Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Tidak mengenali


__ADS_3

Resto



Termenung.......


Kecewa......


Menyesal.....


Pria ganteng itu terlihat acak-acakan penampilannya terutama rambutnya, tatapannya kosong melihat ke jendela luar Resto.


YA..... pria itu minta berhenti di salah satu resto yang tidak terlalu jauh dari komplek perumahan Alya. Dirinya masih terasa enggan untuk meninggalkan rumah Alya, tanpa bertemu sebelumnya. Apalagi setelah menerima ancaman dari Alya.


Di temani oleh Rio, mereka menikmati secangkir kopi hangat  dengan teman-temannya. Melihat Pak Bosnya termenung, sesekali Rio mengajak diskusi masalah pekerjaan, akan tetapi tanggapannya datar dari pria itu.


“Rio, bagaimana kalau Alya benar-benar akan minum pil KBnya. Inseminasi pasti akan gagal,” ucap lirih Erick.


“Semoga aja tidak dilakukan, makanya Pak Bos kalau sudah ada kesepakatan harus di patuhi. Dalam berbisnis saja, kita harus sesuai kesepakatan. Lakukanlah demi seorang anak!” seru Rio.


“Dan dia juga mengucapkan kata cerai, Rio.”


“Apa cerai...!!”


“Iya tadi Alya mengucapkan kata cerai.”


“Wow berani juga Alya berkata cerai, secara Alya bukan wanita tipe Pak Bos.......kenapa Pak Bos terlihat kecewa?”


“Dalam kehidupan rumah tangga, saya tidak suka dengan kata perceraian.”


“Oh pantesan Pak Bos tidak menceraikan Nyonya Agnes dan Nyonya Delila walau belum memberikan keturunan.”


“Ya seperti itulah.”


“Tapi tetap saja Pak Bos jangan serakah, tidak ada wanita yang mau jadi yang pertama, kedua atau ketiga. Wanita itu maunya jadi wanita satu-satunya. Apalagi sesuai dengan kesepakatan antara Alya dan Nyonya Agnes hanya sebatas kerja sama dalam satu tahun. Jadi lepaskan saja Alya pas waktunya!”


Berharap Pak Bos menceraikan Alya sebelum satu tahun.......batin Rio.


“Kenapa kata-kata kamu menjurus dan mendukung perceraian saya dengan Alya?” sewot Erick.


“Bukan maksud mendukung, takut Pak Bos lupa sudah ada dua istri yang cantik, sedangkan Alya bukan kriteria Pak Bos, jadi buat apa di pertahankan. Lagi pula Pak Bos gak punya perasaan dengan Alya kan??”


“Mmm...... iya saya memang tidak ada perasaan dengan Alya.”


“Nah itu, jadi tidak ada salah melepaskannya!!”


Bagus berarti nanti saya ada kesempatan untuk mendekati Alya......batin Rio.


Mulut bisa berkata tidak suka, tapi kenapa hati pria ganteng itu terasa sakit.


🌹🌹


Rumah Alya

__ADS_1


Wanita cantik itu sudah terlihat rapi dengan celana jeansnya, kemudian sweater warna abu-abunya, rambut panjang di gerai dan tampak wajahnya glowing, bibir merah merekah. Tidak ada bintik hitam di wajahnya, serta warna muka yang sedikit gelap dari warna aslinya, begitu pula dengan kacamata bulatnya tidak bertengger di matanya.


“Bik Sur, nanti masak buat mama sama bibi aja ya. Saya mau makan di luar,” pinta Alya.


“Oke non Alya......jangan lupa-lupa oleh-olehnya ya Non,” ujar Bik Sur.


“Siap Bik Sur  nanti di bawaiin martabak telur,” balas Alya.


Kadang ada waktunya Alya me time, waktu untuk dirinya sendiri, menghargai dirinya sendiri. Love your self........sudah jadi bagian healing wanita cantik itu.


Setelah kepergian Erick, wanita itu memutuskan untuk makan enak di luar, dengan menjadi dirinya sendiri tanpa topengnya.


Wanita itu memakai flat shoes dan tas bahunya, taksi online sudah datang di depan rumahnya.


“Bik Sur, saya jalan dulu ya,” pamit Alya.


“Iya Non Alya, hati-hati ya Non....,” sahut Bik Sur dari dapur.


🌹🌹


Resto


Tempat tujuan Alya tidak jauh dari komplek rumahnya, hanya menempuh jarak tiga puluh menit, taksi online sudah sampai di depan cafe tempat biasa di kunjunginya.


Wanita cantik itu turun dari taksi online, kemudian melangkahkan kakinya masuk menuju resto.


Sesampainya di dalam wanita cantik itu membuka maskernya, dan mencari tempat duduk yang kosong.


“Ooh.......my god.....,” kedua netra Rio langsung terbelalak, tanpa sengaja melihat wanita yang membuka maskernya, dan ternyata itu adalah Alya.


“E-eh.....gak...kok Pak Bos,” bingung Rio, tidak mungkin dirinya memberitahu jika ada Alya di tempat mereka berada.


Kenapa Alya bisa ada di sini, semoga saja Pak Bos tidak mengenalinya. Tapi secara memang gak bakal mengenali, karena jelas berbeda.......harap-harap cemas batin Rio.


“Pak Bos, masih lama kita di sini?” tanya Rio.


“Kita sekalian makan malam di sini, tolong kamu pesan makanannya,” titah Erick.


Maksud Rio bertanya agar mereka segera pergi dari resto, ternyata Pak Bosnya memutuskan untuk makan di sini.


Alya memilih duduk di meja dekat dengan keberadaan Erick dan Rio, tapi wanita cantik itu tidak mengetahui keberadaan Erick dan Rio.


Sedangkan Rio yang melihat keberadaan Alya, mulai ketar ketir, berharap Erick tidak menghadap ke belakang.


Alya sudah memesan makanannya, begitu pun juga Rio sudah memesan makanan untuk dirinya dan Pak Bosnya.


Tiba-tiba Erick beranjak dari duduknya, “saya ke toilet dulu,” ujar Erick.


“Ya.....Pak Bos....”


Semoga si Pak Bos gak lihat........batin Rio.


Tak lama Erick berdiri dari duduknya, Alya pun beranjak dari duduknya tapi dengan tatapan melihat handphonenya. Dari kejauhan Erick melihat pelayan membawa nampan yang berisikan gelas-gelas tinggi yang terlihat oleng, dan sepertinya akan menyenggol wanita yang baru saja berdiri dari duduknya. Erick hanya melihat punggung wanita itu, tanpa tahu wajahnya seperti itu.

__ADS_1


Karena ada niatan baik dari Erick, pria itu mempercepat langkahnya dan meraih lengan putih wanita itu, agar terhindar dari senggolan nampan.


“AAKKH...,” jerit Alya.


BUGH


Tubuh Alya sudah dalam pelukan Erick. Seketika hati Erick bergetar ketika mencium wangi yang menyeruak di tubuh wanita yang tak sengaja di peluknya. Wangi yang sangat di kenalnya, wangi iatri ketiganya.


Alya.......batin Erick.


“AAAWW......,” ringis kesakitan Erick


“Dasar messum.......enak-enaknya main peluk aja. Emang situ siapa!” geram Alya, sudah menginjak kaki pria yang tiba-tiba memeluknya dengan sekuat tenaga tanpa melihat wajah pria itu. Hingga akhirnya Erick melepaskan pelukannya.


“Di sangkanya gue cewek murahan!!” geram Alya. Tak lama Alya mendongakkan wajahnya, melihat wajah pria yang telah memeluknya.


ASTAGA PAK ERICK !!!


Erick pun melihat jelas wanita yang baru saja menginjak kakinya, pria itu langsung mengangga mulutnya, terpesona dengan wanita yang telah menginjak kakinya. Pria mana yang tidak akan terpesona dengan kecantikan Alya!! Termasuk Erick, pria itu juga terpesona tapi berusaha bertingkah sewajarnya.


Tenang Alya.........Pak Erick tidak akan mengenali wajah loe.......batin Alya.


“Eh Pak.......lain kali jangan main peluk orang ya.....gak sopan amat jadi laki. Dasar messum!!” celetuk Alya, tapi wanita itu berusaha tenang di hadapan Erick.


“Maaf mbak, saya hanya bermaksud membantu, agar mbak nya tidak ke senggol dengan pelayan yang bawa nampan barusan,” ujar Erick, pria itu memperhatikan wajah cantik wanita itu, terutama matanya. Pria itu seakan pernah melihat kedua mata itu, tapi di mana.


“Gak usah pakai ditarik tangan saya malah sampai di peluk, cukup di ucapkan aja!!” dengus kesal Alya.


AH jadi kenapa bisa ketemu di sini sih.......sepertinya Pak Erick gak ngenalin.......batin Alya.


Alya langsung meninggalkan Erick yang masih terpaku dengan dirinya, pria itu seketika agak bingung, menghadapi wanita itu seperti dirinya sedang menghadapi Alya tapi dengan wujud yang berbeda.


 


bersambung........tuhkan jadi bingungkan Pak Ericknya......yang barusan di peluk istrimu sendiri loh



 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2