Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Inseminasi selesai


__ADS_3

Erick turut masuk ke ruangan khusus untuk inseminasi, terlihat Alya sudah berganti baju. Wanita berkacamata itu tampak jengah melihat kehadiran Erick yang berada di ruangan yang sama.


“Mah, bisa Pak Erick keluar dari ruangan ini!” pinta Alya, ucapannya terdengar jelas oleh Erick.


“Mama akan suruh Erick keluar.”


“Jika saya tidak di izinkan berada di sini dan menemani kamu di sini, maka inseminasi ini di batalkan!!” ancam Erick, sebenarnya kata Erick tidak serius dalam pembatalan, pria itu hanya ingin tetap mendampingi Alya.


Mendengar kata batal dari Erick, Alya langsung teringat karyawan butiknya.


“Maaf Mbak Alya sama Pak Erick, sudah menikahkan?” tanya Dokter Dewi.


“Kami berdua sudah menikah,” jawab Erick, matanya menajam melihat wajah Alya.


“Gak pa-pa mbak Alya jika suami mau lihat proses inseminasinya, lagian sudah jadi pasangan halal,” kata Dokter Dewi.


Apa jadinya seorang pria walau statusnya suami sendiri, melihat dirinya dari pinggang ke bawah tanpa memakai apa-apa hanya ditutupi kain hijau. Buat Alya ini sangat memalukan, buat dirinya sendiri.


“Nanti Pak Erick bisa mendampingi istrinya di samping, tidak perlu lihat area sensitif mbak Alya,” Dokter Dewi sangat memahami Alya.


“Sekarang mbak Alya bisa berbaring, Pak Erick bisa di sampingnya sekarang,” pinta Dokter Dewi, menghindari argumen antara Erick dan Alya.


Terpaksa sudah wanita berkacamata itu menerima Erick sudah berada di sampingnya, Alya sudah mulai membaringkan tubuhnya di atas brankar. Kedua kakinya sudah disanggah agar kedua pahanya terbuka lebar, bagaikan seorang wanita yang ingin melahirkan normal.


Mama Danish ada di sebelah kiri Alya, sedangkan Erick ada di sebelah kanan Alya. Mama mertua dan suaminya sedang memberikan dukungan buat Alya.


Bismillah semoga lancar dan berhasil........batin Alya.


Bismillah.....hadirlah kamu nak di perut mommymu nak......batin Erick menyebut Alya mommy.


“Tahan napas sebentar ya mbak Alya, saya akan memasuki alatnya, ini agak sedikit sakit,” aba-aba Dokter Dewi.


__ADS_1


Erick langsung meraih tangan Alya, dan menggenggam erat. Dan membuat Alya terkesiap melihat tangan Erick meraih tangannya.


“Iss..........,” desis Alya kesakitan ketika bagian intinya di masukkan alat untuk pertama kalinya. Wanita itu langsung mendongakkan wajahnya ke atas, tangan Erick yang menggenggam erat Alya......semakin kencang eratanya. Dan Erick segera mengelus tangan Alya, seakan merilekskan wanita itu. Alya mulai memejamkan matanya, menahan rasa sakit di bagian intinya, perut bawahnya terasa kram.


Buliran bening terlihat turun dan jatuh di pipi Alya, dan Erick melihatnya......ternyata membuat hati pria ganteng itu menjadi pilu.


Benih pilihan yang terbaik milik Erick sudah mulai masuk ke dalam rahim Alya. Dokter Dewi dan Suster Via masih memprosesnya.


Mama Danish selama melihat proses inseminasi Alya, dalam hatinya selalu melafadzkan doa, agar Alya di segerakan hamil dan  bisa memiliki anak dari Erick.


“Sakit ya nak, sabar ya sayang,” ujar lembut Mama Danish, sambil mengecup kening Alya dengan lembutnya.


Alya hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan anggukkan lemah. Tiada terkira rasa untuk pertama kalinya, bukan junior suaminya yang pertama masuk, tapi justru alat dokter yang pertama kali masuk ke bagian sensitifnya.


Hampir memakan waktu satu jam, akhir proses inseminasinya selesai juga.


“Mbak Alya, untuk sementara istirahat dulu. Jangan bangun dulu ya,” pinta Dokter Dewi, sambil merapikan posisi kedua kaki pasiennya.


“Baik Bu Dokter,” jawab Alya sambil mengelus perut bawahnya yang masih terasa kram.


“B-boleh....,” jawab Alya. Pria itu langsung mengambil kantong belanjanya, untungnya tadi sekalian beli air mineral.


“Ini......minumlah...,” Erick memberikan botol air mineral, dengan menggunakan sedotan. Jadi memudahkan Alya untuk minum, tanpa bangun dari pembaringannya.


“Mau ngemil gak, nak?”


“Kita baru ngemil mah, masa sekarang ngemil lagi....paling nanti makan siang aja sekalian mah.”


“Nanti bagaimana kalau kita makan di restoran favorit mama, yang ada di mall dekat sini?” tawar mama Danish.


“Maaf Bu, sebaiknya mbak Alya jangan di ajak jalan-jalan ke mall dulu, setelah melakukan inseminasi sebaiknya selama satu minggu mbak Alya bedrest di rumah, jangan sampai kecapean dan kelelahan,” sela Dokter Dewi yang kebetulan sedang merapikan alat kesehatan.


“O-oh baik Bu Dokter, akan saya ingat,” jawab mama Danish.

__ADS_1


“Nanti kita makan di restoran yang biasa aja mah, tidak usaha ke mall,” ujar Erick.


“Mmm.......” gumam mama Danish.


“Mbak Alya banyak makanan yang sehat, vitamin yang sudah saya resepkan jangan lupa di minum, serta susu promil. Jangan lupa kelola stressnya karena mempengaruhi juga. Nanti dua minggu lagi kita akan lihat hasilnya positif atau negatif. Jadi Ibu sama Pak Erick tolong sangat di perhatikan kebutuhan mbak Alyanya,” pinta Dokter Dewi.


“Pasti akan sangat memperhatikan kebutuhan anak saya,” jawab mama Danish. Sebelum Erick membuka mulutnya.


“Dua puluh menit lagi sudah bisa bangun ya mbak Alya,” ujar Dokter Dewi.


“Pak Erick ini obat yang harus di beli lagi, mungkin sambil menunggu mbak Alya istirahat, bisa langsung di beli dulu,” saran Dokter Dewi, sambil memberikan resep obat.


“Baik Bu Dokter, kalau begitu saya ke bagian farmasi,” ujar Erick. “Mah, titip Alya dulu.”


“Mmm.......,” gumam Mama Danish.


Pria itu bergegas ke bagian farmasi dan ke bagian administrasi, untuk kedua kalinya pria ganteng itu mengurusnya sendiri, tanpa bantuan Rio. Entah apa yang membuat pria itu dari awal program, turut mengurusinya.......entah demi seorang anak, atau karena wanita yang di katainya jelek rupanya.


Agnes dan Delila masih menunggu mereka bertiga di ruang tunggu. Ternyata mereka tidak pergi dari rumah sakit.


Setelah dua puluh menit, Alya sudah berganti pakaian, setelah dapat wejangan dari Dokter Dewi, akhirnya Alya dan Mama Danish keluar dari ruangan, berpasan dengan kedatangan Erick.


“Jalannya jangan terburu-buru, nak,” wanti wanti Mama Danish.


“Iya mah, ini jalannya udah pelan-pelan kayak kura-kura,” ujar Alya, Erick langsung menoleh ke Alya, ingat dirinya pernah mengatai Alya seperti kura-kura.


“Sudah selesai inseminasinya, Alya?” tanya Agnes, yang menghampiri mereka bertiga.


“Sudah Bu Agnes,” jawab Alya.


“Terima kasih ya Alya, semoga kamu segera hamil, dan memberikan kami seorang anak,” ucap Agnes, wanita itu langsung merangkul lengan Erick. Seakan memberitahukan kepada Alya, jika Erick adalah miliknya. Sebenarnya Agnes kesal melihat Alya di peluk Erick.


“Doakan saja anak itu hadir secepatnya di rahim saya, Bu Agnes,” dengan tatapan santainya, tidak ada rasa cemburu melihat kelakuan Agnes.

__ADS_1


bersambung



__ADS_2