
Selama seminggu pria itu belajar menahan dirinya agar tidak mau tahu tentang Alya, Erick mencoba untuk tidak mengejar Alya sesuai permintaan mama Danish. Memberikan ketenangan dan kenyamanan buat Alya. Akan tetapi tanpa di sadari pria itu, emosinya jadi tidak terkontrol, selama di kantor jika ada yang terasa tidak cocok di hatinya maka tak segan-segan mengeluarkan amarahnya, hingga mengakibatkan pemecatan beberapa karyawan. Dalam seminggu sudah ada sepuluh orang di pecat oleh Erick.
Sedangkan untuk Alya sendiri, selama menikmati bedrestnya, wanita itu lumayan merasa tenang dan nyaman tidak bertemu dan tidak komunikasi dengan Erick serta kedua istrinya. Walau terkadang mama Danish sesekali datang berkunjung ke rumah dengan membawa berbagai makanan, hal itu tidak masalah buat Alya, justru senang dapat support dari mama Danish.
Jam 16.00 wib
Gelisah tak menentu di hati Erick, akhirnya pria ganteng itu memutuskan untuk turun ke lantai 7 menuju ruang finance.
“Sore, Pak Erick......ada yang bisa saya bantu?” sapa Fitri, yang pertama kali melihat kedatangan CEO nya ke ruang divisi finance.
Pria itu tidak menjawab pertanyaan Fitri, tetap melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Alya. Tanpa mengetuk, tanpa memanggil, di bukanya pintu.
Sepi.......tidak ada pemilik ruangannya. Tapi kedua netra pria itu melihat bungkusan yang dia berikan ke Rio untuk di kasihkan ke Alya. Tergeletak di atas meja, membuat dirinya curiga, di bukanya bungkusan tersebut, dan isinya masih utuh.
BRAK
Rasa kesal mulai muncul kembali, di gebraknya meja kerja Alya. Hingga membuat Fitri tersentak kaget, karena wanita itu mengikuti Erick.
“Astaga Pak!!” jantung Fitri mulai berdebar, takut akan amarah CEO nya.
Erick menoleh ke belakang “kemana Alya?” tanya Erick.
“Sudah pulang Pak Erick, Alya kalau pulang selalu on time jam empat,” ujar Fitri. Pria itu keluar dari ruangan begitu saja, tanpa berkata.
“Duh....ngeri-ngeri sedep nih lihat Pak Erick kayak orang mau marah-marah. Aduh jangan-jangan Alya bikin masalah nih sama Pak Erick, ngeri nih gue takut Alya kena pecat,” gumam Fitri sendiri, mulai merinding.
Kegelisahan pria itu menjadi sia-sia, wanita yang ingin di tengoknya ternyata sudah pulang. Wajah pria itu semakin tampak muram.
“Pak Bos.....” Rio yang sempat mengejar Erick, akhirnya bertemu ketika Erick kembali ke ruangannya.
“Ada apa?” pria itu kembali duduk di kursi kebesarannya.
“Saya mau menjadwalkan kunjungan ke perusahaan Pak Bos yang lain, kira-kira bagaimana pendapat Pak Bos?”
“Jadwalkan saja.”
__ADS_1
“Baik Pak Bos.”
“Pak Bos, baik-baik aja kan?” Rio agak sedikit aneh melihat wajah Pak Bos.
“Mmmm.........keluarlah, saya ingin sendiri,” dengan mengibaskan tangannya tanda mengusir Rio dari ruangannya.
“Baik Pak Bos.”
“Agak aneh si Pak Bos selama seminggu ini, ada apa ya......gak mungkin sedang bertengkar dengan kedua istrinya?” gumam Rio sendiri.
Erick dalam duduknya memandang handphonenya sendiri, bingung tapi ingin menghubunginya. Dengan menekan egonya, akhirnya pria itu memutuskan untuk mencoba menghubungi nomor telepon Alya.
Akan tetapi....
Tut......tut.......tut.
Alya sudah memblokir nomor Erick, “Ergh..........,” kesal Erick, kembali lagi dirinya merana untuk kedua kalinya usaha pria itu jadi sia-sia. Mau bagaimana lagi sikap pria itu penyebab Alya memblokir nomor Erick.
🌹🌹
Perusahaan Pratama
Pagi ini terlihat para karyawan berdatangan untuk bekerja, termasuk Alya Zabrina Sadekh dengan penampilan seperti biasanya.
Mama Danish semenjak Alya sudah kembali masuk kerja, sudah menugaskan salah satu sopir pribadinya untuk mengantar dan menjemput Alya bekerja, Mama Danish tidak menginginkan menantu barunya mengendarai motornya, untuk meminimalisir goncangan di perut menantunya. Setelah sekian kali menolak permintaan Mama Danish, akhirnya Alya luluh juga, mau menerima permintaan mertuanya.
Alya, Erick dan Agnes kembali bertemu lagi di lobby perusahaan, untuk melangkah mundur pun wanita berkacamata itu tidak bisa, karena pasangan suami istri itu sudah ada di hadapannya.
Erick melirik sekilas wajah Alya, yang kelihatannya sedang memalingkan wajahnya dari tatapan Erick.
Sedangkan Agnes berusaha tersenyum dengan Alya, madu yang di simpan rapat-rapat.
Ting.......pintu lift terbuka.
Seperti biasa Tuan dan Nyonya masuk duluan ke dalam lift, sedangkan Alya tidak turut masuk.
__ADS_1
“Alya, ikut masuk lift aja.. bareng .,” pinta Agnes dengan ramahnya.
“Terima kasih Bu Agnes, silahkan duluan saja, saya naik lift yang berikutnya” tolak Alya sopan, dirinya juga malas satu lift dengan mereka berdua.
Wajah Erick terlihat datar dan dingin menatap Alya, ”Agnes, tidak perlu memaksa jika dia tidak mau masuk."
“Iya Mas Erick,” Agnes tidak menawarkan kembali.
“Siapa juga yang sudi bareng sama situ,” celetuk pelan Alya, tapi masih terdengar jelas di telinga Erick, rahang pria itu tanpa aba-aba mulai mengeras. Alya tersenyum sinis ketika pintu lift tertutup.
Bekerja di tempat suami di atas kertas dan ada istrinya juga, ternyata agak berat juga. Kemungkinan hari-harinya bekerja akan selalu seperti ini, bertemu dan tak bisa menghindar dari Erick dan Agnes. Kecuali wanita berkacamata itu berhenti bekerja dari perusahaan pratama.
🌹🌹
“Permisi.......Alya,” sapa Rio.
Alya mengangkat wajahnya, yang sedari tadi menunduk karena sedang mengecek berkas keuangan.
“Ya....Pak Rio.”
“Sedang sibuk ya, maaf mengganggu.”
“Gak pa-pa, ada apa Pak Rio ke sini lagi?”
“Ini saya bawakan titipan dari Pak Bos,” Rio menunjukkan bungkusan di tangannya.
“Maaf Pak Rio, kembalikan lagi bungkusan itu ke Pak Erick. Saya tidak membutuhkannya.”
“Tapi nanti Pak Erick akan menegur saya jika kamu tidak menerimanya.”
“Ya sudah bawa keluar saja, lalu Pak Rio buang ke tong sampah, simpelkan.....jangan dibuat ribet!”
“Oh iya satu lagi bilang sama Pak Bos, tidak perlu repot-repot memberikan susu promil, roti dan buah. Saya masih mampu beli sendiri. Jangan sok perhatian, dah cukup Pak Rio bisa kembali ke lantai atas!!”
“Ya nanti akan saya sampaikan ke Pak Bos, kalau begitu permisi dulu,” pamit Rio, kembali bawa bungkusannya.
__ADS_1
bersambung..........tragedi???