Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Mulai beraksi


__ADS_3

Pria yang sedang sibuk meeting dengan rekan bisnisnya, tiba-tiba raut wajahnya terlihat tegang. Kedua tangannya langsung merapikan berkas yang masih di pegangnya, Rio yang sangat paham dengan situasi yang mulai menenggangkan, segera antisipasi keadaan rapat. Sang asisten langsung mengambil alih meeting, seketika Erick beserta ajudan yang tadi menghampiri untuk memberitahukan kabar terkini tentang istrinya, berpamitan dengan rekan bisnisnya.


“Bobby, segera hubungi team Papa. Segera mendekat ke lokasi. Dan jangan lupa hubungi pihak polis,” titah Erick dengan wajah tegangnya.


“Baik Tuan, segera saya koordinasi,” jawab Bobby.


“Ternyata kamu memang jahat, Agnes. Masih belum jera juga,” gumam Erick, pria itu dengan langkah cepat menuju lobby dan masuk ke mobil yang sudah stand by di luar lobby perusahaan Pratama.


“Tenang sayang, daddy segera ke butik. Mommy jangan keluar dari ruang kerja,” pinta Erick melalui sambungan handphonenya..


“Iya daddy, mommy sembunyi di ruang kerja. Tapi mommy khawatir sama Lili, dad,” cemas Alya, akan keadaan  Lili yang sudah ikut dengan Rocky.


“Jangan cemas sayang, team papa sudah berada di sana bergabung sama team Rocky.....jadi mommy harus tenang. Ingat mommy sedang hamil, jaga kondisi mommy,” pria itu berusaha untuk menenangkan si bumil.


“Iya dad, ya sudah hati-hati di jalan, mommy tunggu di sini,” balas Alya, kalau sudah keadaan  seperti ini wanita itu butuh dekat dengan suaminya.


“Iya sayang, love you.”


“Love you dad.”


Sementara di lain tempat....


Wanita cantik itu tersenyum smirk melihat incarannya sudah masuk ke dalam mobil, wanita itu juga tahu jika wanita hamil itu di jaga ketat oleh ajudan mantan suaminya.


Setelah memastikan wanita hamil itu masuk ke dalam mobil, Agnes yang menyamar dengan beberapa orang turut keluar dari butik Sadekh, lalu menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari butik Sadekh.


“Papa yakin, orang yang akan mencelakakan Alya, orang yang ahli?” tanya Agnes ketika masuk ke dalam mobil.


“Kamu tenang aja, dia orang yang pernah menabrak papanya Alya, sudah ahli, untungnya dia tidak minta di bayar besar. Jadi sisa uang dari kamu cukup membayarnya,” tukas Cokro yang berada di bangku penumpang.


Sang sopir yang berada di balik kemudi mobil yang di sewa Cokro, masih belum menstaterkan mobilnya. “Eh kenapa belum jalan, kamu ikuti mobil warna hitam itu,” titah Agnes.


“B-baik Bu...,” jawab sang sopir sambil menyunggingkan sudut bibirnya.

__ADS_1


“Kita cukup mengikuti mobil yang akan melakukan aksinya dari jauh, selamat menyaksikan tontonan yang menarik, nak,” ujar Cokro dengan nada senangnya.


“Selamat menuju keabadian Alya, sudah aku bilang dari awal, aku tidak akan memaafkan jika kamu menjadi pelakor. Kalau aku tidak bisa memiliki Erick, begitu pun kamu tidak akan bisa memiliki Erick!!” gumam Agnes, raut wajah wanita itu terlihat sangat membenci.


Rupanya di asingkan di tempat yang jauh tidak mengurungkan niat wanita itu  untuk melenyapkan wanita yang pernah menjadi madunya,  ketika sudah di bebaskan dari rumah tersebut, wanita itu langsung menghubungi papanya. Dengan sisa uang yang dia miliki, rencana kembali di lanjutkan.


Sedangkan Cokro sebagai seorang ayah bukannya memberikan ajaran yang baik buat anaknya, justru sangat mendukungnya. Harta tak dapat di miliki, maka nyawa harus dihilangkan, itu kata Cokro, pria tua yang tidak ingat akan dosa dan ajal yang mungkin sebentar lagi menghampirinya.


Beberapa preman sewaan Cokro yang masuk ke dalam mobil yang akan membuat celaka si wanita hamil, sudah dilumpuhkan, dan kini terlelap di dalam mobil. Kedua preman itu sudah kena obat bius dan kedua tangannya sudah terborgol.


“Lanjutkan perintah Komandan,” titah pria yang berpakaian preman yang duduk di samping sang sopir yang dibayar oleh Cokro dan Agnes.


“Siap, Pak,” ujar si sopir segera menggas mobilnya lebih dalam lagi.


“Saya di minta oleh Cokro untuk mencelakakan wanita yang bernama Alya Zafrina Sadekh,” ujar pria paruh baya itu.


Dalam pencarian Cokro, polisi menemukan salah satu orang suruhan Cokro yang terlibat dalam kasus ambil alih perusahaan papanya Alya. Pria paruh baya itu  setelah membantu Cokro, hidupnya jadi tidak tenang, walau sudah berlalu lima tahun yang lalu.


Pihak polisi menawarkan keringanan hukuman jika pria itu bersedia bekerja sama. Akhirnya pria paruh baya itu menceritakan semua kronologis sampai terjadinya kecelakaan hingga menewaskan Papanya Alya.


🌹🌹


Salah satu rekan Rocky memberikan obat anti mabok buat Lili yang turut di dalam mobil mereka. Lili langsung menegak obat tersebut, dengan sebotol air mineral.


“Lili, pegangan kencang ya. Kita mau mulai main balapan mobil kayak di track Sentul,” gurau Rocky yang pegang kendali mobilnya.


“Baik Pak Rocky,” Lili sudah mulai ambil ancang-ancang, lalu memasrahkan apa yang akan terjadi.


Rocky sudah dapat aba-aba, pria itu mulai menginjak pedal gas lebih dalam lagi, sang ajudan itu mulai tersenyum smirknya, sambil melirik ke arah  spion sebelah kiri melihat mobil yang ada di belakang, mulai mengikutinya.


Lili sudah mulai keringat dingin, mobil yang di tumpanginya sudah melaju dengan kecepatan tinggi.


Ya Allah, lindungilah kami semua ....jangan sampai terjadi musibah....batin ketakutan Lili.

__ADS_1


Mobil yang di kemudikan Rocky sudah menyalip ke beberapa mobil yang ada di depannya, begitu juga mobil yang ada di belakangnya ikut menyalip agar tidak tertinggal dengan mobil yang diikutinya.


Sedangkan mobil yang membawa Cokro dan Agnes tertinggal jauh. “Kamu ini bisa bawa mobil apa gak sih, dari tadi jalannya lelet banget. Lihat kita tidak ke kejar dengan mobil yang di depan,” sentak Agnes.


“Mobilnya kurang enak di bawa ngebut Bu, ini saya udah coba jalan dengan kecepatan tinggi,” alasan sang sopir, padahal sengaja melambatkan laju kemudinya.


“Lagi genting begini, dapat mobil yang udah mau rusak,” dengus kesal Agnes.


“Biarkan saja yang penting, orang yang kita suruh sudah duluan mengejarnya,” sahut Cokro, dalam duduk tenangnya.


Sementara di kantor polisi, beberapa petugas IT sedang merekam dan menyimak percakapan bapak dan anak itu.


“Lokasi sudah siap semua,” tanya salah satu aparat polisi.


“Sudah siap Pak, di sana sudah ada beberapa petugas,” jawab salah satu aparat Polisi.


Bapak polisi itu menganggukkan kepalanya, lalu kembali mengikuti mendengar percakapan Cokro dan Agnes.


Kembali ke kondisi jalanan.....


Dua mobil tersebut saling main kejar-kejaran di tengah jalan, untuknya jalannya tidak terlalu padat. Akan tetapi kedua mobil itu masih terkontrol kecepatannya dan pergerakannya, masih terkendali.


Agnes yang sudah melihat dari kejauhan melihat kejar-kejaran itu, lalu mobil itu memepet mobil yang di kemudikan Rocky, tampak  tersenyum lebar.


“Mampus kamu, Alya!!” gumam Agnes.


Saking cepatnya laju dua mobil itu, tiba-tiba menghilang dari kedua netra Agnes, karena mobil yang di tumpanginya kembali jalannya lambat.


“Sialan mereka udah cepat aja jalannya,” umpat kesal Agnes.


bersambung......ambil napas dulu ah😁


 

__ADS_1


 



__ADS_2