
Perusahaan Genta Prakarsa
Selama satu jam lebih perjalanan, mobil yang membawa Erick dan Rio baru sampai di luar lobby perusahaan Genta Prakarsa. Jangan di tanya keadaan Rio, sudah jadi tempat omelan Pak Bos.
“Lain kali jangan di ulangi seperti ini, Rio!” tegur Erick ketika mobil yang membawa mereka baru sampai.
“Baik Pak Bos,” Rio mengiyakannya saja, ketimbang berargumen panjang dengan Pak Bosnya.
Lama-lama telingaku jadi budek, sepanjang jalan...marah-marah terus kerjaannya. Sampai kapan si Bos kayak begini...aduh Alya lebih baik kamu muncul deh walau hanya sesaat. Bikin pusing si Bos sekarang...keluhan batin Rio.
“Gak usah menggerutu di dalam hati, saya tahu kamu diam-diam lagi mengeluh,” celetuk Erick, beberapa saat sebelum keluar dari mobilnya.
Rio tergidik seketika itu juga. ”Astaga sejak kapan Pak Bos jadi bisa tahu isi hati orang...waduh gawat kalau begini,” gumam Rio, kemudian buru-buru keluar mobil, mengejar Pak Bosnya yang sudah keluar dari mobil.
Langkah kaki pria itu sangat cepat menuju ruang meeting di lantai lima, dan sudah menyiapkan hati untuk mendengar ceramah Papa Bayu.
Ting......pintu lift terbuka.
“Tunggu Pak Bos jangan tinggalkan saya!” suara Rio terdengar jelas dari kejauhan, mencegah Pak Bosnya masuk duluan ke dalam lift.
“Makanya kalau jalan tuh yang cepat, jangan kayak kura-kura,” gerutu Erick, sembari masuk ke dalam lift.
Deg
Sesaat jantung Erick berdegup kencang, ketika berucap kata kura-kura.
“Jadi apa saya seperti kura-kura, Pak CEO yang ganteng?”
Jawaban yang keluar dari mulut Alya, ketika pria itu pernah mengatai wanita berkacamata jalannya seperti kura-kura.
Pria itu menghela napas dengan kasarnya, mencoba menepis bayangan Alya untuk sesaat saja, karena rasanya sakit merindukan seseorang, tapi tak bisa bertemu.
Ting......pintu lift terbuka di lantai lima.
Wajah Erick kembali dingin dan datar, dengan di dampingi Rio, mereka berdua menuju ruang meeting.
Sebelum masuk ke ruang meeting, sudah ada salah satu staf sebagai penerima tamu. Membukakan pintu ruang meeting untuk Erick dan Rio.
Ceklek.....
__ADS_1
DEG
DEG
“Jadi Bapak dan Ibu sekalian, di sini saya sudah melampirkan budget dalam pembangunan apartement untuk di wilayah Jakarta Selatan. Di lampiran tersebut juga saya sudah merincikan segala bahan material yang akan di gunakan. Di sini saya sangat mengharapkan bapak dan ibu mengawal pembangunan proyek terbaru ini, dan bukan hanya membantu dalam pemasarannya saja. Karena perusahaan kita menjual kualitas, fasilitas serta mutu yang terbaik bukan hanya sekedar membangun apartement di lokasi yang strategis,” wanita yang sedang presentasi di depan peserta rapat, jeda sesaat dan menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang baru datang.
Tubuh pria itu yang baru saja masuk ke dalam ruang meeting, kaku seketika itu juga...tidak bergerak, masih diam berdiri. Debaran jantung pria itu kembali berlari-larian...dan sangat lincah ke kanan dan ke kiri.
Kedua netra pria itu pun masih saja terbelalak, dia sedang meyakini dirinya sendiri jika wanita hamil yang sedang berdiri, yang sedang presentasi itu adalah istrinya yang selama ini dia cari. Wanita yang sangat dia rindukan.
Alya yang baru saja menoleh ke arah pintu, seketika itu juga saling bertatapan dengan pria yang berdiri tidak jauh dari dirinya, kaget, dan diam dalam per sekian detik.
Pria itu, pelan namun pasti, melangkah mendekati Alya yang masih berdiri dengan tatapan merindunya. Sedangkan wanita yang ditatap tidak bisa berkutik, mau mundur pun tidak bisa, atau mau lari...kabur juga tidak bisa karena ada baby di perutnya.
“Agh....,” desaah Alya, ketika Erick meraih tangannya, dan memeluk tubuh wanita itu.
“Alya....,” ujar lirih Erick, kedua netra pria itu mulai berembun.
“Saya merindukanmu, saya merindukan anak-anak kita” bisik Erick, suaranya mulai terdengar serak. Buliran bening itu akhirnya keluar juga di ujung ekor kedua netra pria itu.
Hati pria itu rasanya campur aduk, rasa marah karena di tinggal, rasa rindunya menjadi satu, sudah tidak bisa di ungkapkan lagi, hanya bisa memeluk erat wanita itu, seakan menyalurkan rasa yang selama ini disimpan di relung hati pria itu.
Papa Bayu yang ada di ruangan meeting, terpaksa beranjak dari duduknya, kemudian menghampiri Erick yang masih memeluk Alya.
Papa Bayu menepuk bahu Erick. ”Erick, kita lagi meeting,” tegur Papa Bayu pelan, sebenar Papa Bayu bisa memprediksi ini akan terjadi tapi di luar dugaan jika putranya datang terlambat datang, akibatnya terjadilah drama ini ketika rapat, pertemuan suami yang sudah lama tidak bertemu dengan istrinya.
Pria itu mengurai pelukannya dengan terpaksa, lalu menyeka air matanya dengan tangan kosongnya, kemudian mengecup kening Alya. Wanita itu tidak bisa menghindar, walau hatinya mengeram.
Kemudian Erick memutar balik tubuhnya.“Maaf sedikit terganggu rapatnya, saya sedang melepas rindu dengan istri saya ini,” ujar Erick dengan penuh percaya diri kepada semua peserta rapat.
Sedangkan Alya jangan di tanya, kedua netranya sudah melotot ke arah Erick, semudah itu berkata di depan umum. Pria itu kembali membalikkan badannya.
CUP
Erick mengecup pipi Alya.”Saya rindu melihat kamu marah-marah,” bisik Erick. Alya hanya bisa mendengus kesal. Lalu Erick mengecup perut bulat Alya, tanpa permisi.
Oh rasanya wanita itu ingin bersembunyi di balik selimut, menerima perlakuan seperti itu di depan orang banyak, sangat membuat wanita itu malu.
Para peserta meeting jadi ikutan malu sendiri melihat tingkah laku Erick.
__ADS_1
Akhirnya si Bos bertemu juga dengan istri ketiganya....tapi kok Alya bisa ada disini. Sudah lama tidak ketemu Alya...auranya semakin cantik...batin Rio yang terpesona.
Papa Bayu mengajak anaknya duduk di sampingnya, wajah Erick langsung berubah menjadi berseri-seri. Sebenarnya banyak pertanyaan di kepala pria itu yang ingin di ajukan ke Papa Bayu, kenapa Alya bisa ada di perusahaan papanya, tapi sekarang sudah bukan hal yang penting lagi.
Yang paling penting, istri yang di carinya ada di depan matanya. Dan waktunya mencari cara agar istrinya mau hidup bersamanya dan tidak minta berpisah seperti terakhir kali di rumah sakit.
Alya kembali melanjutkan presentasinya, dan menghiraukan tatapan penuh damba yang sangat tersirat dari kedua netra Erick. Sesekali pria itu mengulas senyum hangatnya pada Alya, membuat wanita itu merasa risih dengan tatapan pria ganteng itu.
“Ehm.....,” deheman Papa Bayu untuk Erick, agar pria itu konsentrasi mengikuti rapat, bukannya melirik Alya terus.
Erick langsung mengalihkan tatapannya ke dokumen yang ada di hadapannya, setelah mendengar suara deheman Papa Bayu.
Cukup lama meeting berjalan, hampir memakan waktu dua jam baru selesai. Papa Bayu dan Alya keluar duluan dari ruangan meeting, tak lupa di susul Erick dan Rio.
“Pak Bos, jadi Alya itu sekarang menjabat wakil CEO perusahaan Genta Prakarsa, woow hebat,” ujar Rio, selama mengikuti rapat baru tahu jabatan Alya di perusahaan Genta Prakasa.
“Ya istri saya memang hebat,” akui Erick penuh rasa bangga.
“Kamu sekarang bisa balik ke kantor, saya akan tetapi di sini,” titah Erick.
“Siap Pak Bos, saya kembali duluan ke kantor. Selamat melepas rindu dengan Alya, Pak Bos, awas jangan marah-marah," ujar Rio sambil lalu meninggalkan Erick.
“Mmm.......,” gumam Erick, kemudian pria itu bergegas ke ruangan Papa Bayu.
bersambung.....
"Kali ini saya tidak akan membiarkanmu pergi, Alya,"
"Dan akhirnya saya harus menghadapinya....huft."
__ADS_1