Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Tragedi ciuman pertama


__ADS_3

Derrt........Derrt......Derrt


Bram calling....


“Assallammualaikum Mas Bram, tumben telepon ada apa ya?”


“Walaikumsalam maaf Alya, saya mau mengganggu, saya lagi ada di luar kantor kamu. Kira-kira bisa keluar sebentar, ini ada surat butuh tanda tangan kamu, biar barang butik cepat di antar ke mall. Semalam saya kelupaan minta tanda tangan kamu.”


“Oh bisa Mas Bram. Mas Bram masuk dan tunggu saya di lobby bawah ya.”


“Oke, saya tunggu di lobby ya segera.”


“Ya Mas Bram.”


Setelah memutuskan sambungan telepon, Alya segera ke lantai lobby.


Sedangkan Erick di ruangannya, sedang marah-marah dengan Rio, setelah Rio menyampaikan pesan dari Alya. Di ambilnya bungkusan yang masih di pegang Rio, kemudian pria itu keluar dari ruang kerjanya, dengan wajah amarahnya.


Lantai 7, ruang finance


Sang pemilik perusahaan masuk tiba-tiba ke ruang divisi finance, membuat staf finance kaget. Pria itu menghiraukan tatapan karyawannya, dengan langkah terburu-buru masuk ke ruang Alya.


Sepi........


“Kemana Alya??” teriak Erick dari dalam ruangan Alya.


Fitri langsung menghampiri Pak Erick,” maaf Pak Erick, Alya nya sedang ke lobby........katanya suaminya lagi ada di bawah,” ujar Fitri.


BRAK


Dilemparnya begitu saja bungkusan yang di bawanya ke lantai. Jantung Fitri kembali berdetak cepat, melihat Pak CEOnya terlihat emosi.


Alya cepat balik ke ruangan, ini Pak Erick tiba-tiba marah.......batin Fitri.


“Kurang ajar.......siapa suaminya!!” Erick menyusul ke lobby.


🌹🌹


Lobby Perusahaan Pratama


Alya bertemu Bram di lobby,”maaf ya, saya jadi mengganggu kerja kamu, soalnya surat ini urgent sekali, tidak bisa menunggu besok.”


“Enggak pa-pa mas, tidak mengganggu kok, lagi pula ini tidak bisa di tunda. Mana suratnya yang harus di tanda tangan?” pinta Alya.


“Ini suratnya, kamu tanda tangan di sini,” tunjuk Bram. Dalam posisi mereka berdua berdiri yang sangat dekat, Bram yang agak tinggi, sedikit menundukkan kepalanya mensejajarkan ke wajah Alya. Kalau dilihat dari kejauhan posisi mereka berdua sangat intim, dan sekilas kalau dilihat seperti Bram sedang mencium Alya.


“ALYA.......” teriak Erick dari kejauhan. Emosinya sudah makin memuncak melihat posisi Bram dan Alya.


Alya yang sedang membubuhkan tanda tangan langsung tersentak kaget, namanya di panggil dengan teriakan.

__ADS_1


“Mas Bram ini cepat di simpan suratnya,” pinta Alya melihat Erick mulai mendekati mereka. Bram buru-buru memasuki suratnya ke dalam tas.


“Bagus ya Alya, sengaja saya diamkan kamu selama seminggu lebih. Ternyata semakin jadi ya. Kalian berdua berani ciuman di kantor saya!!” bentak Erick, tatapan matanya begitu tajam.


“Mas Bram, makasih ya. Saya balik ke ruangan dulu.” Menghiraukan tuduhan dan bentakan Erick.


“Saya sekalian pamit juga, Alya," balas Bram, pria itu meninggalkan Alya, sengaja tidak mau meladeni Erick. Alya pun melangkahkan kakinya.


“Alya......,” Erick kembali memanggilnya, di tariknya lengan Alya.


Wajah Erick memerah menahan emosinya “hina dan tuduhlah diriku sepuas hatimu Pak Erick, biar hati Bapak puas!” Alya berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman Erick, tapi semakin erat cengkeramannya.


“Apakah kamu begitu suka dengan ciuman dari Bram.......huh!” Erick kembali menuduh hal yang tak pernah di perbuatnya.


“Ciuman.........Kalau suka memangnya kenapa!!” balas geram Alya.


Erick mengapit dagu Alya, kemudian  mencium bibir Alya dengan kasarnya, membuat kedua bola mata wanita berkacamata itu membulat, tapi mulutnya tertutup rapat, ketika bibir Erick dengan kasarnya menyesap bibirnya. Kedua mata Alya mulai berkaca-kaca, hatinya terasa sakit bukan senang di kala bibirnya di cium Erick. Ini adalah ciuman pertama bagai Alya, tapi sungguh menyakitkan.


Semua karyawan yang ada di lobby terkejut melihat CEO nya mencium salah satu karyawannya. Mulailah handphone mereka bereaksi.


“Mmpphhtt....,” Alya berusaha melepaskan ciuman dari Erick.


PLAK


Tangan Alya kembali melayang ke pipi suaminya, ketika Erick melepas ciumannya.“Brengsek!!” umpat Alya, dengan mata yang mulai berembun.


Tak lama kemudian.....


PLAK


“Yang brengsek itu kamu, Alya. Berani sekali mencium suami saya di lobby kantor saya!!” amarah Agnes, melihat tanpa sengaja adegan Erick dan Alya.


“Ternyata kamu tidak ingat posisi kamu siapa ya! Dasar pela-kor!!” maki Agnes.


Wanita berkacamata itu berusaha untuk tegar, tapi tak kuasa, apalagi semua mata yang ada di lobby memandang hina ke dirinya. Sedangkan Erick hanya terdiam, melihat Agnes memaki Alya di depan umum.


Alya menolehkan wajah ke Erick “inikah yang Pak CEO inginkan!! Sudah puas melihat saya di maki, di permalukan di depan orang banyak!!” suara Alya terdengar parau menahan rasa tangisnya.


Kemudian Alya menoleh ke wajah Agnes, “terima kasih atas tuduhan anda, Bu Agnes!!”


“Cih......ternyata aku salah memilih kamu, sudah jelek ternyata pela-kor juga, tapi ya mau bagaimana lagi...... sudah terlanjur!!” dengan nada angkuhnya Agnes, lupa akan siapa diri Alya, jika dia istri sahnya Erick juga.


“Apakah dengan uang dua milyar, Bu Agnes dan Pak Erick bisa seenaknya dan bebas menghina serta mempermalukan saya?” Alya masih berdiri di hadapan mereka berdua, berdiri tegak walau dirinya sudah mulai agak pusing.


Mama Danish dan Papa Bayu sengaja datang ke perusahaan untuk bertemu dengan Alya, akan tetapi dengan tidak sengaja melihat rentetan kejadian di lobby. Wajah mama Danish mulai tidak enak dilihat, langkah kakinya mulai cepat.


PLAK........PLAK.....


Agnes terkesiap, memegang kedua pipinya, “mama.........” ujar Agnes.

__ADS_1


“Mulut kamu memang sangat keterlaluan ya, Agnes!!”


“Mama, Papa,” ucap Erick ikut terkejut, melihat kedatangan kedua orang tuanya.


“Papa sangat kecewa dengan kamu, Erick!!”


Kepala Alya sudah mulai tak bersahabat, mulai berputar. Dan tidak ada tempat untuk berpegangan. Erick melihat tubuh Alya yang mulai goyang.


Tiba-tiba........gelap


Untungnya Erick langsung menangkap tubuh istri ketiganya, hingga tidak sampai terjatuh di lantai.


“Alya........,” jerit Mama Danish yang melihat sudah tak sadarkan diri.


“Cepat bawa ke rumah sakit, takut Alya kenapa-napa,” perintah mama Danish kalang kabut.


Tanpa banyak bicara Erick membopong tubuh Alya sendiri, mama Danish dan papa Bayu turut mengikuti Erick.


Sedangkan Agnes terlihat kesal telah di tampar oleh mama mertuanya di depan karyawannya hingga  tidak ada niat mengikuti suaminya ke rumah sakit.


Dengan mobil mewah milik Papa Bayu, Erick membawa Alya ke rumah sakit bunda di temani Papa Bayu dan Mama Danish. Di hati pria itu ada rasa cemas melihat Alya belum sadarkan diri.


Selama perjalanan tiga puluh menit menuju rumah sakit, Erick setia menatap wanita yang baru saja diciumnya.


Sesampainya di rumah sakit bunda, Erick kembali mengendong Alya menuju ruang IGD. Dan dokter IGD serta perawat langsung memeriksa.


“Ini mbak Alya kan, pasien saya?” tanya Dokter Dewi yang kebetulan sedang berkunjung ke ruang IGD, karena ada pasiennya.


“Iya Bu Dokter, istri saya pingsan tiba-tiba,” jawab Erick.


Dokter IGD dan Dokter Dewi memeriksa kondisi Alya.


“Dokter Bima, sepertinya pasien harus bawa ke ruangan saya,” Dokter Dewi memberi kode, Dokter Bima paham.


“Mbak Alya di bawa ke ruang praktek saya dulu, bapak bisa ikut saya,” pinta Dokter Dewi.


“Baik Bu Dokter,” jawab Erick.


Beberapa perawat mendorong brankar Alya dan membawanya ke ruang praktik dokter kandungan.


Mama Danish dan Papa Bayu yang tadinya menunggu di luar ruang IGD, turut ikut.


Kini Alya sudah berada di ruang praktik Dokter Dewi, sang dokter dengan di bantu suster Via, melakukan pemeriksaan USG di bagian perut Alya. Hal itu sangat di perhatikan oleh Erick dan Mama Danish yang turut masuk. Sedangkan Papa Bayu menunggu di luar.


Dokter Dewi tersenyum ke Erick dan mama Danish.


 


 bersambung.........

__ADS_1



__ADS_2