
Ceklek....
Erick membuka kenop pintu ruang kerja Papa Bayu. Pria tua itu yang sudah duduk di kursi kebesarannya sedikit melirik ke arah pintu, dan melihat siapa yang masuk ke dalam tanpa mengetuk terlebih dahulu.
“Papa.......,” sapa Erick.
Alya yang sedang duduk di depan meja kerja Papa Bayu, sibuk sedang mengoreksi surat. Wanita itu menghiraukan suara pria yang memanggil Papa Bayu.
“Ada apa Erick, bukannya rapat sudah selesai. Biasanya kamu langsung balik, tidak mampir ke ruangan Papa,” tegur Papa Bayu, tapi sambil melirik Alya yang ada di hadapan pria tua itu.
Erick sebelum menjawab pertanyaan Papa Bayu, langsung duduk di bangku kosong sebelah Alya duduk.
“Mau bicara sama Alya, boleh Pah?” tanya Erick, salah satu tangannya menyentuh tangan Alya yang sedang memegang kertas, hingga membuat wanita itu berhenti menulis. Dan menoleh ke samping, dengan raut wajah datarnya.
Pria itu membalas tatapan Alya, dengan tatapan hangatnya.
“Kamu sudah selesai koreksi suratnya, Nak. Biar Papa langsung kasih ke sekretaris Papa,” tanya Papa Bayu.
“Tinggal sedikit lagi koreksinya Pah,” jawab Alya, sembari menepis tangan Erick.
“Erick, biarkan Alya menyelesaikan suratnya dulu. Karena mau dikirim ke klien,” pinta Papa Bayu, memahami jika putranya sudah ingin sekali berbicara dengan Alya.
“Baik Pah,” balas Erick, pria itu tatapannya sangat setia memandang wajah cantik si bumil dari posisi samping, sedangkan si bumil fokus sama suratnya.
Dari tempat duduknya Papa Bayu tersenyum tipis melihat Erick dan Alya. Yang satu menatap terus, yang satu lagi cuek.
Semoga kalian berdua bisa bersama-sama, membangun mahligai rumah tangga sampai menua.....batin Papa Bayu.
Sepuluh menit kemudian....
“Suratnya sudah selesai, Alya antar ke sekretaris Papa dulu,” alasan Alya untuk menghindar dari Erick, wanita itu beranjak dari duduknya.
“Biar Papa saja yang berikan kebetulan Papa mau koordinasi dengan Lia,” pinta Papa Bayu, ikutan beranjak dari duduknya.
“Ta-tapi Pah,” agak kagok Alya, mau tidak mau menyerahkan suratnya ke Papa Bayu, dan pria tua itu keluar dari ruangannya sendiri.
Berhubung Alya sudah berdiri, wanita itu memutuskan untuk pindah posisi menuju sofa, untuk mengambil tas tangannya yang tergeletak di atas sofa, Erick mengikutinya.
“Mau kemana?” tanya Erick, sambil merebut tas tangan milik Alya.
__ADS_1
“Pulang,” jawab singkat Alya, tanpa menatap pria yang berdiri di hadapannya, tatapannya hanya ke tas yang ada di tangan pria itu.
“Kali ini saya tidak izinkan kamu pergi lagi seperti empat bulan yang lalu, itu sudah cukup membuat saya menderita.”
“Berikanlah tas saya, Pak Erick,” pinta Alya memohon, tapi masih saja tidak menatap wajah Erick, membuat pria itu merasa gemas lihatnya.
Alya tidak kuat melihat wajah Erick, pria yang selalu hadir dalam mimpinya. Mimpi panas yang sering hadir di waktu yang tak menentu. Maka dari itu, Alya sering mengalihkan tatapannya.
Erick mengikis jarak antara mereka berdua, kemudian meraih dagu wanita itu.
GLEK
Pria itu agak kesusahan menelan salivanya, jantungnya berdebar-debar. Tatapan teduh wanita itu, wajah cantik wanita itu yang semakin di pandang semakin memesona, sangat sempurna.
“Kenapa selalu memalingkan wajahmu, kenapa tidak mau menatapku. Apakah wajahku menyeramkan?” tanya Erick, mencoba mengeluarkan suara lembutnya.
“Apakah saya harus menatap suami orang?” balik tanya Alya.
Tangan pria itu yang sebelumnya memegang dagu, mulai mengelus salah satu pipi Alya, tidak menjawab pertanyaan Alya. Akan tetapi tangan Alya menahan tangan Erick.
“Hentikanlah,” pinta Alya.
Alya memberanikan menatap wajah Erick.”Sepuluh menit, tidak boleh lebih,” jawab Alya.
“Satu jam,” balas Erick.
Alya menggeleng, “Sepuluh menit.”
“Tiga puluh menit,” tawar Erick kembali.
“Sepuluh menit,” Alya tetap sikukuh.
“Baiklah dua puluh menit,” negosiasi terakhir Erick.
Alya menghela napas panjang. ”Baiklah...,” menuruti permintaan Erick.
“Kita duduk, kasihan anak kita,” pinta Erick, sembari menyentuh perut bulat Alya.
“Gak usah pakai pegang-pegang perut segala!” kesal Alya dengan tangan Erick yang makin jadi mengelus perutnya. Pria itu hanya bisa tersenyum, melihat istrinya dengan mood kesal.
__ADS_1
Kini mereka sudah duduk sama-sama di sofa panjang, Erick sengaja duduk di samping dan memepet ke Alya.
“Pak Erick, duduknya bisa geseran lagi gak? Gak lihat di sana lega banget, gak perlu mepet banget duduknya udah kayak naik angkot aja,” gerutu Alya, sambil mendelikkan matanya ke samping Erick.
“Gak bisa kalau saya duduk agak jauh, yang ada sebelum selesai bicara, kamunya kabur,” balas Erick, memang kenyataannya dia memepet ke Alya, mencegah jika tiba-tiba wanita itu berdiri dan keluar dari ruangan.
Wanita itu mencebik mendengar alasan pria itu.”Cepatan apa yang mau Pak Erick bicarakan, sebelumnya waktunya habis,” ujar Alya sambil melihat jam tangannya.
Pria itu langsung meraih lengan Alya dan membuka jam tangan yang melekat di tangan Alya.”Loh, kok malah di buka jam tangannya, Pak Erick,” Alya berusaha menolak jam tangannya di buka.
“Tangannya diam Alya, yang ada nanti kamu dikit-dikit lihat jam tangan, bukannya mendengarkan saya bicara,” imbuh Erick.
“Tapi kan gak usaha pakai dibuka segala jam tangannya, Pak Erick,” geram Alya, melihat Erick sudah berhasil membuka jam tangannya, lalu menyimpannya di saku celana pria itu.
“Sekarang dengarkan saya bicara,” pinta Erick.
“Ngomong...ngomong aja,” celetuk Alya kesal.
“Kenapa kamu pergi dari rumah sakit saat itu, kenapa tidak kasih tahu ke saya?”
“Bukannya malam itu kita sudah bicara, kalau saya minta bercerai.”
“Saya tidak pernah menyetujui permintaan kamu untuk bercerai. Atau kamu pergi karena pesan dari Agnes malam itu?”
Alya menaikkan salah satu alisnya.“Tidak...bukan karena pesan dari Agnes, tapi memang dari keinginan saya sendiri, saya hanya ingin tenang menjalankan masa mengandung ini,” jawab Alya.
“Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepadamu Alya. Selama ini kamu tinggal di mana? Bagaimana keadaan kamu dengan calon anak kita, apakah anak kita membuat kamu susah. Kamu mengidamkah, susah tidurkah? Semua ada di pikiran saya, Alya. Setiap hari, setiap jam, saya tersiksa Alya. Mencari kamu ke mana-mana, sampai mengerahkan banyak orang mencari keberadaan kamu. Tapi tidak dapat menemukan kamu, sungguh tersiksa Alya. Hati saya sakit ketika kamu pergi!!” ujar Erick dengan hati yang menggebu-gebu.
"Saya mencari kamu sampai keluar kota, demi mencari istri saya yang kabur," Pria itu menepuk-nepuk dadanya sendiri.
"Kamu menyiksa saya, Alya.....menyiksa hati saya dengan kepergian kamu," kedua netra pria itu kembali berembun, tapi pria itu menahan agar tidak keluar air matanya.
Alya sesaat tertegun, benarkah pria itu tersiksa ketika dia pergi?
“Saya tidak bermaksud menyiksa Pak Erick,” balas Alya pelan.
Bersambung
__ADS_1