Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Jalan ke mall


__ADS_3

Sore hari


Hampir setengah hari Alya menyibukkan dirinya di butik, dengan membuat anggaran keuangan butik, serta membuat beberapa desain dress untuk anak perempuan. Sambil menggambar, wanita yang sedang melepas kacamatanya tampak tersenyum, mengkhayal jika kelak punya anak perempuan sendiri, pasti akan semakin lucu, imut, dan cantik pakai baju yang di desain oleh dirinya sendiri.


“Sepertinya hari ini sudah cukup,Li,” ujar Alya sambil merenggangkan kedua lengan tangannya. Melemaskan otot lengannya yang teras kaku.


“Bu Alya, maaf kalau bertanya lagi. Kira-kira proyek Perusahaan Sanbe, ibu terima gak? Karena waktu kita tinggal dua hari lagi untuk memberikan jawabannya,” Lili kembali memastikan kembali.


“Tunggu sebentar ya Lili, saya harus mengecek sesuatu dulu,” jawab Alya, wanita itu segera mengecek mobile bankingnya, dia teringat sesuatu, jika Erick akan mentransfer uang sebesar satu milyar kalau  wanita itu menerima lamaran kedua orang tuanya. Sebenarnya Alya tidak berharap juga, lagi pula Agnes yang akan membayar uang muka atas kerjasama pinjam rahim.


Layar laptopnya sudah terlihat laporan terima keluar uang di banknya. Seketika kedua netra membelalak, tak percaya.


Pesan transfer : untuk calon istri dari calon suami.


Rp. 1.000.000.000,00


“Alhamdulillah,” puji syukur yang dia panjatkan. Bayangan buruk tentang karyawan butiknya, hilang seketika. Kedua netranya berbinar-binar, hatinya bergemuruh bahagia. Pria itu memenuhi janjinya, walau wanita itu tidak pernah menagih janji tersebut, karena hanya menganggap janji Erick hanya sekedar janji yang tidak di serius kan.


“Lili, kita terima proyek dari Perusahaan Sanbe,” ucap Alya penuh keyakinan.


“Alhamdulillah,” jawab Lili bernapas lega, akhirnya mendapatkan kabar baik.


“Besok kamu kasih kabar kepada pihak perusahaan Sanbenya, jika pihak mereka ajak meeting. Tolong atur jadwalnya di sore hari ya. Tapi kalau pihak mereka mintanya siang hari, pilih pas jam makan siang ya,” titah Alya.


Lili sangat paham sekali dengan jadwal Bu Bosnya, dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore, waktunya bekerja di perusahaan pratama, selanjutnya baru Bu Bosnya menghabiskan waktu di butiknya.”Siap Bu Alya, nanti saya atur dengan sebaik mungkin, agar tidak bentrok dengan jadwal Bu Alya,” jawab Lili.

__ADS_1


“Terima kasih banyak Lili,” memiliki asisten seperti Lili sungguh sangat banyak membantu Alya.


“Lili nanti temani saya ke mall sebentar ya sore ini sebelum pulang, bolehlah  kita cuci mata,” ajak Alya dengan suara mengemaskan.


“Siap Bu Alya, dengan senang hati,” balas Lili.


“Kalau begitu kita rapi-rapi, truss langsung cuss. E-eh perginya pakai motor kamu ya, Li.”


“Oke Bu Alya,” sahut Lili, yang sedang merapikan pekerjaannya, begitu pun juga Alya merapikan meja kerjanya, meletakkan barangnya ke tempatnya kembali.


Sudah beres rapi-rapi, Lili dan Alya meluncur ke salah satu mall dengan mengendarai motor matic milik Lili. Alya terlihat enjoy ketika di bonceng oleh Lili, padahal sejatinya wanita berkacamata itu dari kecil sampai sebelum papa nya meninggal, dia selalu menggunakan mobil mewah serta sopir pribadi ketika bepergian. Namun roda kehidupan itu berputar, hingga kemewahan semuanya telah menghilang, tapi tidak membuat wanita itu berkecil hati. Dan tak malu menjalankan kehidupan yang apa adanya sekarang, yang terpenting selalu pandai bersyukur.


Selama perjalanan empat puluh menit, Alya dan Lili sudah tiba di mall terbesar di Jakarta. Dengan setianya Lili membantu Alya dalam berjalan yang terpincang-pincang.


“Lili, kita nongkrong di coffe shop itu yuk,” tunjuk Alya ke salah satu tempat di dalam mall.


Alya langsung antre untuk beli minuman serta crosaint dan cake buat dirinya dan Lili. Sedangkan Lili memegang tas Alya, dan ikut dalam antrean.


Pesanan minuman dan makanan sudah berada di atas nampan yang di bawa Alya, tak jauh dari posisi Alya yang baru saja keluar dari antrean, ada Delila dengan beberapa temannya yang sepertinya sedang bercanda sambil ikut antre, untuk memesan minuman.


BRUK


Delila ke senggol dan terdorong oleh temannya sendiri, hingga saat Alya lewat dengan nampannya, membuat minuman dan makanan yang baru saja di pesan jatuh mengenai baju Delila.


Kedua netra Delila langsung melotot melihat bajunya sudah ternoda, kemudian melotot ke wajah Alya, yang terlihat kecewa melihat minuman dan makanannya tumpah.

__ADS_1


“EEH.....jelek....kalau jalan tuh lihat-lihat dong. Lihat baju gue udah kotor begini!!” bentak Delila, melihat Alya dari ujung kaki sampai ujung rambut, terlihat kampungan, menurut penilaian Delila.


Sedangkan Alya juga sama menelisik Delila dari ujung kaki sampai ujung rambut, terlihat cantik dan pastinya terlihat kaya.


 “EEH......kenapa diam aja, bukannya minta maaf. Ganti in nih baju gue, mahal ini baju harganya. Pasti loe gak bakal bisa ganti in baju gue ini,” ucap sarkas Delila.


“Maaf ya, kalau minuman gue tumpah dan mengotori baju loe. Tapi kayaknya yang salah loe deh, yang menyengol minuman gue duluan. Gue udah hati-hati jalan, tapi loe nyengol!!” jawab Alya, sambil melihat teman Delila. Alya sangat yakin, jika yang menyengol duluan adalah wanita cantik tersebut.


“Eh cewek kampungan, jangan asal nuduh ya, udah tahu loe yang salah. Sekarang loe nyalahin gue. Pokoknya gue gak mau tahu, loe harus ganti baju gue ini seharga lima juta, sekarang juga!”


“Gue ganti in baju loe, sedangkan loe aja gak ganti in  minuman gue yang jatuh gara -gara loe. Otak loe ada di mana!! asal menuduh saja tanpa bukti dan tidak mau di salahkan, hem!!” tantang Alya.


“Jangan mentang-mentang loe cantik, orang kaya.....bisa injak-injak gue yang loe bilang cewek kampungan, jelek, miskin. Mulut loe gak pernah di sekolahin ya!!” Alya mengikis jarak antara dirinya dengan wanita cantik itu, Delila sedikit melangkah mundur melihat Alya semakin mendekatinya.


“Lili, minta sama karyawan coffe shop, untuk memperlihatkan rekaman cctv yang ada di depan kasir ini. Kita lihat siapa yang mulai, gue atau loe!" tunjuk Alya.


“Baik Bu....” Lili langsung bertanya pada salah satu karyawan coffe shop.


“Deli, udah jangan di lanjut lagi.....malu di lihatin orang. Ini gara-gara gue nyenggol loe, jadi loe nyenggol tuh cewek jelek, bukan salah dia.” pinta salah satu teman Delila, malu semua mata menatap ke arah mereka.


“Apa salah gue, loe bilang!....udah jelas cewek jelek itu sudah menumpahkan minumannya ke baju gue. Dia harus ganti baju gue ini!" tidak terima jika kesalahan ada pada dirinya. Omongan teman Delila terdengar jelas di telinga Alya.


“Teman loe aja udah mengakui kesalahannya, tapi loe gak mau mengakuinya. Aduh buat apa cantik tapi hatinya jelek sekali ya, tidak sesuai sama wajahnya!!” ejek Alya.


bersambung.......

__ADS_1


Pak Erick......tolong ya nih istri keduanya sama calon istrinya lagi ketemu.....😁😁



__ADS_2