
Mall
Penuh kesetiaan yang terlihat dari gestur tubuh Erick, menemani istrinya berbelanja, ternyata yang mau di beli bukanlah barang penting. Agnes sedang mengincar tas branded dengan model terbarunya, takut tidak kebagian.
“Mas Erick, kira-kira tas ini cocok gak sama aku kalau di bawa kerja?” tanya Agnes sambil bergaya membawa dua tas tersebut di depan suaminya.
“Bagus,” jawab singkat Erick, hanya melirik sebentar.
“Mas Erick......beliin ya buat aku,” pinta Agnes dengan suara manjanya.
“Bayar saja pakai kartu kamu yang aku kasih. Memangnya uangnya sudah habis?” tanya Erick.
“Tinggal sedikit Mas,” jawab santai Agnes.
Erick langsung mengeluarkan blackcard miliknya, “ini bayarlah,” Erick menyodorkan blackcardnya.
“Makasih Mas Erick,” senang tak terkira hati Agnes, bisa beli dua tas seharga tiga ratus juta. Saat itu juga Erick teringat jika Alya belum di kasih uang belanja sebagai istri ketiganya.
Dan seketika itu juga Erick tanpa sengaja melihat Alya sedang berjalan bersama Bram melewati depan toko tas branded, membuat wajah pria ganteng itu berubah seketika.
“Alya.....!!” gumam Erick sendiri.
Kenapa bisa ada di mall? Bukannya bedrest di rumah, ternyata dia jalan sama pria lain........sungguh keterlaluan......batin Erick kesal luar biasa melihatnya.
Alya terpaksa sore ini pergi ke mall yang sama dengan keberadaan Erick, karena harus menemui pemilik salah satu toko pakaian ibu dan anak setelah dapat kabar dadakan dari Bram, yang meminta butik milik Alya menyuplai baju ibu hamil dan dress anak-anak setelah melihat salah satu sosial media yang mengadakan live shopping produk dari butik Alya.
Dan menurut Alya ini adalah kesempatan untuk menambah pundi-pundi butiknya. Makanya dari itu Alya di temani Bram menemui pemilik toko tersebut.
Erick setelah melihat Alya lewat, pria itu segera keluar dari toko tas, untuk memastikan jika pria itu tidak salah lihat, akan tetapi keberadaan Alya sudah tidak terlihat lagi.
Begini ternyata cara kamu, Alya.......saya di larang datang ke rumah kamu. Agar kamu bebas berhubungan dengan pria lain........geram batin Erick.
Pria itu kembali mencari keberadaan Alya.
🌹🌹
“Alhamdulillah Alya, produk kamu bisa di terima di pasaran,” ujar Bram setelah mereka berdua sudah bertemu dengan pemilik toko.
“Iya mas Bram, saya bersyukur usaha kita tidak sia-sia. Kita harus siap-siap kerja keras mas Bram, tapi saya senang.......karyawan kita semua bisa kembali produktif seperti biasa,” rasa syukur tak terhingga di hati Alya, niat untuk menyejahterakan karyawannya seakan terbuka lebar. Bukan buat kepentingan pribadi semata.
“Semoga aja kamu bisa buka pabrik garment,” ujar Bram.
“Amin mas Bram, semoga bisa buka pabrik garment,” balas Alya, dengan senyum lebarnya.
“Mas nanti jangan lupa surat PO nya di siapkan,” pinta Alya.
__ADS_1
“Siap Bu Bos.....,” jawab Bram sambil memberikan hormat.
“Mas Bram, sebelum kita pulang, makan dulu yuk......saya lapar banget,” ujar Alya.
“Boleh, kamu makan di mana?” tanya Bram dengan lembutnya.
“Makan di restoran jepang aja yuk mas, udah lama gak makan sushi.”
“Sushi......kamu lagi kangen ya sama papa ya? Makanan sushi kan kesukaan papa kamu?” tanya Bram.
“Iya Mas Bram, saya lagi kangen sama papa....,” kedua netra Alya mulai berkaca-kaca.
Jika boleh memilih waktu, ingin rasanya Alya mengulang waktu kebersamaan dengan cinta pertamanya yaitu papanya, pria yang selalu ada di kala suka dan duka. Selalu mendukung setiap Alya mengikuti kegiatan di sekolahnya. Sekarang wanita itu harus berdiri sendiri, berjuang walau di sampingnya selalu ada dukungan mama dan tentunya Bram.
“Ayolah.....jangan bersedih lagi......gadis kecil,” Bram bisa merasakan wanita itu mulai mengingat papanya, dengan lembutnya Bram merangkul bahu Alya, “yukk........kita makan,” ajak Bram.
Alya menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Dari kejauhan Erick sudah meradang, emosinya sudah sampai ke ubun-ubun. Dengan kedua matanya sendiri pria itu melihat Alya di rangkul oleh pria lain.
“Mas Erick........!” panggil Agnes tergopoh-gopoh, membawa tas belanjaannya.
Erick langsung menoleh ke belakang.
“Mas Erick, kok tinggalin aku. Aku udah cari kemana-mana, ternyata udah jalan duluan,” ujar Agnes.
“Sudah selesai mas, sekarang perut aku lapar. Kita makan dulu yuk,” ajak Agnes, wanita cantik itu langsung menggandeng tangan suaminya.
“Ya......” jawab singkat Erick.
“Makan di restoran jepang ya, Mas.”
“Mmm.........” gumam Erick, sambil mengikuti langkah kaki istrinya. Hatinya masih terasa panas membara, entah bagaimana cara memadaminya. Di tambah lagi gara-gara pria itu menoleh ke belakang, keberadaan Alya pun menghilang dari penglihatannya.
🌹🌹
Restoran Jepang
Alya dan Bram memilih beberapa menu sushi all variant, dan segera memesannya.
“Alya, kata Tante Yanti kamu sudah menikah. Kenapa saya tidak di undang?” tanya Bram dengan hati-hati.
“Mama sudah ceritakah sama mas Bram?”
“Iya Tante Yanti sudah cerita sekilas.”
__ADS_1
“Maaf ya mas Bram, saya tidak bisa undang. Hanya Lili saja, itu juga karena bantuin saya.”
“Kenapa kamu memilih keputusan seperti itu?”
“Saya sudah memikirkan matang-matang Mas Bram, ini demi nasib karyawan saya di butik....,”
Andaikan waktu itu Alya bercerita pada dirinya, mungkin Bram akan berusaha melarangnya, tapi di satu sisi Bram juga tidak bisa membantu mencarikan modal, sungguh dilema yang harus dihadapi.
“Sangat di sayangkan wanita cantik seperti kamu harus jadi istri ketiga, dan jadi ibu pengganti. Andaikan saya punya simpanan uang banyak, saya akan berikan buat kamu sebagai modal,” nada suara Bram terdengar kecewa.
“Makasih mas Bram, tapi itu sudah terjadi dan sudah menjadi keputusan saya.”
“Alya, sampai kapan kamu akan menyembunyikan wajah cantikmu itu?” tanya Bram.
“Entahlah Mas Bram, jika saya tunjukkan wajah asli saya. Pasti orang akan berubah menjadi baik karena wajah saya. Padahal saat saya seperti ini banyak orang yang semena-mena. Miris ya mas Bram, orang masih melihat seseorang dari fisik bukan dari sikapnya atau hatinya.”
“Seperti pria yang menikahi saya, sudah berapa kali menghina dan semena-mena dengan saya karena penampilan buruk saya," ucap lirih Alya.
“Tapi suatu hari kamu harus menunjukkan wajah kamu sebenarnya, ingatlah kamu seorang pemimpin dan pemilik butik Ada waktunya kamu tunjukan ke dunia siapa kamu sebenarnya!” geram Bram mendengar pria yang menikahi Alya, menghina wanita yang duduk di hadapannya.
“Iya Mas Bram, nanti akan saya pikirkan.”
Tidak selamanya wanita itu menyembunyikan identitasnya, suatu saat pasti akan terbongkar baik sengaja atau tidak di sengaja.
“Dan perlu di ingat, jika kamu butuh sesuatu, masih ada saya yang siap membantu kamu.”
“Iya mas Bram, akan saya selalu ingat.”
“Permisi, ini pesanannya....,” ujar pelayan yang baru saja menghampiri meja mereka dengan membawa nampan berisi sushi dan minuman.
“Makasih mbak,” jawab Alya, melihat pesanannya sudah ada di meja.
“Sama-sama, selamat menikmati,” balas pelayan resto.
bersambung........
Kira-kira mereka berempat bertemu gak??
__ADS_1