
Teh hangat serta beberapa kue tradisional tersaji di meja yang ada di ruang tengah.
Terlihat mama Danish sedang berbincang hangat dengan Alya dan Mama Yanti. Sedangkan Erick sedang menunggu kedatangan Rio yang katanya sedang menuju rumah Alya dengan karyawan dealer motor, untuk mengantar motor yang sudah di beli.
Sesekali Erick kembali ke ruang tengah, sekedar menyesap kopi buatan calon istrinya, kopi yang akan menjadi kopi favoritnya buatan calon istri ke-tiganya.
“Nak Alya rencana hari ini apa?” tanya Mama Danish.
“Siang ini saya sudah janji dengan dokter Mah di rumah sakit, untuk periksa kesehatan kami berdua,” jawab Erick menyela, sebelum Alya menjawab.
“Ooh sudah ada janji dengan dokter. Sebenarnya mama mau ngajak Alya untuk cari cincin nikahnya.”
“Sudah di siapkan oleh Agnes, Mah.”
Mama Danish menaikkan salah satu alisnya, merasa heran kenapa cincin nikah Alya, Agnes yang menyiapkan.
“Oh ya mah, Agnes juga minta pernikahan saya dengan Alya tidak usah mewah cukup akad nikah aja.”
Mama Danish mengelus dadanya, anaknya benar-benar di setir oleh istri pertamanya. Semua permintaan istrinya harus di turuti.
Mama Danish menoleh ke arah Alya yang sedari tadi hanya menyimak saja. “Alya, menurut kamu bagaimana......ini pernikahan kamu yang pertama kali?”
Betul memang pernikahan yang pertama kali, tapi pertama kali juga akan bercerai nantinya.....batin Alya.
“Menurut saya cukup akad nikah aja, dan tidak perlu mengundang orang. Cukup keluarga saja, yang penting nikahnya sah secara agama dan negara.....itu saja,” buat apa Alya menuntut lebih, karena pernikahannya juga karena paksaan dan terpaksa.
Dan buat apa mengadakan pesta yang mewah, mengundang banyak orang......tapi pernikahannya akan berakhir juga, dan sudah di tetapkan oleh Agnes. Ini hanya pernikahan dalam bisnis.
“Walau hanya akad nikah, acara nikah tetap mama adakan di salah satu hotel milik keluarga. Dan mama membebaskan kamu mengundang teman atau saudara, karena ini acara pernikahan pertama kamu, nak,” ujar mama Danish.
Dalam pikiran Alya tidak terbesit mengundang teman atau saudara. Paling mama Yanti hanya mengundang Bapak dan Ibu RT dan tetangga sebelah kanan, kiri dan depan rumah. Untuk menghindari gunjingan, jika suatu saat Alya positif hamil. Walau jujur Mama Yanti harus siap-siap tutup telinga, jika anaknya bukanlah istri pertama saat acara nikah nanti dan bisa jadi para tetangganya akan berspekulasi jika Alya adalah seorang pelakor.
“Bu Yanti kira-kira Alya wali nikahnya ada?” tanya Mama Danish.
“Ada adik Alya yang akan jadi wali nikahnya, kebetulan masih ada di Malang, mungkin h-2 baru pulang ke Jakarta,” jawab Mama Yanti.
__ADS_1
“Syukurlah kalau begitu masih ada adik laki-laki. Bu Yanti bagaimana kalau siang ini temani saya ke hotel, untuk memilih menu. Kebetulan anak-anak kita pasti tidak bisa ikut, karena akan ke rumah sakit,” ajak Mama Danish.
Mama Yanti seakan minta persetujuan Alya atas ajakan calon besan.”Boleh Bu Danish, kalau begitu saya ganti baju terlebih dahulu,” pamit Mama Yanti.
“Silahkan Bu Yanti.”
“Permisi Non Alya, di luar ada mobil yang antar motor katanya atas nama Non Alya,” ujar Bik Sur.
“Oh sudah datang, terima kasih ya Bik Sur. Saya saja yang keluar,” jawab Erick mendahului Alya untuk bicara.
“Iya Pak Erick, sudah ada di depan,” jawab Bik Sur. Pria ganteng itu bergegar keluar rumah. Tinggallah Mama Danish dan Alya.
“Alya.....,” Mama Danish meraih tangan Alya.
“Ya mah...”
“Mama tahu urusan pinjam rahim kamu dengan Agnes istri Erick, agar kamu mengandung lewat inseminasi. Buat mama, kamu sungguh luas hatinya bersedia mengorbankan diri kamu buat Agnes dan Erick. Tapi di luar kerja sama kalian berdua, mama berharap lebih dari itu. Jika kamu tidak bisa memberikan cucu buat mama dan papa, kamu tetap menantu mama.”
“Doakan saja mama, saya memiliki kesehatan yang baik hingga bisa memberikan mama dan papa seorang cucu. Saya tidak banyak berharap untuk kedepannya, tapi saya berharap mama menerima yang sudah dibicarakan antara saya dengan Bu Agnes, saya tidak ingin memberikan harapan palsu. Saya akan melakukan pembuahannya melalui inseminasi.” Alya mengulum senyum tipis.
Mama malah berharap kalian berdua kelak menjadi suami istri yang sesungguhnya.
“Alya, kamu mau periksa motornya?” tanya Erick yang kembali dari luar rumah.
“Tidak perlu,” jawab Alya dingin, tidak ada keinginan melihat motor yang dibelikan Erick.
“Kalau begitu kamu bersiap-siap, sebentar lagi kita harus berangkat ke rumah sakit,” pinta Erick pelan, pria itu sudah mencium gelagat dingin dari Alya.
“Ya......” jawab singkat Alya. “Mama Danish, saya tinggal dulu ya mau ganti baju.”
“Iya nak....”
Tidak memakan waktu lama, Alya dan Mama Yanti sudah rapi berpakaian. Mereka akan pergi dengan tujuan berbeda.
Mama Danish dan Mama Yanti terlebih dahulu pergi menuju hotel di antar sopir dan mobil pribadi Mama Danish.
__ADS_1
Sedangkan Erick dan Alya menggunakan mobil Erick dengan sopir serta Rio turut ada di antara mereka.
Suasana di dalam mobil tampang hening, sepanjang jalan Alya membisu....irit bicara. Sedangkan Erick merasa resah dengan suasana hening tersebut.
“Alya.....,” panggil pelan Erick. Wanita yang namanya di panggil hanya melirik sesaat, lalu memalingkan wajahnya.
Erick menelan salivanya dengan kasar melihat wajah garang Alya, yang kelihatannya tidak mau di usik.
Erick membetulkan posisi duduknya, dan merapatkan dirinya lebih dekat dengan wanita berkacamata itu. Terlihat Alya tidak merespon pria ganteng itu.
“Alya, kaki kamu masih sakit gak?” tanya Erick sok memberikan perhatian. Sebenarnya pria itu melihat cara jalan Alya yang masih terlihat pincang.
Alya hanya menoleh sebentar, dan kembali mengacuhkannya. Oh jadi bingung Erick dengan sikap dingin Alya yang datang tiba-tiba.
“Kalau masih sakit, nanti kita cek ke dokter lagi ya...,” ujar Erick pelan.
“Alya, apa mulut kamu juga sedang sakit. Sampai tidak bisa menjawab semua pertanyaan saya?” tegur Erick.
Alya masih saja malas menjawab pertanyaan Erick, malas menanggapinya.
“Masih belum bisa jawab juga l! Atau kamu sengaja mengabaikan saya?” terlihat Erick tidak sabar, di diamkan oleh wanita si berkacamata.
Sudut bibir Alya naik sebelah, seakan mencebik pertanyaan yang lontarkan pria yang ada di sampingnya.
“Sepertinya saya tidak perlu menjawab, bukankan dengan cara saya berjalan....bapak bisa melihatnya sendiri. Dan tolong jaga jarak duduk Bapak, kita tidak pernah akrab dan dekat sebelumnya. Seharusnya bapak memahaminya.” Suara Alya terdengar pelan namun tegas.
bersambung
Hai Kakak Readers yang cantik dan ganteng, jangan lupa jempolnya tekan like, vote dan ketik komentarnya......gratisloh gak pake bayar, please jangan pelit ya 😁😁.....biar tambah semangat nulisnya.
Happy weekend
__ADS_1
Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹