
Wanita itu bisa merasakan rasa sayang pria itu kepada anak yang di kandungnya. Betapa pria itu sudah lama menantikan buah hati dari benihnya sendiri, dan sekarang dialah yang bisa mewujudkan keinginan pria itu. Hidup memang tidak ada yang tahu ke depannya seperti apa, siapa di sangka demi menyelamat ratusan karyawan butiknya, dirinya masuk ke dalam kehidupan pria yang masih menatapnya lekat-lekat. Sang CEO tempat dia bekerja.
“Terima kasih, Alya,” wajah Erick mendekat ke wajah Alya, tanpa aba-aba pria itu mengecup lembut pipi Alya. Lagi-lagi wanita itu hanya bisa mendengus kesal.
“Wajah mommy kalau lagi kesal, jadi tambah cantik,” goda Erick, setelah menarik wajahnya.
“Gak usah pake godaiin....pake segala muji, dari kemarin-kemarin ngataiin saya jelek, gak ingat apa!!” gerutu dengan ketusnya Alya.
Erick hanya bisa tersenyum kecut, jika di ingat akan masa lalunya, yang dengan mudahnya menghina Alya.
Memang tidak mudah melupakan masa yang sangat menyakitkan, tapi di hati kecil pria itu bisa memakluminya jika wanita yang sedang hamil itu masih membencinya. Paling tidak untuk ke depannya pria itu akan lebih berusaha keras menghancurkan tembok di hati wanita itu.
🌹🌹
Mall...
Kedua tangan pria itu sudah penuh dengan bawaan paper bag, isinya baju yang di pilih oleh Alya. Ada baju kerja, baju rumah, pakaian dalam. Perbuatan sengaja yang dilakukan oleh Alya menguras dompet Erick, agar pria itu kesal terhadapnya. Akan tetapi pria itu terlihat biasa saja.
“Jangan ada yang sesekali bantu Bapak bawaiin belanjaan, kalau ada yang beraniin bantuin, tak tendang senjata kalian berdua di sini!!” ancam Alya kepada ke dua ajudan yang selalu mengikuti mereka berdua, yang kelihatan ingin membantu tuannya.
“Baik, Nyonya,” jawab Rocky, sambil menunduk melirik celana panjangnya. Sedangkan si Boy langsung mengepit senjatanya.
Erick hanya bisa menelan salivanya dengar kasar, mendengar ancaman istrinya. Sudah beberapa kali senjata dia kena tendangan maut Alya, membuat senjatanya sakit dan ngilu. Dan pria itu tentunya tidak mau kena tendangan lagi dari Alya.
“Kenapa Bapak lihat-lihat, gak suka ya belanjaiin saya baju, nyesel ya!!” tegur Alya dengan lirikan mautnya.
“B-bukan...bukan begitu Alya, saya gak menyesal kok, sudah sepantasnya saya menafkahi kamu, saya akan belikan apa pun yang kamu mau kok. Mata saya biasa aja kok lihatnya,” Erick gelagapan dapat tatapan yang sangat mengerikan dari wanita bermata abu-abu. Tapi rasanya ingin menerkamnya saat itu juga.
Hanya Alya yang bisa mengomel panjang sama Erick, ketimbang Agnes dan Delila yang ada rasa takut jika marah-marah dengan Erick, takut sumber atmnya berhenti mengalir kala itu.
“Sekarang kita ke supermarket, Pak Erick harus belikan saya susu, cookies, coklat, buah stawberry, kiwi, blueberry, sama es krim,” perintah Alya kepada pria yang mengikuti langkah kakinya.
__ADS_1
“Iya Mommy.....iya Alya, saya belikan sekarang kita ke lantai bawah ya, supermarketnya ada di lantai bawah, jalannya jangan buru-buru. Ingat kamu lagi hamil,”pinta Erick dengan lembutnya, menuruti permintaan si ibu hamil, tapi pria itu ngregetan sama Alya bisa-bisanya dalam kondisi bawa perut besar tapi jalannya cepat, membuat pria itu ngeri-ngeri sedap.
Emang enak di kerjaiin........batin Alya tertawa.
Sejak sesampainya di mall, Alya langsung menuju toko baju wanita ternama, lalu memilih baju dengan jumlah banyak. Dan terlihat Erick sabar serta membayarkan semua pilihan Alya. Apapun yang di suruh oleh Alya pun, Erick mengerjakan, mulai disuruh mengambil baju ini itu, kemudian menaruhnya lagi ke rak gantung, semua dituruti oleh pria itu.
Alya diam-diam hatinya senang sudah bisa mengerjai mantan atasannya.
“Susunya mau rasa apa, Alya?” tanya Erick sambil menujukan kotak susu dengan tiga rasa.
“Rasa coklat sama stawberry, Pak," jawab Alya. Pria itu langsung menaruh susu hamil rasa coklat dan stawberry beberapa kotak ke dalam trolly.
“Coklatnya mau yang merk apa, Alya,” tanya kembali Erick.
“Mau yang paling enak dan yang paling mahal,” sahut asal Alya yang sudah menjauh jalannya menuju lorong cemilan.
“Ya...ampun istriku udah jalan aja,” gumam Erick, melihat Alya sudah tidak ada di dekatnya.
“Astaga ini orang bisa-bisanya teriak di depan orang banyak,” wajah Alya merona merah, mendengar teriakan Erick.
Erick mendorong trollynya yang terlihat sudah penuh ke arah Alya. ”Bisa gak kalau jalannya jangan duluan, kalau kamu di culik....saya yang bingung, saya takut kehilangan kamu!” imbuh Erick.
“Siapa juga yang mau culik saya!” jawab asal Alya.
“Ya ada aja kalau ada yang berniat jahat.” Balas Erick.
“Rocky, bawa trolynya. Ini Nyonya kamu kalau gak di pegangi, bisa kabur nantinya,” Erick langsung meraih tangan Alya, dan menggenggam erat.
“Gak usah pakai pegangan, lagian juga gak bakal kabur kok!” tolak Alya.
“Diam, nurut sama suami!” balas Erick.
__ADS_1
“Ck......,” berdecak kesal Alya, lalu menarik tangan Erick untuk melanjutkan jalannya, mengambil cookies dan berbagai cemilan.
Nyaman...nyaman sekali yang di rasakan Erick, ketika menggenggam tangan istrinya, walau harus di paksa awalnya, tapi wanita itu mau menurutinya.
Sore yang indah buat pria yang bernama Erick, salah satu mimpinya terwujud, berjalan-jalan dengan istri dalam keadaan hamil. Setelah sekian lama sering melihat teman atau rekannya menemani istrinya yang hamil berjalan-jalan, membuat hatinya iri. Sore ini pria itu berbangga hati, bisa menunjukkan jika istrinya yang sangat di cintai sedang hamil buah hatinya.
🌹🌹
Mansion Erick
Tepat jam enam petang, mobil mewah yang membawa Erick dan Alya sudah tiba di mansion Erick, setelah sebelumnya mereka mampir ke mall.
Wajah Alya terlihat canggung ketika sudah sampai di mansion Erick.
“Kok diam aja, kita sudah sampai.” Kata Erick, sambil menyentuh bahu wanita itu.
Alya masih terdiam, menatap mansion dari jendela mobil.
“Alya, ayuk kita turun....,” ajak Erick, sambil meraih tas jinjing milik Alya, kemudian meraih tangan kiri wanita itu.
Wanita itu akhirnya ikut keluar dari mobil, sebelum tiba perasaan wanita itu masih baik-baik saja. Tapi setelah sampai di depan mansion Erick perasaan wanita itu jadi terasa aneh, gamang.
“Selamat datang Nyonya Alya, Tuan Erick,” sambut Pak Arif kepala pelayan, di ikuti beberapa pelayan yang sudah berada di lobby mansion. Kemudian beberapa pelayan menurunkan barang belanjaan dari mobil.
Alya hanya bisa tersenyum tipis, membalas sapaan para pelayan mansion Erick. Wanita itu langsung tiba-tiba terbayang wajah Agnes dan Delila kedua mantan istri Erick, yang pastinya pernah tinggal bersama di mansion ini.
Erick masih menggenggam tangan Alya. ”Kita istirahat di kamar, sebelum makan malam tiba,” ujar Erick.
Alya melepaskan tangannya dari genggaman pria itu dan berhenti melangkah, karena terasa berat untuk melanjutinya.
bersambung.........
__ADS_1