Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Ingin menjenguk


__ADS_3

Setelah di usir dari kamar mandi oleh Erick, kedua istri Erick duduk bersama di ruang santai. Selama suaminya beristirahat sejenak di kamar pribadinya.


“Mbak Agnes, merasa aneh gak sih.....lihat Mas Erick. Sekarang Mas Erick suka marah-marah. Padahal biasanya gak pernah marah-marah seperti itu,” ujar Delila, merasa curiga melihat sikap suaminya akhir-akhir ini.


Agnes terlihat mengangguk kepalanya pelan, sebagai jawaban mengiyakan atas perkataan Delila.


“Sekarang Alya sudah hamil, apa yang akan mbak Agnes lakukan?” tanya Delila kembali.


“Sebaiknya kita berdua menjenguk Alya di rumah sakit mengucapkan selamat, walau bagaimana pun calon anak yang di kandung Alya itu, akan menjadi anak kita,” Agnes masih tampak berpikir.


“Semoga nanti anak yang di kandung Alya tidak jelek ya mbak Agnes, biar gak malu kalau kita mengurusnya nanti,” celetuk Delila.


Delila langsung membayangkan wajah anak yang akan di lahirkan oleh Alya, membuat dirinya terasa jijik, mengingat wajah buruk rupa Alya.


“Berharap saja, anaknya mirip sama Mas Erick,” balas Agnes.


“Dan sepertinya Mbak Agnes, harus memikirkan bagaimana caranya agar Alya keluar dari perusahaan Mas Erick tanpa memecatnya. Memangnya Mbak Agnes tidak khawatir jika Alya nanti akan menggoda Mas Erick dengan alasan kehamilannya,” ujar Delila, dirinya sangat yakin Alya akan melakukan hal tersebut.


“Sudah aku pikirkan hal itu, beberapa staf aku sudah  menyebarkan gosip yang menyudutkan Alya, dengan hal itu pasti Alya tidak akan merasa nyaman,” ungkap Agnes dengan senyum smirknya.


“Sepertinya mbak Agnes salah menilai dengan memilih Alya, rupanya model wanita seperti Alya sama saja. Tetap akan menggoda Mas Erick, kita harus memikirkan, bagaimana caranya selama Alya hamil, tetap harus jauh dari Mas Erick. Jangan sampai Mas Erick memiliki rasa simpati kepada Alya, hanya karena sedang mengandung anaknya. Jangan sampai terjadi!!” Delila sengaja memberikan penekanan pada kalimat terakhir.


 Salah tidak jika istri mengkhawatirkan suaminya, mencari cara agar suaminya tidak terpincut dengan wanita lain. Rasa cemburu pada hati setiap istri pasti ada, inilah yang di rasakan oleh Agnes dan Delila.


Agnes setelah melihat kejadian langsung Erick mencium Alya, atau Alya mencium Erick, wanita cantik itu mulai tak suka dengan wanita pilihannya. Boleh dikata Agnes tipe pencemburu berat, dan jujur Agnes pun cemburu setiap kali Erick dekat Delila, tapi di pendamnya. Akan tetapi dengan Alya, wanita cantik itu tidak bisa memendamnya.


Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.


“Mbak Agnes, jadi kita mau jenguk Alya?” tanya Delila.


“Ya jadi, aku susul Mas Erick dulu di kamarnya?” ujar Agnes, wanita itu beringsut dari duduknya, kemudian melangkah menuju kamar pribadi Erick. Tapi sebelum menuju ke sana, Erick sudah muncul.


“Mas Erick sudah enakkan badannya?” tanya Agnes penuh perhatian, sambil menghampiri suaminya.

__ADS_1


“Agnes, jangan dekat-dekat saya. Nanti saya kembali mual lagi,” Erick merentangkan tangannya, menolak Agnes menghampiri dirinya.


“Aku ini wangi loh Mas, dan aku ini pakai parfum kesukaan kamu!”


“Coba nanti kamu ganti parfum, yang jelas wangi kamu buat saya mual.” Erick kembali melangkah, sambil menutup hidungnya agar perutnya tidak kembali mual.


“Mas Erick, mau ke kantor?” tanya Agnes sembari mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang.


“Mau ke rumah sakit.”


“Kalau mau ke rumah sakit, aku dan Delila mau ikut, boleh Mas?”


Erick menghentikan langkah kakinya, ”boleh, tapi jangan cari perkara di sana. Di sana pasti ada mama!”


“Aku janji Mas, tidak akan cari masalah,” jawab Agnes.


“Kamu dan Delila naik mobil yang lain, saya tidak bisa satu mobil dengan kalian berdua,” pinta Erick.


🌹🌹


Rumah Sakit


Pagi hari, setelah Alya bangun kemudian membersihkan dirinya, lanjut sarapan pagi. Suster Via dengan membawa kursi roda untuk Alya, mengantarnya untuk pemeriksaan kandungan di ruang praktek Dokter Dewi.


Alya yang belum sempat bermake up ala wanita jelek, terpaksa menutupi wajah cantiknya dengan masker dan memakai kacamata tebalnya, ketika keluar kamar rawatnya di temani mama Yanti dan mama Danish.


“Bu Dokter, pagi ini kira-kira saya bisa istirahat di rumah saja?” tanya Alya, ketika perutnya sedang di USG.


“Mbak Alya ada yang di keluhkan pagi ini, mungkin mual ingin muntah, perut terasa tidak nyaman?” tanya Dokter Dewi, dengan pandangan ke layar monitor.


“Mmm.........tidak ada rasa mual atau ingin muntah, sedangkan perut tidak ada rasa yang aneh Bu Dokter.”


“Kalau di lihat hasil usg nya, kondisi kandungan tidak ada masalah, hanya untuk saat ini kalau bisa bedrest, jika tidak mau di rumah sakit, bisa di rumah......tapi ingat harus bedrest selama dua hari dan tidak melakukan pekerjaan apa pun. Bagaimana bisa seperti itu?” Dokter Dewi ingin memastikan ke pasiennya, sebelum memberikan izin pulang kepada Alya.

__ADS_1


“Bu Dokter, saya akan memastikan anak saya selama dua hari benar-benar bedrest, tidak melakukan pekerjaan selama dua hari,” sambung Mama Danish.


Sebelum jadwal kontrol kandungan pagi ini, Alya sudah mengutarakan ke Mama Yanti dan Mama Danish keinginan untuk beristirahat di rumah, wanita itu tidak betah di rawat di rumah sakit.


“Kalau ibu bisa memastikan mbak Alya istirahat di rumah dengan baik, maka saya berikan izin pulang pagi ini. Dan akan saya resepkan obat penguat kandungan, harus di minum 1x tiap hari, sampai habis. Serta asam folat dan vitamin. Agar calon baby kembarnya sehat.”


“Baik Bu Dokter, akan saya minum obat yang Bu Dokter berikan. Jadi pagi ini saya di izinkan pulang Bu Dokter?”


“Iya saya izinkan, minggu depan jangan lupa cek kandungan kembali,” pinta Dokter Dewi.


“Baik Bu Dokter.”


Suster Via, membersihkan bekas gel di perut Alya, kemudian membantu wanita itu turun dari atas brankar.


🌹🌹


Setelah selesai pemeriksaan kandungan, Alya, Mama Yanti dan Mama Danish kembali ke kamar rawat untuk merapikan barang-barang. Dan ternyata Papa Bayu sudah menunggu di dalam kamar.


“Alya, untuk sementara mama minta kamu tinggal di mansion utama dulu ya?” pinta Mama Danish dengan hati-hati.


Alya yang sedang merapikan tas kerjanya, menoleh ke mama Danish.


“Ini demi keamanan kamu nak,” sambung Papa Bayu.


“T-tapi...... saya sudah janji dengan bu Agnes tetap tinggal di rumah saya sendiri selama hamil.”


“Lupakan perjanjian sialan itu antara kamu sama Agnes. Mama minta kamu tinggal di mansion utama agar jauh dari Erick beserta kedua istrinya. Mama tidak mau kamu stress selama hamil, lagi pula Bu Yanti sudah menyetujuinya. Kalau kamu tetap di rumah sendiri, entah apa yang akan dilakukan oleh dua menantu matre itu. Mama khawatir bukan karena ada calon cucu mama, tapi dengan diri kamu sendiri,” ungkap jujur Mama Danish.


*bersambung


Hai Kakak Readers mohon maaf ya lagi slow up, diriku lagi kurang enak badan 🤧🤧🤕🤕 jadi belum bisa crazy up 🙏🙏🙏. Mohon doanya ya Kakak Readers*


__ADS_1


__ADS_2