Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Pembicaraan antar pria


__ADS_3

Semua ucapan Alya ada benarnya, tapi pria itu sangat yakin jika wanita cantik itu adalah istrinya yang sedang mengandung benihnya.


“Mau seperti apa pun  kamu mengelak, saya yakin kamu adalah istri saya yang sedang mengandung benih saya,” Erick tanpa permisi tangan besarnya memegang perut Alya yang sedikit kelihatan membuncit.


“Sungguh lancangnya anda memegang perut saya!!” tegur keras Alya, langsung menepis tangan Erick yang masih menyentuh perutnya.


“Jika memang saya adalah istri anda, maka istri yang buruk rupa itu telah tiada. Istri anda adalah si buruk rupa, bukan saya! Jangan sesekali pernah mengakui saya sebagai istri anda. Istri anda adalah wanita berkacamata dengan wajah buruk rupanya. Wanita yang selalu anda hina, wanita yang anda sangat benci, wanita yang suka selingkuh dari suami, tidak seperti dengan kedua istrinya!!” amarah Alya penuh emosi yang tak terbendungkan lagi.


Hati Erick terasa terhujam dengan kalimat Alya yang bertubi-tubi, mengingatkan ucapannya sendiri.


“Tidak anda ingatkah semua hinaan terhadap wanita berkacamata itu!! “ suaranya masih meninggi.


“A-Alya......” Erick mulai tergagap.


“Alya istri anda yang buruk rupa sudah tiada, saya bukanlah istri dari Erick Triyudha Pratama,” sela Alya dengan tegasnya, kemudian keluar dari toilet.


Baru saja Alya keluar dari toilet, ternyata Mama Danish baru tiba untuk menyusul Alya, karena terasa lama tak kunjung kembalike ballroom, takut terjadi sesuatu.


Dan benar saja Alya keluar, tak lama kemudian Erick juga keluar dari toilet wanita.


“Alya, kamu gak pa-pa nak?” tanya Mama Danish, sambil menatap  curiga ke Erick.


“Mah, ini Alya istri Erick kan?” tanya Erick untuk lebih memastikan lagi.


Mama Danish sesaat menatap wajah Alya lalu beralih ke Erick,” dia bukan istri kamu Erick, tapi dia ibu pengganti, yang mengandung anak kamu, bukan istri!” tegas Mama Danish.


“Ayuk nak, kita kembali ke ballroom, relasi papa ingin bertemu kamu,” ajak mama Danish sambil meraih salah satu tangan Alya.


Sikap Mama Danish mungkin terkesan menganak tirikan putra kandungnya sendiri, padahal selama ini dia menyayangi putranya semata wayang.


Di satu sisi Mama Danish terlihat egois sebagai orang tua, yang tidak membantu putranya sendiri agar dekat dengan istri ketiganya, apalagi dalam kondisi hamil, pasti butuh suami di sampingnya. Tapi beda cerita dengan kondisi Alya sebagai istri ketiga. Tujuan Mama Danish menyelamatkan  Alya serta kandungannya dari sifat iri kedua istri Erick.


Dan yang pasti Mama Danish ingin putranya menyesali segala ucapan kasar serta menyadari isi hati Erick sendiri. Mau di bawa kemana bathera rumah tangganya dengan ketiga istrinya.


Hanya waktu yang bisa menjawabnya.


Kini Erick hanya bisa diam terpaku, sambil menatap punggung Alya dan Mama Danish.

__ADS_1


“Alya.......kamu istri saya......istri saya!!” ujar lirih Erick, kedua netra pria itu mulai berkaca-kaca, hatinya kembali perih, belum pernah dia merasakan perih di hatinya. Selama sepuluh tahun berumah tangga dengan Agnes, belum pernah dia merasakan sesakit ini.


Saya bukanlah istri dari Erick Triyudha Pratama......


“Beginikah rasa sakit, jika tidak di akui dan di tolak........Alya,” gumam Erick sendiri. Pria itu tidak kembali ke dalam ballroom, justru memilih ke coffe shop untuk menenangi dirinya.


🌹🌹


Hiruk pikuk, lalu lalang orang yang begitu banyak di coffe shop dan di luar coffe shop, tetap saja pria itu terasa hampa, kosong dalam keramaian. Pelan namun pasti pria itu menyesap coffe latte, siapa tahu bisa membuat moodnya lebih baik.


“Wah, Pak Erick sedang ada di sini juga?” sapa Ridwan tidak sengaja melihat Erick sedang menikmati kopinya.


“O-oh Pak Ridwan, iya nih sedang menikmati kopi. Gabung duduk di sini, Pak Ridwan,” ajak Erick, melihat relasi bisnisnya sendiri.


“Terima kasih........saya juga sengaja ke sini, mau minum kopi. Buat menghilangkan rasa kantuk,” ujar Ridwan, sambil mendaratkan bokongnya. Kemudian salah satu waitres mengantarkan kopi pesanan Ridwan.


“Acara di dalam sudah selesai?” tanya Erick.


“Belum selesai, sedang ada sesi perkenalan dengan desainer muda. Pak Erick tahu dengan desainer baru bernama Alya Zafrina?” tanya Ridwan.


“Saya tertarik untuk berbisnis dengan butik Alya, untuk mengisi beberapa store saya di Jakarta,” jawab Ridwan sambil menyesap kopi pesanannya.


“Dan saya juga kagum dengan Alya, wanita yang sangat cantik, andaikan saya belum menikah. Rasanya ingin meminangnya,” ujar jujur Ridwan.


“Uhuk.......,” ketika menyesap coffe lattenya, Erick keselak sendiri, gara-gara ucapan Ridwan.


“Sepertinya ucapan saya jadi buat Pak Erick tersedak,” ujar Ridwan terkekeh kecil.


“Gak juga, Pak Ridwan,” mengelak Erick, segera minum air mineralnya.


“Yah wajar saja jika seorang pria kagum dengan wanita cantik apalagi tidak hanya cantik tapi pintar, Pak Erick tidak tergoda dengan desainer muda itu?" Ridwan menyesap kopinya. "Tapi saya salut dengan Pak Erick, masih setia dengan Bu Agnes walau belum di karunia anak. Apa Pak Erick tidak ingin menambah istri, agar punya keturunan?” tanya Ridwan kembali.


Erick dan Ridwan termasuk relasi bisnis yang paling lama ada sekitar tujuh tahun bekerja sama, kurang lebih mereka saling tahu tentang rumah tangga walau tidak terlalu dalam. Ridwan sudah memiliki dua putra  putri yang masih kecil, sedangkan Erick belum.


Ridwan bisa menangkap ada sesuatu hal di raut wajah relasi bisnisnya.


“Maaf  saya tidak bermaksud menyinggung tentang masalah keturunan, Pak Erick,” sesal Ridwan.

__ADS_1


“Tidak masalah, Pak Ridwan,” sepertinya Erick butuh teman sharing untuk masalah pribadinya.


“Sebenarnya istri saya sedang hamil,” sambung Erick.


“Wah akhirnya Bu Agnes hamil juga, selamat ya Pak Erick.”


“Bukan Agnes yang hamil.”


Ridwan diam sejenak sebelum melanjutkan pertanyaannya. “Wanita lainkah yang hamil?”


“Istri saya yang hamil, Alya Zafrina Sadekh.”


“Ma-maksudnya.......desainer muda itu, yang wajahnya cantik sekali,” Ridwan terkejut.


“Iya Alya, istri saya sedang hamil anak kembar,” ada rasa bangga di hati pria itu ketika memperkenalkan Alya sebagai istrinya kepada relasi bisnisnya.


“Maaf Pak Erick, atas kata-kata tadi saya di awal mengenai Alya..... istri Pak Erick, tidak ada maksud apa-apa. Hanya mengagumi saja,” ada rasa tidak enak di hati Ridwan.


“Gak pa-pa Pak Ridwan, memang tidak ada yang tahu jika Alya itu istri saya,” ujar pelan Erick.


“Lalu, apakah Bu Agnes tahu jika Pak Erick punya istri yang lain?” penasaran Ridwan.


Mendapat pertanyaan seperti itu dari Ridwan, akhirnya Erick menceritakan kejadian Alya hingga bisa menjadi istrinya. Ridwan dari awal cerita hanya menyimaknya terlebih dahulu, menjadi pendengar yang baik.


“Begitulah kisah saya sampai bisa menikahi Alya hingga bisa hamil anak saya,” Erick mengakhiri cerita kisahnya dengan Alya.


“Wow......saya tidak menyangka dengan ceritanya, Pak Erick....”


“Ya begitulah Pak Ridwan, kalau menurut Pak Ridwan, saya sebagai suami harus bagaimana?”


“Kalau menurut saya semuanya kembali lagi ke isi hati Pak Erick, apalagi dengan semua kejadian ini.....posisi yang paling di rugikan adalah Alya bukan Bu Agnes. Dan rumah tangga jika di jalani terasa hampa, sebaiknya cari jalan yang terbaik, jangan mendzolimi diri sendiri maupun pasangan kita. Cinta tidak selamanya harus memiliki. Sekarang coba di rasakan oleh hati Pak Erick, sebagai laki-laki kita bisa merasakan wanita mana yang membuat kita sakit jika kehilangan dan wanita mana yang membuat kita nyaman saat di sampingnya. Dan itu jawabannya ada di hati kita sendiri, bukan ada di orang lain,” Ridwan memberikan tanggapan untuk masalah Erick.


*bersambung


Kakak Readers yang cantik dan ganteng terima kasih buat yang sudah kasih vote, hadiah, like dan komennya.


Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹*

__ADS_1


__ADS_2