
Restoran Jepang
“Makanlah yang banyak Alya, kamu butuh tenaga agar kuat buat menghadapi kenyataan hidup,” ujar Bram, sambil mendekatkan beberapa piring yang berisi sushi ke hadapan Alya.
“Bisa aja mas Bram ini, makan itu bikin perut kenyang dan mood menjadi lebih baik,” celutuk Alya, mulutnya mulai memasuki sushinya dan mengunyahnya.
Tanpa Alya sadari sudah ada pria yang menatap Alya bersama Bram dengan tatapan tajamnya, ketika masuk ke restoran jepang.
“Mas Erick kok malah bengong, ayo masuk........jangan berdiri aja. Kita cari tempat yang kosong,” pinta Agnes.
“Eeh tunggu dulu deh Mas bukannya itu Alya ya,” tunjuk Agnes ke meja yang di tempati oleh Alya.
“Iya.......,” jawab datar Erick, sedari tadi pria itu juga sudah melihat istri ketiganya.
“Waah ada cowok dekat Alya, Mas. Jangan-jangan itu calon suaminya ya....,” celetuk Agnes.
“Ayo Mas, kita semperin........aku pengen kenal,” Agnes menarik tangan Erick. Wanita itu tidak sadar jika suaminya lagi menahan emosinya.
Agnes dan Erick menghampiri meja Alya.
“Halo Alya......,” sapa Agnes dengan suara manisnya. Alya langsung mengangkat wajahnya.
“E-eh ada Bu Agnes,” balas Alya lumayan kaget juga melihat ada Agnes dan Erick di hadapannya, dan Bram ikut melihatnya.
“Bukannya kamu harusnya bedrest?” tanya Agnes.
“Sedang ada keperluan penting, jadi terpaksa ke sini,” jawab Alya.
Erick langsung menggeser kursi yang kosong, dan duduk di samping Alya.
“Mas Erick, kita jangan duduk di sini, nanti mengganggu Alya,” tegur Agnes melihat suaminya duduk di samping Alya.
Erick bergeming dan menghiraukan teguran Agnes, pria itu hanya memperhatikan pria yang bersama Alya.
“Alya, boleh kita gabung makan di satu meja?” tanya Agnes.
Alya agak sedikit bingung, sesaat wanita itu menatap ke arah Bram. “Silahkan Bu Agnes,” jawab terpaksa Alya.
“Alya, kamu gak mau kenalkan sama pria ini?” tanya Agnes sambil menunjuk ke arah Bram.
“O-oh......kenalkan Bu Agnes, ini Bram,” ujar Alya, Agnes mengulurkan tangan ke Bram, di sambut baik oleh Bram.
__ADS_1
“Pak Erick, kenalkan ini Bram. Mas Bram kenalkan ini Pak Erick, CEO perusahaan tempat saya bekerja,” Alya memperkenalkan mereka berdua. Bram mengulurkan tangannya, dan di sambut oleh Erick. Pria ganteng itu menjabat tangan Bram dengan eratnya, dan Bram turut membalasnya dengan erat pula.
“Bu Agnes, maaf bisa kita ganti posisi duduknya?” pinta Alya, tidak nyaman rasanya duduk di samping Erick, apalagi ada istri pertamanya. Harus bisa jaga hati istri pertama Pak Bosnya.
“Bisa, Alya....,” jawab Agnes.
Erick langsung menoleh ke Alya, wanita itu beranjak dari duduknya, dan bertukar tempat duduk dengan Agnes, sedangkan Bram menggeser makanan Alya.
Alya duduk di samping Bram, sedangkan Agnes duduk di samping Erick.
Setelahnya Agnes segera memesan makanan untuk dirinya dan suaminya. Sedangkan Alya melanjutkan makannya, tanpa menawarkan ke Erick maupun ke Agnes.
“Bram siapanya Alya?” kepo Agnes.
Saya juga sudah punya calon suami, setelah urusan kerja sama ini selesai, saya akan menikah dengan calon suami saya. Dan saya juga tidak ada niat untuk merebut suami orang.
Sejenak Alya teringat ucapannya sendiri saat di saung. “Calon suami saya, Bu Agnes,” jawab santai Alya. Kedua tangan Erick terkepal saat mendengarnya.
Cih....calon suami.......trus saya ini kamu anggap apa Alya. Saya ini suami kamu....Alya!!.....batin kesal Erick.
“Waah pintar juga kamu cari calon suami, ganteng juga. Kalau begitu aku jadi tenang,” ya tenang jika Alya tidak akan merebut suaminya, karena sudah memperkenalkan calon suaminya tanpa sengaja dengan Agnes dan Erick.
“Akhh......,” ringis kesakitan Alya, merasa kakinya di senggol Erick dengan sengaja.
“Kamu gak pa-pa?” tanya Bram mendengar ringisan.
Ck.......pakai sok perhatian segala......batin Erick.
“Gak pa-pa kok Mas,” jawab Alya, wanita itu langsung menatap pria yang berada di hadapannya.
“Aww.......,” kaki Alya menendang kaki Erick.
“Kenapa Mas Erick?” tanya Agnes.
“Gak pa-pa, kaki saya gak sengaja kepentok kaki meja,” ujar bohong Erick.
Di antara tatapan Erick dan Alya, ada rasa kesal yang menyelimuti mereka berdua. Terutama Erick, sangat tidak menyukai Alya dekat dengan Bram!!
Ingin sekali Erick menghardik Alya di saat itu juga, tapi apa daya ada Agnes di sampingnya, apalagi dirinya sudah berjanji agar lebih memperhatikan Agnes bukan Alya. Ada hati yang harus di jaga.
Selama makan di satu meja, berulang kali Erick menghela napas panjang, menahan emosi yang sudah bertengger di ubun-ubunnya. Apalagi melihat perhatian Bram ke Alya. Cemburu kah!! Tak tahu!! yang jelas Erick sangat tidak menyukainya, ingin rasanya pria itu menarik tangan Alya, dan membawanya pulang!!
__ADS_1
Agnes terlihat tenang menikmati makannya, hingga tidak melihat tatapan suaminya sering melirik istri ketiganya.
“Mas Bram, saya ke toliet sebentar ya?” pamit Alya.
“Ya.......,” jawab Bram.
Mendengar Alya pamit ke toilet, dan wanita berkacamata itu sudah berlalu dari duduknya, Erick meletakkan sumpitnya, kemudian beringsut dari duduknya.
“Agnes, saya keluar sebentar dulu. Mau telepon Rio, ada yang lupa masalah kerjaan, kalau telepon di sini agak berisik,” pamit bohong Erick, sebenarnya pria itu mau menyusul istri ketiganya.
“Iya Mas, jangan lama-lama ya,” jawab lembut Agnes.
Pria ganteng itu segera keluar restoran dan mencari toilet yang terdekat dari restoran jepang tersebut.
Setelah ketemu posisi toiletnya, pria itu sengaja menunggu di depan toilet wanita. Sambil memperhatikan orang yang keluar dari toilet tersebut.
Rupanya usaha pria itu menunggu Alya di depan toilet wanita tidak sia-sia, wanita berkacamata itu keluar dari toilet, lalu Erick langsung meraih tangan wanita itu dan membawanya ke pintu tangga darurat.
BRAK
Pintu tangga darurat tertutup sendiri dengan suara yang menggema
“Apa-apaan ini Pak Erick!!” Alya berusaha melepas cengkraman tangan Erick di lengan.
“Yang apa-apaan itu kamu!!” Saya di larang ke rumah kamu!! Rupanya agar kamu bebas berhubungan dengan pria yang lain!! Beraninya kamu berselingkuh di depan saya!!” sentak Erick tak terkira.
“Ck......itu bukan urusan Pak Erick!! Bapak bukan siapa-siapa saya!!” jawab ketus Alya.
Pria ganteng itu rupanya semakin memanas, di dorongnya tubuh Alya sampai menempel ke dinding. Dengan sengaja pria itu merapatkan tubuhnya ke wanita berkacamata.
“Kamu bilang saya bukan siapa-siapa !! Apa kamu tidak ingat kalau saya adalah suami kamu!!” deru napas Erick bisa di rasakan oleh Alya, serta hembusan napas Erick terasa hangat di pipi Alya.
Pria itu kembali mencium aroma wangi yang sama dengan wanita cantik yang kemarin tak sengaja dipeluknya.
Wangi yang sama.........batin Erick.
“Dengan semudah itu kamu bilang Bram calon suami kamu, lalu saya ini suami kamu, ALYA!!” bentak Erick.
bersambung
__ADS_1