Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Mommy Daddy Itik


__ADS_3

Waktu terus berlalu, begitu juga dengan hari yang terus berjalan. Pasangan suami istri masih saja terlihat mesra terutama sang suami, mengikuti istrinya kemana-mana, lengket bagaikan lem sama istrinya.


“Daddy, udah dong jangan ngikutin mommy terus,” keluh wanita itu sambil memijat keningnya, sumpah demi apa tidak bisa bergerak.


“Daddy gak bisa jauh-jauh sama mommy, aneh rasanya,” imbuh Erick.


“Iis.......daddy tuh udah kaya anak itik....ngikutin induknya aja,” kata Alya.


“Memang iya....mommy kan induk itiknya....nih anak itiknya, terus ini ada anak itiknya dua di dalam,” guyon Erick sambil menunjuk dirinya  lalu menunjuk perut bulat istrinya.


“Hussh....ini daddy ngataiin anak sendiri kok anak itik.....duh amit-amit jabang bayi,” ngedemul Alya.


“Anak itik itu lucu loh mom, kayak mommy itik ini. Kalau lagi ngambek muka mommy itik sangat menggemaskan pengen daddy kurung terus di dalam sangkar, gak boleh keluar,” jawab Erick.



“YA....ampun daddy....mommy kok dikataiin mommy itik sih...,” rengek Alya, sambil mengentakkan kedua kakinya di lantai.


“Tuhkan ....lucu kan wajah  mommy itiknya, bibirnya aja udah mulai mengerucut kayak bibir itik,” usil Erick, bikin istrinya mewek.


“Daddy.....,” geram Alya, mulai mencubit pinggang Erick.


“Ha..ha....ha....ampun mommy, geli mom...,” Erick menahan rasa geli di pinggangnya, kemudian tangan kirinya langsung  merangkul bahu istrinya, dan menempelkan bibirnya ke bibir ranum istrinya  agar berhenti menggelitiki pinggangnya.


“Ehmmmm......Pak Bos!” deheman Rio, langsung membuyarkan Pak Bosnya yang masih memanggut  bibir ranum istrinya.


Erick langsung melempar serbet makannya ke arah asistennya. “Dasar asisten gak punya akhlak, gak bisa lihat bosnya lagi mesraan apa ya!” gerutu kesal Erick.


“Justru Pak Bos yang gak ada akhlak, Pak Bos main  sosor aja kayak bebek udah tahu lagi di restoran. Coba lihatin banyak yang lihat ke arah meja ini,” tukas Rio, sebenarnya gerah juga lihat kemesraan Pak Bos sama istrinya, apalagi ada Suster Via duduk di sampingnya, ternoda sudah wanita itu melihat kemesuman Pak Bosnya.


Erick juga baru sadar kalau sedang berada di tempat umum, tapi kalau sudah berada di samping istrinya, pria itu gak bisa lihat tempat dan keadaannya lagi.


“Emang Bos Pak Rio ini sungguh terlalu.......,” ujar gemas Alya, sambil mencubit paha suaminya. Pria itu hanya bisa meringis sesaat.


“Ayo habisin makannya daddy itik, biar tangannya cepat sehat daddy itik,” pinta Alya, kembali menyuapi suaminya makan. Pria itu bagaikan anak kecil, langsung menuruti kata emaknya, membukakan mulutnya.


Mereka berempat sengaja makan siang di luar, atas permintaan si bumil  yang pengen makan di restoran korea. Dan sengaja mengundang Suster Via turut makan siang buat temenin Rio.

__ADS_1


Rio dan Suster Via terkekeh kecil melihat pasangan yang ada di hadapan mereka berdua, sangat menggemaskan dan lucu.


Sang asisten juga mulai heran lihat perubahan Pak Bosnya, sangat jauh berbeda, lebih ramah, lebih lucu sama istrinya, dan terlihat aura kebahagiaan yang hampir tidak pernah ada di wajah Pak Bosnya. Menikah dengan Alya, membawa aura kebaikan buat Pak Bosnya.


“Daddy, nanti mommy mampir ke butik ya....udah lama gak nengokkin butik,” pinta Alya, sambil mengunyah makannya.


“Tapi daddy gak bisa nemenin mommy, soalnya ada rapat penting di kantor. Atau nunggu daddy selesai rapat aja ya, bagaimana?”


“Kelamaan kalau nunggu daddy, boleh ya dad. Mommy juga udah izin ke papa hari ini gak ke kantor karena mau ke butik.”


Sebenarnya ada rasa cemas jika pria itu tidak ada di samping istrinya, apalagi semenjak kejadian kecelakaan itu. Dan apalagi Cokro masih belum di temukan keberadaannya.


“Please, daddy......boleh ya....nanti daddy jemput mommy di butik setelah selesai rapat,” rayu Alya, kemudian wanita itu mengecup pipi suaminya, biar dapat izin.


Meleleh hati pria itu dapat kecupan hangat dari istrinya, apalagi wanita itu mengecupnya di tempat umum.


“Ya sudah, boleh....nanti daddy antar ke butik mommy  sebelum daddy balik ke kantor,” balas Erick.


“Makasih daddy itik,” nyengir kuda si Alya, setelah dapat izin dari suaminya. Walaupun wanita itu punya kedudukan tinggi di perusahaan milik Papa Bayu, serta pemilik butik, dia tetap minta izin dari suaminya sebagai kepala rumah tangga. Meski harus tiap hari minta izin, namun itu komunikasi yang penting dalam berumah tangga, tidak menyelonong pergi begitu saja. Dan hal kecil itu sangat dihargai oleh pria itu, padahal dulu Agnes dan Delila jika pergi kemana pun jarang minta izin. Jika ingin di hargai oleh pasangan, maka belajar menghargai  pasangan terlebih dahulu. Karena semuanya pasti ada timbal baliknya.


“Alamak panjang amat pesan Bu Bos ini,” sahut Rio, sambil menggelengkan kepalanya, kemudian melirik wajah ayu Suster Via yang tampak malu-malu.


“Via, memangnya kamu suka minuman rasa stawberry?” tanya Rio.


Suster Via menganggukkan kepalanya pelan. “Suka sekali, Pak Rio......tapi  gak usah repot-repot, gak perlu di beliin. Saya bisa beli sendiri kok,” tolak halus Suster Via.


“Gak pa-pa nanti saya belikan, dari pada saya dapat pelototan dari Bu Bos, lihat tuh,” tunjuk Rio, melihat kedua netra Alya sudah melotot melihat Rio, kalau mengabaikan pesannya.


Suster Via menahan gelinya, ketika iris abu-abu milik si bumil sudah melototi asisten suaminya.


“Awas kalau Suster Via gak di beliin kue sama minumnya, nanti tak kenalin Suster Via sama cowok lain,” ancam Alya. Sungguh si bumil gemas dan gregetan dengan asisten suaminya yang masih saja mengantung hubungannya dengan Suster Via, padahal dilihat dati gelagat Rio, pria itu sudah mulai suka  dengan Suster Via.


“Jangan dong Bu Bos, enak aja mau kenalin sama cowok lain. Saya aja baru mau pendekatan,” akui juga si Rio, takut jika Suster Via berpaling dengan pria lain.


“Akhirnya....,” ujar Alya sudah mulai ada titik terang, usaha jadi mak comblang gak sia-sia.


Sedangkan Suster Via pipinya sudah berwarna merah jambu, jantungnya mulai berdebar-debar mendengar ucapan Rio mau pendekatan denga dia.

__ADS_1


“Jangan lama-lama pendekatannya Rio, cepat nikahi. Biar gak iri kalau lihat saya lagi bermesraan sama istri saya,” celetuk Erick.


Tangan pria itu pelan-pelan menyentuh salah satu tangan Suster Via, membuat wanita itu tersentak kaget, kemudian Rio menggenggam tangan Suster Via.”Bolehkah saya pendekatan  denganmu, Via?” tanya Rio pelan, tapi masih terdengar.


Hati Suster Via membuncah bahagia, jika pria yang dia taksir menggenggam tangannya lalu seperti kaya orang menembak.


“B-boleh,” jawab Suster Via malu-malu.


“Alhamdulillah...,” jawab Alya  sambil mengacungkan kedua jempolnya.


Suster Via refleks beranjak dari duduknya, kemudian menghampiri si bumil lalu memeluknya. “Makasih Mbak Alya,” ujar Suster Via, sambil menahan rasa tangisnya karena bahagia.


Alya turut terharu jika usaha yang tidak di sengaja ternyata di sambut baik oleh Suster Via, teman baru tapi klik di hati bumil. Orang baik dan tulus terpancar dari wajahnya, itulah yang terlukis dari wajah Suster Via. Sedangkan Rio, suaminya suka mengeluh jika asistennya belum pernah dekat dengan seorang wanita. Jadi paslah jika si bumil berusaha mendekatkan mereka berdua.


 


Misi jadi mak comblang berhasil......hore


 


 


 bersambung.....


Buat Kakak Readers yang cantik dan ganteng terima kasih atas doanya, semoga Kakak Readers semuanya selalu diberikan kesehatan, jika ada yang sedang sakit semoga lekas sembuh dan tetap semangat dalam masa pemulihannya.


Dan terima kasih buat kakak readers yang telah meninggalkan jejak, jangan lupa votenya ya Kak. Makasih sebelumnya.


Dan jangan lupa mampir ke kisah Salma dan Kavin ya.....yukk ramaikan novel recehku.



 


 


 

__ADS_1


__ADS_2