
Nomor handphone Alya yang tergabung dalam WA grup perusahaan Pratama, tak henti-hentinya mendapatkan hujatan dalam grup tersebut. Walau tidak semuanya tidak memberikan hujatan, tapi hampir keseluruhan karyawan berkata tidak pantas untuk dirinya.
Meminjamkan rahim untuk atasannya, ternyata lama kelamaan menggoreskan luka untuk wanita itu. Bukan hanya luka dari pria yang memberikan benih serta perkataan dari kedua istrinya, tapi luka dari semua karyawan yang memandangnya sebelah mata. Demi menyelamatkan ratusan karyawannya, wanita itu mengorbankan dirinya sendiri.....harga dirinya sudah terjatuh.
“Saya bukan pela-kor........,” gumam lirih Alya bermonolog, wanita cantik itu memegang perutnya yang masih rata.
Alya dan Erick di tempat yang berbeda sama-sama hanyut dalam pikirannya.
“Saya bukan seorang pela-kor......!!” gumam Alya, dengan tatapan bagai burung elang, menatap ke alam bebas yang terhampar di dekat kolam renang.
“Saya tidak bermaksud membuatmu di cap pela-kor, Alya!!” gumam Erick sendiri menyesal dengan tatapan teduhnya, menatap orang lalu lalang di dalam restoran.
🌹🌹
Rumah Orang tua Delila
Setelah meninggalkan rumah Alya, Delila tidak kembali ke kantor untuk bekerja, tapi berbelok arah menuju rumah orang tuanya.
Dulu rumah orang tua Delila sangat sederhana , hampir seperti rumah btn tipe 21/65. Tapi semenjak Delila menikah dengan Erick, pria yang di jodohkan oleh papanya, Delila merayu Erick untuk membeli rumah di sebelahnya kemudian di renovasi, digabung menjadi satu.
“Kamu tidak bekerja?” tanya Papa Zainal, melihat masih siang, anaknya sudah datang berkunjung ke rumah.
“Lagi malas kerja Pah,” wanita itu menghempaskan dirinya di atas sofa yang ada di ruang keluarga.
“Eh ada Deli, tumben nak main ke rumah, mana suami kamu?” tanya Mama Fira yang baru kembali dari warung.
“Deli datang sendiri mah, Mas Erick lagi banyak kerjaannya. Jadi gak sempat menemani Deli ke sini.”
“Sesekali ajak suami kamu ke sini, mama pengen pamer sama ibu-ibu di sini kalau menantu mama tuh orang kaya, pengusaha sukses.”
__ADS_1
“Iya mah, nanti Deli ajak mas Erick ke sini.”
“Deli, kapan kasih cucu buat papa sama mama. Kamu gak coba usaha lagi, program bayi tabung?” tanya Papa Zainal.
“Nanti Pah, kalau Deli sudah siap......Deli masih pengen main dululah kayak temen-teman, nikmati hidup mumpung punya suami kaya.”
“Suatu saat kamu rugi sendiri loh Deli, justru dengan kamu punya anak sendiri, istri pertama suami kamu akan tersingkirkan. Dan suami kamu akan lebih perhatian dengan kamu dan yang jelas kamu telah menjadi seorang ibu dari sang pewaris kekayaan, jadi hidupmu akan lebih berlimpah hartanya," ujar Mama Fira.
DEG
Delila tertegun dengan kata mamanya, menyingkirkan istri pertama!! Wanita itu tidak munafik, jika dia juga ingin memiliki suaminya untuk dirinya sendiri.
Apa mulai sekarang gue lepas minum pil KB, dan masa bodoh dengan Alya yang sudah hamil!! Lagi pula Mas Erick suka ama gue, jadi kalau gue hamil......pasti Mas Erick bakal sayang ama gue dan calon anaknya......batin Delila.
“Ada benarnya omongan mama kamu Deli, di dengarkan......sebaiknya kamu buruan hamil. Biar harta warisan suami kamu kelak, jadi milik anak kamu sendiri,” ujar Papa Zainal.
“Nanti Deli pikirkan, Pah, Mah.”
“Deli gak bisa janjiin Pah. Papa kan tahu suami Deli ada istri pertamanya, pasti akan ikut campur kalau masalah keuangan,” ujar Deli.
“Makanya Deli buat menyingkirkan istri pertama, kamu harus segera mengandung anak Erick, jadi posisi kamu lebih unggul dari Agnes, kamu tuh punya otak tapi gak di pakai. Jangan sia-siain punya suami ganteng, kaya........memangnya kamu mau nasib hidupnya sama kayak mama dan papa, apa adanya. Untung aja papa ketemu sama teman lamanya. Jadi kamu bisa menikah sama orang kaya!!” gerutu Mama Fira.
“Iya Mah...,” jawab Deli, melihat wajah mamanya sudah terlihat sebal.
“Deli, kamu kan kerja di salah satu perusahaan Erick. Kenapa kamu tidak pakai kekuasaan kamu untuk mengambil uang, buat modal usaha Papa,” ujar Papa Zainal.
“Kekuasaan apa Pah? Deli di sana bekerja jabatannya hanya staf administrasi, boro-boro di kasih jabatan kayak mbak Agnes sebagai direktur, pasti enak bisa ambil uang perusahaan,” Delila menghela napas panjang, status sebagai istri kedua seorang pengusaha, tapi jabatannya hanya staff di perusahaan suaminya sendiri. Boro-boro dibagi saham perusahaan sama suaminya. Kasihan!!
“Ya kalau begitu pintar-pintar kamu deh cari cara dapat uang buat modal papa. Papa juga pengen nikmati kekayaan suami kamu, bukan hanya uang bulanan yang setiap bulan di kirim Erick, itu juga cuma sepuluh juta, memangnya gak bisa apa kasih uang bulanannya ke mertuanya sebanyak seratus juga sebulan. Keluarga Pratama itu kekayaannya banyak Deli!!”
__ADS_1
“Pah, uang bulanan Deli aja cuma tujuh puluh juta sebulan, ya walau kadang di kasih seratus juta. Papa malah minta seratus juta, gak ke balik Pah!!” celetuk Deli.
“Kalau begitu, kamu dong yang tambahin uang bulanan buat mama dan papa,” sambung Mama Fira, iri dengar uang bulanan anaknya begitu banyak.
“Gak bisa gitu dong mah, itu kan uang Deli,” tak terima jika uang bulanannya harus di berikan ke kedua orang tuanya.
Kadang uang bisa membuat orang gelap mata, terkadang uang bisa membuat orang lupa akan jadi diri sebelumnya. Yang awalnya hidup dalam keadaan apa adanya, ketika menerima keadaan yang lebih baik, membuat jiwa-jiwa manusia merasa kurang dan haus akan harta serta kekayaan. Nafsu yang membelenggu jiwa yang haus akan materi.
🌹🌹
Malam hari
Mansion Erick
Tepat jam delapan malam, Erick baru kembali ke mansionnya. Langkah kaki pria itu terasa enggan ketika memasuki mansionnya sendiri, seperti tidak ada orang yang membuat dirinya rindu untuk kembali ke mansionnya. Tapi mansion itu tempat tinggal dia sendiri, bukan milik orang lain. Kemana langkah kaki pergi jauh, tetap kembali ke rumahnya sendiri.
Pak Arif, serta kedua istrinya Agnes dan Delila tengah berada di lobby mansionnya, menyambut ke pulangan suaminya dengan menyungguhkan penampilan terbaiknya.
Jas dan tas kerja langsung di ambil oleh Pak Arif, sedangkan Erick kembali menahan napasnya ketika berlalu melewati kedua istrinya.
“Mas Erick, sudah makan malam?” tanya Agnes.
Malam ini aku harus merayu mas Erick, di atas ranjang.......agar membatalkan surat teguran tersebut, dan jabatanku di perusahaan aman.......batin Agnes.
“Mas Erick, kalau belum makan malam, saya siapkan ya?” tawar Delila, tidak mau kalah memberikan perhatian pada Erick.
Malam ini saya harus memberikan service yang terbaik buat mas Erick, agar cepat punya anak dari Mas Erick, saya tidak mau menunda-nunda lagi. Saya harus bisa menjadi nyonya mansion satu-satunya.....batin Delila.
bersambung.........
__ADS_1
kira-kira berhasilkah rencana Agnes dan Delila??