Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Akhir aksi


__ADS_3

Debaran jantung Lili mulai cepat, tubuhnya sudah terasa sedang naik roller coster yang ada di dunia fantasi. Doyong ke kanan lalu doyong ke kiri. Dan wanita itu dengan sekuat tenang memegang pegangan yang biasa ada di atas atap mobil dekat pintunya.


“Lili, kamu aman kan, baik-baik aja kan?” tanya Rocky.


“Aman, dari hongkong,” celetuk Lili.


“Tahan ya Li, sebentar lagi kita sampai tujuan,” ujar Rocky.


“Tujuan mana nih surga atau neraka?” mulai cemas Lili, tapi mencoba bergurau agar dirinya tidak diliputi rasa ketakutan.


“Tidak keduanya Lili, aku belum menikah. Bagaimana setelah ini kita berdua menikah biar kita bisa sama-sama ke surga dunia,” balas Rocky, sambil terkekeh, mengajak Lili bercanda, pria itu melihat keadaan Lili dari kaca spion tengahnya.


“Gila aja, belum kenal udah ngajak nikah,” celetuk Lili, dengan pertanyaan tadi Lili lupa akan ketegangan yang terjadi. Wajah Lili yang tadinya pucat jadi terlihat kesal. Tujuan Rocky berhasil, pria itu kembali mempercepat laju mobilnya.


Dari jendela kemudinya, Rocky melihat dari samping, mobil yang tadi mengikutinya sudah berada di posisi samping. Pria yang ada di mobil tersebut menganggukkan kepalanya dengan pelan ke Rocky, sedangkan Rocky membalas dengan anggukannya juga.


“Joni, lindungi Lili,” pinta Rocky, kepada anak buahnya yang duduk di samping Lili.


“Siap, Bos...,” jawab Joni. Pria itu mulai  pasang badan, agar bisa menahan tubuh Lili. Wanita itu mulai menunjukkan wajah tegangnya.


Mobil yang di kemudikan Rocky, dan mobil yang di kemudikan oleh orang yang di bayar Cokro, mulai sejajar, badan mobil mereka sudah mulai menyenggol, hingga terlihat percikan api kecil ketika ketika kedua mobil itu berdekatan.


BRAK!!


“YA ALLAH...YA ROBBI,” jerit Lili, sambil memejamkan matanya, tubuhnya mulai bergetar hebat ketika mulai merasakan mobil yang di tumpanginya mulai menyenggol.


BRAK!!


“YA AllAH....LINDUNGI KAMI YA ALLAH!!” Jerit kembali Lili, ketika mendengar suara hantaman itu.


“TENANG LILI,” teriak Rocky, masih konsentrasi, sambil melihat spion sebelah kanan mencari keberadaan mobil yang di tumpangi Agnes.


Sementara di mobil yang di tumpangi Cokro dan Agnes.


“YA bagus, pepet terus mobilnya, cepat!!” teriak Agnes melihat atraksi kedua mobil itu, sangat terlihat semangat.


“Ternyata orang suruhan papa ahli juga,” ujar Agnes.


“Siapa dulu dong, pilihan Pak Cokro,” balas Cokro dengan bangganya.


Sang sopir tersenyum smirk, lalu menginjak gasnya dalam-dalam. Kecepatan mobil sudah mulai tinggi membuat Agnes tersentak tubuhnya hingga ke belakang.


“Pak.....kita tidak perlu ngebut-ngebut....cukup mengikuti dari belakang aja,” teriak Agnes.

__ADS_1


Sang sopir  hanya menyeringai tipis tanpa menjawab, justru membawa mobilnya lebih dekat lagi dengan kedua mobil itu, sang sopir rupanya sedang memancing Agnes.


Mobil yang di tumpangi Agnes sudah mulai mendekati mobil Rocky dan mobil sopir sewaan. Dua mobil yang tadi di lihat Agnes sedang beradu, sekarang terpisahkan seakan memberi jalan buat mobil yang di tumpangi Agnes.


Wanita itu tampak tersenyum jahat melihat posisi duduk dia persis di samping  belakang mobil Rocky, tempat Alya duduk pikir wanita itu.


Kesempatan bagus...batin Agnes.


Sang sopir mulai memperhatikan  gerak tubuh Agnes dari kaca spion tengah. Sang sopir membuka kaca mobil, lalu mengeluarkan tangan, anak buah Rocky yang melihat langsung cepat tanggap.


Agnes sibuk merogoh tasnya, seperti mencari sesuatu.


Untuk aku dapat pinjaman dari salah satu preman  ini.....batin Agnes senang.


Wanita itu mulai mengeluarkan senjata berapi, degan senyum sinisnya.


“Agnes,” Cokro terkesiap melihat anaknya sudah mengeluarkan senjata api.


“Papa jangan khawatir,” ucap Agnes. Wanita itu mulai menurunkan kaca mobilnya.


“Hati-hati kamu, Agnes!!” Cokro memperingati anaknya, tidak menyangka Agnes membawa senjata api.


Wanita itu memegang senjata apinya lalu memicingkan matanya, seakan sedang membidik dan mengukur pintu atau kaca  mobil bagian belakangnya.  


DOR


DOR


Suara tembakan terdengar dari senjata api yang di pegang Agnes.


CITTT......


Mobil Rocky langsung mengerem mendadak dan sedikit menyenggol mobil yang dibawa oleh sopir bayaran.


“AAAAAKHHH....,” teriak Lili di dalam mobil.


Beberapa mobil polisi yang bersembunyi mulai muncul, suara sirenenya mulai terdengar.


“Cepat Pak, bawa mobilnya lebih cepat lagi,” panik Agnes setelah berhasil menembak dua kali ke arah jendela mobil Rocky, dan peluru itu  membekas di pintu dan kaca  mobil, sepenglihatan dia tadi tidak  ada mobil polisi, kenapa dari kejauhan tiba-tiba ada mobil polisi.


“Gara-gara kamu kita di kejar polisi sekarang!” marah Cokro.


“Dasar anak bodoh!!” maki Cokro kembali.

__ADS_1


“Papa juga gak usah marahin Agnes!!” balik marah Agnes pada papanya, padahal wanita itu sedang ketakutan tapi di balik ketakutannya dia membayangkan jika Alya kena tembakannya, wanita itu mengulas senyum kemenangannya.


Sang sopir tidak menjawab malah tersenyum tanpa melirik ke bangku penumpang, laju mobil semakin cepat mengarah mobil polisi.


“EHH Pak, kenapa dekati ke arah mobil polisi, cepat menghindar,” teriak Cokro. Sang sopir tiba-tiba menghentikan mobilnya. “Waduh mobilnya mogok, Pak,” ujar sang sopir.


“Wah gawat ini Pah,” mulai panik Agnes melihat aparat polisi mulai mendekati mobil mereka yang berhenti karena mogok.


Wanita itu mulai mencoba membuka pintu mobil agar bisa keluar dan menghindari polisi, namun sayang central clock nya belum di buka.


“Pak.....buka kunci pintunya,” pinta Agnes yang masih berusaha membuka pintu mobilnya. Aparat sudah mulai mendekati, barulah pintu mobil bisa terbuka, namun sayang ketika Agnes baru saja mau keluar, wanita itu sudah di sergap.


“Anda di tahan atas penembakan!!” ujar Polisi.


“TIDAK!!” teriak Agnes, wanita itu memberontak agar tidak  ditahan oleh pihak polisi, namun beberapa polisi dengan sigapnya langsung memasang borgol kedua tangan wanita itu.


“Anda kami tahan atas kecelakaan lima tahun lalu,” ujar salah satu polisi yang langsung memborgol tangan pria tua itu, Cokro karena sudah berumur sudah tidak sanggup untuk lari, yang ada pasrah menerima hari apesnya.


“Dasar kurang ajar, ternyata kamu polisi huh,” Agnes melayangkan kakinya ke sang sopir yang sudah berdiri di depan mobil polisi.


“Selamat menginap di hotel prodeo, Ibu Agnes,” tukas sang polisi yang menyamar sebagai preman, pria itu mendorong paksa Agnes agar masuk mobil patroli polisi.


“BRENGSEK KALIAN SEMUA!!” pekik Agnes histeris di dalam  mobil patroli polisi.


Cokro di pindahkan ke mobil patroli yang lain, pria tua itu hanya bisa tertunduk lesu, tidak semangat seperti saat awal beraksi. Pria itu akan menuai apa yang telah di lakukannya, beberapa kali Cokro menghembuskan napas beratnya lalu menatap kosong ke arah jalannya. Mobil sudah mulai jalan menuju kantor polisi.


“Ingatlah Pah, sekarang kamu memang belum dapat balasan setelah mencelakakan orang. Tapi suatu saat nanti pasti akan ada balasannya. Ingatlah Pah, bertaubatlah sebelum terlambat, ingat umur....semakin hari kita semakin tua, tidak selamanya kita hidup di dunia ini.”


Pesan terakhir dari mendiang istrinya terngiang-ngiang, wanita baik yang selalu mengingatkan dirinya. Sekarang Cokro baru teringat akan pesan istrinya.


Penyesalan memang selalu datang di akhir, jika datang di awal namanya bukan penyesalan tapi pendaftaran.  


bersambung.........leganya....😊


Untuk Kakak Readers ku yang tersayang terima kasih telah mengikuti kisah Alya dan Erick, semoga tetap menemani saya sampai kisah Alya dan Erick tamat ya.


Dan sebagai rasa terima kasih saya....nanti akan ada hadiah spesial saya buat Kak Reader selain Give away pulsa, yaitu Magic Com Miyako.


Simak terus cerita Alya dan Erick sampai selesai, tinggalkan like, komen terbaiknya, rate ⭐⭐⭐⭐⭐, klik favorit, dikasih poin juga boleh dan votenya.Dan tunggu siapa yang beruntung mendapat hadiah spesialnya


Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹🌹.


__ADS_1


__ADS_2