
“O-oh......kok kamu bisa tahu wangi Alya, memangnya kamu sering berdekatan sama Alya ya?” tanya balik mama Danish.
“M-mm......,” mulai bingung menjawabnya.
“Erick gak mungkin pernah dekat sama Alya, mah. Erick itu gak suka sama Alya,” sambung Papa Bayu, pengen tahu reaksi putranya. “Betulkan, yang kamu suka dan wanita yang paling dicintai hanya Agnes kan!!” lanjut Papa Bayu.
Erick tampak bergeming.
“Sudahlah Pah jangan di bahas tentang Alya lagi, mama dengar dari Bu Yanti katanya Alya akan segera menikah setelah Alya melahirkan dan bercerai dengan Erick, calon suaminya sudah melamarnya. Dan sekarang kabarnya malah Alya sudah tinggal di rumah orang tua calon suaminya. Tahu gak Pah, calon suaminya Alya, ganteng loh dan masih muda..... usianya di bawah Erick. Mama doakan semoga Alya nanti bahagia sama suami yang sesungguhnya,” dengan sengaja Mama Danish membuat cerita bohong tentang Alya.
“Mama juga bersyukur anak kita tidak tertarik dengan Alya, lagi pula Alya sepertinya juga tidak tertarik dengan anak kita pah, anak kita ini sering menghina wajah dan penampilannya. Dan di tambah berita yang sudah tersebar di perusahaan, pasti Alya akan sakit hati. Tapi alhamdulillah ternyata Alya wanita yang terpilih mengandung calon cucu kita, walau wajahnya kurang menarik kata Erick!!” ucapan Mama Danish ke Papa Bayu, tapi tujuannya menyindir Erick.
Hati Erick kembali memanas mendengarnya, kedua tangannya terkepal dengan kuatnya.
“Kamu kenapa nak, kok wajahnya langsung berubah begitu,” tegur Papa Bayu.
“Erick, kamu tidak lupakan dengan kesepakatannya. Setelah Alya melahirkan, jangan lupa Alya langsung di ceraikan. Terus anak-anak kamu, Agnes yang mengurusnya, jangan lupa itu. Kasihan anak orang pastinya ingin menikah dengan pria yang di cintainya.” sambung Mama Danish, dengan tatapan sinisnya.
Hati Mama Danish rasanya ingin tertawa berguling-guling, wajah putranya sudah merah terbakar akibat menahan amarahnya.
“Bisa tidak mama berhenti bicara hal tersebut,” Erick mulai meradang, rasanya ubun-ubunnya ingin meledak saat itu juga.
“Loh kok kamu malah menyuruh mama berhenti bicara!! Mama hanya bicara fakta dan kenyataan kok,” ujar ketus Mama Danish.
Maksud hati pria itu datang dan menemui kedua orang tuanya untuk mencari solusi, malah dapat berita yang meluluh lantahkan hati pria itu.
“Benar yang mama kamu katakan Erick, bicara fakta!!....agar kamu bisa memahaminya. Serta masalah berita di perusahaan, itu sangat fatal sekali akibatnya. Seharusnya kamu bisa segera menyelesaikannya, walau bagaimana pun berita itu sudah mencoreng nama Alya!” sambung Papa Bayu.
Hati Erick mengeram, bisa-bisanya kedua orang tuanya membicarakan Alya yang telah dilamar oleh pria lain, sedangkan dia sendiri masih suami sahnya. Di tambah lagi kedua orang tuanya sudah mengetahui berita di perusahaannya.
Mama Danish dan Papa Bayu sama-sama tersenyum sinis melihat perubahan raut wajah putranya.
“Pah, mama mau ke dapur dulu, mau simpan bawaannya Erick,” ujar Mama Danish sambil mengedipkan salah satu matanya.
__ADS_1
“Ya mah, papa juga mau ke kamar mandi dulu, rasanya perut agak mules,” balas Papa Bayu ikut beranjak dari duduknya.
Tinggallah Erick seorang diri, pria itu menghembuskan napas panjang dengan kasarnya ke udara.
“Benar-benar Alya, kamu sungguh keterlaluan. Tega kamu menerima lamaran pria lain, sedangkan kamu masih status istri saya!!” geram rasanya hati Erick, ingin marah tapi tidak ada orang yang di tujunya.
🌹🌹
Pria itu seperti biasa suka berjalan pelan menyelusuri mansion utama kebetulan masih sore hari, cuaca sudah mulai teduh.
Entah kenapa pria itu tiba-tiba langkah kakinya menuju paviliun. Seperti ada yang mengerakkan dan menuntut langkah kaki pria itu.
Suasana paviliun sepertinya sangat ramai, tawa renyah sangat terdengar di telinga Erick, hingga membuat pria itu tertarik untuk mendekati dirinya ke paviliun.
“Kenapa kayak ada suara Alya di dalam paviliun,” gumam Erick sendiri, membuat pria itu semakin penasaran.
Sekelebat dari jendela luar paviliun Erick menangkap sosok wanita yang sangat cantik berada di dalam paviliun.
“Kenapa ada pelayan dengan wajah sangat cantik!!” gumam Erick sendiri, dengan rasa penasaran langkah kaki pria itu bergegas mendekati paviliun. Dan langsung mengetuk pintu paviliun. Cukup lama pria itu mengetuk pintu, namun belum dibuka.
“T-tuan muda.....,” sapa hormat Wiwin, ketika membukakan pintu.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan muda....?” tanya Wiwin. Semua pelayan yang ada di ruang utama paviliun langsung berdiri.
Erick tanpa menjawab, langsung masuk ke dalam dan mencari wanita cantik yang sempat dia lihat dari luar jendela. Hati Wiwin dan beberapa pelayan yang lain mulai deg deg degan.
“Tuan ada yang bisa saya bantu, sepertinya Tuan mencari sesuatu?” tanya Wiwin kembali.
“Selain kalian semua di sini, ada lagi pelayan yang lain?” tanya Erick, pria itu tidak melihat wanita cantik itu.
“Tidak ada Tuan, di sini hanya kami ber-empat sedang jam istirahat, sedangkan yang lainnya sedang bertugas di mansion utama,” ujar tenang Wiwin.
“Benar tidak ada lagi yang ada di sini?” ujar Erick sambil memeriksa ke berbagai ruangan yang ada di dalam paviliun.
__ADS_1
“Iya Tuan muda, tidak ada lagi. Memangnya ada apa Tuan?”
“Tadi saya di luar lihat perempuan rupanya sangat cantik dari jendela itu,” Erick menunjukkan arah jendela yang di maksud.
“Waduh Tuan, jangan-jangan Tuan muda habis di kasih lihat penampakan penunggu paviliun. Wajah yang Tuan lihat pasti wanita cantik ya, hidungnya mancung, kulitnya putih, rambutnya agak coklat tergerai dan di bawahnya agar bergelombang.....rupa wajahnya sudah seperti bidadari,” Wiwin menjabarkan ciri-ciri Alya.
“Iya be-betul....kok kamu tahu apa yang saya lihat?”
“Kami juga sering lihat penampakan wanita itu Tuan, jadi gak aneh kalau Tuan cari wanita itu. Apalagi Tuan baru pertama kali ke paviliun. Pasti penasaran pengen tahu,” ujar Wiwin terlihat tenang, agar tidak ketahuan bohongnya.
Bulu kuduk Erick mulai merinding setelah dirinya tahu jika yang dia lihat dari luar adalah hantu bukan wanita cantik yang pernah ketemu dengannya.
Tapi kenapa ini ruangan ada wangi mirip wangi Alya, apa iya semua wanita wanginya sama kayak Alya.....batin Erick mulai pusing sendiri.
“Silahkan lanjutkan istirahat kalian,” ujar Erick, kemudian keluar dari paviliun.
“Ada apa dengan diriku kenapa hari ini saya selalu mencium wangi Alya, dan tiba-tiba penasaran dengan wanita cantik itu,” gumam Erick sendiri.
Sementara itu di dalam paviliun, Wiwin memperhatikan langkah tuan mudanya sudah menjauh atau belum melalui jendela.
“Keadaan aman, Nona Alya sudah bisa keluar,” Wiwin memberikan kode kepada teman sejawatnya.
Alya akhirnya keluar dari lemari pakaian, tempat dia bersembunyi. Untungnya Alya cepat bersembunyi setelah Tuti menelepon Wiwin, yang tanpa sengaja melihat Erick ada di depan paviliun, langsung memberi kabar.
bersambung
__ADS_1