Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Mengusir Erick


__ADS_3

Hasil inseminasi yang telah di lakukan Alya, ternyata membuatkan hasil yang positif, tanpa di duga, walau memang semuanya berharap besar kepada Alya.


Berarti di diri Erick tidak ada masalah, sesuai dengan hasil pemeriksaan dokter, jika sper-ma milik Erick subur. Lantas kenapa pada saat program bayi tabung yang di lakukan oleh istri keduanya Delila gagal, padahal Delila dinyatakan tidak ada masalah. Kembali lagi itu rahasia Maha Pencipta.


Erick kembali menatap intens Alya secara status istri sahnya, tapi sesuai kesepakatan Alya hanyalah ibu pengganti. Wanita yang tidak terlalu cantik itu ternyata hamil anak-anaknya, bahagia itu sudah pasti.......tapi kembali lagi apa yang harus dia lakukan. Haruskah sekarang dia berlaku adil kepada istri ketiganya , seperti dirinya adil kepada Agnes dan Delila.


Erick menggigit bibir bawahnya, teringat dirinya ketika mencium paksa Alya di lobby perusahaannya sendiri, nekat melakukan tindakan di luar perhitungannya, karena ada sesuatu yang mendorong di hatinya. Sekarang pria itu tidak habis pikir dengan ciuman itu, kenapa bisa di lakukannya! sedangkan dirinya sudah menyatakan rasa tidak sukanya dengan wanita berkacamata itu.


Derrt.......Derrt......Derrt


Agnes Calling.....


Erick dan Mama Danish sama-sama melirik handphone Erick yang tergeletak di tepi ranjang Alya.


“Lihatlah istrimu, baru di tinggal sebentar.......sudah mencarimu!!” ujar ketus Mama Danish.


Erick hanya bisa menunduk melihat handphonenya, dan masih belum menerima panggilan dari Agnes.


Dering handphone Erick kembali berbunyi, dan masih sama panggilan dari Agnes.


Sementara itu kelopak mata Alya mulai bergerak pelan, kemudian mengerjap-ngerjap.


“Eeghh.......”rintihan dari mulut Alya terdengar.


Mama Danish yang pertama kali melihat Alya siuman, langsung bangun dari duduknya.”Kamu, sudah bangun, nak.”


“Mah......” Alya melihat Mama Danish dan Erick ada di dekatnya, kemudian dia melihat suasana ruangannya.


“Apa yang kamu rasa sekarang?” tanya Mama Danish dengan lembutnya, salah satu tangannya mengelus lengan Alya.


“Pusing Mah dan agak haus...,”


Erick beranjak dari duduknya, kemudian mengambil botol minum yang telah tersedia di meja, akan tetapi langsung di serobot oleh Mama Danish.


Erick hanya bisa menghela napas panjang, melihat delik mata Mama Danish.


“Minum dulu ya, nak,” Mama Danish menyodorkan botol minum yang sudah dibukanya dan sudah di kasih sedotan, agar mudah minumnya.

__ADS_1


“Mah, Alya sakit apa? Kenapa bisa sampai di infus begini?” tanya Alya dengan suara lemahnya, sembari minum.


“Kamu hanya kelelahan makanya jadi pingsan, dan........,” mama Danish menjeda pembicaraannya, sekilas menatap Erick.


“Dan apa mah?”


“Selamat ya nak, kamu hamil si kembar,” ucap Mama Danish, dengan senyum hangatnya.


“Ha-hamil......,” ada rasa tak percaya di lubuk hati wanita berkacamata itu.


“Iya hamil, calon anak kamu kembar, ada dua.” Ucap Mama Danish.


Akhirnya saya hamil, haruskan saya gembira atau sedih dengan berita ini......batin Alya.


Wanita itu memejamkan matanya, kemudian salah satu tangannya memegang perut datarnya.


Akhirnya kalian hadir di perut mommy, sayang.


Wanita berkacamata itu tak kuasa menahan rasanya, buliran bening jatuh di ujung ekor matanya. Hal itu terlihat oleh Erick. Semua rasa bercampur aduk di hati wanita itu, rasa yang tak bisa di gambarkan.


“Hey nak, jangan bersedih.....kasihan calon babynya akan ikut sedih,” tegur lembut Mama Danish, wanita tua itu mengusap lembut air mata yang sudah terjatuh di pipi menantunya dengan tisu, membuat Alya kembali membuka kedua matanya.


DEG


DEG


Seketika Mama Danish dan Erick, hatinya langsung terhujam dengan perkataan Alya.


Mama Danish hanya bisa tersenyum tipis, sedangkan wajah Erick datar, akan tetapi hatinya kembali bergejolak.


Dertt.......Derrt....


Agnes Calling


“Erick sebaiknya kamu terima telepon itu!!” pinta Mama Danish dengan nada kesalnya.


Namun tak di angkat oleh Erick, justru panggilan dari Agnes di rijectnya.

__ADS_1


“Alya, kandungan kamu kata dokter masih riskan. Mama berharap kamu jangan banyak pikiran.”


Alya sesaat menatap Erick, pria yang telah memberikan benihnya ke dalam perutnya. “Mah, bisakah Pak Erick keluar dari kamar ini. Saya tidak mau ada masalah dengan kedua istri Pak Erick. Saya juga berharap Pak Erick tidak terlalu dekat dengan saya, sudah cukup makian dan hinaan dari Bu Agnes dan Mbak Delila, saya tidak mau mencari masalah. Biarkan saya selama hamil dengan kondisi tenang,” pinta jujur Alya.


Erick yang mendengar permintaan Alya, hanya bisa meremas kedua tangannya.


“Erick dengarkan yang di minta oleh Alya! Turutilah Alya yang sedang hamil, demi anak yang di kandungnya,” pinta Mama Danish.


“Tapi saya harus bertanggung jawab dengan Alya, Mah. Apalagi sekarang lagi hamil.”


“Justru dengan kamu bertanggung jawab akan menjadi boomerang buat Alya ke depannya. Sudah pergilah, istri kamu Agnes sudah mencari kamu!” Mama Danish sengaja mendorong tubuh besar anaknya, agar keluar dari kamar rawat inap Alya.


“Mah jangan begini dong mah, Erick juga mau mengurusi Alya!” tak terima Erick di dorong oleh mama Danish.


“Kamu boleh turut mengurus Alya, kalau kamu tidak punya dua istri Agnes dan Delila!” ujar tegas Mama Danish, membuat Erick tidak bisa melawan mamanya lagi, dengan terpaksa pria itu keluar dari kamar.


“Arrgh....!” pria ganteng itu tampak kesal, setelah keluar dari kamar.


Dari kejauhan Papa Bayu melihat Erick keluar dari kamar, kebetulan Papa Bayu habis bertemu temannya yang sedang mengantarkan cucunya ke dokter, di rumah sakit yang sama.


Melihat wajah Erick yang tampak muram, Papa Bayu mengajak Erick untuk mengobrol di Coffee shop lantai bawah.


Sekarang dua pria dengan beda usia duduk bersama di coffee shop.“Mama sepertinya sudah kecewa dengan kamu, begitu juga dengan papa,” Papa Bayu membuka pembicaraan.


Erick menyesap coffe latte pesanannya, “mama meminta saya menjauhi Alya, Pah," keluh Erick.


“Em.......papa setuju dengan permintaan mama kamu, untuk menjauh dari Alya,” Papa Bayu turut menikmati capuccinonya.


“Papa memang tidak punya pengalaman tentang berpoligami, jadi tidak bisa menasehati kamu tentang masalah rumah tangga kamu. Papa dan Mama juga sudah bersalah telah memaksakan kamu menikahi anak teman Papa, yang kami pikir baik untukmu dan bisa memberikan kamu keturunan, namun nyatanya berbanding terbalik. Dan kini kamu juga sudah menikah kembali dengan wanita, ya......bisa dibilang dengan cara terpaksa, serta wanita itu bukan kriteria kamu. Tapi bagi Papa dan Mama, Alya berbeda dengan kedua istri kamu.”


Erick dan Papa Bayu kembali menyesap minuman hangatnya bersamaan.


“Dalam berumah tangga selama sepuluh tahun apa yang telah kamu rasakan, apa yang telah kamu dapatkan? Apa hanya kepuasan urusan ranjang dari kedua istrimu?” agak sensitif Papa Bayu bertanya.


Erick tampak berpikir “tidak selalu tentang kepuasan urusan ranjang Pah, terkadang Erick malah kurang berhasrat dengan Agnes dan Delila,” jawab jujur Erick.


bersambung........

__ADS_1


Lanjut ........jangan lupa lemparin vote buat Alya dan Erick ya Kakak Readers, plus tinggalin jejaknya. Makasih sebelumnya 🙏😊



__ADS_2