Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Mulai program inseminasi


__ADS_3

Tidak ada malam pengantin baru buat Alya dan Erick, layaknya pasangan baru. Mereka berdua langsung terpisah.


Erick terpaksa menemani Agnes, untuk tidur bersama tanpa melakukan apa pun, tak ada hasrat yang bergairah pada diri Erick, walaupun pria itu melihat penampilan Agnes yang begitu menggoda. Dan memang Agnes sengaja memakai lingeri, ketika tidur.....berharap suaminya akan mengarap lahannya.


Akan tetapi pria ganteng itu hanya bisa memberikan punggung kepada Agnes, tanpa ada rasa ingin memeluk wanita cantik itu seperti biasa jika mereka tidur bersama. Di saat Erick memejamkan matanya,  bayangan mata cantik istri ketiganya hadir kembali.......membuat pria itu kembali termenung. Mata pria itu hanya terpejam tapi tidak tidur.


Sedangkan di rumah Alya, di kamar terlihat wanita yang sangat cantik berkutat dengan laptopnya. Wanita itu masih menyempatkan dirinya untuk menyelesaikan pekerjaan, menggantikan waktunya yang terpakai saat acara pernikahannya tadi.


Wanita itu mulai merancang proyek kerja samanya dengan perusahaan Sanbe, berhubung dana modal satu milyar sudah di terimanya. Alya tidak mau menundanya lagi, paling tidak di saat wanita itu tidak bisa bertemu langsung dengan perwakilan perusahaan Sanbe, Alya sudah membuat rancangannya dan tinggal di delegasikan kepada Lili.


Terlihat wanita cantik itu serius, dan tak terpikirnya jika malam ini malam pengantin, untuknya hal itu tak terlintas di pikirannya. Sedangkan sang pria ganteng itu, masih memikirkan wanita yang sudah menjadi istri ketiganya. Pria itu kembali gelisah dalam tidurnya. Tubuhnya boleh saja di samping Agnes, tapi pikirannya ada di rumah Alya.


🌹🌹


Keesokan harinya.....


“Alya, kamu sudah siap untuk hari ini?” tanya mama Yanti.


“Insya Allah mah, hari ini tugas Alya di mulai. Mohon doanya supaya lancar inseminasinya ya mah,” jawab Alya, sembari mengambil nasi goreng untuk sarapannya.


"Maaf ya nak, mama tidak bisa menemani ke rumah sakit, karena mama harus mengantar adik kamu ke statiun."


“Kak Alya, hari ini saya balik ke Malang,” ujar Sultan.


“Ya Sultan, nanti uang saku kamu........kakak transfer.”


“Gak usah kak, yang terakhir kakak kirim masih ada sisanya,” tolak Sultan, bilang apa adanya.


“Gak pa-pa Sultan, kakak ada sedikit rezeki. Siapa tahu kamu di Malang pengen jajan atau beli sesuatu.”


“Ya sudah terserah kakak saja kalau begitu.”

__ADS_1


Rasa berdebar rasa takut sebenarnya mulai menyusup di hati Alya, namun wanita itu menutupinya dengan baik. Doa selalu terpanjatkan agar semua berjalan dengan lancar.


Setelah sarapan pagi selesai, Alya berpamitan pada Mama Yanti dan Sultan. Akan tetapi pas wanita itu mau berangkat, ternyata Mama Danish datang ke rumah untuk menjemput menantu barunya.


“Mama Danish, padahal gak usah repot-repot menjemput Alya,” ucap Alya ketika mereka sudah berada di dalam mobil mewah milik mama Danish.


“Gak merepotkan lagi pula pakai sopir kok,” jawab Mama Danish.


“Lagi pula kalau kamu sendiri datang ke rumah sakit, mama gak tega. Mama ingin mendampingi kamu, nak," Mama Danish menggenggam erat tangan Alya.


“Makasih mama begitu baik sama Alya,” ujar Alya pelan, terharu. Andaikan menikah dengan Erick bukan karena kerja sama, mungkin Alya akan bahagia memiliki mertua yang baik seperti Mama Danish, namun pikiran tersebut langsung Alya hempaskan.


“Alya lepas kamu hanya dianggap ibu pengganti oleh Erick dan kedua istri Erick, kamu tetaplah menantu mama dan papa. Jadi kamu jangan sedih dengan ucapan mereka bertiga.”


“Tidak mah, Alya tidak sedih.....saya tidak mempermasalahkan hal itu. Memang kenyataannya seperti itu. Mama pasti lebih tahu masalah kerjasama ini.”


Wajah tulus Alya terlihat jelas di mata mama Danish, melihat wajah Alya sekarang jadi mengingatkan wajah asli yang kemarin mama Danish lihat, sungguh jelas berbeda. Bagaikan dua orang yang berbeda.


“Andaikan kamu tidak kuat, ingat ada mama dan papa yang selalu berada di sampingmu, kamu tidak sendiri, dan jangan pernah sungkan, nak,” Mama Danish berusaha memberikan motivasi.


“Iya mah, makasih banyak.”


Mobil yang membawa Mama Danish dan Alya sudah tiba di rumah sakit. Selang tak berapa lama mobil yang membawa Erick, Agnes dan Delila turut tiba di luar lobby rumah sakit.


“Mama, kok bisa ada di sini?” tanya Agnes terkejut, melihat mama mertuanya ada di rumah sakit bersama Alya.


“Mama menemani Alya. Kalau kamu ngapain ada di sini, bukannya sedang sakit, harusnya istirahat di rumah,” jawab santai Mama Danish.


“Ayo Alya, kita masuk ke dalam,” ajak Mama Danish, menghiraukan kedua menantunya.


“Ya Mah,” Mama Danish dan Alya duluan masuk ke dalam lobby rumah sakit, kemudian langsung ke ruang tunggu.

__ADS_1


Agnes hanya tertegun dengan sikap mama Danish, jauh dari prediksi wanita cantik itu. Pikir Agnes, mama mertuanya tidak akan perhatian dengan Alya, akan tetapi sangat berbeda. Padahal awal mula Agnes sudah menjelaskan ke mama Danish, jika Alya adalah wanita yang di bayar agar mau mengandung anak Erick.


Erick berusaha bersikap biasa saja dengan Alya, ibarat kata menganggap Alya hanya karyawannya saja bukan istrinya. Lagi pula sejak awal ketemu tadi, mereka berdua tidak saling menyapa, memandang pun juga tidak.


“Mbak Agnes, sejak kapan mama dekat sama Alya?” bisik Delila.


“Mbak gak tahu,” sambil menaikkan kedua bahunya.


“Kayaknya kita mesti hati-hati nih mbak Agnes, jangan-jangan Alya lagi menarik simpati dan perhatian mama mertua kita berdua,” lanjut Delila, melihat Alya begitu akrab dengan mama Danish.


“Jangan asal ngomong kamu, mama tahu kok Alya hanya jadi ibu pengganti, bukan seperti kita berdua posisinya.”


“Ya semoga aja ya mbak. Alya itu udah jelek.....miskin pasti pengen dong jadi istri sungguhan mas Erick, bakal gak tahu diri tuh perempuan!” bagaikan kompor mulut Delila.


“Sudah jangan banyak omong, nanti kedengaran sama mama dan mas Erick,” titah Agnes.


“Ya mbak Agnes.” Delila langsung tutup mulut.


Alya, Mama Danish, Agnes, Erick dan Delila.....seperti inilah posisi mereka berlima duduk di ruang tunggu, menunggu nama Erick dan Alya di panggil. Alya hanya menatap ke depan dan sesekali menoleh ke Mama Danish jika di ajak bicara, sedangkan Erick berusaha mengalihkan pandangannya untuk tidak melihat Alya, akan tetapi pria itu tak kuasa juga, ujung ekornya sedikit melirik ke arah Alya.


“Nyonya Alya, Tuan Erick,” suara suster mulai memanggil mereka berdua.


“Ya....,” jawab serempak Alya dan Erick, mereka berlima langsung beranjak dari duduknya.


“Maaf yang boleh masuk, hanya pasien saja,” ujar suster, kaget lihat lima orang mau masuk ke ruang praktek dokter Dewi.


“Saya ibu dari anak saya, boleh turut menemani?” tanya lembut mama Danish kepada suster.


“Ooh.....boleh bu jika mau menemani nyonya Alya dan tuan Erick,” suster mempersilahkan.


Wajah Agnes dan Delila mulai masam, terpaksa kembali duduk dan menunggu di ruang tunggu. Suster tidak memperbolehkan Agnes dan Delila masuk ke ruang praktek dokter kandungan walau alasannya istri dari Erick.

__ADS_1


bersambung



__ADS_2