Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Alya datang


__ADS_3

Perusahaan Genta Prakasa.


Tak


Tak


Tak


Derap langkah anggun seorang wanita menggunakan sepatu high heels dengan tinggi lima centi, memakai gaun dress kerjanya yang terlihat lebar di bagian perutnya , di padu dengan blazer.


Beberapa laki-laki dengan tubuh tinggi dan tegak berada di belakang wanita itu. Seperti sedang menjaga wanita cantik yang ada di depan mereka, melangkah anggun memasuki lobby perusahaan Genta Prakasa.



Dari kejauhan terlihat Papa Bayu, Mama Danish dan Mama Yanti di tengah-tengah lobby, seperti sedang menunggu kehadiran seseorang. Seseorang yang tidak pernah mereka lihat secara langsung selama beberapa bulan.


Kedua netra Mama Yanti dan Mama Danish, terlihat mulai berbinar-binar. Melihat sosok wanita memakai dress hamilnya.


Kedua tangan mama Yanti mulai di rentangkan. ”Mama...” sapa Alya, menyambut pelukan mama Yanti.


“Anakku,” ujar terharu Mama Yanti, kemudian mencium kedua pipi putri sulungnya.


“Kamu semakin cantik, nak,” puji Mama Yanti, ketika mengurai pelukannya.


“Makasih, Mah,” balas Alya. Kemudian wanita itu bergantian memeluk Mama Danish.


“Mama kangen kamu, Nak,” ujar Mama Danish ketika memeluk Alya. “Alya juga kangen sama Mama,” balas Alya.


“Duh cucu Oma apakabarnya ini?” tanya Mama Danish, sembari mengelus perut Alya yang sudah menonjol.


“Alhamdulillah mereka berdua sehat Mah,” jawab Alya. “Pah,” sapa Alya dengan mencium punggung tangan Papa Bayu.


“Akhirnya kamu datang juga, Nah,” kata Papa Bayu, dengan menepuk lembut bahu Alya.


“Iya Pah, habisnya tiap hari Papa kasih kerjaan banyak banget, sampai rasanya pengen buru-buru ke kantor, biar bisa bagikan kerjaan ke staf yang lain,” canda Alya kepada Papa Bayu.


Papa Bayu hanya bisa terkekeh mendengarnya, memang Papa Bayu sengaja mengirimkan banyak laporan biar Alya pusing sendiri.


“Lebih baik kita lanjut ngobrol di ruangan saja, kasihan Pah...menantu kita berdiri lama dengan perut besar begini,” tegur Mama Danish, hatinya senang melihat kedatangan Alya, walau datangnya ke perusahaan karena akan ada meeting penting.


“Papa sampai lupa," jawab Papa Bayu sambil menepuk dahinya sendiri.

__ADS_1


Mama Yanti dan Mama Danish merangkul lengan Alya, dan berjalan bersama menuju ruang kerja Papa Bayu. Hati kedua mama ini terlihat senang, anak yang selama ini bersembunyi akhir keluar dari tempat persembunyiannya. Papa Bayu hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat kedua ibu-ibu itu berulang kali mencolek pipi Alya dengan ngemasnya dan mengelus perut si bumil sambil berbicara. Sungguh nyata kedua mama itu melepaskan rasa rindunya kepada bumil.


🌹🌹


Ruang CEO


“Papa, tolong jangan tanya masalah pekerjaan sama Alya dulu. Mama sama Bu Yanti lagi kangen sama Alya...ya!” tegur Mama Danish sambil kedua matanya melotot, kesal melihat Papa Bayu, baru saja mereka duduk santai di sofa sambil menikmati teh hangat beserta teman-temannya. Papa Bayu tiba-tiba menyodorkan dokumen ke Alya, untuk persiapan rapat nanti siang.


“Papa hanya kasih berkas aja kok Mah,” ujar Papa Bayu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Iish...., alasan aja si Papa ini,” gerutu Mama Danish.


“Udah gak pa-pa kok Mama Danish, Papa hanya kasih berkas aja kok,” bela Alya.


“IIh...Papa kamu jangan di belaiin dong Alya, Papa tuh sudah jahat sama Mama. Kalian berdua selama ini ternyata sering zoom meeting, sering video call, tapi Papa gak pernah kasih tahu ke Mama, diam-diam aja. Untung kemarin Mama dengar pembicaraan kalian berdua, jadi Mama tahu kalau kamu mau ke kantor,” Mama Danish mendengus kesal.


“Maafin Alya ya Mah, Alya memang sengaja bilang sama Papa, jangan kasih tahu siapa-siapa dulu. Lagi pula tiap hari Papa tuh video call, nanyaiin kerjaan terus...,” imbuh Alya.


“Lagi pula sekarang Mama Danish sama Mama, ketemu jugakan sama Alya,” lanjut kata Alya, sembari mengulas senyum tipisnya.


“Iya Nak, kalau bisa mulai hari ini kamu pulang ke rumah,” pinta Mama Yanti.


Mama Danish, Mama Yanti dan Papa Bayu bergantian saling bertatapan.


“Ta-tapi, Nak—,”


“Kalau Alya ingin tetap tinggal di tempat yang sekarang, ajak kami ke tempat tersebut. Biar kami yakin, jika rumah itu nyaman dan aman, buat kamu,” sela Papa Bayu, sebelum Mama Danish menceritakan jika keadaan Alya sedang berbahaya. Lagi pula Papa Bayu sudah menugaskan beberapa orang untuk menjaga Alya, dengan berbagai alasan, sehingga Alya mau menerimanya. Seperti hari ini Papa Bayu minta alamat tinggal Alya, agar di jemput dan di kawal ketika datang ke perusahaan.


“Baiklah nanti Alya ajak semuanya ke tempat tinggal Alya yang selama ini di tempati,” pasrah sudah Alya jika sudah di tuntut oleh orang tua.


“Nah begitu baru benar,” ujar Mama Yanti, yang tidak bisa memaksa anaknya untuk pulang ke rumah.


“Nak, usia kandungan kamu sudah lebih dari empat bulan ya?” tanya Mama Danish.


“Iya Mah, sudah lebih dari empat bulan, malah sudah masuk lima bulan,” jawab Alya, wanita itu merubah posisi duduknya, mencari posisi nyaman.


“Papa, kita harus segera adakan syukuran empat bulanan ya. Gak usah pakai lama-lama. Kalau bisa dua hari lagi kita adaiin syukuran, nanti suruh asisten Papa aja hubungi EO buat adaain acara, di mansion aja,” Mama Danish terlihat antusias sekali berhubung kandungan Alya sudah lebih dari empat bulan.


Papa Danish yang mendengar istrinya mencerocos tanpa jeda, hanya biasa menganggukkan kepalanya saja, sebagian tanda menyetujui permintaan Mama Danish.


“Gak pa-pa kan Bu Yanti, kita adaiin acara empat bulanan di mansion saya?”ujar Mama Danish antara minta persetujuan atau sudah menjadi keputusan Mama Danish.

__ADS_1


“Terserah Bu Danish saja, mana yang terbaik saja,” mama Yanti menyerahkan saja segala sesuatu yang terbaik buat putrinya. Karena Mama Yanti yakin besannya pasti memberikan yang terbaik.


“Alya, setuju kan?” tanya Mama Danish.


“Setuju Mah, tapi jangan dalam waktu dua hari ini karena agenda kerja Alya lumayan padat. Bagaimana bisakan Mah?”


“Mmm........ya sudah empat hari lagi, deal ya...jangan di undur lagi,” jawab Mama Danish.


“Oke deal, Mah,” final keputusan dan keinginan Mama Danish, yang dituruti oleh Alya. Bumil itu juga paham melihat Mama Danish yang sangat bahagia menyambut calon cucu pertamanya, yang sudah di nanti-nantikan selama sepuluh tahun ini.


Mama Danish terlihat kegirangan, dan segera meminta asisten suaminya menghubungi EO, serta meminta mengatur undangan acara syukuran.


🌹🌹


Perusahaan Pratama


Ruang CEO


TOK....TOK....TOK


“Masuk.....,” sahut Erick dari dalam ruangannya.


Rio melonggokkan sedikit kepalanya di sela-sela pintu melihat keadaan di dalam, apakah keadaannya sudah aman. Karena baru beberapa menit yang lalu, Pak Bosnya habis menegur direktur marketing dengan suara yang sangat tinggi, hingga orang yang berada di luar ruang CEO bisa mendengarkannya.


“Gak usah pakai mengintip!! Masuk aja, ada apa?” ketus Erick.


“Eh...iya Pak Bos,” Rio akhirnya masuk ke ruangan.


“Saya mau memberitahukan agenda Pak Bos, setengah jam lagi meeting di Perusahaan Genta Perkasa,” ujar Rio.


Erick menaruh berkasnya dengan kasar ke atas meja. “Kenapa baru kasih tahu sekarang!! sudah tahu Papa tidak suka ada yang telat jika mau meeting!!” seru Erick, pria itu beranjak dari kursi kebesarannya.


“Bagaimana mau kasih tahu dari tadi, wong bawaan Pak Bos marah-marah terus...udah kayak lagi PMS!!” gumam Rio pelan biar gak kedengeran sama Pak Bosnya, lalu mengikuti langkah Pak Bosnya yang sudah mendahuluinya.


*Bersambung..........duh jadi deg deg degan Erick ketemu sama Alya gak ya 🤔


Halo Kakak Readers yang cantik dan ganteng, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Hari senin yang masih punya vote...mau dong lemparin buat Alya dan Erick, biar tambah semangat nih. Makasih


Love you sekebon 🌹🌹🌹*


 

__ADS_1


__ADS_2