Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Mulai cek kesehatan


__ADS_3

Mulutmu adalah harimaumu, pria ganteng itu berkata tidak tertarik dengan wanita berkacamata kepada asistennya, tapi setiap kali ada pria yang dekat dengan wanita berkacamata itu, entah mengapa pria itu tidak suka, dan jengkel.


Agnes yang merangkul mesra lengan suaminya, seperti biasa menebarkan senyum tipis kepada siapapun. Berbangga hati bisa merangkul suaminya di depan umum, memberitahukan ke khalayak umum ‘hei lihatlah ini suamiku loh, yang ganteng dan kaya’ seperti itu kiasannya.


Erick berusaha untuk bersikap biasa saja, karena ada kehadiran Agnes di sampingnya, tapi sayangnya lirikan tidak sukanya terpancar jelas, walau mulut tidak berkata.


Merangkul erat lengan kekar Rio sang asisten Erick, agar memudahkan wanita berkacamata menaikkan anak tangga satu persatu. Andaikan tidak ada Agnes yang di sampingnya, mungkin pria ganteng itu sudah membopong wanita berkacamata itu masuk ke dalam lobby rumah sakit.


Sesaat Rio menangkap tatapan jengkel Pak Bosnya, tapi apa mau di kata, lagi pula wanita itu yang duluan minta pertolongan kepadanya. Dan tidak ada salahnya Rio menolong Alya.


“Rio, kamu sudah buat janji temu dengan dokternya kan?” tanya Erick masih dengan tatapan kesalnya.


“Sudah Pak Bos, saya sudah buat jadi dengan Dokter Dewi spesialis kandungan yang terbaik di rumah sakit ini,” jawab Rio, lengannya masih di rangkul oleh Alya, padahal sudah lewat dari anak tangga.


“Sekarang kita harus menunggu di mana?” tanya Erick.


“Kita langsung ke poli kandungan saja Pak Bos, saya tanyakan dulu ke bagian informasi tempat poli kandungannya,”


Alya melepas tangannya dari lengan Rio, agar Rio bisa segera ke bagian informasi.


“Alya, bagaimana kesehatan kamu setelah terjatuh?” tanya Agnes.


“Seperti yang Bu Agnes lihat, kaki sebelah kanan masih terkilir,” jawab Alya tanpa menatap wajah pria yang berada di samping Agnes.


“Pasti sangat sakit di bawa jalan,” ujar Agnes.


“Iya masih terasa sakit kalau di bawa jalan,” balas Alya.


“Pak Bos, poli kandungannya ada di sebelah kanan. Kita bisa langsung ke sana,” ujar Rio setelah bertanya ke bagian informasi.


“Yuk Mas Erick, kita langsung ke sana saja,” ajak Agnes.


Yang mau ke dokter siapa, kok yang ngajak malah Nyonya.......batin Rio.


“Alya masih bisa jalan sendiri, atau mau pegangan lagi. Biar saya bantu?” tawar tulus Rio.

__ADS_1


“Boleh deh Pak Rio, pinjam lengannya lagi. Biar bisa cepat jalannya,” jawab Alya. Rio mengulurkan tangannya, dengan senang hati Alya menerimanya.


Dan dengan senang hati juga Erick mengepalkan salah satu tangannya.


Bisa-bisanya di depan calon suami, memegang tangan laki-laki lain, wanita macam apa itu ck........batin Erick.


Alya tidak ada maksud memanas-manaskan siapa pun, karena memang kenyataannya wanita itu butuh penopang untuk berjalan, dan kepada siapa lagi wanita itu minta bantuan kalau bukan ke Rio. Apakah harus minta bantuan ke Erick, yang ada murkalah Agnes. Sedangkan dari awal Agnes sudah wanti-wanti untuk jaga jarak dengan suaminya. Lagi pula wanita berkacamata itu juga tidak ada niatan untuk dekat dengan calon suaminya, yang ada calon suaminya berusaha mendekati dirinya.


Kini mereka berempat sudah duduk di bangku tunggu, tepatnya di depan ruang praktek poli kandungan.


“Pasien atas nama nona Alya dan Tuan Erick,” suara panggilan dari suster terdengar.


“Ya, saya,” jawab Alya, langsung beringsut dari duduknya. Begitu juga dengan Erick dan Agnes. Mereka bertiga lantas masuk ke ruang praktek dokter kandungan.


“Selamat siang Bu Dokter,” sapa Agnes, yang mulai pasang badan.


“Selamat siang Ibu, Bapak...silahkan duduk,” pinta Dokter Dewi melihat tiga orang yang masuk ke dalam ruang prakteknya.


Berhubung bangku yang tersedia hanya dua, yang duduk Erick dan Agnes. Sedangkan Alya hanya bisa berdiri. Terlihat di sini siapa yang egois, yang egois pasangan suami istri tersebut. Erick merasa tidak enak melihat Alya berdiri, sedangkan Agnes masih memegang tangan pria itu seakan tidak boleh bangkit dari duduknya.


“Ini Pak Erick dan Bu Alya, yang sudah buat janji untuk pengecekan kesehatan, persiapan inseminasi ya,” tanya Dokter Dewi dengan ramahnya.


Agak kaget Dokter Dewi, di sangka wanita yang duduk di hadapannya adalah Alya, ternyata bukan.


“Ooh.....,” membulat bibir Dokter Dewi.


“Via tolong ambilkan bangku satu lagi buat nona Alya,” pinta Dokter Dewi pada susternya. Via bergegas keluar dari ruangan untuk mengambil  bangku tambahan.


“Silahkan duduk mbak,” ujar Via menaruh bangku tambahan.


“Terima kasih suster,”


“Kalau begitu saya jelaskan sedikit prosedurnya kepada Pak Erick dan Mbak Alya. Sebelumnya kita akan melakukan USG transvaginal, Hysterosalpingograpy, lab darah. Dan juga periksa kondisi saluran indung telur, jika ada kelainan pada indung telur, dan adanya endometriosis berat. Maka mbak Alya tidak bisa melakukan inseminasi. Sebelumnya mbak Alya pernah hamil?”


“Belum Bu Dokter,” jawab Alya pelan, nikah aja belum kok tiba-tiba sudah hamil.

__ADS_1


“Maaf Bu Dokter, Alya ini akan melakukan inseminasi untuk menjadi ibu pengganti. Yang suami istri, adalah kami berdua,” Agnes tiba-tiba berucap.


“Kenapa bukan ibu aja yang melakukan inseminasi, lagi pula bukankah ibu istri Pak Erick, bukan mbaknya kan?” tanya Dokter Dewi, secara pribadi Dokter Dewi tidak ingin bertanya perihal pasiennya, tapi apa salahnya untuk bertanya.


“Aku sudah di vonis mandul, Dokter, jadi aku mencari ibu pengganti agar memiliki anak dari suami saya,” jawab Agnes dengan nada sedihnya.


“Maaf ya Bu, saya tidak bermaksud----,”


“Gak pa-pa Dokter, jadi aku minta dokter periksa kesehatan Alya,” pinta Agnes.


Sedangkan Erick hanya bisa diam, tidak ikut berkata. Begitu pun Alya.


Sesaat Dokter Dewi menatap wajah Alya penuh arti, “kita ambil darah dulu ya mbak Alya,” ujar Dokter Dewi.


“Iya Bu Dokter,” jawab Alya. Via sebagai asisten dokter menyiapkan jarum untuk mengambil darah. Tak lama Dokter mencari bagian di lengan Alya, untuk mengambil darah.


“Sudah selesai pengambilan darah, sekarang ke tahap USG transvaginal. Mungkin Pak Erick bersama istrinya bisa menunggu di luar,” untuk saat ini Dokter Dewi memberikan ruang untuk pasiennya dari pasangan suami istri. Apalagi ini pemeriksaan yang sensitif.


“Tidak bisa menunggu di sini saja?” tanya Erick.


“Ini demi kenyamanan pasien Pak Erick,” Dokter Dewi bisa menangkap ucapan Agnes, kalau yang suami istri adalah Erick dan Agnes, sedangkan Alya bukan. Dokter Dewi masih menjaga kesopanannya, untuk tidak menyingkap kemeja dan membuka celana Alya di depan pria yang bukan suaminya.


“Ayo Mas Erick, kita tunggu di luar saja,” pinta Agnes, sudah menarik lengan suaminya agar bangun dari duduknya. Sedangkan Alya tidak memperhatikan pasangan suami istri tersebut.


 


bersambung


 


 



 

__ADS_1


 


 


__ADS_2