
“Alya masih tidur, masuklah sebentar jika ingin menjenguknya. Tapi jangan membuat Alya terbangun, yang ada nanti marah-marah lagi,” pesan Mama Yanti.
“Baik Bu, saya janji tidak akan mengganggunya,” Erick mengulas senyum tipisnya, harapan untuk bertemu istrinya terkabulkan. Lantas pria itu segera masuk ke dalam kamar.
Jantung pria itu terasa berdebar-debar ketika melihat Alya masih terlelap dalam tidurnya dari kejauhan, dengan langkah kakinya pelan-pelan agar tidak menimbulkan bunyi, pria itu mendekati ranjang Alya.
Kemudian pria ganteng itu duduk di tepi ranjang.
CUP
Erick memberanikan diri mengecup lembut kening Alya, walau ada Mama Yanti di kamar yang sama, di hiraukannya. Lagi pula mereka suami istri yang sah.
Melepaskan kecupan hangatnya, ditatapnya lekat-lekat wajah cantik Alya yang masih terlelap bak putri tidur.
Selamat pagi mommynya anak-anakku.......batin Erick.
Erick kembali mencondongkan wajahnya ke wajah Alya, dengan sengaja mengecup pipi Alya dengan lembutnya, hingga bisa menghirup aroma tubuh Alya, wangi kesukaan Erick. Rasa mual pagi ini yang selalu mendera pria itu langsung menghilang karena mencium wangi tubuh istrinya. Tak selang berapa lama di ciumnya bibir ranum Alya, tidak peduli ada iler di sudut bibir ranum wanita itu.
Jantung pria itu terasa ingin copot, ketika bibirnya berlabuh di bibir ranum Alya seperti ada sensasi yang berbeda di diri pria itu, untungnya pria itu teringat kalau ada mama mertuanya di kamar rawat. Kalau tidak ingat mungkin pria itu akan khilaf mencecap bibir ranum Alya tanpa mengenal waktu.
Pria itu mengulas senyum tipisnya “cepat sembuh
mommynya anak-anakku,” ujar lembut Erick, salah satu tangan besar pria itu memegang perut Alya, seakan sedang menyapa anak-anaknya, kemudian mengecup perut Alya. “Nak, bikin mommy kalian dekat sama daddy ya, mommy kalian minta bercerai.........daddy tidak mau nak. Tolong bantu daddy,” ucap pelan Erick kepada calon baby twin dalam perut Alya. Pria itu sangat optimis jika calon anaknya bisa membuat Alya akan dekat dengan dirinya.
Biarlah pria itu menikmati waktu yang sebentar ini, bisa melihat dan dekat dengan istrinya Alya. Walau wanita itu dalam keadaan tertidur.
Ternyata hal itu bisa membuat hati pria itu terasa bahagia.
“Eeugh.......,” lenguhan terdengar dari bibir Alya, dan tubuh wanita itu mulai menggeliat, Erick pun buru-buru keluar dari ruang rawat dengan wajah panik, takut ketahuan oleh Alya.
Mama Yanti menahan rasa gelinya, melihat Erick membuka kedua sepatu agar tidak berbunyi, lalu keluar kamar dengan terbirit-birit.
Malang sekali nasibmu Erick, mau ketemu sama istri aja harus sembunyi-sembunyi. Tapi ya begitulah jika menghadapi Alya, tidak mudah.....batin mama Yanti.
__ADS_1
🌹🌹
Siang hari
Erick terpaksa harus ke kantor, setelah mendapat kabar dari Rio, ada jadwal janji temu dengan relasi bisnisnya, dan tidak bisa di tunda karena relasinya akan berangkat ke Amerika.
Agnes dengan langkah anggunnya, serta senyum cantiknya, masuk ke dalam lobby rumah sakit.
Setelah dapat kabar dari Yoga jika tidak ada Erick di rumah sakit, dan juga tidak ada yang menemani Alya di dalam kamar. Walau hanya ada ajudan yang menjaga di luar kamar Alya, hal itu tidaklah masalah bagi wanita itu untuk melewati kedua ajudan tersebut.
Ternyata dugaan Agnes benar, sangat mudah melewati kedua ajudan yang berjaga, karena mereka berdua mengenal istri pertama Tuannya.
Di dalam kamar, Alya sedang menikmati buah potong yang sempat di siapkan oleh mama Yanti, sebelum mama Yanti pamit untuk pulang sebentar ke rumah. Sedangkan Mama Danish masih di perjalanan menuju rumah sakit.
“Halo, Alya,” sapa Agnes, ketika sudah masuk ke ruang rawat.
Alya menghentikan makan buahnya dan menoleh ke kanan, melihat siapa yang menyapa.”
Wanita itu menaruh keranjang buah di atas nakas samping ranjang Alya berbaring.
“Bagaimana keadaanmu, aku sempat kaget juga melihat kejadian kemarin,” pura-pura Agnes menunjukkan perhatiannya.
“Seperti ya Bu Agnes lihat, saya di rawat di sini.”
“Semoga kandungan kamu, baik-baik saja.......aku sempat mengkhawatirkannya, aku takut kalau sampai kandungan kamu keguguran,” rasa khawatir yang dibuat-buat oleh Agnes, akan tetapi bisa di rasakan oleh Alya.
“Calon baby masih di lindungi oleh malaikat, Bu Agnes.......jadi tidak perlu khawatir. Tapi jika calon baby harus di ambil, apa yang bisa di kata lagi, sudah menjadi ketentuan Allah, ternyata masih belum bisa di percayakan untuk diberikan keturunan. Betulkan!!" jawab santai Alya.
“Paling tidak aku berharap anak yang kamu kandung, bisa di lahirkan dengan selamat ke dunia. Karena anak tersebut impian aku dengan Mas Erick, agar rumah tangga kami semakin hangat dan harmonis.”
“Kehangatan rumah tangga bukan hanya karena kehadiran seorang anak Bu Agnes. Tapi kasih sayang, cinta, perhatian yang tulus dari hati dua insan yang berbeda, saling melengkapi, menerima kekurangan pasangan bukan hanya menerima kelebihan itulah salah satu pondasi membangun rumah tangga yang harmonis. Sedangkan kehadiran anak hanyalah pelengkap Bu Agnes, karena kenyataannya di dunia banyak pasangan suami istri belum mempunyai anak tapi rumah tangganya tetap harmonis sampai usia senja,” tutur Alya.
“Kamu tidak perlu menceramahi aku, tahu apa kamu tentang rumah tangga. Sedangkan kamu tidak memiliki suami dan belum pernah merasakan berumah tangga !” jawab ketus Agnes.
__ADS_1
“Ya saya memang belum merasakan berumah tangga, tapi saya bisa merasakan dan melihatnya dari rumah tangga orang tua saya,” lawan Alya.
“Ya......ya terserah kamu saja, yang jelas aku datang ke sini bukan untuk mendengar ceramah kamu.”
“Aku sebenarnya kecewa dengan kamu, telah memilih kamu menjadi ibu pengganti , sungguh pintar sekali menyamarkan wajah asli dan identitas kamu yang sebenarnya,” lanjut Agnes.
“Kenapa kecewa Bu Agnes, bukannya Bu Agnes sudah mengamati saya dari awal......katanya. Lagi pula dari awal saya sudah sempat menolak tawaran Bu Agnes. Dan sekarang bilang kecewa.....ck!”
“Aku berasa di tipu oleh kamu,” balas Agnes.
“Woow berarti saya berhasil jadi penipu ya, sama seperti Bu Agnes yang suka menipu banyak orang!!” celetuk Alya dengan santainya.
“Hah........kamu bilang aku penipu!!” sentak Agnes.
“YA.....Bu Agnes penipu ulung, saya acungkan jempol. Pintar menipu banyak orang dengan membuat berita hoax tentang saya yang di cap pelaakor. Memangnya saya tidak tahu jika itu perbuatan Bu Agnes......hah!” jawab sinis Alya.
“OOOh sekarang kamu berani menuduh aku!!”
“Ya beranilah, ngapain saya harus takut!!” lawan Alya.
“Kamu tidak ingat, aku ini siapa?” Agnes mulai meradang.
“Siapa?? Bu Agnes bukan atasan saya.....mmm berarti saya tidak perlu panggil ibu ya......cukup Agnes saja!!” cemooh Alya.
“Ck.......aku ini istri Mas Erick!!”
“OOh Agnes.....istri Pak Erick, di buku nikah saya juga istri Pak Erick.......jadi samaan dong kita,” ledek Alya.
Mereka berdua diam sesaat, menurunkan emoainya agar tidak semakin memuncak.
bersambung...........selanjutnya apa yang dibicarakan Agnes dan Alya??
__ADS_1