Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Menghubungi Alya


__ADS_3

Erick berdiam diri di ruang kerjanya yang berada di mansionnya, kebetulan hari sabtu, perusahaannya libur, jadi cukup bekerja di mansionnya, di temani oleh sang asisten.


“Pak Bos, kenapa tadi tidak langsung tanyakan ke Nyonya Agnes masalah artikel tersebut?” tanya Rio.


“Percuma kalau saya bertanya dan membongkarnya, pasti Agnes akan mengelaknya.”


“Rio, jangan lupa kamu hubungi pihak bank untuk memblokir blackcard milik Agnes dan Delila,” pinta Erick.


“Sudah saya hubungi pihak banknya dan sudah di blokir, tapi tumben sekali Pak Bos mengambil tindakan seperti itu. Bukankah uang Pak Bos masih banyak, atau jangan-jangan sudah mulai berkurang?” ejek Rio, baru kali ini melihat tindakan yang sungguh luar biasa, menarik kemewahan buat kedua istrinya. Ada apa gerangan?


“Ada dorongan hati untuk memutuskan kemewahan buat kedua istri saya, Rio. Lagi pula dengan nafkah tiap bulan yang saya berikan sudah lebih dari cukup. Bukan karena harta saya mulai berkurang, saya harus menyiapkan masa depan buat calon kedua anak saya.” Erick menghela napas panjang mengingat Alya yang sedang mengandung.


“Lagi pula Agnes sudah puas menikmati kekayaan yang berlimpah dari saya, jika Agnes pintar selama sepuluh tahun mengelola keuangannya, pasti dia memiliki tabungan yang banyak. Apalagi untuk Delila, itu sudah lebih dari cukup.” Erick sudah mulai terasa jika dirinya sudah berlebihan memanjakan kedua istrinya dengan harta dan kemewahan.


“Pasangan akan terlihat watak aslinya jika sudah tidak memiliki atau tidak lagi menerima harta dan kemewahan. Semoga saja Nyonya Agnes dan Nyonya Delila tidak seperti itu,” celetuk Rio, ucapan yang agak menyentil Erick.


“Ya........kamu  ada benarnya. Sudah saatnya saya harus tahu watak asli kedua istri saya, apalagi mereka  berdua terutama Agnes yang akan menjadi ibu dari si kembar nanti,” terdengar jelas ada nada berat ketika menyebutkan Agnes menjadi ibu dari si kembar.


Deg


Hati Rio berdenyut mendengarnya, “Pak Bos, semoga Nyonya Agnes bisa menjadi ibu yang baik buat si kembar. Tapi sebaik-baiknya anak alangkah baiknya diasuh oleh ibu kandungnya. Namun mau bagaimana pun sudah menjadi keputusan bersama.”


Erick termenung dan menatap wajah lawan bicaranya dengan tatapan hampanya. “Rio, bisakah kamu mencari keberadaan Alya?”


“Alya belum mengundurkan diri dari perusahaan, pasti suatu hari Alya akan ke kantor.”


“Apa iya Alya akan datang ke kantor, setelah pemberitaan ini beredar?” Erick tidak yakin Alya akan datang ke perusahaannya.


“Berdoa saja Pak Bos, Alya akan datang ke kantor. Jika tidak datang ke kantor, bukankah Pak Bos bisa mendatangi rumahnya,” ujar Rio.


“Alya sudah tidak tinggal di rumahnya, kata Bik Sur.......Alya pindah ke rumah saudaranya,” ujar Erick dengan nada lesunya.


“Tapi masih bisa di hubungi lewat teleponkan Pak Bos?”

__ADS_1


“Nomor saya sudah di blokir sama Alya."


Malang sekali nasibmu Pak Bos, sekalinya punya istri sedang hamil, tapi tidak bisa dekat......batin Rio.


“Rio, coba kamu hubungi Alya pakai nomor handphone kamu?” tiba-tiba saja ide tersebut terlintas di pikiran Erick.


Sepertinya perintah Pak Bosnya tidak bisa di tolak, dengan alasan apa pun. Mau tidak mau Rio mengeluarkan handphonenya dan meminta nomor handphone Alya.


Berulang kali Rio mencoba menelepon Alya, tapi masih belum di terima oleh Alya. Erick mulai terasa gemas menunggunya, tapi jantungnya juga berdebar debar.


“Sini handphone kamu, biar saya yang coba menghubunginya,” pinta Erick mengambil alih.


Nada sambung terdengar di telinga Erick, tak lama kemudian ada nada di terima.


“Assalamualaikum,” suara bariton terdengar jelas di telinga Erick, sapaan dari sebrang.


Suara laki-laki!!


“Ini benar dengan nomor handphone Alya kan??” tanpa menjawab salam, Erick langsung bertanya, hatinya sudah mulai meradang.


“Kenapa bukan Alya yang menjawab, mana Alya nya?” suara Erick terdengar galak.


“Alya sedang sibuk.”


“Kasihkan handphonenya ke Alya, saya ingin bicara!!" perintah Erick bagaikan seorang bos yang harus dituruti.


Bram memberi kode kepada Alya yang sedang menerima panggilan telepon dari kliennya. Hingga membuat Alya meminta Bram menerima panggilan teleponnya takutnya dari klien juga.


“Maaf Pak, Alya sedang tidak bisa menerima telepon. Mungkin ada hal yang mau di sampaikan?” tanya sopan Bram, setelah melihat kode Alya tidak bisa menerima panggilan tersebut.


“Sibuk apa dia, sedang sibuk selingkuh sama kamu....hem!! Pantesan saja dia tidak lagi tinggal di rumahnya. Pasti tinggal sama kamukan!! Kamu....Bram kan!!” Erick langsung teringat Bram, dan menduga jika yang menerima telepon adalah Bram.


Bram masih berdiam, belum menjawab.

__ADS_1


“Bilang sama Alya, jadi perempuan jangan kegatalan. Masih punya suami sudah selingkuh, udah punya wajah pas-pasan gak bisa mengaca apa!! Bram sungguh malang nasibmu punya calon istri wajahnya kurang cantik!! Sampaikan sama Alya, suruh tunggu sampai melahirkan anak saya baru main sama kamu, Bram!!” sepertinya ucapan Erick tidak di saring terlebih dahulu, hanya meluapkan rasa marahnya seketika.


“Sudah selesai penghinaannya Pak CEO yang terhormat. Terima kasih atas penghinaan anda!!” jawab Alya dengan suara tegasnya.


Deg


“Al-Alya.......” Erick terkesiap jika semua perkataannya telah terdengar oleh Alya.


Tut...tut....tut


Nada panggilan berakhir pun terdengar.


Mama Danish seketika langsung memeluk tubuh Alya, ya wanita tua itu mendengarkan akhir kalimat ucapan anaknya sendiri, karena tanpa sengaja Alya meloudspeaker ketika menerima handponenya dari tangan Bram setelah selesai menerima panggilan telepon yang lain, pikirnya telepon tersebut dari salah satu kliennya, akan tetapi nyatanya dari Erick.


Lili, Bram, dan kedua karyawan butik bersama Alya sedang meeting di mansion utama. Sedangkan Mama Danish ikut menemani Alya meeting, sambil menyajikan hidangan-hidangan yang istimewa buat karyawan Alya, serta cemilan buat bumil.


Tak di sangka mama Danish kembali mendengarkan ucapan pedas putranya sendiri.


“Semoga kamu selalu di berikan kesabaran nak,” ucap Mama Danish, masih memeluk menantunya.


“Ya Mah.” Jawab pelan Alya.


Sedangkan di tempat lain......


PRANK


Pria ganteng itu melempar handphone milik Rio ke tembok begitu saja, dengan wajah murkanya, dan napasnya terlihat naik turun.


“Astaga Pak Bos!!” Rio terjingkat kaget, apalagi handphonenya sudah hancur di lantai.


 


bersambung

__ADS_1



 


__ADS_2