
Di dalam ruang praktek tinggal Dokter Dewi, Alya dan Via. “Mbak Alya sebelum di USG transvaginal, harus buang air kecil terlebih dahulu,” pinta Dokter Dewi.
“Kalau begitu saya pamit ke toilet dulu ya Bu Dokter,” pamit Alya.
“Pakai toilet di dalam ruang ini saja mbak Alya, tidak perlu keluar ruangan,” pinta Dokter Dewi.
“Terima kasih Bu Dokter,” Alya bergegas ke toilet.
Pengetahuan sedikit untuk kaum wanita.
USG transvaginal, juga disebut USG endovaginal, adalah jenis USG panggul yang digunakan oleh dokter untuk memeriksa organ reproduksi wanita. Ini termasuk rahim, saluran tuba, ovarium, leher rahim, dan ******.
Pada USG perut atau panggul yang biasa, tongkat ultrasonik (transduser) diletakkan di bagian luar panggul. Nah, USG transvaginal dilakukan dengan memasukkan probe ultrasonik sekitar 2 atau 3 inci ke dalam saluran vagiina.
Tujuan dilakukan prosedur USG transvaginal
Beberapa gejala dan kondisi medis, seperti endometriosis, memerlukan gambar dengan kualitas lebih tinggi daripada yang dapat dicapai dengan menggunakan USG perut.
Ya, USG transvaginal digunakan untuk memeriksa organ dalam seperti vagiina, serviks, rahim, saluran tuba, ovarium dan kandung kemih.
Ultrasonografi transvaginal juga berguna untuk memeriksa adanya kista atau tumor ovarium, fibroid, dan polip.
🌹🌹
“Sudah siap buat tes selanjutnya?” tanya Dokter Dewi.
“Siap Bu Dokter,”
“Untuk USG ini, akan di masukkan alat kecil dari bagian kewanitaan. Ada rasa sedikit sakit, tapi tidak terlalu sakit. Masih bisa di tahan,” penjelasan Dokter Dewi.
“Maaf Bu Dokter, kalau di masukkin alatnya, berarti jadi gak perawan dong Bu Dokter?”
Dokter Dewi tersenyum tipis mendengarnya,”selaput dara wanita itu elastis, sedangkan alat yang akan di masukkan tersebut ukurannya hanya 2 atau 3 inci , dan tidak usaha khawatir masalah keperawanan mbak Alya. Dan tidak ada efek sampingnya.”
“Ah...syukurlah,” Sedikit bernapas lega wanita berkacamata itu.
“Kalau begitu mbak Alya bisa ganti baju, dan kita akan mulai melakukannya.”
__ADS_1
“Baik Bu Dokter.”
Selepas mengganti baju, wanita berkacamata itu sudah berbaring di atas brankar, dan mengambil posisi seperti orang yang ingin melahirkan normal.
“Ambil napas yang dalam ya mbak Alya, alatnya akan mulai saya masukkan,” pinta Dokter Dewi, ketika sudah mulai memegang tongkat sepanjang lima centimeter.
Wanita berkacamata itu menarik napas dalam-dalam, kemudian memejamkan matanya.
Sungguh tak nyaman rasanya ketika tongkat itu mulai masuk ke bagian intinya.
Sedangkan di luar ruang praktek, Erick gelisah dalam duduknya, gelisah menanti Alya yang masih berada di dalam. Ingin rasanya pria ganteng itu mendampingi Alya, akan tetapi tertahan oleh Agnes.
Selama tiga puluh menit, Dokter Dewi memeriksa, mengamati, merekam bagian rahim Alya. Di rasa sudah cukup, Dokter Dewi mengeluarkan alat probe ultrasoniknya.
“Sudah selesai ya mbak Alya, bisa berbaring sebentar. Baru duduk dan bisa ganti baju,” ujar Dokter Dewi.
“Baik Bu Dokter.”
Dokter Dewi langsung mengecek kembali rekamannya, lalu mencetak hasil USG Alya. Via sang suster, membantu Alya untuk mengenakan bajunya kembali.
“Via nanti kalau sudah selesai, tolong ke bagian Lab, ambil hasil tes darahnya mbak Alya,” pinta Dokter Dewi.
Melihat suster keluar dari ruang praktek, Erick beringsut dari duduknya, dan langsung menghampiri suster.
“Maaf suster, sudah selesaikah pemeriksaannya?” tanya Erick dengan wajah cemasnya, karena menurut pria itu sudah cukup lama menunggu. Dan untungnya Agnes sedang ke toilet jadi wanita cantik itu tidak melihat raut kecemasan suaminya.
“Untuk USG mbak Alya baru saja selesai, sekarang saya mau ke lab untuk ambil hasil darah mbak Alya. Kemungkinan sebentar lagi Bapak akan di panggil, untuk memberitahukan hasilnya.”
“Tapi Alya-nya tidak pa-pa kan?”cemas Erick.
“Sepertinya gak pa-pa kok Pak, tenang saja. Kalau begitu saya permisi dulu, takut Dokter lama menunggunya,” pamit suster Via.
“Oh iya.......silahkan..!”
Pria itu kembali duduk, dan terlihat tenang setelah mengetahui keadaan Alya yang berada di dalam ruang praktek dokter.
“Bagaimana Bu Dokter hasil usg saya?” tanya Alya, sambil mendudukkan bokongnya di kursi semula wanita itu duduk.
__ADS_1
“Nanti akan saya jelaskan hasil usgnya sambil menunggu hasil test darahnya,” jawab Dokter Dewi, sambil mengamati wajah Alya, wanita yang akan melakukan inseminasi, sebagai ibu pengganti.
“Mbak Alya, yakin akan melakukan inseminasi ini?” tanya Dokter Dewi.
“Yakin Bu Dokter, untuk menjadi ibu pengganti buat pasangan yang tadi Bu Dokter lihat,” jawab Alya, membalas senyuman tipis Bu Dokter.
“Hamil itu bukan sekedar sehat secara fisik, tapi butuh mental yang sehat dan kuat pastinya. Apalagi posisinya hanya sebagai ibu pengganti. Jadi saya mengharapkan mbak Alya kondisinya juga siap lahir dan batin, karena tetap tingkat stres dan pikiran bisa mempengaruhi proses dalam tingkat keberhasilan inseminasinya.”
“Seperti itu ya Bu Dokter, persiapannya bukan hanya secara fisik saja?” karena Alya memang belum ada pengalaman, dan sepertinya wanita itu butuh ilmu tambahan.
“Betul mbak Alya, selama inseminasi butuh orang yang selalu mensupport dan pastinya selalu ada di samping kita, agar dalam proses tersebut terasa nyaman dan hati selalu senang.”
“Semoga saya bisa ya Bu Dokter,” ada mama Yanti dan calon mertuanya yang akan mendukungnya pikir wanita itu.
“Bu Dokter, ini hasil test darahnya mbak Alya,” ujar Via yang baru saja kembali dari laboratorium, kemudian meletakkan di meja dokter.
“Via tolong panggilkan Pak Ericknya ya,”
“Baik Bu Dokter."
Tidak menunggu lama Erick, dan tentunya di temani oleh Agnes kembali masuk ke dalam.
“Bagaimana hasil pemeriksaan Alya, Bu Dokter?” tanya Agnes, sebelum Erick buka suara.
Dokter Dewi meletakkan foto beberapa USG dan hasil lab “Secara keseluruhan kesehatan mbak Alya, sehat dan memiliki kondisi rahim yang sehat dan subur sekali, kondisi selaput dara juga masih utuh masih perawan. Saran saya sebaiknya jangan melakukan inseminasi dulu, coba secara alamiah terlebih dahulu tanpa buatan. Karena secara kondisi sel induk telurnya, mbak Alya akan cepat hamil jika sudah mulai ada pembuahan.”
“Tidak....,” jawab kompak Agnes dan Alya.
“Tidak ada pembuahan secara alami Bu Dokter, tetap akan di lakukan secara inseminasi,” tolak Agnes, tidak terima dengan saran Dokter Dewi.
“Saya hanya menawarkan jalan yang alami Bu, kalau secara alami berhasil. Kenapa harus inseminasi, lagi pula menjalankan inseminasi juga butuh dukungan orang yang selalu berada di sampingnya. Mbak Alya dalam sebulan akan menjalankan serangkaian prosedur inseminasi, di mana setiap hari menyuntikkan obat ke bagian perut, lalu mengonsumsi obat. Dan yang pasti tidak bisa melakukan pekerjaan yang berat, apalagi setelah benih Pak Erick ditembakkan ke rahim mbak Alya. Mbak Alya tidak bisa beraktivitas untuk sementara waktu.”
Dokter Dewi melihat jelas ada rasa egois di istrinya Pak Erick sedangkan Dokter Dewi sangat kasihan dengan Alya. Sudah banyak sekali Dokter Dewi melihat wanita egois seperti Agnes.
bersambung
__ADS_1
Agnes