
Selanjutnya Erick menghubungi mama Danish.
“Assalamualaikum, Mah.”
“Walaikumsalam, Erick.”
“Mah, tadi pagi jemput Alya gak di rumah sakit?”
“Mama belum sempat ke rumah sakit sedang tidak enak badan. Memangnya Alya sudah di izinkan pulang, bukankah kamu yang bilang akan mengurus Alya?” tanya balik Mama Danish.
“Mm......iya mah,” Erick merasa bersalah, mengingkari janji kepada Mama Danish dan Bu Yanti.
“Kamu sekarang sedang menjaga Agneskan di rumah sakit?” tanya Mama Danish.
“Iya mah......”
“Ya sudah jaga saja Agnes, semoga cepat sembuh. Maaf mama belum bisa menjenguk Agnes,” ujar Mama Danish.
“Mah, jadi di mansion utama tidak ada Alya?” tanya Erick kembali untuk memastikan.
“Alya tidak ada di sini, mungkin pulang ke rumahnya,” jawab santai mama Danish.
“Ya sudah mah, Erick akan coba hubungi Bu Yanti.” Ujar Erick mengakhiri perbincangan.
Mama Danish sudah di hubungi, sekarang pria itu menghubungi mama mertuanya.
“Assalamualaikum Bu,” sapa Erick.
“Walaikumsalam, nak Erick,” balas Mama Yanti.
“Maaf Bu jika mengganggu, saya mau tanya ada Alya di rumahkah?”
“Alya.......memangnya Alya tidak ada di rumah sakit. Bukannya nak Erick berjanji akan mengurus Alya selama di rumah sakit?” balik tanya mama Yanti kepada menantunya.
Erick kembali tersudutkan, dia yang meminta untuk mengurus sendiri istrinya, nyatanya dirinya sudah ingkar janji dengan ucapannya sendiri. “Maaf Bu, Alya tidak ada di rumah sakit, pikir saya....Alya berada di rumah,” jawab pelan Erick, malu dan tidak enak hati dengan mama Yanti.
“Ibu tidak bisa berkata apa-apa lagi nak Erick, malam ini Alya tidak ada di rumah. Jika memang Alya sudah di izinkan pulang dari rumah sakit, sekarang anak ibu ada di mana? ke mana janji nak Erick untuk mengurus Alya di rumah sakit, nyatanya kamu sendiri sampai tidak tahu kepergian Alya, ibu kecewa dengan kamu.” Mama Yanti sebenarnya kecewa dengan Erick, jika pria itu benar ada di samping Alya, pastinya wanita itu tidak akan pergi.
“Maafkan saya Bu, saya janji akan mencari Alya sampai ketemu.”
__ADS_1
“Ibu tidak mau mendengar janjimu lagi nak Erick, semoga Alya dan kandungannya baik-baik saja di luar sana.”
“Ya Bu, saya akan berusaha mencari Alya.....,” Pria itu tertunduk lemas, tubuhnya langsung lunglai. Istrinya tidak ada di kedua tempat.
“Ke mana kamu dengan calon anakku pergi, Alya.......benarkah kamu ingin berpisah........inikah cara kamu ingin berpisah dengan saya!!” Erick mengeram, dan kembali meninju kepalan tangannya beberapa kali ke tembok. Tidak perduli dengan rasa sakitnya lagi.
🌹🌹
Sebagai suami, pria itu harus bertanggung jawab kepada kedua istrinya. Akan tetapi keadaan tidak memungkin untuk bersama dengan keduanya.
Langkah pria itu terasa berat untuk masuk kembali masuk ke ruang rawat, tapi apa boleh buat, Yuni yang sedang menemani Agnes menghampirinya, memberitahukan untuk segera menemui Agnes di dalam ruangan.
“Mas Erick, katanya sebentar di luar......tapi kenapa lama sekali. Aku lapar mas, aku ingin di suapi makan sama Mas?” pinta Agnes, sambil menunjukkan nampan di atas nakasnya.
Pria itu langsung membantu Agnes untuk duduk, dan mulai menyuapi istri pertamanya. Agnes menerima suapan demi suapan dari suaminya, dengan hati yang penuh suka cita, rasanya ingin sekali wanita itu sorak bergembira. Akan tetapi pria itu berulang kali menahan rasa gejolak mualnya yang muncul jika bsrdekatan dengan Agnes.
Hati Erick terasa gamang, ketika menyuapi Agnes. Wajah Agnes terlihat pudar di kedua netra pria itu, tertutupi oleh bayangan wajah Alya, wanita yang sudah memenuhi hati pria itu.
“Kenapa kamu melakukan hal yang bodoh, Agnes?” tanya Erick.
“Ini semua gara-gara, Mas Erick yang mengacuhkan aku. Kalau Mas Erick semalam mau pulang ke mansion, mungkin aku tidak melakukan hal yang bodoh.” wanita itu menyalahkan Erick.
Pria itu meletakkan piring bekas makan Agnes ke atas nakas, kemudian beranjak dari duduknya.
“Mas Erick, mau ke mana lagi?” tanya Agnes, mulai cemas takut di tinggal oleh Erick.”Tidak bisakah tetap di sini, bermalam menemani istrimu yang hampir saja kehilangan nyawanya,” Agnes memohon.
“Ada Yuni yang menemani kamu di sini, saya mau makan dulu,” jawab datar Erick.
“Yuni bisa yang membelikan makan malam buat Mas Erick, apa susahnya berada di sini dengan aku, Mas.”
Pria itu kembali menghampiri Agnes yang berada di ranjang,” berapa banyak lagi keinginan yang harus saya turuti buat kamu, apakah selama sepuluh tahun ini tidak cukup, saya selalu mengikuti kehendakmu Agnes.” Erick menghela napas panjang.
“Istirahatlah......biar kamu cepat sehat.” Pria itu membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya.
“Apakah Mas Erick ingin menemui Alya di rumah sakit B!” seru Agnes.
“Memangnya salah saya menemui Alya, bukannya kamu tahu Alya juga istri sah saya. Dan Alya bukan selingkuhan saya, tapi istri!!” balas Erick.
“Mohon ceraikan Alya, Mas Erick. Aku sudah tak sanggup di poligami lagi, aku lelah Mas Erick, aku ingin kita kembali seperti dulu hanya ada aku dan Mas Erick. Karena aku takut kehilanganmu, aku lakukan hal yang bodoh ini!!” mohon Agnes.
__ADS_1
“Agnes, saya juga lelah menghadapi kamu. Setelah kamu berulah di kantor, adakah kamu mengakui kesalahan kamu! Tapi sekarang kamu berulah lagi. Mau sampai kapan kamu seperti ini terus!! Kamu semakin jadi berulah semenjak fasilitas kekayaan dari saya di cabut!!”
DEG
“Aku mencintaimu, Mas Erick!” ujar Agnes, mengucapkan kata saktinya.
Erick menghiraukan pernyataan cinta Agnes, justru memilih keluar dari ruang rawat Agnes.
Wanita yang ditinggalkan Erick, hanya mendengus kesal dan kecewa berat.
Sikap Erick terkesan suami yang tidak bertanggung jawab kepada Agnes, sungguh tega keluar dari kamar dan mengacuhkan permintaan Agnes. Seperti yang di utarakan oleh pria itu, dia juga lelah menghadapi Agnes. Hati pria itu memberontak, tak ingin selamanya di kekang oleh Agnes.
“Sialan, aku udah rela-rela minum obat tidur overdosis. Ternyata mas Erick masih memikirkan Alya. Sepertinya kali ini aku harus minta tolong papa untuk melenyapkan Alya, bukankah dulu papa pernah melenyapkan teman bisnisnya sampai mati,” gumam Agnes dengan tersenyum devil.
🌹🌹
Esok hari
Rumah Alya
Azan shubuh baru saja berkumandang, deru mobil Erick pun juga terdengar di depan rumah Alya.
Bik Sur yang baru saja membuka gerbang pagar, untuk pergi ke warung sayur terlihat heran dengan ke datangan Erick di pagi-pagi buta.
“Assalamualaikum, Bik sur,” sapa Erick, yang baru saja keluar dari mobilnya.
“Walaikumsalam, Pak Erick,” balas sapa Bik Sur dengan wajah terheran, kedatangan tamu di waktu yang aneh.
“Bik Sur, ada Bu Yanti?” tanya Erick.
“Ada Pak Erick, mari silahkan masuk,” Bik Sur kembali masuk ke dalam rumah. “Silahkan duduk Pak, bibi panggilkan nyonya dulu.”
“Makasih Bik,” pria itu menghempaskan dirinya ke atas sofa.
bersambung.....
Kakak Readers terima kasih sudah like, komen, vote, kasih hadiah, kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐. Semuanya berarti buat saya 🙏🙏🙏.
JIka sudah mulai bosan sama ceritanya, silahkan tinggalkan saja ya dan jangan beri ⭐ 1,2,3 karena tidak ada untungnya buat Kakak Readers. Cukup ganti bacaannya saja 😊. Terima Kasih 🙏🙏
__ADS_1