya, pria itu mengusap air matanya.
“Ngulek bawang merah atau mengirisnya, memang bisa buat mata perih dan seperti orang menangis, Tuan. Kalau begitu saya yang lanjuti menguleknya," jawab Deni.
“Hiks.......demi permintaan istri tercinta....,” pria itu kembali mengulek bumbunya sampai halus, dengan air mata yang berlinang. Tidak menerima bantuan Deni.
Sementara di kamar utama....
Melihat di atas nakas ada cookies, wanita itu mengisi perutnya agar tidak terlalu kosong perutnya. Baru lanjut membersihkan diri di kamar mandi.
DEG
Kedua bola mata Alya membulat ketika melihat dirinya di cermin yang ada di dalam kamar mandi.
__ADS_1
“Kok ini leher pada merah-merah,” kedua netra Alya memperhatikan bagian leher sebelah kiri dan kanannya, lalu bagian bahunya.
“Apa iya semalam banyak nyamuk di kamar atau ada hewan," pikir Alya.
“AH..... gak mungkin, masa merahnya bisa selebar ini,” gumam Alya. Wanita itu menunda mandi lalu keluar untuk mengambil handphonenya , kemudian langsung mensearching tentang tanda merah di lehernya. Takutnya dia kena penyakit, apalagi sedang hamil.
“APA.......KISSMARK!!” pekik Alya, ketika membaca salah satu artikel kemudian melihat gambar kissmark yang mirip dengan tanda yang ada di lehernya.
"Semalam mintanya di bibir aja, kenapa bisa sampai di leher!!"
Gigi Alya sudah mulai gemertak, gemas, gregetan bercampur kesal. “PAK ERICK....!!” suara Alya menggema di dalam kamar, hingga terdengar sampai keluar jendela yang terbuka.
Erick yang masih sibuk mengulek, terlonjak kaget mendengar teriakan Alya.
Dengan kesalnya Alya memakai kardigannya, tidak jadi melanjutkan niat untuk mandi, kemudian menuju dapur dengan langkah kesalnya.
Kemudian.......
“PAK ERICK......,” teriak panggil Alya dari kejauhan, terdengar sampai ruang dapur.
“Ya sayang.....ya mommy,” balas sahut Erick dari dapur.
Si bumil sudah berkacak pinggang, dengan tatapannya melotot.
“Iya sayang....saya lagi mau masak nasi goreng....ditunggu sebentar ya,” jawab pelan Erick.
Si bumil mulai mendekati perkakas masak, di ambillah spatula, kemudian mendekati pria itu.
“Pak Erick, semalam abis ngapaiin....hem?” tanya Alya, dengan kedua matanya yang tampak melotot..
“Jangan bohong, ayo semalam abis ngapain, Pak Erick!!” Seru Alya.
Pria itu baru paham yang di maksud Alya.
“Se-sedikit ci--,” pria itu mulai kegelagapan.
“Ini kerjaan siapa, hemmm!!” seru Alya menunjukan lehernya yang sudah penuh dengan kissmark.
Pria ganteng itu menaikkan salah satu jari telunjuknya, dengan wajah ketakutannya...seperti maling yang ketahuan sang pemiliknya, mengakui perbuatannya.
PUG
PUG
“Dasar maling, dasar pencuri,” spatula yang di pegang Alya, sudah mendarat di bokong montok Erick, hingga pria itu berjingkat-jingkat, menghindar tepukan spatula yang melayang dari tangan Alya.
"Auw....Auw..." jerit Erick.
“Ayo mau kemana....hem,”Alya berjalan cepat mengejar Erick yang menghindar.
“Ampun mommy.....ampuni daddy....sakit mommy,” kedua tangan Erick langsung menutup bokongnya, biar tidak kena sasaran tepukan spatula.
Pak Arif, Deni dan beberapa pelayan tahan tawa, melihat kegaduhan di dapur, Tuannya yang selama ini berkarisma, berwibawa, dan selalu dihormati, kali ini lagi di kejar sama istrinya sendiri pakai di bawaiin spatula.
__ADS_1
Dibalik rasa takut Erick melihat amarah Alya, ada rasa bahagia yang bersemayam di hati pria itu. Hanya Alya seorang yang bisa menghukum Erick, mantan bosnya. Hanya Alya yang berani menepuk bokong Erick.
“Loh.....loh ada apa ini kok ramai sekali di dapur,” Mama Danish dan Papa Bayu sampai penasaran mendengar kegaduhan di dapur. Ternyata putranya lagi dikejar sama istrinya sendiri.
Wajah Erick tampak sedang meringis kesakitan, setelah dapat tepukan di bokongnya. “Mah, tolongin Erick, pantat Erick sakit nih.”
Alya yang mendengar suara mama Danish berhenti, mengejar Erick.
“Tuh tanyaiin sama anak mama,” dengus kesal Alya.
“Sayang.....jangan bilang sama mama dong,” ujar Erick, malu kalau mamanya tahu.
“Memangnya Erick ngapaiin kamu, sampai kamu kejar Erick, mana bawa spatula lagi?” tanya Mama Danish.
Alya mendekati Mama Danish. ”Coba Mama perhatiin leher Alya,” Alya mendongakkan lehernya, biar Mama Danish melihatnya.
“Astaga udah kayak totol macan, maaf Erick, Mama gak ikut campur,” Mama Danish melambaikan tangannya.
“Ayo Pah, biarin aja tuh anak berdua berantem di dapur,” ajak Mama Danish sambil terkekeh.
“Memangnya ada apa Mah,” kepo Papa Bayu.
“Ah.....kayak Papa gak pernah muda aja ,biasa kalau malam pertama pengantin baru, Pah,” Mama Danish mengedipkan mata genitnya.
Papa Bayu membalas dengan kekehan kecilnya.
“MAMA, PAPA.....TOLONG ERICK!!’ teriak Erick dari dapur. Alya hanya bisa tersenyum simrk, melihat kedua telinga suaminya telah di jepit sama jepitan jemuran kain.
Para pelayan tidak menolong Tuannya dari hukuman istrinya.
“SELAMAT MENIKMATI ERICK, “ sahut Papa Bayu dari luar dapur.
"Ha....ha....ha....ha...." Mama Danish dan Papa Bayu tertawa terbahak-bahak melihat telinga putranya udah di jewer pakai jepitan jemuran.
bersambung.....
"Ampun mommy, telinga daddy sakit....hiks."
"Siapa suruh bikin kissmark di leher....,"
__ADS_1