
Erick dengan sorot mata membara keluar dari kamar Alya dengan wajah terlihat emosi, kecewa untuk kesekian kalinya. “Jangan sentuh!!” tegur Erick, ketika Agnes ingin memegang lengan Erick.
“Oots..........,” Agnes tersentak ketika tangannya ditepis dengan kuatnya oleh suaminya.
Pria ganteng itu berlalu begitu saja, menghiraukan Agnes dan Delila, lalu berlari menuju mobilnya. Melihat suaminya berlalu begitu saja, Delila dan Agnes turut keluar dari rumah Alya, tanpa berpamitan dengan Bik Sur.
“Orang kaya tapi gak punya sopan santun!! Majikan bibi dulu juga orang kaya, tapi masih punya sopan santun.......ck!!” gerutu Bik Sur, sambil menutup pintu rumah majikannya.
🌹🌹
Mansion Utama
Mobil mewah yang mengantar Papa Bayu, Mama Danish, Alya dan Mama Yanti sudah masuk ke dalam gerbang mansion utama, tampak bangunan megah berdiri kokoh.
Buat Mama Yanti dan Alya tidak membuat mereka berdua ingin terlalu tahu ketika melihat bangunan mewah tersebut, sikapnya tidak seperti orang udik yang baru pertama kali melihat bangunan dan barang mewah. Mereka berdua sudah pernah melewati masa itu.
“Mari Bu Yanti, Alya......silahkan masuk,” ajak Mama Danish.
“Iya Bu Danish,” ucap Mama Yanti dengan senyum tipisnya kepada besannya, jalan beriringan dengan Alya.
Mama Danish mengajak mereka bertiga duduk bersama di ruang santai. Sedangkan Papa Bayu langsung menuju ruang kerjanya karena ada beberapa pekerjaan.
“Alya, anggap ini mansion kamu sendiri ya, buat diri kamu nyaman selama tinggal di sini,” pinta Mama Danish dengan lembutnya.
“Mama Danish, nanti kalau mansion ini di anggap milik sendiri, bisa berantakan sama Alya,” ujar Alya sambil terkekeh kecil.
“Iya loh Bu Danish, Alya hobby berantakin rumah, apalagi kalau sudah kerja.....duh bisa berserakan kemana-mana tuh kertas, mana bahan, mana meteran kain.....pokoknya udah kayak kapal pecah,” Bu Yanti mengiyakan omongan Alya.
“Malah saya senang kalau ada yang berantakin nih mansion saya, biar para pelayan ada kerjaannya, gak cuma ngerumpi aja kerjaannya di belakang,” balas Mama Danish ikutan tertawa.
“M-mm.......bagaimana kalau saya ajak Bu Yanti berkeliling mansion, kalau untuk Alya tidak boleh ikutan keliling, ingat pesan dokter Dewi, kamu harus bedrest,” ujar Mama Danish.
“Siap Bu Bos,” jawab Alya sambil memberikan hormat kepada Mama Danish, dan mengulas senyum cantiknya.
Mama Danish menepuk bahu Alya,”ada-ada aja kamu nak, pakai hormat segala, di kira mama presiden.....hi...hi...hi,” sambil menggelengkan kepalanya.
Para pelayan mansion utama terlihat kasak kusuk melihat kedatangan Alya di bagian belakang.
“Tuti, yang datang sama nyonya dan tuan besar siapa ya, sumpah cantik banget, aku sampai terpeleset melihatnya?” tanya salah satu pelayan mansion.
Alya datang dan masuk ke mansion utama tanpa menutupi wajahnya dengan make up buruk rupanya, wanita itu hanya memakai masker, lalu membuka maskernya saat masuk ke dalam mansion.
__ADS_1
“Gak tahu Win, tapi sumpah benar-benar cantik, mukanya itu loh mulus banget, kalau ada lalat yang nemplok pasti langsung kepleset, sama kayak kamu.”
“Kalian berdua jangan ngerumpi, siapkan minuman sama kue buat nona muda, nanti antarkan ke ruang santai,” tegur Pak Eko, sang kepala pelayan.
“Baik Pak Eko,” jawab bergantian Tuti, lalu Wiwin.
Kedua pelayan tersebut buru-buru menyiapkan minum dan makanan di dapur bersih, kemudian mengantarnya ke ruang santai.
“Permisi....,” sapa Tuti.
Alya yang sedang sibuk dengan handphonenya langsung mengangkat wajahnya.
“Ya mbak,” balas sapa Alya dengan senyum tipis.
“Ini ada minuman dingin dan kue, silahkan di nikmati, Nona,” ujar sopan Tuti, sambil menghidangkannya.
“Makasih banyak mbak, maaf dengan mbak siapa?” tanya Alya.
“Saya dengan Tuti, non,” balas Tuti.
Udah cantik.......ramah pula.....batin Tuti.
“Makasih mbak Tuti, tapi saya boleh minta tolong gak?” pinta Alya sopan.
“Ya Non, mau minta tolong apa?”
“Baik Non, segera saya ambilkan.....di tunggu sebentar ya Non. Tuti bergegas ke dapur bersih.
“Tuti, gimana tamunya?” tanya Wiwin kepo, melihat Tuti kembali ke dapur bersih.
“Tahu gak Win, tamunya kalau dilihat secara dekat cantik banget, udah ngitu orangnya ramah. Gak kayak Nyonya Agnes sama Nyonya Delila......istrinya Tuan Erick......eeergh kebangetan lagaknya,” ujar Tuti jijik sendiri.
“Iya apa lagi kalau udah nyuruh, aduh.....mentang-mentang kita pelayan, seenaknya banget....apalagi Nyonya Delila....haduh padahal dulu waktu belum nikah sama Tuan Erick, saya sering banget ngelihat dia jadi pelayan restoran yang di dekat mall CP tuh,” kata Wiwin.
“Hush........jangan ngerumpi dulu nanti kita di tegur Pak Eko lagi. Saya juga mau antar air hangat buat si nona cantik,” balas Tuti.
“YA........,” jawab Wiwin, si Tuti kembali ke ruang santai.
“Permisi Non......ini air hangatnya,” Tuti meletakkan gelas di atas meja.
“Makasih banyak mbak Tuti, maaf ya jadi merepotkan.”
“Gak pa-pa Non, nanti kalau butuh sesuatu, saya ada di dapur ya Non.”
__ADS_1
“Oke mbak Tuti.”
Tuti masih terpesona dengan kecantikan Alya, sampai gak sadar dirinya hampir menabrak lemari pajangan.
Alya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Tuti yang lucu.
🌹🌹
Perusahaan Pratama
Suasana ruangan CEO terlihat menegangkan, beberapa Direktur sedang kena omelan dari Erick.
“Kalau kalian tidak bisa kerja dengan lebih baik, sebaiknya serahkan surat pengunduran ke meja saya sekarang juga!!” suara Erick terdengar meninggi.
Agnes selaku direktur operasional juga turut berada di ruang CEO, tampak nyalinya menciut melihat suaminya sedang marah besar.
Bagaimana tidak marah besar, ketika baru sampai di perusahaan setelah dari rumah Alya, asisten pribadinya Rio melaporkan jika ada banyak keluhan dari rekan bisnisnya masalah produk Fashion yang mereka produksi, hingga tak terbendung lagi. Dan terpaksa beberapa produk di tarik dari pasaran.
“Pak Ridwan, saya minta anda ke pabrik dan lihat kembali produksi kita. Tolong tangani segera.....jika masih gagal juga.....serahkan surat pengunduran anda!!” ancam Erick, dengan suara yang cukup menggelegar.
“Dan kamu, Agnes......saya sudah mempercayakan kamu sebagai direktur operasional.....tapi sepertinya kamu masih belum ada perubahan. Apa perlu saya turunkan jabatannya menjadi staff operasional!!”
Direktur Personalia, Direktur Marketing, Direktur Keuangan, Direktur Public Relation langsung melirik Agnes......di antara mereka sepertinya ada yang tersenyum, mendengar perkataan akan di turunkan sebagai staff operasional.
“Ta-tapi......”
“Pak Arif, tolong buat surat teguran untuk Agnes atas kinerja kerjanya, hari ini juga, agar saya bisa tanda tangani, sekarang juga!!!” perintah Erick, menyela ucapan Agnes.
“Baik Pak Erick, segera saya buatkan surat tegurannya hari ini,” jawab patuh Arif sebagai direktur personalia.
Agnes tampak meremas tangannya, bagaimana bisa suaminya akan memberikan dirinya surat teguran untuk pertama kalinya.
Erick kembali duduk di kursi kebesarannya, “kalian silahkan kembali ke ruangan,” pinta Erick, sambil mengibaskan salah satu tangannya.
Semua direktur meninggalkan ruangan CEO, terkecuali Agnes, wanita itu masih berdiri di hadapan Erick.
"Tumben Pak Erick marahi istrinya Bu Agnes di depan kita semua," ujar salah satu direktur.
"Iya tumben.......biasanya tidak pernah marah atau menegur di depan orang," jawab salah satu direktur.
Mereka belum tahu aja kalau sikap Erick, bawaan calon baby twin, dan pria itu juga lagi emosi karena wanita si berkacamata.
__ADS_1
bersambung......