
Meradang tak menentu mulai menyelusup ke hati Erick, rasa yang tidak pernah di sadari oleh pria itu, yang semakin hari semakin jadi jika berkaitan dengan wanita berkacamata bulat. Entah kenapa dirinya jadi emosi melihat atau mendengar Alya dekat dengan seorang pria.
“ALYA......!!” teriak Erick setelah berulang kali, tidak di tanggapi oleh Alya melalui sambungan teleponnya.
“Gak usah pakai teriak-teriak Pak Erick, suara bapak tuh terdengar jelas di telinga saya, ini handphonenya nempel di telinga, bukan di lantai. Jadi berhentilah berteriak!” jawab santai Alya.
“Share lokasi sekarang juga, saya jemput kamu sekarang!!!” tegas Erick, pikiran pria itu sudah melalang buana, setelah mendengar suara Bram yang begitu dekat dengan Alya.
“Ya ampun Pak Erick kayak gak ada kerjaan aja, mending sekarang Bapak jangan urusin saya, lebih baik urusin kerjaan di kantor lebih bermanfaatkan. Untuk masalah obat sama susunya jika memang tidak mau dikirim pakai ojek online. Besok saja saya ambil di kantor, lagi pula saya besok sudah kembali bekerja,” jawab sopan Alya.
“Kalau tidak mau di jemput, sekarang juga kamu pulang ke rumah!!” perintah Erick, terdengar tidak mau di bantah lagi.
“Baik Pak CEO, nanti saya akan pulang, tapi bukan sekarang!!” jawab singkat Alya, udah males menanggapi Erick, lebih baik di iyaain aja, jadi beres. Diputusnya sambungan telepon dari Erick.
“Sabar Alya, kamu bakal menghadapi suami orang selama satu tahun. Jaga mata, jaga hati dan jaga kewarasan....!” gumam Alya sendiri. Untungnya Bram sudah keluar dari ruang kerjanya.
🌹🌹
Perusahaan Pratama
Selesai memerintah Alya pulang ke rumah, pria itu kembali duduk di kursi kebesarannya.
“Pak Bos.....,” panggil Rio, kepalanya sedikit melongo di sela-sela pintu.
“Mmm.......,” jawab Erick,
“Di luar ada nyonya Delila, mau ke temu sama Pak Bos,” lapor Rio dengan nada pelannya.
“Delila, buat apa ke sini? Suruh dia masuk,” jawab Erick.
__ADS_1
“Mas Erick,” sapa Delila dengan menebar senyum cantiknya. Wanita itu menghampiri suaminya yang masih duduk dan mengecup kedua pipi suaminya.
“Ada apa kamu ke sini, Deli?” tanya Erick sedikit heran, tak biasanya istri keduanya ke kantor. Karena Delila juga bekerja di perusahaan cabang pratama.
“Masa istri sendiri tidak boleh mampir untuk menengok suaminya.” Delila langsung duduk di atas pangkuan Erick.
“Deli, bisakah kamu duduk di sofa atau di kursi depan meja kerja saya, di sini ada Rio,” tegur Erick, melihat tatapan Rio yang masih berada di ruangan Erick.
“Mas Erick kok begitu sih, suruh aja Rio keluar dari ruang ini. Saya ingin bermesraan dengan suami sendiri,” tukas Deli sambil memainkan dasi Erick, dan masih berada di pangkuan Erick.
“Duduk yang sopan, atau kamu silahkan keluar dari ruang ini,” Erick kembali menegurnya.
“Iihh......mas Erick,” Delila terpaksa bangkit dari paha Erick dan duduk di kursi yang ada di hadapan meja kerja Erick.
“Ada keperluan apa sebenar kamu ke sini? Bukankah ini masih jam kerja?”
“Mas Erick, saya mau kenal dengan calon ibu pengganti. Kata mbak Agnes, wanita itu karyawan di sini,” pinta Delila.
“Tidak bisa hari ini saja saya mengenalnya?”
“Dia sedang sakit.”
“Ooh......sedang sakit. Mas Erick ngomong-ngomong bisa gak saya dipindah tugaskan kerja di sini. Saya ingin seperti mbak Agnes, bisa selalu di samping mas Erick. Terus kalau bisa saya naik jabatan mas, kalau boleh pilih jabatan.....saya mau jadi manajer finance,” rengek Delila kepada suami gantengnya.
Rio yang masih membantu Erick mengecek dokumen, duduk di sofa.....mulai enek dengan gaya manja Delila, cantik si boleh....tapi manjanya itu bikin ilfill buat beberapa laki-laki.
“Deli, masih untung kamu saya terima kerja sebagai staff di kantor cabang. Ketimbang kamu masih kerja jadi pelayan di restoran saat sebelum menikah dengan saya. Sekarang kamu minta pindah ke kantor pusat lalu minta naik jabatan. Lihat dulu kemampuan kamu Deli. Padahal hidup kamu juga sudah enak kalau di rumah saja tanpa harus bekerja!!”
“Tapi mas Erick, saya kan bosen di mansion menunggu mas pulang, belum lagi waktu mas juga terbagi dengan mbak Agnes. Saya juga ingin seperti mbak Agnes,” terlihat rasa iri hati Delila terhadap Agnes.
__ADS_1
Hati Erick yang masih panas karena Alya, sekarang Delila datang menyulut api, kedua netra Erick mulai berkobar api yang terasa panas.
“Kamu tidak bisa membandingkan diri kamu dengan Agnes, itu sudah jauh berbeda. Saat perjodohan kamu sudah tahu konsekuensinya sebagai istri kedua, saya sudah berusaha adil sesuai porsinya masing-masing baik dari segi waktu maupun materi. Saya rasa kamu sudah lebih dari cukup menerima materi dari saya. Jika kamu menuntut lebih, ya kamu harus tahu resikonya,” tegas Erick.
“Sekarang saya tanya sama kamu, apakah kamu masih kurang menerima uang nafkah dari saya dalam angka puluhan juta atau kadang ratusan juta. Belum lagi barang barang mewah yang selalu kamu minta, selalu saya penuhi dari awal saya menikah dengan kamu!!” suara Erick terdengar tegas dan naik satu oktaf.
Delila langsung tertunduk kepalanya dengan teguran dan pertanyaan Erick, sebenarnya selama menikah dengan Erick, hidupnya lebih nyaman atau semakin mewah ketimbang sebelum menikah. Bisa di bilang derajatnya menjadi naik ketika sudah menjadi istri kedua Erick, walau tidak banyak orang yang tahu, termasuk karyawan perusahaan pratama. Atas permintaan Agnes, selama ini Delila diperkenalkan sebagai saudara Agnes untuk tidak menimbulkan kecurigaan para karyawan. Dan Delila tidak mempermasalahkan untuk identitasnya.
Tatapan Erick kali ini menelisik wajah cantik istri keduanya. “Kenapa diam, kamu tidak bisa menjawab?”
“Maaf mas Erick, iya nafkah dari mas Erick sudah lebih dari cukup,” jawab pelan Delila.
Secara nalar coba bayangkan dengan gaji sebagai pelayan restoran sebesar tiga juta lima ratus perbulan, tiba-tiba berubah menjadi tujuh puluh juta atau sampai ratusan juta sebulan nafkah dari Erick sebagai istri kedua. Berapa kali lipat yang di peroleh seorang Delila, anak dari teman SMU Papa Bayu, karena mengingat kebaikan Papanya Delila selama di sekolah terhadap Papa Bayu.
“Saya tidak mau lagi mendengar kamu menuntut ini, atau menuntut itu. Jika masih seperti itu, alangkah baiknya kita berpisah saja!” gertak Erick.
“Mas Erick, gak mas......saya gak mau pisah sama kamu, saya mencintai mas Erick. Saya minta maaf mas, saya tidak akan banyak menuntut lagi. Saya janji,” kedua netra Delila mulai berkaca-kaca, sungguh takut jika sampai berpisah dengan suaminya yang ganteng dan kaya, apalagi sudah menikmati keperkasaan Erick.
Sedetik Erick terasa tidak tergugah dengan air mata Delila yang sudah jatuh di pipi istri keduanya. Tatapannya datar melihat istrinya sudah meluapkan tangisannya.
“Rio, tolong ambilkan minum dulu buat Deli,” pinta Erick.
“Baik Pak Bos,” Rio beringsut dari duduknya, bergegas ke pantry.
Harta...harta.....dan harta itulah salah satu wanita tidak mau melepaskan pria sekaya Pak Bos, Dasar air mata buaya......batin Rio.
__ADS_1
Agnes, Alya,Delila